Archive

Kuliner

Cerita jalan-jalan ke Jogja memang tidak ada habisnya. Selalu ada saja yang bisa diceritakan dari kota gudeg ini. Sekian banyak teman yang pernah berkunjung ke Jogja, mereka selalu mengaku kangen dan ingin kembali. “Enak ya, Het, Jogja,” begitu katanya. Saya yang orang asli Jogja hanya senyum-senyum saja. Ternyata cinta pada Jogja memang harus dibagi-bagi, agar semua bisa ikut merasakan :).

Sadar atau tidak, (hampir) enam tahun meninggalkan Jogja, membuat saya kurang update dengan perkembangan Jogja. Apalagi, soal wisata kuliner. Jujur, kalau zaman saya, ‘angkringan’ dan ‘lesehan’ masih menjadi top of mind wisata kuliner di Jogja, kini, lebih bervariasi. Industri kreatif tumbuh subur di Jogja. Salah satunya, melalui kafe-kafe ‘kekinian’ yang menawarkan makanan-minuman beraneka rupa. Yang membuat terkenal juga bukan hanya resep bumbunya. Garam dan gula sepertinya tidak cukup. Perlu ‘dua sendok makan’ koneksi internet di mana informasi akan tersebar tanpa batas. Lalu, goreng sampai kuning keemasan, dan tiriskan. Lah!

Nah, ngomong-ngomong soal kuliner, kepulangan saya ke Jogja awal Juli lalu menjadi istimewa saat papa mengajak saya ke warung Bakmi Jawa. “Ini beda, Dek,” katanya. “Iya, beda,” mama ikut nimbrung, membuat saya semakin penasaran.

Usut punya usut, papa membawa saya ke warung Bakmi Jawa yang pernah muncul di TV. Di sini, sebenarnya papa adalah korban, eh. Sejak berlangganan TV kabel, papa gemar menonton acara kuliner di sebuah stasiun TV. Sebagai pecinta bakmi, papa pun ingin membuktikan sendiri cita rasa salah satu warung Bakmi Jawa yang pernah diliput.

Saya tertawa saja. Iya juga sih. Apalah arti menonton acara kuliner dan jalan-jalan kalau kita, pemirsanya, juga belum ikut merasakan. Jangan biarkan host acaranya menjadi paling sotoy sedunia haha 😀

Namanya, Bakmi Jowo Mbah Gito. Letaknya di daerah Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta. Kemarin, saat saya dan keluarga tiba pukul tujuh malam, ramainya bukan main. Parkir kendaraannya saja sampai di ujung-ujung jalan. Untungnya, di belakang warung, ada tanah kosong dekat masjid yang ‘disulap’ menjadi tempat parkir.

Jangan kaget ya saat masuk ke dalam … Jreng! Serba kayu! Kayu disimpul sedemikian rupa menjadi tiang-tiang penyangga atap serta sekat antara area satu dengan yang lainnya. Ini bukan seperti warung makan kebanyakan, ini labirin! Ini lebih mirip seperti … kandang!!

Walau sempat was-was, bersyukur juga. Nyatanya, kami bisa langsung mendapat tempat, tidak masuk waiting list (oh yes, saking banyaknya pengunjung, kamu bisa masuk daftar tunggu kalau semua meja dan kursi full). Begitu masuk ke dalam labirin warung makan, ada pelayan yang langsung tersenyum menyambut dan menanyakan jumlah tamu untuk dipilihkan meja dan kursi yang pas.

Siapa sangka, kami yang bertiga ini langsung mendapat ‘kandang sapi’. Tuh, kan, apa tadi yang saya bilang! Saya dan mama tertawa. Kandang sapi di sini adalah benar-benar mirip kandang sapi, plus satu meja panjang beserta kursi panjang. Jadilah, malam itu, kami makan bertiga berjajar, tidak berhadapan.

Selamat datang di kandang sapi.

Makanan
Malam itu, papa memesan bakmi godog (mie rebus), mama memesan nasi goreng jawa, dan saya tetap pada kesukaan, capcay rebus. Untuk minuman, papa memesan teh poci, sedangkan saya dan mama memesan jahe panas.

Dari ketiga makanan yang kami pesan, saya suka semua (icip-icip). Soalnya, semuanya punya cita rasa khas. Bawang putih dan rasa rempahnya berasa dalam. Untuk capcay, sayurannya matang pas, tidak mentah dan tidak lembek. Nasi gorengnya juga tipikal nasi goreng Jawa yang manis.

Untuk minuman, (sepertnya) tidak jauh beda dengan yang ditawarkan di rumah makan lain. Teh poci disajikan dengan poci dari tanah liat. Minuman jahe panas disajikan dengan jahenya langsung diceburkan ke dalam gelas, beradu dengan gula batu. Oh ya, karena minumannya menggunakan gula batu, rasanya pun berbeda dengan minuman bergula pasir.

Harga
Harga makanan dan minuman di sini tidak tercantum di nota pemesanan. Tapi, jangan khawatir, kamu dapat mengeceknya saat melakukan pembayaran di kasir, setelah selesai makan. Di bilik kasir, akan ada papan di mana harga semua makanan dan minuman terpampang jelas.

Untuk 1 porsi bakmi godog (a.k.a bakmi rebus), 1 porsi nasi goreng, 1 porsi capcay kuah, 1 the poci, dan dua jahe panas, totalnya seratus dua puluh ribu sekian. Saya lupa-lupa ingat, karena saat membayar di kasir, saya kedistrak dengan pajangan-pajangan unik dari kayu yang ada di sekitar bilik kasir.

Yay or Nay?
Overall, saya sih ‘yes’ untuk kembali berkunjung ke sini. Cita rasa masakannya yang membuat kangen dan saya belum pernah menemukan yang seperti ini di Jakarta (anak perantauan curhat nih yee!). Masakan yang sedap bukan karena vetsin, melainkan perkawinan bawang putih, gula, dan garam. Selain itu, suasana warung makan yang unik membuat kita betah. Semuanya serba kayu, tradisional, dan ‘kampung’.

Walaupun demikian, karena banyaknya pengunjung yang datang, makan, lalu pergi, tak terhitung, suasana di sini cenderung ramai. Ditambah dengan pengunjung yang kehebohan berfoto saat panggung wayang mulai ‘hidup’ dengan sinden dan pak dalang. Eh, saya belum tulis ya? Di bagian tengah warung ini, ada semacam panggung kecil yang cukup untuk satu layar mini wayang kulit, tempat duduk sinden, pak dalang, dan beberapa orang penabuh gamelan.

It is show time! Pertunjukkan wayang kulit.

Sehingga, menurut saya, dengan suasana yang seperti ini, jangan bikin rapat yang serius-serius di sini hehe. Tapi kalau sekadar pertemuan, kangen-kangenan, reunian ada ruangan khusus yang disediakan dan cukup lapang untuk menampung banyak orang. Seperti saat papa tiba-tiba impulsif, “Ma, panitia kurban (baca: Idul Adha) apa rapat di sini aja ya? Kan bakminya enak nih,” yang langsung direspon dengan gelengan kepala oleh saya dan mama. Kurang cocok, sepertinya. Mending makan dan nonton wayang saja di sini hehe.

Yang penasaran dengan kandang sapi yang ‘nyeni’, pengen menikmati suasana Jogja sambil makan bakmi dan berdendang dengan alunan gamelan, cuss … mampir ke mari!

Bakmi Jowo Mbah Gito
Jalan Nyi Ageng Nis No. 9
Rejowinangun Kotagede Yogyakarta
Cek akun Intagramnya juga @bakmijowo_mbahgito
Buka: 11.00 – 23.00 WIB

Saya tidak tahu mengapa Tahu Bulat bisa sefenomenal ini. Jingle (lagunya)? Oke. Konsepnya? Oke. Lalu apa lagi yang membuat Tahu Bulat menjadi populer di antara makanan lainnya?

Beberapa waktu yang lalu, saat kemunculan Tahu Bulat dan orang-orang ramai membicarakannya? Saya hanya melongo. Jauh sebelumnya, saat masih kos di daerah Setiabudi, saya pernah memesan dua plastik Tahu Bulat untuk potluck di sebuah acara. Cantik memang bentuknya saat digoreng dengan minyak panas. Belum lagi, semerbak aroma yang tercium.

Singkat cerita, sesampai di tempat acara, tahu itu menjadi asimetris. Ibarat ban, dia kempes. Antara kaget dan malu, yang penting niatan baik saya untuk kontribusi di potluck sudah tercatat oleh malaikat. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tidak ‘berhubungan’ dengan Tahu Bulat lagi. Bagi saya, Tahu Bulat hanya menyenangkan dipandang saat digoreng, tidak untuk dibawa pulang.

Maka kagetlah saya saat tiba-tiba Tahu Bulat menjadi mainstream dengan tampilan barunya, pick up (mobil bak terbuka), padahal sebelumnya hanya gerobak biasa.

Belum lagi kisah ini. Saat menjadi asesor untuk relawan sebuah yayasan, orang yang saya wawancarai dengan sigap mengait-ngaitkan sifatnya dengan keberadaan Tahu Bulat. Kosa kata kekinian, sepertinya.

Mbak, aku tuh orangnya harus terencana, sistematis.”
Oh ya?”
Iya, nggak bisa mendadak kayak tahu bulat yang digoreng dadakan..”
Oh!”

Saking lamanya tak bersua dengan Tahu Bulat, ada seorang teman yang kaget saat saya mengaku belum pernah makan Tahu Bulat. Sesungguhnya, saya menjawab ‘belum pernah’ hanya karena sudah lupa rasanya seperti apa. Saya pernah makan Tahu Bulat versi gerobak tapi belum pernah makan Tahu Bulat versi pick up.

Setelah percakapan itu, jadilah malam ini, saat bertemu dengan pick up Tahu Bulat yang ngetem di pinggir jalan, saya membeli enam buah Tahu Bulat dalam plastik (1 buah Tahu Bulat Rp 500,00). Seperti ajaran teman saya kala itu, saya memesan versi original (tanpa bumbu). Hangat-hangat, saya masukkan Tahu Bulat ke dalam tas dan bergegas pulang. Sesampai di kos, bentuk tahu itu sudah asimetris. Saat saya makan, saya seperti bernostalgia dengan tahu yang dulu saya beli di pasar di daerah Setiabudi. Rasanya? Jeng-jeng … Sama!!

Dibalik Tahu Bulat, sebuah self-talk:
Tidak semua hal yang mainstream itu wajib diikuti. Pun sekedar menggugurkan kata ‘belum pernah’. Menjadi diri sendiri yang original itu wajib. Keyakinanmu yang akan dihargai orang, bukan apa yang sudah kamu lakukan seperti yang kebanyakan orang lakukan.

Bolehkah membuat setiap orang bahagia? Bisakah membuat setiap orang bahagia?

Semua ini berawal saat sebuah akun populer di Instagram memposting gambar pizza dengan tulisan “You can’t make everyone happy, you are not pizza!”. Pernah kamu nemu yang seperti itu? Kala itu, saya hanya manggut-manggut tanda setuju, mengklik gambar love, sambil lanjut scrolling down lini masa Instagram tanpa berprasangka apa-apa.

Lama berselang, tiba-tiba, pada suatu pagi, saat berangkat ke kantor, kalimat itu muncul lagi di kepala saya. “I want to be a pizza!” Mungkin ini salah satu akibat terlalu bersemangat menyambut pagi dan berangkat ke kantor (sebentar, atau efek sepatu baru? hehe).

Curiga. Saya langsung menginvestigasi kepala saya sendiri, “Hayo ngaku, siapa tadi yang bilang?”

Pikiran ini langsung tertuju pada sebuah gambar di Instagram yang saya love beberapa waktu lalu. Dalam pikiran saya, langsung ada dua kubu yang berdialog seru.

Apa enaknya jadi pizza sampai ingin begitu?”
Jobdesc-nya tunggal, bikin orang lain happy.”
Is it good?”
Yes. Single jobdesc.”
Yakin?”
Let’s compare with your jobdesc, eh…”.

Memang, ada benarnya kita nggak bisa membuat senang setiap orang. Ada saja yang harus dikorbankan. Seorang pemimpin menurut saya, adalah orang yang paling lihai dalam urusan ini. Dia yang membuat keputusan. Mau bikin orang senang atau justru menyusahkan, ya apa mau dikata. Beberapa kali, saya berinteraksi dengan bos model seperti ini. Setelah membuat keputusan dan cenderung kontroversial, beliau akan berguman, “Ya, kita emang nggak bisa bikin happy setiap orang!”

Kalau sudah begitu, biasanya saya tak berkomentar. Bagi saya yang tipe ‘enggak enakan’, I will try everything to make everyone happy. Saat jadi koordinator misalnya, saya memastikan setiap kepentingan anggota terakomodasi. Istilahnya, tidak ada yang ‘terluka’ dari setiap keputusan rapat. Enggak sehat juga sebenarnya. Beberapa teman sudah memberi feedback, “Coba jadi orang yang tegaan dikit, Het! Mereka baik-baik saja tanpa kamu bela-belain.”

Anyway, saya jadi ingat Santa Clause. Terlepas dari ada-tidaknya Santa Clause, coba, siapa yang ingin jadi Santa Clause? Santa Clause digambarkan sebagai sosok yang happy karena selalu berbagi. Di dongeng-dongeng, Santa selalu sibuk dengan daftar hadiah untuk anak-anak yang memohon padanya. Pun kerepotan membawa berkarung-karung hadiah, Santa selalu tampak easy going, datang dari satu rumah ke rumah lainnya. Bahkan bukan lewat pintu, melainkan lewat cerobong asap yang tak lazim dan cenderung menyusahkan diri. Tapi siapa peduli? Jobdesc Santa hanya satu, bagi-bagi hadiah dan itu membuatnya happy.

Praktiknya, pernah juga saya menegaskan, kita bukan pizza yang bisa menyenangkan hati setiap orang. Saya sudah tak tahan dan gemes sendiri. Saat diskusi alot reuni sekolah dengan tim, saya mengucapkan ‘mantra’, “Hei, we are not pizza, we can’t make everyone happy” untuk menanggapi seorang teman yang ketakutan memesan makanan untuk reuni tapi tak mempertimbangkan dana yang tersedia. Takut menunya kuranglah, menunya kurang bervariasilah, dan pertanyaan lainnya yang merepotkan diri sendiri (sepertinya, teman saya ini sedang ingin menjadi Santa). Mendengar mantra itu, beberapa teman lainnya justru berenspon, “Kok apik, Het, kata-katane?”

Lho, apakah mereka selama ini enggak sadar? Apakah menyenangkan hati setiap orang itu sudah mengakar? Digit mental melayaninya sepertinya tinggi. Sesungguhnya, kata-kata itu memang bukan buatan saya tapi Istragram punya. Andai mereka tahu (tapi sepertinya mereka tak perlu tahu), kata-kata itu bukan kata-kata biasa. Saya berefleksi dengan gambar pizza di Instagram. Tak ada yang melarang untuk menyenangkan hati setiap orang, tapi ada kalanya kita harus lebih peka dengan kondisi di mana tanpa perlu kita ambilkan tangga, orang sudah bisa memetik buah kesenangan untuk dirinya sendiri. Apalagi kalau menyediakan tangga itu di luar kemampuan kita (baca: memaksakan diri). Yah, dalam kasus ini, saya mengamini feedback dari teman tadi, serta bos saya. Jadi, mau jadi pizza atau jadi Santa? Atau Nutella?

Enggak cuma pizza ternyata, Nutella juga hihi (sumber gambar: Pinterest)

Enggak cuma pizza ternyata, Nutella juga hihi (sumber gambar: Pinterest)

Makin ke sini, makanan tidak melulu menjadi jawaban saat kita lapar. Makanan bisa menjadi ajang gengsi, sensasi, atau sekedar pemuas rasa penasaran. Minimal, setelah kita makan suatu jenis makanan, kita bisa berbagi cerita ke orang lain tentang makanan itu atau restoran/rumah makan yang menyajikannya. Pokoknya, harus ada ceritanya!

Seperti kali ini, saya dan teman-teman sekantor rela berdesak-desakan di KRL dari Jakarta menuju Depok untuk mencicipi Godzilla Burger. Agak impulsif juga seperti tidak ada tempat hangout di Jakarta sepulang kerja. Tapi seperti yang saya jelaskan di atas, dalam kasus ini, saya dan teman-teman penasaran dengan Godzilla Burger. Kebetulan beberapa hari sebelumnya, saya melihat liputannya di acara kuliner di salah satu stasiun TV swasta.

Nama tempatnya adalah Dino Steak & Pasta House. Dari nama tempatnya, sudah ketahuan ragam menu yang ditawarkan. Jelas tidak ada kalau kamu mencari ‘pecel lele’ atau ‘pecel ayam’. Lihat saja daftar menunya kalau tidak percaya. Dari semua menu western food yang ditawarkan, yang saya rekomendasikan untuk dicoba adalah Godzilla Burger.

Godzilla Burger adalah salah satu signature menu di sini. Godzilla burger adalah 1 kg beef burger yang disusun tingkat lima dengan patty dan disajikan dengan 200 gram kentang goreng plus onion rings. Tidak perlu khawatir dengan makanan sebanyak itu, si pemilik cukup pengertian dengan menghadirkan tiga saus untuk menambah varian rasa, saos pedas, saos tomat, dan mayones.

Eh, tapi yakin bisa kuat makan burger sebanyak itu? Jika kamu memesan Godzilla Burger, tidak hanya burgernya saja yang harus kamu habiskan, tetapi juga kentang goreng dan onion rings yang memenuhi nampan. HeEh, burgernya disajikan dalam nampan, bukan piring. Catet!

Nah, kalau jawabannya kuat, langsung aja lapor ke pramusaji, kamu ikut Godzilla Burger Challenge. Godzilla Burger Challenge ini seru karena kamu harus menghabiskan burger dan ‘teman-temannya’ dalam waktu tiga puluh menit. Jika kamu berhasil, maka kamu tidak perlu membayar. Sebaliknya, jika gagal, kamu harus membayar sesuai harga yang tercantum di daftar menu. Gimana, tertantang?

Walaupun pulang kerja dari Jakarta langsung ke Depok, saya dan teman-teman masih kalem dan memesan makanan bersama-sama. Kami tidak mengambil tantangan karena ingin menikmati burger dengan khusyuk tanpa tergesa-gesa (pembelaan kami). Nyatanya, satu Godzilla Burger bisa kami habiskan berlima sambil bercerita santai tentang ini dan itu.

Tempatnya seru untuk hangout rame-rame.

Tempatnya seru untuk hangout rame-rame.

Rasa
Oh ya, soal rasa, ini bisa menjadi sangat subjektif. Kalau saya, saya lebih memilih burger dari merk lain. Mungkin karena fokusnya adalah kuantitas dan nama produk, soal cita rasa menjadi kurang ‘nendang’. Selain itu, kentang goreng dan onion rings-nya tidak begitu recommended. Campuran tepung terigunya terlalu banyak sehingga menyebabkan gorengan keras.

Harga
Satu Godzilla Burger dijual dengan harga Rp 86.500,00. Cukup ekonomis, kan? Ajak saja teman-teman untuk memesan bersama, terbayang kamu bisa menghemat berapa? hehe.

Saya yakin, kamu pasti masih penasaran dengan cerita saya? Nggak cukup membaca tulisan ini, kamu harus ke sana dan memesan Godzilla Burger. Cuss! Temukan di:

Dino Steak & Pasta House di Jalan Margonda Raya no.438 (Kalau naik KRL, bisa turun di stasiun Pondok Cina lalu jalan kaki. Nggak jauh kok).

Petang itu, pulang dari kantor, saya mampir ke warung nasi padang di belakang kosan. Bermaksud memilih lauk, saya pun memandang ‘etalase’ warung nasi padang. Takjub saya. Biasanya, di waktu yang sama, berbagai lauk masih terjajar rapi walau hanya satu atau dua yang sisa. Dari rendang, kikil, telur dadar, beraneka olahan ikan, dan berbagai olahan ayam. Kecewa memang karena yang ada dalam pandangan saya hanya 4 macam lauk, ayam bakar, ikan emas, ikan tongkol, dan ikan nila. Lainnya, tak ada.

Dalam takjub saya sekian menit itu, tiba-tiba, spontan saja saya berkomentar. Tapi anehnya, hanya sebatas hati saja, sama sekali tak bersuara. Bibir saya pun tak bergerak komat-kamit mengucap kata.

“Tumben, Bang, jam segini sudah habis.”
“Eh, tak sopan sekali sepertinya saya mengucapkan kata-kata itu?”
“Lho, memang salah? Apa yang salah? Biasanya juga bilang begitu.”
“Ya, kali ini dan seterusnya jangan, deh. Enggak baik.”
“Lho??”
“Enggak sadar, ya? Kalau dagangan si Abang jam segini habis, berarti berkah di dia. Dagangannya laris dan dia senang. Kenapa kita justru menjadi tidak senang dan mengharapkan dagangannya tidak laku hanya gara-gara kita jadi enggak kebagian lauk? Egois!”

Perang komentar dalam hati itu berakhir ketika si Abang bertanya, “Mau pake lauk apa, Neng?”

Saya bingung, tenggelam dalam 4 pilihan, dan hanya berkomentar polos tanpa dosa, “Apa ya, Bang, yang enak?

Mungkin ini yang dinamakan jodoh. Jodoh yang kata orang, ada di tangan Tuhan. Ternyata, jodoh itu saya temukan dengan mata telanjang saya, tanpa kacamata, malam ini. Bagaimana tidak, setelah sekian bulan menghilang, tiba-tiba dia hadir.
Sontak, saya langsung berseru sambil menunjuk ke arah yang dituju, “Mama, ternyata di situ!”

Sekali lagi, jodoh. Pusing kepala ini memikirkannya. Sudah cocok, sudah pas, lalu menghilang. Dicari, tak ketemu. Saking berkesannya, sampai susah untuk dilupakan. Kata teman-teman, “Sudah, ikhlaskan saja. Kalau jodoh, tak kemana!” Bagi saya, kalimat sederhana itu justru seperti pematah semangat terjitu. Antara sadar segera melupakan atau ikhlas penuh harapan terpendam.

Lagi-lagi, jodoh. Menurut kalian jodoh di sini apa? Sampai di paragraf ketiga, jangan-jangan kalian masih salah sangka. Bukan, ini bukan romansa hubungan antara laki-laki dan perempuan. Hey, saya sedang berbicara mengenai tempat makan favorit keluarga saya. Sudah berbulan-bulan menghilang tanpa jejak dan pesan, malam ini, tak ada angin, tak ada hujan, saya berhasil menemukannya. Wow, ini pasti akan menjadi kabar gembira untuk papa.

Jangan dibayangkan, tempat makan favorit keluarga saya ini elite. Ruang ber-AC, pramusaji berseragam, paket-paket makanan kelas atas, furniture modern mengkilap, tidak. Jauhkan bayangan itu sekarang. Tempat makan favorit keluarga saya tergolong kaki lima. Letaknya di jalan Pangeran Mangkubumi. Walaupun kaki lima, masakannya sangat enak dan suasananya sangat bersahaja (satu hal yang tidak mungkin saya dapat di tempat makan lain).

Warung kaki lima ini juga menjadi saksi sejarah keluarga saya. Dari kakak saya TK, kemudian saya lahir, dari keluarga saya ‘jajan’ di sana naik motor Suzuki Chrystal berempat, sampai ‘jajan’ sekeluarga naik mobil. Berbagai moment spesial juga dirayakan di sana, sekedar traktir-traktir kakak saya lulus kuliah sampai papa ulang tahun. Sebaliknya, keluarga saya pun menjadi saksi sejarah warung kaki lima ini. Dari si pemilik punya anak kecil sampai anaknya beranjak dewasa, menjadi asisten ayahnya. Dari hanya bermodal motor, sampai bisa membawa mobil untuk mengangkut dagangan. Ya, semuanya terasa sangat spesial, seperti nasi goreng yang selalu tertulis di menu warung kaki lima ini.

Sayangnya, tiba-tiba, warung kaki lima ini pindah karena gusuran. Ini prediksi saya. Buktinya, sekarang di belakang lokasi eks warung kaki lima, berdiri bangunan megah. Tak ada kabar, tak ada pesan. Keluarga saya pelan-pelan mulai mengikhlaskan kehilangan tempat makan favorit. Sampai akhirnya, malam ini, saya berhasil menemukan warung itu lagi secara tidak sengaja. Bentuknya masih sama, masih khas di pinggir trotoar jalan raya. Penjualnya pun masih sama, masih bisa saya kenali. Kalau malam ini saya sekedar lewat, bersorak, besok-besok saya akan datang bersama keluarga saya untuk jajan. Tunggu ya, Pak!

Ditulis dengan aduhai bahagianya
22/07/2012
22:54

Saya cuma bisa ketawa kalau teringat kejadian tadi malam. Bayangkan, tiba-tiba, tanpa ba-bi-bu, ada seorang laki-laki yang menanyakan alamat rumahmu dan beberapa menit kemudian dia sudah sampai di depan rumahmu, dan mengajakmu membeli es krim di supermarket terdekat.

Saya yang sebenarnya malam itu masih setengah sadar (gara-gara baru saja pulang and having my dinner without enthusiasm), hanya melongo, kaget, surprise, dan speechless (eh, enggak deng, saya enggak speechless, di dalam mobilnya saya enggak henti-hentinya ngomong kalau saya surprise setengah mati).

Janjimu, Janjiku

Apakah ini ya yang disebut janji. Padahal, di telepon, saya sudah bilang, “Besok aja-besok aja” atau “Kapan-kapan aja” atau “Next time better”.

Dan si orang ini hanya menjawab, “Aku udah otw ke rumahmu ni”.

Gedubrak! Oke, whatever.

Lucunya, dia meminta saya untuk menunggu di depan rumah agar bisa cepat. Baiklah, saya pun bersedia menunggu kedatangannya di depan rumah, emm, lebih tepatnya di depan pagar rumah saya. Saya serasa satpam di depan rumah saya sendiri.

Sambil berdiri menunggu, saya pun ingat. Salut juga saya dengan orang ini. Sungguh menepati janjinya. Bukannya saya ingin menolong dengan pamrih. Saat dia meminta saya untuk mencarikan siapa yang di pole position F1 GP Malaysia, saya hanya spontan menjawab, “Kalau udah aku cariin, es krimnya ya?”.

Saya pikir becanda saja.

Dan tadda, dia benar-benar datang dan berniat membelikan saya es krim.

Beberapa menit kemudian, saya sudah membeli es krim (dan hansaplast, tiba-tiba ingat aja, saya kudu membeli Hansaplast untuk jempol saya). Dia pun mengantar saya kembali ke rumah.

Saat itu, kebetulan tamu papa yang datang malam itu, juga akan berpamitan pulang. Mereka sedang berbincang di depan pagar rumah. Melihat hal itu, dengan spontan, teman saya ini berkata, “Wah, Het, aku emoh kalau ada acara salim-saliman segala..

Bwahahahahahahaha..

Setelah saya turun, dia pun segera berlalu dengan membunyikan klakson mobilnya. “Pimp, pimp” (sebenarnya, bukan begitu juga sih suara aslinya). Anggap saja itu sebagai ganti ‘salim’ dengan papa dan tamunya :p.

Note: Dear masnya, terima kasih sekali lagi, kalau tau jadi ‘agak’ merepotkan gini, mending saya enggak usah menyebut ‘Es krim’. Walau, kamu pun juga enggak bosen-bosennya bilang ‘Sante aja, Het“. Teteup aja feel guilty kan ya? :p. Makasih juga (dibonusin) dibeliin Hansaplast (mengingat, itu kan tidak termasuk dalam perjanjian) haha 😀

baru kali ini beli es krim bonusnya hansaplast

%d bloggers like this: