Archive

Story of Me

28 April 2018
Duh, gimana ya cara jelasin LSM ke adik-adik nanti? LSM adalah aktor selain pemerintah dan perusahaan profit di kehidupan kita sehari-hari. Hmm, kok aneh sih? Hmm … apa ya yang gampang? Lembaga yang memberikan bantuan kepada masyarakat, eh enggak juga sih. Duh, apa ya? Masak sih udah bertahun-tahun kerja enggak bisa jelasin ke anak-anak? Pakai bahasa yang sederhana gitu. Apa yaaa? Gimana sih, Het? Zzz.

Bertanya sendiri dan dijawab sendiri. Akhirnya, kesal dengan diri sendiri. Begitulah hari-hari saya jelang Kelas Inspirasi Goes to LPKA Tengerang. Tidak mau menyerah begitu saja, saya mencoba mencari cara lain. Aha! Termakan iklan ‘Tanya Google Aja’ saya pun memutuskan untuk membuka browser di Handphone. Tik tik tik tik … Jempol saya menari cepat di layar.

‘C a r a m e n g e n a l k a n L S M k e p a d a a n a k – a n a k’.

Loading pepersekian detik lalu muncul:

‘Mungkin maksud Anda adalah: cara mengenalkan ALAM kepada anak-anak’

Gedubrak! Enggak ada referensinya sama sekali. Saya tersenyum getir. Keki. Belum adakah orang yang berbagi cara di internet untuk menjelaskan LSM kepada anak-anak? Atau nampaknya Tuhan tidak membiarkan saya ‘mencontek’ begitu saja dari Google.

Baiklah, kita cari cara lain (lagi). Saya pun memutuskan ‘cara sosial’ yaitu membuka interaksi dan bertanya kepada sahabat saya yang juga bergelut dengan dunia development slash pemberdayaan masyarakat.

Oke, saya minta maaf kalau kalian mulai kesal dengan saya yang tidak kreatif ini. Eits, tunggu dulu. Saya adalah orang yang percaya bahwa keilmuan dapat dipertajam dengan diskusi dengan teman. Fatal kalau hanya kita sendiri yang jumawa mengklaim sebuah keilmuan.

Terdengar suara sumbang dari ujung sana, “Aish, Het, kamu cuma ngeles aja.”

*

Oke, tulisan di atas adalah teaser betapa deg-degannya saya untuk Kelas Inspirasi!! Iya, Kelas Inspirasi! Kegiatan selama satu hari di mana para relawan atau profesional akan datang ke SD (Sekolah Dasar) untuk mengenalkan profesi mereka kepada anak-anak di sekolah itu.

Lhoh, bukannya kamu pernah ikut ya, Het? Coba baca di sini

Iya, beda. Dulu, saya hanya orang di balik layar. Sekarang, saya mencoba untuk menjadi salah satu inspirator atau pengajar. Ciee …

Hei, masih grogi juga??

HeEh!! Ini beda. Kelas Inspirasi kali ini bukan di SD seperti biasanya, melainkan di LPKA di Tangerang. Adik-adik di sini istimewa!

Pantes, dari tadi ribut sendiri, eh.

30 April 2018
Hari Inspirasi. Hari yang dinantikan tiba. Pukul 6.00 tepat, saya sudah menginjakkan kaki di stasiun Tanah Abang. Jujur, saya takut terlambat. Lalu lintas di Jakarta itu tidak bisa ditebak. Sesuai jadwal, para relawan sepakat untuk berkumpul di depan Gedung LPKA Tangerang pukul 8.00. Saya memutuskan untuk nail KRL dengan rute dari Stasiun Tanah Abang, transit di Stasiun Duri, lalu ambil ke arah Tangerang, dan berhenti di Stasiun Tanah Tinggi, stasiun terdekat dari LPKA Tangerang.

Akhirnya, saya tiba pukul 7.00 lebih sedikit. Siapa sangka bisa secepat ini. Karena masih ada waktu, saya memutuskan untuk mencari sarapan. Percayalah mengajar itu butuh energi, Komandan! Dan … Maklum anak kos. Semakin pagi berangkat, semakin bisa ditebak kalau yang bersangkutan enggak sarapan hehe.

Pukul 07.30, ternyata, teman-teman relawan sudah berkumpul. Dari tas yang dibawa, mereka sudah siap dengan amunisinya (baca: laptop, kertas manila, alat pewarna, ular tangga, dadu, …). Kami tinggal menunggu instruksi saja dari petugas berseragam untuk masuk ke gedung LPKA. Walau semula di jadwal tertulis mengajar pukul 09.00, nyatanya pukul 09.30 kami baru bisa masuk ke LPKA. Katanya, ada beberapa adik yang sedang menjalani ujian. Sehingga, kami harus menunggu beberapa saat.

Dokumentasi: Relawan Fotografer

Oh ya, untuk masuk LPKA, beberapa barang harus dititipkan. Mungkin gambarannya seperti yang ada di film-film. Di pintu masuk, ada banyak petugas berseragam serta loker tempat penitipan barang. Karena kami tidak boleh memotret selama acara berlangsung, handphone kami pun diminta untuk dititipkan. Jadi, di Kelas Inspirasi kali ini, pendokumentasian kegiatan hanya dilakukan oleh tiga relawan fotografer yang sudah ditunjuk sebelumnya.

Kejutan pertama yang kami terima pagi itu adalah kelompok yang berubah. Semula, kami dibagi berdasarkan kelas (SD, SMP, SMA, SMK). Nyatanya, pagi itu, 91 adik-adik yang berkumpul di aula diminta berhitung untuk membuat tujuh kelompok baru dan tad-daa … jadilah kelompok adik-adik baru yang akan menerima kehadiran 23 kakak-kakak inspirator yang mukanya mulai pucat pasi karena berarti skenario di kelas juga akan berubah.

Penasaran Dengan Kelompok Saya?
Kelompok saya terdiri dari tiga kakak inspirator (termasuk saya), sebelas atau dua belas adik, serta satu fasilitator. Sesuai pembagian, kami menempati ruang kelas SMK di LPKA. Letak ruang kelasnya agak di belakang. Sehingga, bisa membuat kelompok saya ‘jalan-jalan’ di lingkungan gedung LPKA. Oh ya, sepanjang berjalan di koridor, nampak bapak-bapak dan ibu-ibu berseragam, pegawai LPKA, sedang asyik di ruangan. Kalau boleh dibandingkan, suasananya enggak jauh berbeda dengan kantor-kantor pemerintahan pada umumnya.

Tak banyak yang bisa saya jelaskan tentang ruang-ruang yang ada di LPKA, selain di pintu dan jendela yang ‘dilengkapi’ jeruji. Ruang-ruang kelas yang berlangit-langit tinggi di LPKA menandakan bangunan itu adalah bangunan tua peninggalan Belanda, sedangkan di sisi gedung LPKA yang lain, bangunan yang lebih modern juga berdiri. Di tengah bangunan LPKA, ada taman-taman sekaligus lahan sempit untuk bertani. Saya tebak, di sanalah praktik tanam-menanam diajarkan. Di sini, adik-adik memang diajarkan beraneka ketrampilan yang harapannya bisa dipraktikkan secara mandiri kelak, misal bertani, bengkel, sablon, cukur rambut, dan lain-lain.

Oke, balik ke kelas, ya. Inspirator pertama di kelompok saya adalah Kak Razie. Kak Razie menularkan ‘virus’ pengusaha ke adik-adik. Semuanya asyik menyimak karena saat ditanya ternyata ada beberapa orangtua mereka yang berprofesi sebagai pedagang. Adik-adik pun ada yang ingin menjadi pengusaha. Mereka tak malu-malu untuk mengaku, “Itu lho Kak, saya ingin jual kue-kue, seperti risol,” atau ada juga yang begini, “Saya ingin jadi tukang cukur, Kak. Lihat tuh, gaya rambut teman-teman. Saya buat keren semua,” yang sontak disambut tawa oleh seisi kelas.

Inspirator kedua adalah Kak Windy. Sebagai seorang perancang busana, Kak Windy mengajarkan adik-adik teknik membuat kain shibori dan tie dye. Adik-adik antusias. Katanya, mereka tak menyangka bisa segampang itu membuatnya. “Ini kan yang dijual di distro-distro. Besok saya buat sendiri, ah!”

Giliran saya tiba, inspirator terakhir. Semua yang saya siapkan buyar. Bye kertas manila! Suasana kelas sudah panas, adik-adik yang diujung mana suaranya seakan-akan menantikan apa yang saya bawa.

Halo, saya Hety, pekerjaan saya adalah staf LSM.”

Dokumentasi: Pak HH

Hening.

Staf LSM adalah … Coba kalian pandang sekeliling kalian, masalah sosial apa saja yang kalian temukan … bla bla bla … .” Siapa sangka, saat saya bercerita, terlebih, saat memberikan contoh bidang kesehatan, ada yang tiba-tiba mengangkat tangan mencari perhatian dan berkomentar, “Kak, ibu saya juga staf LSM. Dia bantu-bantu di Posyandu.”

Krak! Kebekuan pecah. Saya mendapat momentum. Ternyata mereka familiar juga. Saya pun melanjutkan cerita dengan lebih lancar lagi. Hidung saya kembang-kempis saking bersemangatnya.

Sesi di kelas kami ditutup dengan memberikan kesempatan pada adik-adik untuk bertanya pada kami bertiga. Mereka boleh memilih. Saya terharu karena ada pertanyaan yang ditujukan kepada saya, yaitu kapan saya memutuskan untuk bekerja di LSM dan tentang Kelas Inspirasi.

Jika ada kesempatan, saya bersedia untuk ‘hadir’ di antara adik-adik itu lagi. Kemarin belum cukup. Walau hanya beberapa jam di sana, saya menyaksikan sendiri adik-adik itu mempunyai keinginan yang ingin mereka wujudkan. Keinginan, mimpi, cita-cita, normal, kan? Perkara bagaimana caranya itu urusan nanti. Buktinya mereka bersedia (dan berani) mengutarakannya pada kami, para relawan pengajar. Harapan itu ternyata masih ada. Jika saat ini mereka sedang berada di jalan yang lain, jalan yang tidak biasa, bukan berarti mereka tidak punya kesempatan. Saya percaya mimpi-mimpi merekalah yang akan menuntun mereka untuk kembali.

Sampai jumpa lagi, hai adik!

Advertisements

Picture: Pinterest

Selamat Hety! 9 April, beberapa sekian hari yang lalu. Akhirnya 29 juga. Setelah dulu digadang-gadang, akhirnya sekarang merasakan. Apa rasanya 29?

Saya merasa 29 sudah sejak 28. Lhoh! Jangan tanya saya. Mulanya, saya pun enggak merasa. Orang-orang itu yang dengan ceriwis yo wis selalu mengingatkan kalau saya sebentar lagi 29. Tidak pantas begini, tidak pantas begitu, harus begini, harus begitu, ingat umur, begitu katanya.

Seolah hidup ada SOP-nya. Umur sekian yang harus dilakukan adalah, umur sekian yang harus dilakukan adalah, umur sekian yang harus dilakukan adalah.

Entah, apa pentingnya bagi mereka untuk mengingatkan saya. Lha wong yang menjalani kehidupan ini saya. Mereka ya kehidupan mereka.

Oh ya, saya ingat. Mereka enggak bisa enggak berkomentar saat saya khusyuk menonton film-film Disney. Mereka geleng-geleng kepala saat saya pesan Happy Meal demi mainan. Mereka nyinyir saat saya membeli stationery lucu.

Nyatanya, mereka memang seperti itu. Selalu berisik. Apa iya itu tanda sayang??

Karena sudah diusik menjadi 29 sejak 28, maka detik-detik jelang ke-29-an saya kemarin, saya lalui dengan biasa saja. Yang tak berubah adalah ritual puji syukur masih diberi perpanjangan hidup.

Di tengah malam perpanjangan hidup itu, saya tak bisa memejamkan mata. Saya tak bermaksud menunggu orang pertama yang akan mengucapkan panjang umur. Bagi saya, ini adalah sesi personal saya dengan yang maha segala.

Tak ada semoga, semoga, semoga. Detik itu, diberi perpanjangan umur saja sudah karunia tak terhingga. Saya masih dipercaya hidup. Saya masih diberi kesempatan. Saya masih … memikul tanggung jawab.

Jadi, izinkan tulisan ini menjadi tulisan pertama di blog saat 29. 29 yang kemudian membuat saya senyum-senyum sendiri untuk mengingat apa yang belum saya lakukan di 28. Ini ada kesempatan (lagi), ayo!

Happy birthday! You are getting old, darling!

Lho, mbak Het itu 29 ta? Apa iya? Aku kira masih 26, 27-an gitu. Enggak keliatan sih. Ah, Mbak Het. Mbak kan gitu.”

Akan ada hari di mana mimpimu akan menjadi dekat. Hari apakah itu?

Saya? Bagi saya, hari itu kemarin.

Dalam satu hari, tiba-tiba ada tiga kejadian yang menggelitiki mimpi saya untuk bangun dari nina bobonya di penghujung tahun. Ayo-ayo!

Kejadian Satu
Mantan bos di kantor sebelumnya, tiba-tiba menelepon. Seperti biasa, sapaan hangat dan gaya ‘ngakrab’-nya itu bisa membuat cair pembicaraan kami di telepon dalam hitungan detik. Padahal sudah lama sekali tidak ketemu. Valid kan beliau jadi bos? Sosok yang hangat untuk mengguyubkan sebuah hubungan, termasuk dengan saya, bawahannya versi zaman dahulu kala.

Tak hanya sampai di situ saja, satu hal lagi yang membuat kaget adalah saat beliau menutup pembicaraan kami dengan, “Jangan lupa, lho Het?”
Apa, Pak?” tanya saya polos karena saya memang tak pernah menjanjikan apa-apa sepanjang pertemuan lewat suara ini.
Bikin sekolah, kan? Hahahaha
Deg.

Ya, saya tak pernah menutup-nutupi mimpi saya dengan orang yang mempunyai kutub positif di sekitar saya. Terlebih orang yang mempunyai kemampuan untuk melihat potensi saya dan bersedia menjadi supporter bukan hater. Si bapak bos di atas, misalnya. Beliau tahu saya punya cita-cita mempunyai sekolah suatu saat nanti dan tetiba diingatkan dengan cara seperti kemarin? Hmm, rasanya …

Kejadian Dua
Masih di hari yang sama tiba-tiba seorang teman yang paham betul kalau saya sebenarnya mempunyai jiwa kesasar petualang mengirimkan chat Whhatsapp, “Mana fotomu di Thailand?:)”

Thailand? Ya, Thailand adalah liburan ‘colongan’ saat perjalanan ke Afrika Selatan kemarin (saya janji akan menuliskan cerita perjalanan ini di posting berikutnya, ya). Dia menagih foto karena saya terlanjur berjanji untuk foto di Wat Arun, salah satu destinasi wisata. Nyatanya, saya tidak jadi ke sana karena waktu saya habis di imigrasi bandara. Jadilah, saya ganti dengan mengirimkan foto saat kesasar di stasiun.

Nggak enak ya ternyata jalan-jalan sendiri. Aku sempat salah stasiun, jadi muter gitu.”
Ahaha. Nggak apa-apalah. Yang penting 4 benua udah checked. Next tinggal Ausie. Hety the Exploler.”

Deg. Saya tak menyangka teman saya yang satu ini menghitung kepergian saya selama ini. Ya, memang tinggal satu benua lagi, Australia, yang menurut road map hidup saya akan menjadi negara impian untuk melanjutkan studi S2. Bisa ditebak, percakapan saya selanjutnya, dipenuhi tulisan ‘Amin’.

Kejadian Tiga
Malam kemarin, saya memenuhi undangan untuk hadir dalam acara temu alumni penerima program Australia (mereka menyebutnya dengan tagar #OZAlum di Twitter) dengan Hon Stevem Ciobo, menteri perdagangan, investasi, dan pariwisata Australia. Acara itu diadakan di rumah dinas Duta Besar Australia, Paul Grigson, di kawasan Menteng. Walau tidak lolos seleksi program, pihak Kedubes Australia tetap menganggap kami (yang tidak lolos seleksi) sebagai alumni.

Mimpi ke Australianya belum kesampaian, jadi main ke rumah dinas duta besarnya dulu.

Mimpi ke Australianya belum kesampaian, jadi main ke rumah dinas duta besarnya dulu.

Saya agak grogi juga hadir malam itu tapi mau bagaimana lagi. Motivasi saya datang ke acara kemarin adalah mengetahui siapa saja yang lolos seleksi dan belajar dari mereka. Akhirnya, setelah mingle ke sana ke mari, saya temukan juga orang-orang yang lolos program dan berangkat ke Australia untuk mendapatkan training selama 2 minggu. Bayangkan, mereka training di kampus impian saya untuk melanjutkan S2.

Jika pada kalimat selanjutnya kamu tebak saya akan menuliskan serentetan kalimat iri hati dan ambisius, salah besar. Entah kenapa, mendengar cerita ‘kebahagiaan’ orang-orang yang lolos seleksi itu saja, justru membuat hati saya adem.

Ya Tuhan, saya tertular virus! Malam itu, saya bahagia melihat orang yang bahagia. Walau bukan saya yang terpilih tapi saya tetap bahagia bisa berdiri di antara mereka. Semakin antusias mereka berbagi cerita, semakin kencang saya melafalkan dalam hati, merengek pada Tuhan, “Tuhan-Tuhan, mimpi saya enggak salah, kan?”

Diingat adalah salah satu hal yang menyenangkan. Bagi kebanyakan orang, diingat menjadi bukti kamu ditempatkan spesial. Terserah, sebagai apa, dalam konteks apa. Intinya, kamu mendapat ruang di bagian ‘sebelah sini’ seseorang.

Saya salah satu orang yang senang kalau diingat tanggal lahirnya oleh orang-orang. Oke, simple things! Remeh-temeh sekali karena sebenarnya banyak sekali alat yang bisa membantu kita untuk tahu (atau kemudian atas nama ‘mengingat’) tanggal lahir orang lain. Sebut saja kanal media sosial (Facebook, Twitter, LinkedIn) atau phone book di handphone-mu. Jadi spesial di sebelah mana? Saya tak peduli, tetap berasa menyenangkan tanggal lahir kita diingat oleh orang dengan cara atau alat apapun.

Sayangnya, saya enggak adil. Saya yang senang diingat justru melupakan tanggal ulang tahun teman terdekat saya. Jahat, ya?

Yes, bagi saya itu jahat. Tega. Pun, si orang yang saya lupakan tanggal lahirnya itu hanya senyum-senyum sambil berucap, “Udah lewat, kok!” Melihat muka saya yang manyun dan merasa bersalah tak karuan, dia kembali berucap, “Ih, santai lagi!”

Saya kelu. Di percakapan Whatsapp, dia masih sempat untuk berterima kasih sudah ditemani hangout seharian saat weekend. Ucapan ulang tahun (yang lewat slash basi) melebur begitu saja walau sebenarnya masih awal bulan lalu.

Jepretan saya! Foto yang membuat mereka berkata, "Opo sih, Het!" SMP, SMA, kuliah, kerja, semuanya! Sekolah dan kehidupan adalah ladang kami memanen persahabatan. Kancan sak lawase.

Jepretan saya! Foto yang membuat mereka berkata, “Opo sih, Het!” SMP, SMA, kuliah, kerja, semuanya! Sekolah dan kehidupan adalah ladang kami memanen persahabatan. Kancan sak lawase.

Ah, saya malu. Saya tidak memperlakukan orang seperti saya ingin diperlakukan. Saya ingin diingat, tapi saya lebih percaya Facebook untuk membantu ingatan saya untuk orang lain. Pun, saya belajar (di kalimat berikutnya mirip justifikasi saya, tapi percayalah, saya belajar dari teman saya yang ikhlas ulang tahunnya saya lupakan itu). Pertemanan bukan melulu ‘selamat panjang umur’ di hari dia dilahirkan, lebih dari itu, kamu selalu ada di saat dia membutuhkanmu. Kamu tidak dibutuhkan hanya saat dia ulang tahun, to? Lagi-lagi, pertemanan soal kehadiran bukan ucapan. Ingatan? Hmm, ya bisalah. Hayo, kapan terakhir kamu menyapa dan duduk bersama teman terdekatmu?? #Kancansaklawase

Namanya mama. Perempuan yang menghadirkan saya di dunia. Bukan sedang Hari Ibu sih tapi saya ingin bercerita tentang mama. Hari ini, Minggu, malam, hujan, kosan. Rasa apa lagi yang mendorong anak perantauan untuk tidak ‘kangen rumah’? Saya di Jakarta, mama di Jogja. Tulisan ini menjadi cara kangen untuk ‘hubungan jarak jauh’ kami berdua.

Lebaran kemarin saya pulang. Jauh-jauh hari sebelum lebaran bahkan. Lumayan, enam hari bisa berpuasa di rumah Jogja. Saya punya kamar sendiri di rumah Jogja tapi setiap pulang, saya lebih suka berdandan nebeng meja rias yang ada di kamar mama.

Yang membuat saya geli adalah saat mama melihat saya berdandan kemarin. Oles make up sana-sini, ikat jilbab ke kanan ke kiri.

Spontan mama berkomentar, ”Sekarang nggak pede ya, Dek, kalau mau ke luar tapi nggak dandan.”

Saya meringis praktis, ”Biar nggak dikira muka bangun tidur, Mam.”

Singkat tapi tiba-tiba saya merasa sedang memutar koleksi kaset lawas. Jadul. Jadul sekali…

Kala itu, saya versi bocah tidak sabar untuk pergi dengan mama. Berulang kali saya merengek minta mama bergegas. Apa daya, meja rias itu seakan menahan mama (meja rias yang sama). Mama masih bertahan di depan meja rias menggunakan pensil alis, bagian make up favoritnya.

Mama, kita lho cuma pergi bentar. Nggak usah dandan juga nggak apa-apa,” rengekan andalan saya.

Pemandangannya kini berbalik. Ah iya, izinkan kaset lawas ini terus berputar dalam kepala saya sekarang. I grow up, Ma, but childhood memories (always) stay.

Katanya ...

Katanya …

Selamat satu minggu!

Malam ini adalah malam anniversary dengan kosan baru. Yeah, genap satu minggu menempati kosan di gang satu nomor satu. Hei, ini bukan setting-an! Kata Ibu kos, alamatnya memang begitu.

Satu minggu yang lalu, di saat orang lain berlibur dan pulang kampung, saya justru pindahan. Ada untungnya juga pindahan saat long weekend seperti kemarin. Selain sepi, ada sisa waktu untuk recovery (percayalah, pindahan itu lelah hehe).

Oh ya, ini adalah kali keempat saya pindah. Jadi, kalau ditanya rasa, yaa … begitulah! Saya selalu excited dengan tempat baru. Walaupun begitu, ada juga beberapa orang yang justru mendadak stress saat pindah. Wajar sih, antara susah move on dan banyaknya barang yang harus dikemasi.

Sebagai persembahan malam anniversary dengan kosan yang baru, berikut tips pindahan dari saya yang, yah, siapa tahu berguna bagi anak perantuan di mana pun kalian berada.

Kata teman sekosan, barang-barang saya banyak banget karena hobi saya mengoleksi 'printilan'. Katanya, yang saya butuhkan bukan kosan, tapi rumah. Bakal full furnish, deh! haha.

Kata teman sekosan, barang-barang saya banyak banget karena hobi saya mengoleksi ‘printilan’. Katanya, yang saya butuhkan bukan kosan, tapi rumah. Bakal full furnish, deh! haha.

Pertama
Sediakan kardus atau tas plastik berukuran besar untuk storage barang-barang kita. Pengalaman pindahan empat kali, saya lebih nyaman mengemasi barang-barang dengan tas plastik berukuran besar. Saya membeli tas plastik ini di Pasar Kebayoran Lama bergambar Mickey Mouse dan Teddy Bear (mereka sudah ikut saya pindahan tiga kali, lho! #catet #penting). Sedangkan, kalau kardus, saya selalu bertanya ke Indomaret atau Alfamaret samping kosan. Apakah ada kardus yang bisa diminta gratis atau berbayar.

Kedua
Jangan menceraikan barang-barang. Kamu pernah nonton film Toy’s Story? Kamu percaya bahwa barang-barang bisa berbicara? Kalau saling berpisah, mereka pasti sedih hihi. Enggak, deng. Maksudnya, mengemasi barang-barang kita dalam satu golongan akan memudahkan kita saat akan menata kembali di tempat yang baru. Baju, baju semua. Buku, buku semua.

Ketiga
Seperti ajaran guru Matematika, kerjakan dari hal yang paling mudah. Begitu pula dengan pindahan. Kemasi barang-barang dari barang yang paling sering kita gunakan. Setelah itu, coba lihatlah sekelilingmu. Kalau ada barang (hayo, ngaku!), itulah barang-barang sisa. Bagi saya, pilihannya ada dua. Kalau masih cinta, segera kembali, eh kemasi. Sedangkan, kalau memang sudah biasa saja daripada hanya menambah beban kehidupan, lebih baik berikan ke orang yang membutuhkan atau garage sale sekalian.

Selalu ingat, pindahan itu ribet, jadi jangan ditambah ribet dengan pikiran-pikiran kita sendiri. Percaya atau enggak, empat kali pindahan, selalu saya lakukan sendiri (tidak termasuk transportasi mobil box, ya…). Ada beberapa teman yang menawarkan bantuan tapi bagi saya, pindahan adalah personal moment dengan barang-barang kita. Lebih dari itu, mengingat betapa banyaknya barang-barang saya, pindahan bagai stock opname (emang toko?). Masa untuk mengingat apa saja yang dipunya (dan yakin masih berani merasa kurang?? #Selftalk)

New day has come

Siapa yang enggak kenal Pintu Ajaib?

Pintu ajaib adalah salah satu alat (canggih) milik Doraemon, berupa pintu berwarna pink yang bisa membawa kita ke mana pun sesuai tujuan. Sejak pertama kali menonton film Doraemon, Pintu Ajaib menjadi salah satu alat yang sukses membuat saya iri dan tak berhenti berandai-andai memilikinya. Saking pengennya, Pintu Ajaib selalu mendapat peran saat saya bermain dengan teman-teman. Pokoknya, Pintu Ajaib berhasil membuat saya dan teman-teman berimajinasi dalam setiap permainan kami.

Itu dulu, masa kanak-kanak. Seiring bertambah usia (dan tetap konsisten menjadi penonton setia film Doraemon), pemikiran saya naik satu tingkat. Saya tidak lagi kagum pada Pintu Ajaib milik Doraemon tetapi kagum dengan sang pencipta Doraemon dan Pintu Ajaibnya. Bisa ya, kepikiran membuat sesuatu yang tidak mungkin di dunia nyata tapi justru diiyakan dan menghibur banyak orang di dunia fantasi. Yah, itulah imajinasi.

Lama tak berandai-andai dengan Pintu Ajaib, Sabtu (7/5) lalu, kambuh lagi. Saya tak tega melihat wajah pucat pasi mama melihat jam. 15.25 WIB. Satu jam tiga puluh lima menit lagi, pesawat tujuan Jakarta-Jogja akan berangkat dari bandara Halim Perdanakusuma. Tapi kenyataannya, mama masih berada di rumah. Rumah kakak di daerah Halim memang tidak jauh dari bandara tapi lain cerita kalau tertahan hujan dan petir yang kompak ‘tampil’ sore itu. Sebagai penganut aliran ‘2-3 jam harus berada di bandara/stasiun sebelum jadwal keberangkatan’, ini adalah masalah besar bagi mama.

Saya tak tega. Saya tahu rasanya. Cemas, panik, dan pikiran pasti sudah melambung jauh (baca: asumsi). Saya hanya bisa menenangkan mama dengan satu senyuman dan kata-kata klasik, “Tenang, Ma. Kekejar kok pasti.”

Akhirnya, setelah petir selesai menderu dan masih menyisakan hujan, kakak mengantar mama ke bandara dengan taksi. Saya ditahan menjaga rumah sebentar dan dilarang pulang sebelum hujan reda. Di keheningan rumah dan bunyi hujan, saya teringat Doraemon dan Pintu Ajaibnya. Ah, memang itu hanya khayalan semata, tidak bisa diharapkan untuk benar-benar ada. Walau tak benar-benar ada, berkhayal pada Doraemon dan Pintu Ajaib nyatanya cukup menghibur. Saya hanya ingin berprasangka baik pada cuaca sore itu. Please, jangan ganggu penerbangan mama ke Jogja.

16.40 WIB, bus transjakarta, gerimis
Bip bip, Whatsapp dari mama yang terkirim 16.11 WIB baru terbaca
Dik, hati-hati yo..”

PS.
Menulis cerita ini di penghabisan hari. Hari yang (katanya) tertanggal sebagai mother’s day versi internasional. Cerita ini sebuah persembahan untuk mama. Mama yang selalu mengingatkan untuk tidak mepet-mepet jam dan jangan ngoyo di setiap detik kehidupan saya. Matur sembah nuwun, mama!

%d bloggers like this: