Archive

Writing Competition

Ada yang unik di bandara internasional Incheon, Korea. Dari sekian banyak flyer atau brosur pariwisata, ada kertas berwarna orange yang berbentuk seperti handphone. Lucu!

the-stationer-1

Tertulis, “No Language Barier in Korea.”

Usut punya usut, ternyata kertas itu merupakan panduan bahasa bagi orang asing yang berkunjung ke Korea. Bandara internasional Incheon bekerja sama dengan ‘bbb’ Korea mencoba mengatasi kendala bahasa yang sering dialami oleh orang-orang non-Korea, khususnya di bandara. Cara kerjanya sederhana. Kita hanya perlu berbicara sesuai bahasa ibu kita kepada relawan ‘bbb’ untuk diterjemahkan secara gratis, baik melalui telepon atau aplikasi ‘bbb’ (bisa didownload gratis melalui Android dan IOS). ‘bbb’ mampu melayani 19 bahasa selama 24 jam/7 hari, termasuk Bahasa Indonesia, lho!

Wow, keren, ya! Jadi, kita tidak perlu takut kesasar karena gagal paham dengan huruf Korea yang meliuk-liuk itu. Kalau sudah begitu, siapa yang tidak ingin jalan-jalan ke Korea??!! Coba angkat tangan!!

Hmm …

Nyatanya, masih ada saja yang angkat tangan tuh. Katanya, satu kendala yang dihadapi saat jalan-jalan ke Korea adalah ‘makanan’. Ya, karena bukan termasuk negara muslim, sulit untuk menemukan makanan halal di Korea. Ah, apa iya??!!

Nyatanya, di tahun 2016, ada 300.000 wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korea. Sedangkan, di tahun sebelumnya, tercatat ada 198.000 wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korea. Jika keduanya dibandingkan, jumlah ini meningkat hampir 53,2%. Dengan jumlah itu, wisatawan Indonesia menduduki peringkat ke-8 dari 9 negara asal wisatawan yang mengunjungi Korea. Bahkan, diprediksi, dalam sepuluh tahun ke depan, Indonesia bisa menduduki peringkat ke-3 atau ke-4 negara asal wisatawan yang mengunjungi Korea. Demikian data yang disampaikan oleh OH Hyonjae selaku Direktur Korea Tourism Organization (KTO) Jakarta berberapa waktu yang lalu.

Meningkatnya jumlah wisatawan Indonesia ke Korea ternyata diikuti juga dengan meningkatnya jumlah wisatawan muslim. Dilemanya, sulit untuk menemukan makanan halal di Korea tetapi di sisi lain wisatawan Indonesia merupakan pasar potensial bagi Korea. Ternyata, kondisi ini sudah diantisipasi oleh pemerintah Korea, melalui KTO, mengingat Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia.

ByunChu-seok, Direktur KTO, menerbitkan buku ‘Muslim-Friendly Restaurants in Korea’ untuk memudahkan wisatawan muslim menemukan makanan halal di Korea. Buku ini memperkenalkan sekitar 118 restoran di Korea yang tidak hanya menjual makanan muslim, tetapi juga makanan Korea yang dapat dikonsumsi oleh wisatawan muslim. Restoran-restoran itu dibagi dalam 5 kategori, yaitu restoran halal-certified, restoran self-certified, restoran Muslim-friendly, restoran Muslim-welcome, dan restoran pork-free.

www-mynameishety-wordpress-com

Selain itu, buku ‘Muslim-Friendly Restaurants in Korea’ ini juga mengelompokkan 36 menu makanan Korea yang terkenal dalam 4 kategori, yaitu sayuran saja, makanan berbahan seafood, makanan berbahan sayur dan seafood, dan makanan berbahan daging tetapi bukan babi. Hal ini bertujuan agar wisatawan muslim tetap dapat menikmati makanan Korea dan tidak mengalami kesulitan dalam menemukan makanan halal di Korea.

Nah, keren kan support dari pemerintah Korea kepada wisatawan muslim yang berkunjung ke Korea? Kalau gitu, gimana dengan di Indonesia, ya?

Di Indonesia sendiri, ada yang dikenal dengan nama ‘wisata halal’ (halal tour). Wisata halal merupakan perjalanan wisata dengan menu halal serta aktivitas muslim, seperti ibadah solat, kunjungan ke masjid, kunjungan ke pusat budaya muslim, dan lain-lain. Walaupun namanya wisata halal, wisata ini tetap dapat mengunjungi daerah nonmuslim, seperti negara-negara di kawasan Eropa, Cina, Jepang, Hongkong, Australia, maupun Korea. Serta, pesertanya pun tidak terbatas pada muslim saja, nonmuslim bisa ikut. Salah satu, biro perjalanan yang menawarkan wisata halal di Indonesia adalah Cheria Travel.

Hmm, jadi penasaran, kalau wisata halal ke Korea ala Cheria Travel seperti apa yaaa …

Nonton lagi, lagi, lagi …

Ooo … Setelah menjelajah Cheria Travel, ada empat pilihan Paket Tour Wisata Halal Korea. Pilihannya lengkap lho, mulai dari 5 hari, 6 hari, sampai 7 hari.

Paket Tour Facinating Winter Korea Muslim – 5 Hari 3 Malam
paket-tour-facinating-winter-korea-muslim-5d3n

Paket Tour Beautiful Winter Korea Muslim – 6 Hari 5 Malam
paket-tour-beautiful-winter-korea-muslim-6d5n

Paket Tour Korea Jeju Winter Muslim – 7 Hari 6 Malam
paket-tour-korea-jeju-muslim-holiday-7d6n

Paket Tour Korea Jeju Muslim Holiday – 7 Hari 6 Malam
paket-tour-korea-jeju-winter-muslim-7d6n

Semua destinasi di Paket Tour Wisata Halal Korea di atas ada di ‘10 Objek Wisata Korea Paling Populer’ versi KTO.

Penasaran, kan??!! Yuk, kita intip ulasannya …

Gyeongbukgung Palace

Foto: Gyeonghoeru Pavilion (atas) / Geunjeongjeon Hall, ruang takhta di Dinasti Joseon (kiri bawah) / Upacara Pergantian Penjaga Istana (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326

Foto: Gyeonghoeru Pavilion (atas) / Geunjeongjeon Hall, ruang takhta di Dinasti Joseon (kiri bawah) / Upacara Pergantian Penjaga Istana (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326

Gyeongbukgung Palace merupakan sebuah istana yang terletak di sebelah utara kota Seoul (Northern Palace). Istana ini merupakan istana terbesar yang dibangun oleh Dinasti Joseon. Selain berjalan-jalan menikmati arsitektur bangunan istana dan berfoto, kamu juga bisa melihat atraksi ‘Royal Guard Changing Ceremony‘ pada jam-jam tertentu.

Agar jalan-jalanmu ke Korea lebih menghayati, jangan lupa juga untuk mengunjungi National Folk Museum of Korea. Kamu bisa menyaksikkan sendiri sejarah Korea. Lokasinya berada di dalam istana, sayang kalau dilewatkan.

Nami Island

Foto: Pine Nut Tree Path dekat pintu masuk ke Pulau Namiseom (atas) / Situs dari ciuman pertama karakter utama 'dalam drama "Winter Sonata (2002" (kiri bawah) / Wisatawan menikmati Pulau Namiseom (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326

Foto: Pine Nut Tree Path dekat pintu masuk ke Pulau Namiseom (atas) / Situs dari ciuman pertama karakter utama ‘dalam drama “Winter Sonata (2002” (kiri bawah) / Wisatawan menikmati Pulau Namiseom (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326

Nami Island merupakan destinasi wisata populer di Korea. Keindahan alam di pulau ini menarik wisatawan dari berbagai negara untuk datang. Apalagi sejak pulau ini dijadikan tempat syuting film Winter Sonata. Oh! Selama kunjungan ke Nami Island, kamu bisa menghabiskan waktu dengan berjalan mengelilingi pulau. Nggak bakal bosan, deh! Ada saja tempat menarik yang cocok digunakan untuk foto.

Mount Sorak

Seoraksan National Park. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Seoraksan National Park. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Mount Sorak merupakan daerah pegunungan di Korea. Selain itu, kawasan ini juga merupakan taman nasional. Pengunjung dapat berjalan menikmati pemandangan dengan rute jalan menanjak atau bisa juga naik cable car. Adapun yang dapat disaksikan di sini antara lain Shinheungsa Temple, Gwongeumseong Fortress, atau Great Bronze Buddha.

Itaewon

Itaewon merupakan kawasan yang unik di Korea. Di sini kamu dapat berjumpa dengan orang-orang dari berbagai negara (kebangsaan). Itaewon juga dikenal sebagai pusat belanja ‘jalanan’ di Korea. Kamu dapat menemukan makanan dari berbagai negara, serta tas, pakaian, sepatu, perhiasan, aksesoris, kerajinan, dan lain-lain.

Sebagai sebuah pemukiman, Itaewon juga mempertemukan berbagai adat istiadat dan budaya, termasuk agama. Kamu dapat mengunjungi masjid di Itaewon, Seoul Central Mosque. Ini adalah destinasi yang wajib dikunjungi bagi wisata halal. Tak hanya wisatawan muslim, wisatawan nonmuslim pun banyak yang datang untuk mengagumi keindahan arsitektur masjid yang berdiri tahun 1976 ini. Terlebih, Islam bukan merupakan agaman maoritas di Korea sehingga banyak pengunjung yang penasaran.

Dongdaemun

Dongdaemun sering disebut sebagai ‘street of passion for passion and art‘. Dongdaemun merupakan pusat perbelanjaan utama di Korea. Suasana yang akan kamu rasakan di sini adalah perpaduan antara sejarah, budaya, dan modernitas Korea melalui berbagai bangunannya.

Myeong-dong

Foto: Deretan toko ternama di Myeong-dong (atas) / toko kosmetik (kiri bawah) / Turis sedang melihat pakain dari luar jendela (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326.

Foto: Deretan toko ternama di Myeong-dong (atas) / toko kosmetik (kiri bawah) / Turis sedang melihat pakain dari luar jendela (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326.

Myeong-dong juga dikenal sebagai ‘Beauty Road’ atau jalan kecantikan karena banyaknya toko kosmetik yang berjajar di suatu area. Sebagai pusat bisnis dan belanja di Korea, jalan sepanjang 1 Km ini dipenuhi dengan mall, toko bebas bea, dan berbagai toko bermerek. Pun kamu tidak suka berbelanja, kamu masih bisa menikmati Myeong-dong dengan mencoba jajanan (street food) dan restoran terkenal di daerah ini. Oh ya, bagi para K-Pop mania, daerah Myeong-dong bagaikan surga.

Gimana??!! Seru kan??!!
Itu tadi hanya beberapa ulasan, lho! Masih banyak destinasi wisata Korea lainnya di wisata halal. Kalau kamu ikut Paket Tour Wisata Halal Korea, dijamin, semua itinerary alias rencana perjalanan akan ditata apik dan tidak ada destinasi menarik yang terlewat.

Yang spesial lagi, biar Paket Tour Wisata Halal Korea masuk jadi wishlist liburanmu di tahun 2017, ada video Enjoy your Creative Korea nih. Biar nambah semangat ke Korea, eh.

Ada bocoran nih. Video berdurasi tepat 60 detik ini merupakan official TVC KTO yang dirilis Agustus 2016 lalu. Video itu dibintangi oleh bintang Korean wave, Song Joong Ki, yang terkenal lewat drama ‘Descendants of the Sun‘.

Akkk … Mau nyusul Song Joong Ki??!!

Tunggu apa lagi? Cuss ke ‘Cheria Wisata Tour Travel Halal Terlengkap di Indonesia’ dan pesan paket wisatamu sekarang!!

cheria-travel-wisata-halal-korea

Cheria Travel bisa dijumpai di Gedung Twink Lantai 3, Jalan Kapten P. Tendean No. 82 Mampang Prapatan Jakarta 12790. Telepon: (021) 7900201 (Hunting). Email: info@cheria-travel.com

Memfasilitasi Forum Keberlanjutan Kapuas Hulu.

Memfasilitasi Forum Keberlanjutan Kapuas Hulu.

IMG_4107

Saya selalu bingung saat ditanya oleh sepupu-sepupu kecil apa pekerjaan saya selama ini. Bagi mereka, saya selalu tampak sibuk, ke sana-ke mari, dan ada saja yang saya kerjakan. Boleh percaya atau tidak, rasa penasaran mereka baru terhenti saat saya membawa oleh-oleh dari suatu tempat, pun hanya sekadar cerita.

Likes’ di akun Instagram dari sepupu-sepupu kecil juga tiada henti saat saya mengunggah foto di mana saya berada saat itu. Saat bertemu, mereka selalu bertanya riang tentang apa yang saya lakukan, bagaimana keadaan daerah di sana, bagaimana rasa makanannya, pokoknya berbagai macam pertanyaan. Mereka antusias untuk mendengarkan cerita saya.

Jadi, apa pekerjaan saya? Pendongeng handal untuk para sepupu kecil?

Walau bidang pekerjaan saya tidak masuk dalam kategori ‘The Most In-Demand Jobs’ versi situs http://www.forbes.com, saya mencintai pekerjaan saya. Ya, sudah hampir empat tahun ini, saya terjun di bidang ‘community development’ (pemberdayaan masyarakat) melalui sebuah organisasi non-profit atau dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan sebutan NGO (Non-Govermental Organization, dalam bahasa Indonesia diartikan juga sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat).

Bidangnya memang hanya satu, yaitu ‘community development’, tapi percaya atau tidak, dalam empat tahun itu, saya sudah mencicipi berbagai profesi di dalamnya. Sebut saja, mulai dari guru di daerah terpencil sekaligus fasilitator masyarakat (education improvement facilitator), staf personalia (Human Resources Officer) yang menangani rekrutmen staf di NGO, staf kemitraan (Partner Engagement Officer) yang mencari dana dan kemitraan untuk suatu program, sampai sekarang yang terakhir saya jalani adalah menjadi staf program dan komunikasi (Program and Communication Officer) di sebuah NGO. How switchable am I, right?

Dengan berbagai profesi semacam itu, jangan ditebak jika saya hanya duduk di belakang meja di sebuah bangunan yang disebut kantor. Tidak! Pekerjaan yang saya tekuni selalu membawa saya untuk bertemu orang-orang baru sekaligus pergi ke tempat-tempat baru. Mulai dari site visit (kunjungan ke daerah), asesmen daerah, maupun mengikuti konferensi. Pokoknya, pas sekali dengan saya, Si Ekstrovert yang suka jalan-jalan dan menulis blog. Walau judulnya bekerja, tetap saja, selalu ada sisi lain yang bisa saya ceritakan di blog, seperti pengalaman bertemu orang baru atau berada di suatu daerah yang baru. Asyik, kan?

Jadi, seperti kata orang, menyenenangkan saat kita bisa bekerja sesuai dengan apa yang kita sukai. Hobi yang dibayar, katanya.

Jodoh Positif

Dengan pekerjaan dan hobi yang hampir menyatu semacam itu, maka bertemu perangkat teknologi bernama Acer Switch Alpha 12 seperti bertemu jodoh. Banyak hal positif yang bisa saya lakukan dengan Acer Switch Alpha 12. Bahkan, membuat saya lebih produktif.

Bayangkan saja, saat saya bertemu dengan sepupu-sepupu kecil yang menagih cerita perjalanan saya, saya bisa dengan mudah bercerita sambil menunjukkan foto-foto melalui Acer Switch Alpha 12. Dengan desain yang ramping, ringan, dan fleksibel, saya bisa mengubahnya menjadi sebuah tablet yang ‘handy’ (mudah untuk dipegang) karena ketebalannya hanya 9,5 mm dan berat 900 gram.

acer-switch-alpha-12_2

Selain itu, dengan layar 12 inci berteknologi IPS (In Plane Switching), QHD (Quarter High Definition), multi-touch, serta resolusi 1.260×1.440 piksel menjadikan area pandang lebih luas. Tentu bercerita dengan visualisasi foto akan menarik dan melengkapi imajinasi para sepupu kecil saya.

Lalu bagaimana dengan bekerja saat di lapangan?

Acer Switch Alpha 12 rupanya juga menjawab kemalasan saya selama ini. Saya sering malas membawa laptop kalau sedang berada di luar karena berat untuk dibawa. Maklum, tempat meeting selalu berpindah-pindah dan tuntutan berkerja tidak selalu di belakang meja, seperti dinas di daerah. Maka dengan Acer Switch Alpha 12 ini, saya bisa membawanya ke mana-mana. Acer Switch Alpha 12 terdiri dari tablet, kickstand, dan keyboard docking. Total keseluruhan hanya 1,25 kg.

acer-switch-alpha-12_1

Jika sedang bekerja di lapangan bersama masyarakat atau berada di daerah yang minim listrik, saya tidak perlu resah jika tidak menemukan colokan listrik. Daya tahan Acer Switch Alpha 12 bisa mencapai 8 jam karena karena dilengkapi baterai berkapasitas 4.870mAh.

Menjelaskan sebuah program kepada klien atau masyarakat juga lebih mudah dengan ilustrasi yang saya buat dengan stylus pen. Stylus pen atau pena digital ini bisa digunakan untuk mencoret-coret layar. Dengan sensitivitas sampai 256 tingkat tekanan, pengalaman menulis digital menjadi lebih rapi dan mudah di layar Acer Switch Alpha 12.

acer-switch-alpha-12_3

Ups, jujur, biasanya karena keasyikan bekerja dan dilanjutkan menulis cerita di blog, laptop harus menyala terus-menerus dan panas (overheating). Eh, tapi tidak dengan Acer Switch Alpha 12. Acer Switch Alpha 12 mengkombinasikan prosesor Intel Core i dan sistem pendingin Liquid Loop, yaitu pendingin yang bisa menstabilkan suhu mesin laptop tanpa kipas. Karena bentuknya berupa cairan pendingin, tidak ada suara bising dari mesin laptop (tidak ada ventilasi di sisi pinggiran laptop). Canggih, ya?

Tidak cuma itu, Acer Switch Alpha 12 juga mempunyai Acer BlueLight Shield, yaitu sebuah teknologi yang mampu melindungi mata dari emisi cahaya biru dari layar penyebab mata lelah dan kering. Jadi, saya bisa tenang dan riang berlama-lama di depan komputer.

Jadi, percaya kan Acer Switch Alpha 12 jodoh saya, eh jodoh positif seorang NGO Officer?

acer-switchable-me-story-competition

Jujur adalah salah satu sikap terpuji dan sifat baik. Setiap orang, bahkan warga negara, diharapkan mempunyai sifat jujur. Saking mulianya, jujur menjadi satu bab tersendiri dalam buku pelajaran PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaran). Buku berwarna merah-putih dan bergambar Pancasila itu, menjelaskan bab jujur dengan cerita dan gambar yang sangat jelas untuk dipahami anak usia Sekolah Dasar.

Kamu pernah meliat buku itu? Buku itu kudapat dari perpustakaan dan tidak diperjual-belikan bebas. Kami semua hanya dipinjami.

Yah, itulah pendapatku kalau ditanya tentang Jujur. Hal itu menjadi begitu berkesan untuk dikenang sampai sekarang padahal saat itu aku baru duduk di bangku Sekolah Dasar. Bisa jadi karena cerita dan gambar yang ada di buku pelajaran itu. Mudah sekali untuk dihafal. Terlebih kalau muncul di soal ujian rowami dua (II) bagian mengisi titik-titik. Aku dan teman-teman bisa dengan mudah mengisikannya.

Sayangnya, itu hanya ‘pemandangan’ di sekolah. Itu hanya di kelas, sebuah ruangan berukuran 4×6 m. Itu hanya saat pelajaran PPKn yang berdurasi 2 x 45 menit, di mana dalam seminggu hanya dua kali pelajaran PPKn. Selebihnya?

Saat ulangan Matematika, beberapa teman tampak gelisah. Gerak-gerik yang ganjil bisa terbaca mulai dari bola mata yang melirik ke kanan dan ke kiri, posisi tangan yang ada di bawah meja dan berusaha meraih sesuatu yang ada di laci, sampai memelototkan bola mata sedemikian rupa memandangi meja kayu karena di sanalah rumus-rumus (baca: contekan) tertulis secara acak bagai sandi – hanya penulisnya yang bisa membaca.

Aku bisa detail betul menjelaskan karena aku hanya bisu melihat ‘parodi’ yang terjadi saat ulangan Matematika di kelas. Tidak sampai satu jam padahal. Sebagai anak, sebenarnya kami semua ketakutan mendapatkan nilai jelek. Ibu guru hobi sekali meminta kami untuk meminta tanda tangan orang tua di setiap hasil ulangan kami. Kalau sampai nilai jelek bersanding dengan tanda tangan orang tua, fiuh, bisa terbayangkan apa yang terjadi selanjutnya?

Oke, aku adil kok. Berikutnya, giliran pengakuan dosaku. Ruang kelas bukan ‘arenaku’. Sebagai anak yang mudah panik, gelagat anehku saat mencontek akan dengan mudah diketahui Ibu Guru. Aku hanya akan jadi bahan tertawaan teman-teman sekelas. Jadi, aku lebih memilih belajar mati-matian semalaman untuk berjuang mendapatkan nilai di atas 5. Nilai 6 untuk ulangan Matematika dan bonus dimarahi orang tua, sudah menjadi sebuah anugerah bagiku.

Di swalayan, saat menemani mama belanja, aku merengek habis-habisan. Aku melihat kepala kelinci berwarna pink di deretan rak permen – coklat dan ingin membelinya. Apa daya mama melarang. Bagi mama, kepala kelinci itu tidak ada artinya. Sebenarnya, aku juga mengakuinya. Kepala kelinci itu seperti bagian dari wadah permen tapi sudah lepas. Jadi, dibeli dengan uang pun akan sangat mubazir. Diam-diam, kukantongi kepala kelinci tak bertuan itu ke saku celana.

Sesampai di rumah, kepala kelinci itu menjadi bagian dari permainan bongkar pasang yang aku mainkan sehari tiga kali. Kepala kelinci itu menjadi sangat menggemaskan bertemu dengan mainanku yang lain. Dia tak nampak kesepian sekarang, seperti saat di rak permen – coklat swalayan. Menyenangkan untuk dipandang, tapi tidak untuk dikenang. Aku tidak jujur pada mama, pada petugas swalayan, dan pada diriku sendiri. Aku mengambil barang diam-diam. Pun, atas nama mainan tak bertuan di rak swalayan atau rasa kasihanku yang terlalu besar pada mainan kepala kelinci.

Kini, setelah belasan tahun dan aku tumbuh besar, kenangan itu benar-benar tidak bisa hilang. Antara sedih dengan sikapku kala itu, juga pembelajaran yang aku refleksikan. Jujur ternyata bukan sekadar cerita yang ada di buku PPKn. Jujur ternyata bukan sesuatu untuk dihafalkan. Jujur juga bukan normatif, buku teks, melainkan sesuatu yang harus dilakukan dan dikatakan karena adanya hati nurani.

Lagi. Jujur bukan berasal dari buku PPKn, melainkan hati nurani. Hati nurani membuat kita bersaksi pada diri sendiri tentang kondisi yang sebenarnya. Ya, ini sederhana tapi banyak yang mengerdilkannya. Mereka mengerdilkan suara hati dan justru membesarkan volume ego untuk berbuat sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani (baca: tidak jujur).

Bagiku, jujur pada diri sendiri adalah latihan kejujuran yang paling dasar tapi penting dan selamanya. Sejak kecil sampai sekarang (sampai kapan pun bahkan), aku masih berproses berlatih. Saat kecil (pasca kejadian mainan kepala kelinci), aku mulai berlatih untuk jujur pada mama tentang pendapatku walaupun aku termasuk anak penurut dan mengiyakan semua pilihan mama. Misal, bahwa aku lebih suka buku gambar daripada boneka.

Pun, saat ini, setelah dewasa, aku tetap berlatih jujur pada diri sendiri, setiap hari. Aku akan menyampaikan pendapat sesuai dengan apa yang aku rasakan. Tak perlu takut, selama hati nurani mendampingi. Dengan dimulai dari diri sendiri, aku merasakan kenyaman yang tiada tara untuk tindakan jujur berikutnya.

Jadi, katakan, “Ya, aku berani dengarkan hati nurani. Aku anak jujur.”

Aku bisa, aku kuat, aku anak baik.

Aku bisa, aku kuat, aku anak baik.

Tulisan diikutsertakan dalam rangka Lomba Menulis Blog Tentang Kejujuran oleh KPK RI.

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons & InvolveAsia X HB & BB. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher berrybenka dan voucher hijabenka disponsori oleh Berrybenka & Hijabenka.

Lebaran bukan melulu tentang baju baru. Kamu setuju? Tapi, ngomongin baju baru sama lebaran emang nggak ada habisnya. Apalagi tiap masuk Ramadan hari kedua puluh atau hari Lebaran minus sepuluh, toko baju selalu laris manis pembeli. Ya, pasar tradisional, pasar modern, mall, online shop, semuanya full! Nampaknya, baju baru masih jadi hal yang wajib dipunya saat Lebaran tiba.

Nggak sampai di situ aja, jelang lebaran, berbagai model baju pun bermunculan. Ya warna, ya corak, ya potongan, semua berlomba-lomba untuk jadi tren yang kekinian. Baju yang dipakai artis di suatu acara TV bisa langsung muncul di pasaran. Uniknya, nama si artis ikut jadi nama model baju yang dipakainya. Masih ingat kan sama ‘Celana Zaskia’ sampai ‘Jilbab Fatin’ yang terkenal di kalangan penjual beberapa waktu yang lalu? Hihi.

Hmm, bingung juga, ya? Padahal cita-cita pembeli itu sesederhana bisa punya baju modis, plus nggak pake capek, nggak pake ribet, dan bla bla bla bla. Emang bisa?? Bisa!!

Nah, kali ini mampir yuk ke www.hijabenka.com. Tempat beli baju antibingung. Kenapa? Karena semuanya ada di sini. Aku bakal pilih satu motif buat kamu untuk lebaran nanti. Motif ini nggak ada matinya dan terus berputar di kalangan fashion. Motif itu adalah … bunga atau floral!

Eh, tahu nggak? Bulan Desember tahun 2014, The Times of India merilis suatu artikel fashion di laman websitenya. Judul artikelnya, “Flowers are the new fashion motif.” Walaupun sudah terhitung satu setengah tahun, nyatanya, sampai sekarang, motif bunga masih menjadi tren di kalangan fashion. Di Indonesia, misalnya. Berbagai pernak-pernik fashion bermotif bunga masih bisa ditemukan dengan mudah. Misalnya, tas, baju, rok, celana, sampai jilbab.

Atasan Bunga
Organize. (1)

Tunik Cantika Japan Tali: Atasan berbahan katun Jepang ini cocok kamu kenakan untuk padanan hijab chic sehari-hari. Atasan tunik bermotif ini dilengkapi tali belt unik. Kamu bisa padu padan dengan hijab polos warna netral. Penasaran? Cek, di sini.

Balerina Skirt: Rok berbahan jersey ini dilengkapi layer tulle dan lace trim pada bagian hemline. Di bagian pinggang, ada tali pinggang yang elastic dan bisa disesuaikan sesuai ukuran. Ditambah atasan bunga, rok ini ‘sempurna’ jadi tampilan berhijab yang girly. Penasaran? Cek, di sini.

Bawahan Bunga
Shaila Pants (1)

Shaila pants: Celana katun cantik dengan aksen bunga-bunga yang manis ini bisa dipadu padan dengan kemeja polos panjang berwarna netral maupun senada. Penasaran? Cek, di sini.

Deva Tunik: Atasan berbahan chiffon dengan detail asimetris yang unik. Penasaran? Cek, di sini.

Hijab Bunga
Damour 036 Blue

Damour 036 Blue: Hijab instant nuansa biru berbahan chiffon ini bermodel langsung pakai dengan detail pemakaian layer dan corak motif floral. Penasaran? Cek, di sini.

Eaton Jumpsuit Black: My Favorite! Jumpsuit berbahan katun ini mempunyai aksen seperti rompi tanpa lengan. Untuk melengkapi penampilan, kenakan manset berwarna netral. Penasaran? Cek, di sini.

Pengalaman donor darah pertama selalu berkesan.  (foto: dokumentasi pribadi)

Pengalaman donor darah pertama selalu berkesan.
(foto: dokumentasi pribadi)

Sabtu, 11 Juli 2015 menjadi hari dan tanggal yang sakral untuk saya. Walau belum genap satu tahun, masih saja selalu teringat seolah minta untuk dikenang. Pagi itu, tiba-tiba seorang teman mengirimkan pesan di Whatsapp Group yang berisi permintaan urgen sumbangan darah O untuk anak temannya yang sakit di rumah sakit. Darah O yang diminta bukan sembarangan, syaratnya, pendonor bergolongan darah O yang belum pernah mendonorkan darahnya karena masih mengandung suatu zat, saya lupa istilahnya.

Merasa sebagai empunya golongan darah O dan cocok, saya pun nekat menghubungi teman saya dan menyatakan bersedia menjadi pendonor. Ya, nekat karena ini akan menjadi kali pertama saya mendonorkan darah. Bohong kalau saya tidak deg-degan. Saya cemas dan takut ditolak, mengingat bulan sebelumnya, saya sempat ditolak donor darah karena Hemoglobin (Hb) saya tidak mencukupi persyaratan. Pun bulan Juli 2015 kala itu bulan puasa dan saya ingat, dini harinya saya tidak sahur. Apa jadinya nanti ketika saya datang ke kantor Palang Merah Indonesia (PMI)?

Rupanya, keinginan saya untuk memecah rekor donor pertama kali mengalahkan ketakutan saya ditolak karena alasan kesehatan. Saya pasrah saja, kalaupun ditolak saya akan pulang. Setidaknya saya pernah menginjakkan kaki di kantor PMI yang beralamat di jalan Kramat, Jakarta Pusat.

Sesampai di kantor PMI, saya didata dan diminta untuk cek kesehatan. Alangkah terkejutnya, saya dinyatakan lolos tes kesehatan tapi tetap ditolak untuk donor darah. Penasaran, saya pun bertanya pada petugas PMI yang berjaga. Dengan sigap, petugas menjawab golongan darah yang dibutuhkan adalah O, sedangkan golongan darah saya adalah A, tidak ada kecocokan. Sehingga, saya tidak bisa menyumbangkan darah untuk pasien seperti yang dikabarkan teman saya melalui Whatsapp Group.

Seharusnya saya gembira karena dinyatakan lolos tes kesehatan untuk donor darah. Nyatanya, rasa gembira itu tertutupi oleh keterkejutan saya tentang perubahan golongan darah yang saya alami. Sejak kecil, saya sudah diberi tahu oleh orangtua saya bahwa golongan darah saya adalah O. Begitu juga di dokumen-dokumen penting hidup saya, semuanya mencatat saya bergolongan darah O. Mengapa sekarang bisa berubah menjadi A?

Dengan menggebu, saya masih bertahan di meja petugas dan bertanya tentang perubahan golongan darah yang saya alami. Dengan sabar, petugas menjelaskan bahwa golongan darah tidak bisa berubah. Bisa jadi, saat bayi, tes golongan darah yang dilakukan pada saya kurang valid. Si petugas pun memperlihatkan hasil tes saya saat itu, berupa darah saya yang ditetesi zat kimia dan hasilnya menunjukkan reaksi kimia yang merujuk pada golongan darah A. Jika kurang puas, petugas menyarankan saya untuk melakukan tes golongan darah di laboratorium terdekat.

Singkat cerita, akhirnya, saya memang tidak bisa mendonorkan darah untuk anak teman saya yang sakit karena perbedaan golongan darah. Karena sudah dinyatakan lolos tes kesehatan, saya tetap donor darah tapi reguler. Saya mendonorkan darah A saya untuk persediaan darah PMI. Hari itu, saya yang takut jarum suntik dan baru donor pertama kali benar-benar membuktikan kata orang-orang tentang donor darah.

Relawan Donor Darah
Saya yakin saya hanya satu di antara sekian orang yang menyumbangkan darahnya atau disebut relawan donor darah. PMI sendiri mempunyai istilah untuk menyebut aktivitas ini, yaitu Donor Darah Sukarela. Seperti dikutip dari website PMI, www.PMI.or.id, Donor Darah Sukarela adalah orang yang dengan sukarela mendonorkan darahnya. Semakin banyak Donor Darah Sukarela, maka kebutuhan darah PMI di berbagai daerah pun dapat terpenuhi.

Berdasarkan data tahun 2015, PMI memiliki dua juta relawan donor darah. Dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia di tahun yang sama, yaitu sebesar 254,9 juta jiwa, tentu jumlah itu masih sedikit. Bahkan, menurut World Health Organization (WHO), setiap negara harus memiliki pasokan darah minimal 2% dari jumlah penduduk. PMI juga memiliki standar tersendiri untuk jumlah donor darah di Indonesia, yaitu minimal 4% dari jumlah penduduk suatu daerah. Mengingat, setiap tahun, Indonesia membutuhkan 4,8 juta kantong darah.

Sungguh jumlah yang tidak sedikit bukan? Tidak salah apabila PMI, sebagai lembaga yang mendapatkan mandat dari pemerintah untuk menjalankan pelayanan donor darah, gencar melakukan berbagai aktivitas dan sosialisasi untuk menghimpun relawan yang bersedia mendonorkan darahnya. Selain datang ke kantor PMI, PMI juga membuka berbagai kemudahan untuk melakukan donor darah. Misalnya, donor darah bisa dilakukan di Unit Donor Darah, gerai donor darah, kegiatan donor darah, maupun mobil donor darah.

Pada dasarnya, menjadi relawan donor darah itu mudah. Terlebih, atas dasar solidaritas kemanusiaan. Semakin tinggi tingkat kesadaran dan pendidikan masyarakat tentang donor darah, maka semakin banyak orang yang menjadi relawan dengan cara menyumbangkan darah yang dimilikinya. Beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi relawan donor darah, yaitu: (a) Berusia 17-60 tahun (usia 17 tahun diperbolehkan dengan izin tertulis dari orangtua), (b) Berat badan minimal 45 kilogram, (c) Temperatur tubuh 36,6-37,5 derajat Celcius, (d) Tekanan darah baik, yaitu sistole 110-160 mmHg dan diastole 70-100 mmHg, (e) Denyut nadi teratur yaitu sekitar 50-100 kali/menit, (f) Hemoglobin (Hb), baik laki-laki maupun perempuan, minimal 12,5 gram, (g) Dalam satu tahun, maksimal melakukan donor darah lima kali dengan jarak donor darah tiga bulan (keadaan ini harus disesuaikan dengan keadaan pendonor).

Tak lupa, sebagai bentuk apresiasi terhadap Donor Darah Sukarela, PMI memberikan piagam penghargaan kepada orang yang telah menyumbangkan darahnya sebanyak 15 kali, 30 kali, 50 kali, 75 kali, dan 100 kali. Khusus untuk Donor Darah Sukarela sebanyak 100 kali, PMI bekerja sama dengan Departemen Sosial memberikan penghargaan Satyalancana Kebaktian Sosial yang disematkan langsung oleh Presiden.

Itulah pengalaman saya tentang donor darah. Gara-gara donor darah, tak hanya menyumbang darah, saya juga jadi tahu golongan darah saya yang sebenarnya. Saya pun bisa bercerita kepada teman-teman saya tentang pengalaman pertama donor darah. Memang pengalaman yang menarik karena jauh berbeda dengan cerita yang beredar di masyarakat. Teman-teman saya berulang kali menanyakan rasanya. Sakit? Nyatanya, tidak. Proses donor darah pun relatif cepat dan tidak berasa. Ini hanya pengalaman saya, saya yakin pasti masih banyak cerita dari relawan donor darah lainnya. Kamu berminat untuk membantu sesama dan punya pengalaman donor darah? Yuk, menjadi relawan donor darah!

Referensi:
Anonim, Donor Darah Sukarela (online), 2013, <https://www.pmi.or.id/index.php/kapasitas/sukarelawan/donor-darah-sukarela.html>, diakses pada 12 Juni 2016

Biro Humas PMI Pusat, Hari Donor Darah Sedunia: Berbagi Kehidupan, Donorkan Darah (online), 2016, <http://www.pmi.or.id/index.php/berita-dan-media/peristiwa/item/794-hari-donor-darah-sedunia-berbagi-kehidupan,-donorkan-darah-hdds2016.html>, diakses pada 12 Juni 2016

Blood for Life, Syarat Donor Darah (online), ____, <https://bloodforlife.wordpress.com/syarat-donor-darah/>, diakses pada 12 Juni 2016

Fimdani, Data BPS 2015 Sebut Jumlah Laki-laki di Indonesia Lebih Banyak Dari Perempuan (online), 2015, <http://news.fimadani.com/read/2015/11/21/data-bps-2015-sebut-jumlah-laki-laki-di-indonesia-lebih-banyak-dari-perempuan/>, diakses pada 12 Juni 2016

Wardah, Fathiyah, Indonesia Kekurangan 1 Juta Kantong Darah Per Tahun (online), 2016, <http://www.voaindonesia.com/content/indonesia-kekurangan-1-juta-kantong-darah-per-tahun/1681588.html>, diakses pada 12 Juni 2016

Zulfikar, Achmad, 70 Tahun Berdiri, PMI Miliki 2 Juta Relawan Donor Darah (online), 2015, < http://news.metrotvnews.com/read/2015/09/10/429713/70-tahun-berdiri-pmi-miliki-2-juta-relawan-donor-darah>, diakses pada 12 Juni 2016

“Kerja di mana?”
“Di Indonesia Mengajar.”
“Oh, jadi guru, ya? Mengajar di mana?”

Begitulah pertanyaan yang sering diajukan orang-orang di luar sana kepada saya (yang sejak tahun 2014 lalu menjadi staf di Indonesia Mengajar). Memang bukan sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Bersyukur, dua kata itu, ‘Indonesia’ dan ‘mengajar’, memiliki makna kata yang jelas satu sama lain. Jadi, ketika dua kata itu bergabung membentuk sebuah frasa, saya tidak perlu repot panjang lebar menjelaskannya.

Guru, Sekolah Dasar (SD), daerah pelosok, anak-anak, mengajar, Anies Baswedan, pemuda, lulusan S-1, tidak ada listrik, tidak ada sinyal sinyal, pegunungan, pantai, jauh, terpencil. Begitulah orang-orang itu sering menerka-nerka Indonesia Mengajar dengan versinya sendiri.

Walaupun sering diidentikkan dengan profesi guru dan kegiatan belajar mengajar di sebuah sekolah, lebih dari itu, Indonesia Mengajar sebenarnya adalah wahana atau sekolah kepemimpinan bagi pemuda-pemuda terbaik. Indonesia Mengajar sering menyebutnya sebagai ‘Indonesia Mengajar School of Leadership.’

Indonesia Mengajar School of Leadership ini dimulai sejak pemuda-pemuda yang sudah lolos seleksi, yang kemudian disebut sebagai Pengajar Muda, diberangkatkan ke daerah pelosok di seluruh Indonesia (deployment). Selama satu tahun di daerah, mereka akan menjadi guru sekaligus penggerak masyarakat untuk mendorong kemajuan pendidikan di daerah tersebut.

Semua hal yang terjadi di daerah penempatan adalah pelajaran bagi Pengajar Muda, sedangkan daerah penempatan adalah sekolah bagi Pengajar Muda. Selama satu tahun, Pengajar Muda menghadapi realita kehidupan di daerah dan, bisa jadi, jauh berbeda dari kehidupannya sebelum menjadi Pengajar Muda secara mandiri. Secara mandiri di sini artinya sendiri sebagai seorang individu. Ya, satu Pengajar Muda memang ditugaskan di satu SD dan hidup sebagai anak dari sebuah keluarga angkat (host family) di daerah penempatan.

Mengapa profesi yang dipilih oleh Indonesia Mengajar untuk menerjukan pemuda-pemuda terbaik ini adalah guru? Mengutip dari apa yang selalu disampaikan oleh Anies Baswedan, penggagas Indonesia Mengajar, guru adalah sebuah profesi yang bisa diterima oleh hampir seluruh masyarakat di Indonesia. Jadi, untuk dapat ‘bersekolah’, hidup di tengah masyarakat di sebuah daerah, Pengajar Muda harus terjun dan mengalaminya sendiri.

Waktu satu tahun yang diberikan kepada Pengajar Muda untuk mendorong kemajuan pendidikan di sebuah daerah bukanlah sebuah keterbatasan, melainkan tantangan. Sesuai visinya, keberadaan Indonesia Mengajar di sebuah daerah penempatan adalah lima tahun. Dalam lima tahun itu, ada lima Pengajar Muda yang berganti setiap tahunnya. Bisa dibayangkan dalam kurun waktu lima tahun tersebut, masyarakat ‘hafal’ dengan siklus keberadaan Pengajar Muda dan termotivasi untuk memajukan pendidikan di daerahnya karena tidak melulu selamanya bergantung kepada Pengajar Muda.

Sekembali dari daerah penempatan, Indonesia Mengajar mencita-citakan adanya jaringan pemimpin masa depan dari para alumni Pengajar Muda yang sudah purna tugas. Di masa depan, mereka diharapkan menjadi pemimpin-pemimpin Indonesia di berbagai bidang yang tidak hanya berwawasan global (global competence), tetapi juga memahami realita akar rumput (grass root understanding) bangsanya.

Saya dan Indonesia Mengajar

Cerita saya di atas bukanlah sebuah isapan jempol semata. Ada alasan mengapa saya bisa lancar bercerita. Saya sendiri adalah salah satu Pengajar Muda yang pernah bertugas di suatu daerah. Nah, di situlah, hubungan saya dengan Indonesia Mengajar dimulai.

Pada akhir tahun 2010, saya mengikuti seleksi Pengajar Muda angkatan II Indonesia Mengajar di Yogyakarta. Melalui rangkaian seleksi yang panjang, akhirnya pada bulan April tahun 2011, saya dinyatakan lolos seleksi untuk menjadi Pengajar Muda dan wajib mengikuti pelatihan intensif selama dua bulan, sebelum akhirnya diberangkatkan ke daerah penempatan.

Bagi saya dan teman-teman Pengajar Muda angkatan II lainnya, ini adalah sebuah perjuangan, pun sebelum diberangkatkan ke daerah. Bayangkan, di tahun 2010, saat Pengajar Muda angkatan I belum kembali dari penugasan, serta publikasi di media belum semarak seperti sekarang, pendaftar Pengajar Muda sudah mencapai 4.368 orang. Padahal dari jumlah tersebut, untuk angkatan II saja hanya dipilih 72 orang.

IMG_1461

IMG_4107

Singkat cerita, selama satu tahun, 2011-2012, saya ditugaskan di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Saya mengajar di SD Negeri 2 Kepuh Legundi sebagai wali kelas 6 yang mengajar semua mata pelajaran, kecuali agama. Tidak sampai di situ saja, pada tahun-tahun selanjutnya, keberadaan saya di SD N 2 Kepuh Legundi diteruskan oleh Pengajar Muda berikutnya, yaitu angkatan IV (2012-2013), VI (2013-2014), VIII (2014-2015), dan sekarang (2015-2016), yang masih bertugas (in service) Pengajar Muda angkatan X.

Selain pengalaman mengajar, banyak hal lain yang saya dapatkan selama bertugas. Salah satunya, saya menjadi saksi perubahan positif yang ada di masyarakat, khususnya di bidang pendidikan. Walau hanya berada di daerah selama satu tahun, saya dan teman-teman Pengajar Muda penerus saya masih terus aktif berkomunikasi tentang perkembangan murid-murid kami, sekolah, maupun masyarakat di desa.

Salah satu hal yang menjadi perhatian kami adalah keberadaan taman baca di desa dan perpustakaan di sekolah. Jika pada saat saya bertugas, saya meminjam ruang tamu di rumah keluarga angkat saya untuk menginisiasinya menjadi taman baca, maka pada perkembangan selanjutnya, oleh Pengajar Muda penerus saya, taman baca dipindahkan ke sekolah sehingga pada akhirnya, sekolah memiliki perpustakaan sekolah. Tidak sampai di situ saja, oleh Pengajar Muda penerus berikutnya, berdirilah sebuah taman baca bernama ‘Dhurung Elmo’ di lingkungan rumah warga dengan koleksi buku yang lebih beragam. Warga pun menyambut gembira karena mereka turut andil dalam pengelolaannya.

bikin perpust di rumah

Sekarang, jika ditanya bagaimana rasanya? Maka, saya menjawab selalu terkenang. Banyak sekali hal yang saya dapatkan, baik pengalaman hidup maupun pengembangan kapasitas diri. Walaupun penugasan sudah berakhir dan saya sudah tidak menjadi guru sejak beberapa tahun lalu, saya masih tetap bersemangat menceritakan pengalaman saya tinggal di sebuah desa di balik gunung tak bersinyal di sebuah pulau selama satu tahun. Rasanya, masih selalu seperti kemarin, tak terlupakan.

BNI Sebagai Mitra Pendamping SD, Sebuah Kontribusi

“Apakah pemuda-pemuda terbaik yang mau menyumbangkan satu tahun usianya untuk hidup di daerah pelosok Indonesia sebagai guru hanya ada di negeri dongeng? Apakah masih ada pemuda yang bersedia untuk hidup ‘susah’ demi mengasah jiwa kepemimpinannya? Apakah ketulusan dan pengabdian masih berlaku untuk zaman sekarang?”

Melalui pengiriman Pengajar Muda ke daerah penempatan setiap tahun, Indonesia Mengajar menjawabnya. Dimulai dengan pengiriman 51 Pengajar Muda angkatan I pada tahun 2010 ke lima kabupaten di seluruh Indonesia, disusul dengan pengiriman 72 Pengajar Muda angkatan II pada tahun 2011 ke sepuluh kabupaten di seluruh Indonesia, hingga kini, terakhir, Indonesia Mengajar mengirimkan 75 Pengajar Muda angkatan X ke sepuluh kabupaten di seluruh Indonesia.

Sejak tahun 2010 sampai 2015, sudah ada sepuluh angkatan Pengajar Muda yang dikirimkan ke daerah penempatan. Dari sepuluh angkatan tersebut, sudah ada 414 orang alumni Pengajar Muda yang sudah purna tugas dan ada 127 orang Pengajar Muda yang masih bertugas di daerah penempatan sebagai Pengajar Muda angkatan XI dan angkatan X.

Melihat hal tersebut, sampai detik ini, saya optimis dengan apa yang dicita-citakan Indonesia Mengajar tentang jaringan pemimpin masa depan dari para alumni Pengajar Muda yang sudah purna tugas. Kini, 414 orang alumni Pengajar Muda sudah kembali ke kehidupannya masing-masing dan terjun ke berbagai sektor, seperti pemerintahan, swasta, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Selain itu, beberapa di antaranya juga aktif dalam pengembangan kewirausahaan sosial (social entrepreneurship), gerakan sosial (social movement), dan dunia kerelawanan lainnya. Isunya pun, tidak hanya terbatas pada pendidikan semata.

Saya percaya, semua hal ini bisa terwujud tidak hanya atas usaha Indonesia Mengajar saja. Di balik itu, ada berbagai pihak yang turut mendukung Indonesia Mengajar sehingga Indonesia Mengajar bisa berkembang seperti sekarang dan menghasilkan alumni Pengajar Muda yang berkualitas, calon pemimpin masa depan.

Sejak awal berdirinya, Indonesia Mengajar mengajak semua pihak untuk ikut terlibat dan berkontribusi dalam pengembangan pendidikan di Indonesia. Pendidikan adalah tanggung jawab setiap orang. Sehingga, pendidikan harus diupayakan bersama dalam sebuah koridor bernama gerakan pendidikan.

BNI (Bank Negara Indonesia), salah satunya. Sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang perbankan, BNI mempunyai berbagai kegiatan tanggung jawab sosial. Hal ini seperti tercantum pada Peraturan Menteri BUMN No. 05/MB/2007 tentang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Dengan tema ‘Bersama Membangun Negeri (BNI Berbagi)’, BNI bekerja sama dengan berbagai institusi untuk meningkatkan dampak positif dan manfaat keberadaan BNI di tengah masyarakat demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Sejak tahun 2012 hingga sekarang, BNI mendukung Indonesia Mengajar sebagai Mitra Pendamping di SD-SD penempatan Pengajar Muda. BNI mendukung pengiriman Pengajar Muda yang bertugas di 46 SD di enam kabupaten di seluruh Indonesia. Angka 46 sendiri diambil dari tahun berdirinya bank pertama di Indonesia ini, 1946. Adapun keenam kabupaten tersebut, yaitu Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau, Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Sangihe Provinsi Sulawesi Utara, dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku.

Sebagai alumni Pengajar Muda yang pernah bertugas di daerah, saya berterima kasih dan mengapresiasi dukungan yang diberikan BNI kepada Indonesia Mengajar. Terbayang dalam kurun waktu tiga tahun, BNI andil dalam melahirkan alumni Pengajar Muda yang tersebar di 46 SD di enam kabupaten di seluruh Indonesia. Bagi saya, lagi-lagi, ini bukan melulu tentang pengiriman tenaga guru atau pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang menjadi lebih ‘semarak’ dengan kehadiran Pengajar Muda di ruang kelas di sebuah pelosok desa. Lebih dari itu, dukungan yang diberikan BNI kepada Indonesia Mengajar adalah dukungan terbentuknya embrio-embrio pemimpin masa depan Indonesia dari pemuda-pemuda terbaik yang kaya akan pemahaman ibu pertiwi untuk dibanggakan di level dunia. Sungguh sebuah prestasi tersendiri dari sebuah institusi.

Menutup tulisan ini, saya meminjam kata-kata dari presiden pertama Indonesia, Soekarno, yang sampai sekarang masih sangat ampuh untuk membakar sumbu semangat generasi muda di Indonesia, “Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Ya, BNI ada di dalamnya, bersama membangun negeri.

Edisi 1 #DibuangSayang

Ditulis tanggal 14 Januari 2006 dengan font Papyrus 12. Ditemukan di folder data (D:) tanggal 17 Juli 2015. Setelah saya ingat-ingat, tulisan ini untuk lomba menulis sabun jerawat (kala itu). Terlihat, sejak SMA, betapa randomnya saya :))

Happy banget zaman SMA. Hayoh, tebak saya yang mana? Paling kiri yang bawa bunga ungu di kepala hehe.

Happy banget zaman SMA. Hayoh, tebak saya yang mana? Paling kiri yang bawa bunga ungu di kepala hehe.

* * *

Namaku Hety, panggil saja begitu. Umurku sekarang 17 tahun. Selama 17 tahun itu, banyak banget yang datang dan pergi. Manis, asem, pahit, sedih, gembira. Wah, pokoknya aku enggak menyesal. Aku justru bersyukur banget dan aku percaya bahwa tiap orang tuh udah dikasih jalan sama kehidupannya masing- masing. Sama satu lagi, kita semua tuh harus berusaha buat mengejar impian atau cita-cita yang kita inginkan. Enggak ada yang jatuh dari langit cuma-cuma, semuanya harus disertai doa dan usaha.

Tanggal 17 Agustus 2004 kemarin, aku menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) kota Yogyakarta. Walaupun aku enggak berhasil lolos seleksi Paskibraka Nasional buat upacara di Jakarta, aku tetep bangga kok. Aku seneng karena diberi kesempatan buat megang dan melihat langsung bendera merah putih pertama yang dikibarin dulu pas Yogyakarta menjadi ibukota Republik Indonesia. Jadi, tahun 2004 kemarin, aku dan teman-teman Paskibraka mengibarkan bendera kedua yang dikirim dari Jakarta. Sejak menjadi Paskibraka, aku jadi tahu dan sadar apa sebenarnya nasionalisme dan patriotisme itu dalam wujud yang nyata. Dulu, pas SD, aku sering mendengar kedua isilah itu dari pelajaran PPKN, tapi dalam wujud bacaan yang abstrak. Sayangnya, sebagai generasi muda, banyak dari kita yang udah terlena dengan kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia. Dan seakan mereka tuh udah enggak peduli lagi. Perjuangan yang berat para pahlawan dulu, baru terasa ketika aku mengikuti seleksi untuk menjadi Paskibraka. Seleksi fisik dan seleksi mental dari sekian banyak pelajar-pelajar SMA di kota Yogyakarta harus kulalui hanya untuk menjadi Paskibraka, pasukan yang mengibarkan bendera. Di situlah letak keistimewaannya yang kutemukan. Dan lagi-lagi aku sangat bersyukur kepadaTuhan.

Menjadi Paskibraka itu hanya sehari. Hanya tanggal 17 Agustus. Setelah tugas pengibaran selesai, aku menjadi Purna Paskibraka. Organisasi yang menampung para Purna Paskibraka dinamakan Purna Paskibraka Indonesia (PPI). Nah, untuk masuk organisasi PPI, kita, para purna paskibraka, harus setelah lulus SMA. Walaupun blum menjadi anggota PPI, seorang Purna Paskibraka juga dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh PPI.

Aku pernah mengikuti Musyawarah Nasional Pemuda Indonesia tahun 2004 yang dilaksanakan pada tanggal 24-26 Oktober 2004 di Yogyakrta. Sebagai perwakilan dari PPI kota Yogyakarta, utusan dari Yogyakarta, aku bertemu orang-orang dari seluruh Indonesia, baik mahasiswa ataupun pelajar. Aku senang sekali karena melihat langsung perdebatan antara mahasiswa-mahasiswa dan pelajar-pelajar yang menyoroti tentang keadaan Indonesia saat itu. Event-event yang diselenggarakan PPI antara lain Lomba Baris-Berbaris (LBB) kota Yogyakarta dan Invitasi Bola Basket (IBB) antarpelajar SMA se-kota Yogyakarta. Di situ, aku turut serta menjadi panitia.

Hobiku menggambar. Aku belajar menggambar secara otodidak. Orang tuaku lebih suka me-ngeles-kan aku les bahasa Inggris daripada les melukis. Ya, sudah aku menurut saja tanpa pembelaan diri. Awalnya sih kecil- kecilan, lomba menggambar tingkat RT. Tapi lama-lama, pas SMA ini kucoba untuk mengikuti lomba karikatur. Ternyata, tanpa kuduga aku mendapat juara, yaitu juara 3 lomba karikatur teknik sipil Universitas Diponegoro tingkat Jateng-DIY (16 April 2005) dan juara 3 lomba karikatur Olimpiade Lingkungan ASEHI (20 Agustus 2005). Selain itu, aku pernah meraih juara lomba majalah dinding Youth Studi Centre tingkat kota Yogyakarta bersama teman-temanku di kelas 2 IPS, lomba paduan suara bersama teman-teman ekstra paduan suara sekolah, dan lomba baris-berbaris bersama teman-teman peleton inti/tonti sekolahku.

Tips biar PD walaupun lagi jerawatan, biasanya aku kalau lagi jerawatan, sebelum pergi keluar rumah atau sebelum tidur, jerawatnya aku kompres pakai air hangat. Biasanya sih jadi mengecil, walau belum bener- bener ilang. Yah, tapi kan minimal ukurannya jadi mengecil, enggak segede sebelumnya :). Terus biasanya saat beraktivitas di luar rumah kan ketemu orang banyak, aku banyak tersenyum (tebar senyum sekalian tebar pesona hihi…) dan ketawa. Karena menurutku, dengan banyak tersenyum dan ketawa, kita jadi kelihatan tambah manis en enak dilihat. Kalau misal ditanyain temen soal jerawat kita, dijawab asal aja sambil becanda. Bilang aja jerawat kita ini isinya kupon berhadiah. Mesti ntar pada ketawa semua. Kan jadi hepy semua. Prinsipnya pas jerawatan, kesabaran sedng diuji. Tahan tangan kita buat megang-megang jerawat, siapin mental baja yang tahan ledekan teman –teman dan selalu berkeyakinan teguh: ni jerawat bakal hilang. Aku jadi inget kata guruku pas SMP. Guruku itu bilang, remaja tanpa jerawat tuh bagaikan langit malam tanpa bintang. Ckckck, kalau dipikir-pikir bener juga sih kata guruku itu :).

%d bloggers like this: