Archive

Kuliner

Yeay, akhirnya jalan-jalan juga!
(Kalimat pertama ini ditulis dengan penuh antusias)

Nggak banyak sih, cuma dua hari. Tapi … Dua hari ini adalah dua hari yang saya syukuri. Mengapa? Karena:
Satu. Akhirnya, berhasil menginjakkan kaki di tanah Sulawesi untuk pertama kali.
Dua. ‘Bakat ngilang’ akhirnya tersalurkan lewat solo travelling ke Makassar ini (ini pun hasil extend dinas ke luar kota! hihi)

Pun mau lima hari, sebenarnya bisa. Karena dinasnya hanya Senin dan Selasa, saya hanya perlu cuti dua hari (Rabu dan Jumat), saya sudah bisa menikmati liburan selama ke lima hari sampai Minggu. Karena hari Kamis adalah hari libur. Indah bukan?

Sayangnya, dengan bijak dan sadar diri, saya memilih untuk extend dua hari saja, Rabu dan Kamis. Ini pun kata seorang teman saat saya masuk ke kantor di hari Jumat, “Het, bos kemarin nanya formulir cutimu!”

Ups!

Singkat cerita, setelah seharian mengurus acara kantor, di sore hari saya pindah hotel. Dari Jalan Andi Mappanyukki saya naik Gojek ke Jalan Penghibur. Enggak begitu jauh sih, biaya Gojek-nya Rp 6.000,00 saja. Jalan Penghibur merupakan jalan yang ada di pinggir Pantai Losari.

Hari Kedua di Makassar

Sepotong senja untuk pacarku, halah. Salah satu yang bikin semangat adalah melihat matahari terbenam. Tanda dimulainya petualangan di Makassar. Saya siap!

Nginep di mana?
Pod House
Jalan Penghibur No.58-59 Makassar 90111

Mengapa? Ini rekomendasi dari seorang temannya teman. Katanya, tempatnya lucu dan pas di pinggir Pantai Losari. “Aman juga, Het, buat solo traveller kayak kamu,” promosi teman saya meyakinkan.

Berbekal saran itu, akhirnya, saya browsing. Benar saja, selain harganya yang pas buat saya, foto-foto yang ada di internet juga tampak menyenangkan.

Nggak heran, pas sampai sana di hari Selasa, spontan saya langsung bilang ke resepsionis,”Huwaaa, semuanya mirip dengan yang ada di foto!”. Kakak yang sedang berjaga di desk resepsionis hanya tersenyum saja melihat aksi spontanitas saya. “Iya, Kak, soalnya, biasanya yang di foto di internet sama yang aslinya berbeda,” tambah saya.

Diminum dulu welcoming drink-nya, Kak,” kata resepsionis meredakan kenorakan saya. Hahaha.

Di Pod House ada beberapa tipe kamar. Ada kamar yang sendiri, satu bed ukuran single dan menyatu dengan kamar mandi dalam, serta ada juga kamar keroyokan alias satu ruangan dengan beberapa tempat tidur tingkat.

Bangun tidur kuterus melihat kamar mandi hahaha. Tenang, walau sekatnya kaca, ada tirai penutupnya kok.

Dengan pertimbangan keamanan ‘barang-barang kantor’ yang saya bawa, saya pilih satu kamar sendiri yang luas kamarnya mengingatkan saya pada kamar kosan saya di Jakarta. Kamar pilihan saya ini, letaknya di lantai 4. Untuk mencapainya, dari meja resepsionis di lantai dasar, saya harus naik tangga manual. Tidak ada lift ya, pemirsa!! Jadilah, dengan backpack dan tote bag (serempong itu), saya naik tanggal dan mengatur nafas. Tuk wak, tuk wak!

Di tiap peralihan lantai, ada quote-quote seperti ini. Naik tangganya jadi semangat deh hihi.

Hiburan di kamar lantai 4 adalah kamar ini selantai dengan teras yang langsung menghadap ke Pantai Losari. Uhuy! Di teras ini, kalau sore, akan berubah fungsi menjadi cafe yang ramai pengunjung (tidak hanya penghuni hotel) untuk makan-minum atau sekadar mengobrol.

Bisa duduk-duduk santai di sini.

Pemandangan Pantai Losari dari teras lantai 4 Pod House.

Oke, balik lagi. Setelah meletakkan beban hidup tas dan mengagumi dinding kamar (percaya atau enggak, perlu satu menit untuk merasakan betapa lucunya kamar ini), saya segera mandi karena seorang teman sudah berjanji akan menjemput saya malam itu.

Anjing-anjing yang lucu di dinding kamar.

Cuss!! Waktunya makan!!

Pallubasa Serigala
Jalan Serigala Mamajang Dalam Mamajang Makassar
Buka: 10.00-21.00 WITA

Saya diajak teman saya (yang orang asli Makassar) untuk makan malam di Warung Pallubasa di Jalan Serigala (makanya, terkenalnya jadi ‘Pallubasa Serigala’).

Sambil menunggu pesanan saya diantar, teman saya memulai ‘dongengnya’ tentang sejarah warung ini. Konon katanya, warung ini dulu adalah warung tenda di pinggir jalan. Karena semakin berkembang dan ramai pengunjung, akhirnya, warungnya dipindah ke bangunan yang lebih permanen. Uniknya, bekas tenda warung di pinggir jalan tetap dibiarkan berdiri.

Warung tenda ini adalah warung aslinya. Di seberang warung tenda ini ada ruko yang dijadikan untuk rumah makan Pallubasa seperti yang kita kenal sekarang.

Iseng saya tanya, “Kalau udah pindah ke sini, kenapa tendanya masih ada? Buat apa?”
Buat cuci piring, Het,” kata teman saya enteng. Entah benar atau tidak, saya sudah enggak fokus menanggapi teman saya karena pesanan kami akhirnya tiba di meja.

Gimana, Het, enak?” tanya teman saya memastikan.
Enak-enak,” jawab saya antusias. Ya, gimana enggak antusias coba kalau ini Pallubasa pertama saya. Palu yang lain yang saya kenal hanyalah Palubutung (es).

Saking enaknya, dari dulu, orang selalu bela-belain antri, Het, kalau makan di sini. Kebayang kan, dulu warungnya masih warung tenda di pinggir jalan. Tapi kelelahan kita pas antri terbayar lunas setelah kita makan di sini. Pun pernah ya, dagingnya abis, kuahnya aja deh enggak apa-apa, udah enak banget pake nasi,” kata teman saya yang membuat saya tertawa.

Buat kamu yang belum pernah makan Pallubasa, saya bantu mendeskripsikan. Jangan lupa sapu tangan kalau ngeces, please.

Bentuk makanan Pallubasa ini mirip sup alias makanan berkuah banyak dengan potongan daging sapi yang empuk. Salah satu hal yang membuat enak adalah kuahnya yang sangat kaldu sapi sekali. Gurih, gurih gimana gitu. Sepertinya, memang tidak dibuat asin alias agak tawar supaya orang bisa membuat cita rasanya sendiri dengan menambahkan garam yang sediakan di meja.

Ini dia Pallubasa Serigala yang disajikan dengan mangkok ukuran mini (mirip mangkok Soto Kudus). Yang kuning itu adalah telur.

Saat memesan, kamu juga akan ditanya pakai telur atau enggak. Maksudnya, kalau kamu ingin pakai telur, di Pallubasa kamu akan ditambahkan telur. Enggak digoreng, enggak direbus, lho! Telur akan langsung dipecah dan dituangkan di Pallubasa kamu yang disajikan hangat-hangat. Sumpah, enggak amis!

Harga
Saya lupa berapa harga satu porsi Pallubasa. Notanya hilang. Kalau tidak salah, dua porsi Pallubasa, dua porsi nasi, dan dua teh hangat Rp 70.000,00-an.

Yeay or Nay?
Yes! Saya akan merekomendasikan kamu untuk mampir ke sini kalau sedang di Makassar. Bagaimana tidak, Makassar adalah surganya kuliner dan semua orang mengamini hal ini. Saat mampir ke sana kemarin, warungnya ramai pengunjung. Rata-rata yang datang adalah rombongan. Jadi, enggak perlu ragu, mampir yaaa …

*
Ini belum berakhir. Masih ada hari ketiga dan keempat! Bersambung ke cerita selanjutnya. Pemirsa sabar ya 🙂
Baca cerita sebelumnya di sini.

Advertisements

Tulisan ini ditujukan untuk kamu yang baru pertama kali melakukan perjalanan dinas dengan atasan kamu (tanda pagar #MyLifeAsAnOfficer). Doo be dooo …

Bulan lalu, saya dapat kesempatan untuk jalan-jalan ke Makassar. Terdengar menyenangkan ya? Tapi sebenernya ini perjalanan dinas alias b-e-k-e-r-j-a. Jalan-jalan hanya bonus aja. Kalau di buku sejarah, kalimatnya seperti ini “Belanda datang ke Indonesia membonceng NICA” – “Hety jalan-jalan ke Makassar membonceng perjalanan dinas.”

Ah, ngaco nih! Hahaha. See, betapa noraknya saya membuat kalimat sebelumnya. Maklum, ini kali pertama saya menginjakkan kaki di bumi Sulawesi. Saya hanya terlalu … a n t u s i a s.

Sementara, teman saya hanya geleng-geleng kepala, “Hety-Hety, bagaimana kamu bisa antusias seperti itu untuk sebuah perjalanan dinas??”

Padatnya pekerjaan di minggu itu membuat saya tak berkutik membuat itinerary. Saya hanya sempat bertanya pada Paman Google dengan kata kunci ‘Jalan-jalan, Makassar’ dan muncullah berbagai destinasi wisata plus ulasannya. Dibaca semua?? Enggak. Sadar diri enggak akan extend lama-lama, saya pun juga enggak muluk-muluk untuk bisa pergi ke Toraja (walau sangat ingin, puppy eyes mode on). Apalagi perjalanan kali ini, saya bakal solo travelling. Jadilah saya hanya mengandalkan Whatsapp, mengirim pesan kepada teman saya yang ada di Makassar bahwa saya akan pergi ke sana. Again, the power of kekancan (baca: friendship).

Hari Pertama
Senin sore, saya tiba di Makassar. Bersama Pak Bos, saya langsung menuju kantor yayasan mitra untuk mengecek semua persiapan untuk acara besok. Tak lama, kami pun langsung ke hotel yang letaknya masih di jalan yang sama untuk istirahat (dan meletakkan ‘beban hidup’ → bagian ini khusus untuk saya saja). Bagaimana tidak, Pak Bos saya yang sangat ‘casual’ itu hanya membawa satu backpack hitam (backpack yang sama yang sehari-hari dibawa ke kantor). Sedangkan saya? Satu backpack yang ‘menempel’ di punggung, satu tas formal di lengan kanan, dan satu tas tenteng berisi bingkisan untuk 3 narasumber di bagian kiri.

Setiap perjalanan dinas, backpack selalu menjadi pilihan. Koper cantik hanya impian #MyLifeAsAnOfficer

Di manapun, film kartun selalu jadi pilihan untuk menemani sesi ‘goleran’ di kasur hotel yang maha empuk.

Pak Bos kan dua hari satu malam di Makassar. Sedangkan kamu? Empat hari tiga malam di Makassar → kalimat penghiburan.

Oh ya, ini kali pertama saya melakukan perjalanan dinas dengan Pak Bos (tanda pagar #MyLifeAsAnOfficer). Canggung? Iya. Tapi saya berusaha santai dan tetap menjalankan kewajiban saya sebagai stafnya seperti kalau di kantor. Misalnya, saya menawarkan diri untuk makan malam bersama jam 7.00. Pak Bos pun setuju.

Pak Bos yang tahu saya baru pertama kali ke Makassar langsung menawarkan untuk mencari makanan khas Makassar. Untung, di Sao Eating Point (food court) – Mall Ratu Indah ada yang menjual Mie Titi. Kata Pak Bos, Mie Titi ini khas Makassar dan masuk dalam daftar must eat food di Makassar.

Mie Titi khas Makassar.

Untuk komposisinya, ada mie kering, sayuran, telur, dan daging ayam. Ada dua cara penyajian, kuah disiram atau kuah dipisah. Kemarin, saya pilih Mie Titi kuah siram. Enaaak. Sebagai penyuka sayuran, saya sangat suka sayurannya yang dimasak dengan kematangan yang pas. Apalagi saat kuahnya mengenai mie kering. Teksturnya menjadi lembek-lembek gimana gitu. Yummy!

Sebenarnya, Mie Titi mengingatkan saya pada Ifu Mie di restoran Chinese food. Mirip! Hanya saja, Mie Titi yang saya pesan kemarin, porsinya lebih besar (walaupun demikian, saya habis satu porsi lho! dan saat melirik piring Pak Bos, beliau tidak habis. Aaaak, ketahuan yang lapar siapa ihik) 😀

Jadilah, malam pertama di Makassar, Pak Bos langsung tahu fakta bahwa ada stafnya yang jago makan.
Fin.

Hari Kedua
Saya terlambat untuk sarapan. Pak Bos sudah berada di restoran hotel, duduk paling ujung dan khusyuk dengan HP-nya. Saya pun memutuskan untuk duduk terpisah. Saya duduk menepi, dekat dengan jendela kaca yang menyuguhkan pemandangan keluarga dengan dua anak yang sedang asyik main cipak-cipuk air di kolam renang hotel. Mungkin itu potret di masa depan. Het, sehat??

Sarapan donat, why not? Roti tawar udah terlalu mainstream. Ini enaaaaak.

Acara diskusi penuh waktu di yayasan mitra sampai magrib. Kita skip saja bagian ini. Pemirsa dapat melihat ulasan kegiatan di website kantor saya :p.

Saatnya Dora bekerja (jalan-jalan kemudian).

Singkat cerita, setelah acara, Pak Bos langsung menuju bandara untuk kembali ke Jakarta dengan pesawat malamnya. Sedangkan saya pindah hotel menuju hotel di tepian pantai ciee.. . Di sinilah petuangan Dora di Makassar dimulai. Ayo Boots, kamu sudah siap??

Bersambung ke cerita selanjutnya (edisi 2). Pemirsa, sabar yaa …

Makassar, menginap di mana? Pesonna Hotel Makassar.

Kami (saya dan Pak Bos) menginap di hotel ini karena mendapat rekomendasi dari mitra kami yang ada di Makassar. Katanya, hotel yang terletak di Jalan Andi Mappanyukki ini dekat dengan kantor mitra. Sehingga, kami tidak perlu transportasi lokal. Cukup berjalan kaki saja.

Pesonna Hotel menghadirkan fasilitas yang nyaman. Saat tiba, kami disambut petugas yang ramah dan welcome drink. Lalu, saat masuk ke kamar, ada sajadah dan Al-Quran yang disediakan. Jarang saya temukan hotel tipe low-budget yang membawa suasana Islami. Di sepanjang koridor di tiap lantai, terpasang kaligrafi berbahasa Arab di dinding.

Lukisan kaligrafi yang selalu ada di dekat lift. Komposisi warnanya membuat saya jatuh cinta.

Saat melihat Google Map, saya baru sadar kalau lokasi hotel ini sangat strategis. Hari pertama saat ke Mall Ratu Indah saja, saya bisa berjalan kaki. Lalu, lokasi terdekat lainnya adalah Coto Nusantara (kuliner), Pallubasa Serigala (kuliner), dan Pantai Losari. Hanya berjarak kurang lebih 1 km.

Dengan berbagai fasilitas dan pelayanan yang ditawarkan, hotel ini menarik untuk jadi pilihan kalau kamu sedang singgah di Makassar. Penasaran?? Coba tanya Paman Google. Di salah satu aplikasi perjalanan, ulasan hotel ini mendekati sempurna. Saya sengaja tidak memotret hotel dengan detail karena ini bukan product review atau endorse hehe. Cuuss.

Selamat datang di Ojju.

Siapa yang enggak kenal Ojju? Restoran Korea ini memang sempat booming pada masanya. Apalagi saat video adegan melilit-lilitkan keju dengan daging viral di Istragram maupun Youtube. Uhu! Enggak salah jika kemudian banyak orang yang penasaran. Seperti apa sih rasanya??

Setelah dua kali ke Ojju dengan pesan menu yang sama dan datang dengan orang yang berbeda, jadi tertantang untuk menuliskan pengalamannya di sini. Sayang juga kan kalau yang unik-unik enggak ditulis? Jadi, tulisan ini ditujukan untuk kamu yang pernah makan di Ojju atau kamu yang belum pernah sama sekali. Segala pendapat dinantikan di kolom komentar, ya! 🙂

Makanan
Menu daging yang dililit-lilitkan dengan keju namanya ‘Rolling Cheese’. Ini menu andalan. Dagingnya sendiri di menu dinamakan beef ribs. Selain beef ribs, ada pilihan lain untuk dililit-lilitkan dengan keju, yaitu chicken wings (sayap ayam) dan chicken drumstick (paha ayam). Jadi, kamu bisa pilih sesuai selera, mau ayam atau sapi. Lalu, untuk level pedasnya pun bisa memilih: tidak pedas, pedas, sangat pedas. Kejunya juga bisa nambah kalau kurang, dengan additional price, tentunya. Cukup customize, kan?

Menu andalan, Rolling Cheese (versi nyata yang disajikan di meja)

Kalau ingin anti-mainstream dan enggak mau coba menu andalan, ada pilihan lain, seperti Budae Jjigae, Cheese Fondue, Dosirak (lunch boxyes, di buku menu tertulis begitu), Ramyeon, Kids Meals, Banchan, dan lain-lain. Tapi, sejauh mata memandang saat saya menunggu pesanan, mayoritas pengunjung memesan menu Rolling Cheese, chicken wings, spicy. Satu menu itu cukup untuk dua orang. Lainnya, pengunjung menambahkan minuman aneka rupa atau es krim sebagai desert. Yakin, kenyang kok.

Menu lain yang bisa dinikmati juga di Ojju (lupa namanya). Semacam bihun dengan sayuran dan telur.

Appetizer ala Ojju. Tenang, ini gratis kok. Udah termasuk makanan yang disajikan saat kita pesan makanan. Rasanya sangat Korea sekali. Pedas, tawar, gurih.

Oh ya, kalau memesan Rolling Cheese, kamu bisa juga menambah pesan nasi untuk dibuat nasi goreng di wadah hot plate yang sama. Heh, maksudnya? Iya, semula saya enggak sadar kalau opsi ini ditawarkan untuk memanfaatkan keju yang tersisa dari lilitan daging tadi. Menarik, ya! Jadi, alasannya bukan berarti untuk hemat piring hehe.

Lalu, untuk minuman, dua kali ke sini, saya selalu pesan corn tea. Rasanya itu lho, unik! Seperti air mineral biasa, tawar, tapi ada rasa sari-sari jagungnya. Lagi-lagi, corn tea ini bisa untuk berdua karena satu kali sajian dalam teko 1,2 Liter. Kita pun bisa memilih, mau hangat atau dingin.

Harga
Hmm, makin ke sini, makan di restoran yang ada di mall, pasti sudah bisa ditebak range harganya. Plus, jangan lupakan hitungan pajaknya.

Untuk satu sajian Rolling Cheese – beef ribs yang bisa dinikmati berdua, harganya Rp 219.000,00. Sedangkan Rolling Cheese – chicken wings dan Rolling Cheese – chicken drumstick, harganya lebih miring, yaitu Rp 99.000,00 dan Rp 139.000,00. Sedangkan, menu makanan lainnya, di atas Rp 50.000,00-an. Minuman dan desert juga di atas Rp 30.000,00-an rata-rata.

Yeay or Nay?
Di bagian ini, saya cuma bisa senyum-senyum aja. Saya suka sih Rolling Cheese – beef ribs, tapi kalau untuk makan sering-sering, kayaknya nggak deh (kantong bisa bolong, catatan: ditulis oleh anak kos xD ). Eh, maksudnya bolehlah sesekali icip-icip makanan yang ajaib seperti ini tapi menurut saya makanan di Ojju ini bukan tipe makanan yang bisa disantap sehari-hari secara reguler seperti soto, nasi padang, atau gado-gado. Dengan alasan seperti ini, lidah saya benar-benar lidah Indonesia sekali ya? 🙂

Kembali lagi, makanan itu selera. Tiap orang punya rasanya sendiri-sendiri. Bagi teman-teman yang tidak suka keju atau tidak cocok dengan rasa Korea yang ditawarkan, menu-menu di sini akan berasa ‘ah hiyaks’. Sebailknya, bagi penyuka keju, makanan di Ojju harus dicoba. Seperti saya, di mana lagi bisa makan keju meleleh yang dibalutkan ke daging, diputar-putar seperti mie, lalu dipotong sambungan kejunya dengan gunting besar??

Oh ya, Ojju juga punya sistem antri yang unik. Sistem antri dibagi menjadi tiga sesuai dengan jumlah pengunjung dan meja-kursi yang tersedia. Saat pertama kali datang ke Ojju, saya sampai jam 13.57. Sedikit terlambat untuk makan siang. Kala itu, Ojju lagi penuh-penuhnya. Saya pun antri dan mendapatkan nomor A 139. Sedangkan pada kedatangan kedua (belajar dari pengalaman), saya tiba jam 11.00 lebih sedikit. Saya langsung mendapatkan tempat duduk dan memesan menu dengan riang.

Selain sistem antrian yang unik, saya suka dengan laci ‘rahasia’ di bawah meja tempat menyimpan segala alat makan. Sarung tangan plastik pun ada hihi.

Ojju
Mall Kota Kasablanka Lantai 2
IG: @ojju.indo

Cerita jalan-jalan ke Jogja memang tidak ada habisnya. Selalu ada saja yang bisa diceritakan dari kota gudeg ini. Sekian banyak teman yang pernah berkunjung ke Jogja, mereka selalu mengaku kangen dan ingin kembali. “Enak ya, Het, Jogja,” begitu katanya. Saya yang orang asli Jogja hanya senyum-senyum saja. Ternyata cinta pada Jogja memang harus dibagi-bagi, agar semua bisa ikut merasakan :).

Sadar atau tidak, (hampir) enam tahun meninggalkan Jogja, membuat saya kurang update dengan perkembangan Jogja. Apalagi, soal wisata kuliner. Jujur, kalau zaman saya, ‘angkringan’ dan ‘lesehan’ masih menjadi top of mind wisata kuliner di Jogja, kini, lebih bervariasi. Industri kreatif tumbuh subur di Jogja. Salah satunya, melalui kafe-kafe ‘kekinian’ yang menawarkan makanan-minuman beraneka rupa. Yang membuat terkenal juga bukan hanya resep bumbunya. Garam dan gula sepertinya tidak cukup. Perlu ‘dua sendok makan’ koneksi internet di mana informasi akan tersebar tanpa batas. Lalu, goreng sampai kuning keemasan, dan tiriskan. Lah!

Nah, ngomong-ngomong soal kuliner, kepulangan saya ke Jogja awal Juli lalu menjadi istimewa saat papa mengajak saya ke warung Bakmi Jawa. “Ini beda, Dek,” katanya. “Iya, beda,” mama ikut nimbrung, membuat saya semakin penasaran.

Usut punya usut, papa membawa saya ke warung Bakmi Jawa yang pernah muncul di TV. Di sini, sebenarnya papa adalah korban, eh. Sejak berlangganan TV kabel, papa gemar menonton acara kuliner di sebuah stasiun TV. Sebagai pecinta bakmi, papa pun ingin membuktikan sendiri cita rasa salah satu warung Bakmi Jawa yang pernah diliput.

Saya tertawa saja. Iya juga sih. Apalah arti menonton acara kuliner dan jalan-jalan kalau kita, pemirsanya, juga belum ikut merasakan. Jangan biarkan host acaranya menjadi paling sotoy sedunia haha 😀

Namanya, Bakmi Jowo Mbah Gito. Letaknya di daerah Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta. Kemarin, saat saya dan keluarga tiba pukul tujuh malam, ramainya bukan main. Parkir kendaraannya saja sampai di ujung-ujung jalan. Untungnya, di belakang warung, ada tanah kosong dekat masjid yang ‘disulap’ menjadi tempat parkir.

Jangan kaget ya saat masuk ke dalam … Jreng! Serba kayu! Kayu disimpul sedemikian rupa menjadi tiang-tiang penyangga atap serta sekat antara area satu dengan yang lainnya. Ini bukan seperti warung makan kebanyakan, ini labirin! Ini lebih mirip seperti … kandang!!

Walau sempat was-was, bersyukur juga. Nyatanya, kami bisa langsung mendapat tempat, tidak masuk waiting list (oh yes, saking banyaknya pengunjung, kamu bisa masuk daftar tunggu kalau semua meja dan kursi full). Begitu masuk ke dalam labirin warung makan, ada pelayan yang langsung tersenyum menyambut dan menanyakan jumlah tamu untuk dipilihkan meja dan kursi yang pas.

Siapa sangka, kami yang bertiga ini langsung mendapat ‘kandang sapi’. Tuh, kan, apa tadi yang saya bilang! Saya dan mama tertawa. Kandang sapi di sini adalah benar-benar mirip kandang sapi, plus satu meja panjang beserta kursi panjang. Jadilah, malam itu, kami makan bertiga berjajar, tidak berhadapan.

Selamat datang di kandang sapi.

Makanan
Malam itu, papa memesan bakmi godog (mie rebus), mama memesan nasi goreng jawa, dan saya tetap pada kesukaan, capcay rebus. Untuk minuman, papa memesan teh poci, sedangkan saya dan mama memesan jahe panas.

Dari ketiga makanan yang kami pesan, saya suka semua (icip-icip). Soalnya, semuanya punya cita rasa khas. Bawang putih dan rasa rempahnya berasa dalam. Untuk capcay, sayurannya matang pas, tidak mentah dan tidak lembek. Nasi gorengnya juga tipikal nasi goreng Jawa yang manis.

Untuk minuman, (sepertnya) tidak jauh beda dengan yang ditawarkan di rumah makan lain. Teh poci disajikan dengan poci dari tanah liat. Minuman jahe panas disajikan dengan jahenya langsung diceburkan ke dalam gelas, beradu dengan gula batu. Oh ya, karena minumannya menggunakan gula batu, rasanya pun berbeda dengan minuman bergula pasir.

Harga
Harga makanan dan minuman di sini tidak tercantum di nota pemesanan. Tapi, jangan khawatir, kamu dapat mengeceknya saat melakukan pembayaran di kasir, setelah selesai makan. Di bilik kasir, akan ada papan di mana harga semua makanan dan minuman terpampang jelas.

Untuk 1 porsi bakmi godog (a.k.a bakmi rebus), 1 porsi nasi goreng, 1 porsi capcay kuah, 1 the poci, dan dua jahe panas, totalnya seratus dua puluh ribu sekian. Saya lupa-lupa ingat, karena saat membayar di kasir, saya kedistrak dengan pajangan-pajangan unik dari kayu yang ada di sekitar bilik kasir.

Yay or Nay?
Overall, saya sih ‘yes’ untuk kembali berkunjung ke sini. Cita rasa masakannya yang membuat kangen dan saya belum pernah menemukan yang seperti ini di Jakarta (anak perantauan curhat nih yee!). Masakan yang sedap bukan karena vetsin, melainkan perkawinan bawang putih, gula, dan garam. Selain itu, suasana warung makan yang unik membuat kita betah. Semuanya serba kayu, tradisional, dan ‘kampung’.

Walaupun demikian, karena banyaknya pengunjung yang datang, makan, lalu pergi, tak terhitung, suasana di sini cenderung ramai. Ditambah dengan pengunjung yang kehebohan berfoto saat panggung wayang mulai ‘hidup’ dengan sinden dan pak dalang. Eh, saya belum tulis ya? Di bagian tengah warung ini, ada semacam panggung kecil yang cukup untuk satu layar mini wayang kulit, tempat duduk sinden, pak dalang, dan beberapa orang penabuh gamelan.

It is show time! Pertunjukkan wayang kulit.

Sehingga, menurut saya, dengan suasana yang seperti ini, jangan bikin rapat yang serius-serius di sini hehe. Tapi kalau sekadar pertemuan, kangen-kangenan, reunian ada ruangan khusus yang disediakan dan cukup lapang untuk menampung banyak orang. Seperti saat papa tiba-tiba impulsif, “Ma, panitia kurban (baca: Idul Adha) apa rapat di sini aja ya? Kan bakminya enak nih,” yang langsung direspon dengan gelengan kepala oleh saya dan mama. Kurang cocok, sepertinya. Mending makan dan nonton wayang saja di sini hehe.

Yang penasaran dengan kandang sapi yang ‘nyeni’, pengen menikmati suasana Jogja sambil makan bakmi dan berdendang dengan alunan gamelan, cuss … mampir ke mari!

Bakmi Jowo Mbah Gito
Jalan Nyi Ageng Nis No. 9
Rejowinangun Kotagede Yogyakarta
Cek akun Intagramnya juga @bakmijowo_mbahgito
Buka: 11.00 – 23.00 WIB

Saya tidak tahu mengapa Tahu Bulat bisa sefenomenal ini. Jingle (lagunya)? Oke. Konsepnya? Oke. Lalu apa lagi yang membuat Tahu Bulat menjadi populer di antara makanan lainnya?

Beberapa waktu yang lalu, saat kemunculan Tahu Bulat dan orang-orang ramai membicarakannya? Saya hanya melongo. Jauh sebelumnya, saat masih kos di daerah Setiabudi, saya pernah memesan dua plastik Tahu Bulat untuk potluck di sebuah acara. Cantik memang bentuknya saat digoreng dengan minyak panas. Belum lagi, semerbak aroma yang tercium.

Singkat cerita, sesampai di tempat acara, tahu itu menjadi asimetris. Ibarat ban, dia kempes. Antara kaget dan malu, yang penting niatan baik saya untuk kontribusi di potluck sudah tercatat oleh malaikat. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tidak ‘berhubungan’ dengan Tahu Bulat lagi. Bagi saya, Tahu Bulat hanya menyenangkan dipandang saat digoreng, tidak untuk dibawa pulang.

Maka kagetlah saya saat tiba-tiba Tahu Bulat menjadi mainstream dengan tampilan barunya, pick up (mobil bak terbuka), padahal sebelumnya hanya gerobak biasa.

Belum lagi kisah ini. Saat menjadi asesor untuk relawan sebuah yayasan, orang yang saya wawancarai dengan sigap mengait-ngaitkan sifatnya dengan keberadaan Tahu Bulat. Kosa kata kekinian, sepertinya.

Mbak, aku tuh orangnya harus terencana, sistematis.”
Oh ya?”
Iya, nggak bisa mendadak kayak tahu bulat yang digoreng dadakan..”
Oh!”

Saking lamanya tak bersua dengan Tahu Bulat, ada seorang teman yang kaget saat saya mengaku belum pernah makan Tahu Bulat. Sesungguhnya, saya menjawab ‘belum pernah’ hanya karena sudah lupa rasanya seperti apa. Saya pernah makan Tahu Bulat versi gerobak tapi belum pernah makan Tahu Bulat versi pick up.

Setelah percakapan itu, jadilah malam ini, saat bertemu dengan pick up Tahu Bulat yang ngetem di pinggir jalan, saya membeli enam buah Tahu Bulat dalam plastik (1 buah Tahu Bulat Rp 500,00). Seperti ajaran teman saya kala itu, saya memesan versi original (tanpa bumbu). Hangat-hangat, saya masukkan Tahu Bulat ke dalam tas dan bergegas pulang. Sesampai di kos, bentuk tahu itu sudah asimetris. Saat saya makan, saya seperti bernostalgia dengan tahu yang dulu saya beli di pasar di daerah Setiabudi. Rasanya? Jeng-jeng … Sama!!

Dibalik Tahu Bulat, sebuah self-talk:
Tidak semua hal yang mainstream itu wajib diikuti. Pun sekedar menggugurkan kata ‘belum pernah’. Menjadi diri sendiri yang original itu wajib. Keyakinanmu yang akan dihargai orang, bukan apa yang sudah kamu lakukan seperti yang kebanyakan orang lakukan.

Bolehkah membuat setiap orang bahagia? Bisakah membuat setiap orang bahagia?

Semua ini berawal saat sebuah akun populer di Instagram memposting gambar pizza dengan tulisan “You can’t make everyone happy, you are not pizza!”. Pernah kamu nemu yang seperti itu? Kala itu, saya hanya manggut-manggut tanda setuju, mengklik gambar love, sambil lanjut scrolling down lini masa Instagram tanpa berprasangka apa-apa.

Lama berselang, tiba-tiba, pada suatu pagi, saat berangkat ke kantor, kalimat itu muncul lagi di kepala saya. “I want to be a pizza!” Mungkin ini salah satu akibat terlalu bersemangat menyambut pagi dan berangkat ke kantor (sebentar, atau efek sepatu baru? hehe).

Curiga. Saya langsung menginvestigasi kepala saya sendiri, “Hayo ngaku, siapa tadi yang bilang?”

Pikiran ini langsung tertuju pada sebuah gambar di Instagram yang saya love beberapa waktu lalu. Dalam pikiran saya, langsung ada dua kubu yang berdialog seru.

Apa enaknya jadi pizza sampai ingin begitu?”
Jobdesc-nya tunggal, bikin orang lain happy.”
Is it good?”
Yes. Single jobdesc.”
Yakin?”
Let’s compare with your jobdesc, eh…”.

Memang, ada benarnya kita nggak bisa membuat senang setiap orang. Ada saja yang harus dikorbankan. Seorang pemimpin menurut saya, adalah orang yang paling lihai dalam urusan ini. Dia yang membuat keputusan. Mau bikin orang senang atau justru menyusahkan, ya apa mau dikata. Beberapa kali, saya berinteraksi dengan bos model seperti ini. Setelah membuat keputusan dan cenderung kontroversial, beliau akan berguman, “Ya, kita emang nggak bisa bikin happy setiap orang!”

Kalau sudah begitu, biasanya saya tak berkomentar. Bagi saya yang tipe ‘enggak enakan’, I will try everything to make everyone happy. Saat jadi koordinator misalnya, saya memastikan setiap kepentingan anggota terakomodasi. Istilahnya, tidak ada yang ‘terluka’ dari setiap keputusan rapat. Enggak sehat juga sebenarnya. Beberapa teman sudah memberi feedback, “Coba jadi orang yang tegaan dikit, Het! Mereka baik-baik saja tanpa kamu bela-belain.”

Anyway, saya jadi ingat Santa Clause. Terlepas dari ada-tidaknya Santa Clause, coba, siapa yang ingin jadi Santa Clause? Santa Clause digambarkan sebagai sosok yang happy karena selalu berbagi. Di dongeng-dongeng, Santa selalu sibuk dengan daftar hadiah untuk anak-anak yang memohon padanya. Pun kerepotan membawa berkarung-karung hadiah, Santa selalu tampak easy going, datang dari satu rumah ke rumah lainnya. Bahkan bukan lewat pintu, melainkan lewat cerobong asap yang tak lazim dan cenderung menyusahkan diri. Tapi siapa peduli? Jobdesc Santa hanya satu, bagi-bagi hadiah dan itu membuatnya happy.

Praktiknya, pernah juga saya menegaskan, kita bukan pizza yang bisa menyenangkan hati setiap orang. Saya sudah tak tahan dan gemes sendiri. Saat diskusi alot reuni sekolah dengan tim, saya mengucapkan ‘mantra’, “Hei, we are not pizza, we can’t make everyone happy” untuk menanggapi seorang teman yang ketakutan memesan makanan untuk reuni tapi tak mempertimbangkan dana yang tersedia. Takut menunya kuranglah, menunya kurang bervariasilah, dan pertanyaan lainnya yang merepotkan diri sendiri (sepertinya, teman saya ini sedang ingin menjadi Santa). Mendengar mantra itu, beberapa teman lainnya justru berenspon, “Kok apik, Het, kata-katane?”

Lho, apakah mereka selama ini enggak sadar? Apakah menyenangkan hati setiap orang itu sudah mengakar? Digit mental melayaninya sepertinya tinggi. Sesungguhnya, kata-kata itu memang bukan buatan saya tapi Istragram punya. Andai mereka tahu (tapi sepertinya mereka tak perlu tahu), kata-kata itu bukan kata-kata biasa. Saya berefleksi dengan gambar pizza di Instagram. Tak ada yang melarang untuk menyenangkan hati setiap orang, tapi ada kalanya kita harus lebih peka dengan kondisi di mana tanpa perlu kita ambilkan tangga, orang sudah bisa memetik buah kesenangan untuk dirinya sendiri. Apalagi kalau menyediakan tangga itu di luar kemampuan kita (baca: memaksakan diri). Yah, dalam kasus ini, saya mengamini feedback dari teman tadi, serta bos saya. Jadi, mau jadi pizza atau jadi Santa? Atau Nutella?

Enggak cuma pizza ternyata, Nutella juga hihi (sumber gambar: Pinterest)

Enggak cuma pizza ternyata, Nutella juga hihi (sumber gambar: Pinterest)

Makin ke sini, makanan tidak melulu menjadi jawaban saat kita lapar. Makanan bisa menjadi ajang gengsi, sensasi, atau sekedar pemuas rasa penasaran. Minimal, setelah kita makan suatu jenis makanan, kita bisa berbagi cerita ke orang lain tentang makanan itu atau restoran/rumah makan yang menyajikannya. Pokoknya, harus ada ceritanya!

Seperti kali ini, saya dan teman-teman sekantor rela berdesak-desakan di KRL dari Jakarta menuju Depok untuk mencicipi Godzilla Burger. Agak impulsif juga seperti tidak ada tempat hangout di Jakarta sepulang kerja. Tapi seperti yang saya jelaskan di atas, dalam kasus ini, saya dan teman-teman penasaran dengan Godzilla Burger. Kebetulan beberapa hari sebelumnya, saya melihat liputannya di acara kuliner di salah satu stasiun TV swasta.

Nama tempatnya adalah Dino Steak & Pasta House. Dari nama tempatnya, sudah ketahuan ragam menu yang ditawarkan. Jelas tidak ada kalau kamu mencari ‘pecel lele’ atau ‘pecel ayam’. Lihat saja daftar menunya kalau tidak percaya. Dari semua menu western food yang ditawarkan, yang saya rekomendasikan untuk dicoba adalah Godzilla Burger.

Godzilla Burger adalah salah satu signature menu di sini. Godzilla burger adalah 1 kg beef burger yang disusun tingkat lima dengan patty dan disajikan dengan 200 gram kentang goreng plus onion rings. Tidak perlu khawatir dengan makanan sebanyak itu, si pemilik cukup pengertian dengan menghadirkan tiga saus untuk menambah varian rasa, saos pedas, saos tomat, dan mayones.

Eh, tapi yakin bisa kuat makan burger sebanyak itu? Jika kamu memesan Godzilla Burger, tidak hanya burgernya saja yang harus kamu habiskan, tetapi juga kentang goreng dan onion rings yang memenuhi nampan. HeEh, burgernya disajikan dalam nampan, bukan piring. Catet!

Nah, kalau jawabannya kuat, langsung aja lapor ke pramusaji, kamu ikut Godzilla Burger Challenge. Godzilla Burger Challenge ini seru karena kamu harus menghabiskan burger dan ‘teman-temannya’ dalam waktu tiga puluh menit. Jika kamu berhasil, maka kamu tidak perlu membayar. Sebaliknya, jika gagal, kamu harus membayar sesuai harga yang tercantum di daftar menu. Gimana, tertantang?

Walaupun pulang kerja dari Jakarta langsung ke Depok, saya dan teman-teman masih kalem dan memesan makanan bersama-sama. Kami tidak mengambil tantangan karena ingin menikmati burger dengan khusyuk tanpa tergesa-gesa (pembelaan kami). Nyatanya, satu Godzilla Burger bisa kami habiskan berlima sambil bercerita santai tentang ini dan itu.

Tempatnya seru untuk hangout rame-rame.

Tempatnya seru untuk hangout rame-rame.

Rasa
Oh ya, soal rasa, ini bisa menjadi sangat subjektif. Kalau saya, saya lebih memilih burger dari merk lain. Mungkin karena fokusnya adalah kuantitas dan nama produk, soal cita rasa menjadi kurang ‘nendang’. Selain itu, kentang goreng dan onion rings-nya tidak begitu recommended. Campuran tepung terigunya terlalu banyak sehingga menyebabkan gorengan keras.

Harga
Satu Godzilla Burger dijual dengan harga Rp 86.500,00. Cukup ekonomis, kan? Ajak saja teman-teman untuk memesan bersama, terbayang kamu bisa menghemat berapa? hehe.

Saya yakin, kamu pasti masih penasaran dengan cerita saya? Nggak cukup membaca tulisan ini, kamu harus ke sana dan memesan Godzilla Burger. Cuss! Temukan di:

Dino Steak & Pasta House di Jalan Margonda Raya no.438 (Kalau naik KRL, bisa turun di stasiun Pondok Cina lalu jalan kaki. Nggak jauh kok).

%d bloggers like this: