Archive

Jalan-jalan

Cerita sebelumnya : Jalan-jalan ke Rammang-Rammang. Bisa baca di sini.

Pukul lima sore, saya sudah diantar kembali sampai di Pod House. Rasanya riang gembira karena enggak nyangka bisa seseru ini walau jalan-jalan sendiri (sekali lagi makasih banyak teman-teman di Makassar).

Berhubung besok sore saya sudah pulang ke Jakarta, saya mulai mengabsen apa yang belum saya lakukan di Makassar.

Check List:
Kenyang perut Mie Titi
Kenyang perut Pallubasa Serigala
Kenyang mata dan batin pemandangan Rammang-Rammang
Kenyang perut Konro Karebosi, Es Pisang Ijo, dan Jalangkote

Apa ya yang belum?

Saya ingat, mama pesan untuk dicarikan oleh-oleh Makassar. Bukan yang cruchy-crunchy melainkan yang lucu-lucu (pemirsa, kode ini artinya mama minta dibelikan sesuatu yang khas, bukan camilan, kain misalnya). Jadilah, malam itu, saya memutuskan untuk berjalan kaki ke Pusat Oleh-Oleh Unggul (toko) yang letaknya tidak jauh dari Pod House (tidak jauh versi saya ya, kalau dicek di Google Map jaraknya 800 m).

Dari Pod House yang ada di Jalan Penghibur, saya belok kanan mengarah ke Jalan Somba Opu. Kalau dibayangkan, Jalan Somba Opu ini merupakan jalan yang terletak di belakang Jalan Penghibur. Di Jalan Somba Opu, banyak juga toko oleh-oleh khas Makassar, sebenarnya. Tapi atas rekomendasi teman saya, yang paling lengkap adalah Toko Unggul yang ada di Jalan Pattimura, ujung Jalan Somba Opu. Jadilah, saya jalan kaki ke sana (kebayang kan pemirsa jalannya? Dia semacam pertigaan gitu).

Khusyuk memilih kain untuk mama, saya tidak sempat memotret kenampakan Toko Unggul. Seperti layaknya toko oleh-oleh versi komplet sih. Dari aksesoris sampai camilan, semuanya ada. Kalau tanya, camilan apa yang khas dari Makassar? Maka, jawabannya adalah Kacang Disko. Tapi lagi-lagi kata teman saya (orang Jawa Timur yang dinas di Makassar), Kacang Disko ini rasanya seperti kacang pada umumnya. Hanya namanya saja yang berbeda. Jadilah, saya membeli kue kering rasa nanas dan kopi (mirip kue lebaran) untuk teman-teman kantor dan kain khas untuk mama.

Pisang Epek
Pulang dari membeli oleh-oleh, saya jalan kaki lagi melalui rute yang sama, Jalan Pattimura – Jalan Somba Opu – Jalan Penghibur. Tidak perlu takut karena kamu akan berjumpa dengan orang-orang dan pedagang di pinggir trotoar. Apalagi kalau sudah sampai di Jalan Penghibur. Di malam hari, Jalan Penghibur menjadi ramai dengan lapak-lapak pedagang. Yang dijual hampir sama semua, Pisang Epek dan minuman dari kelapa (santan).

Pisang Epek ini merupakan jajanan khas di Pantai Losari. Kalau dilihat, bentuknya mirip pisang bakar yang diberi gula merah cair. Manis!

Malam itu, saya sengaja mampir ke salah satu lapak di pinggir Jalan Penghibur. Agak sulit mencari tempat yang kosong karena rata-rata datang dalam rombongan. Setelah mendapat dua kursi (satu untuk saya, satu untuk tas belanjaan ciee.. ), saya pun memesan Pisang Epek original (enggak pakai tambahan keju, coklat, dan selai).

Sembari makan, para pengamen datang silih berganti dengan lagu yang sama, Akad – Payung Teduh. Ya, saat saya ke Makassar, lagu itu sedang naik daun di Jakarta dan ternyata di Makassar juga sama. Jadi, malam itu saya tutup dengan mengucapkan selamat kepada Payung Teduh, lagunya nge-hits :).

Benteng Fort Rotterdam

Patung di depan pintu masuk Museum Benteng Fort Rotterdam.

Keesokan harinya, bangun tidur, saya langsung sadar ini hari terakhir di Makassar. Ada dua destinasi yang belum saya kunjungi, yaitu Benteng Fort Rotterdam dan Masjid Apung Amirul Mukminin. Dua destinasi ini sayang untuk dilewatkan karena keduanya sama-sama terletak di Jalan Penghibur, hanya letaknya ujung ke ujung.

Setelah packing dan sarapan, saya jalan kaki ke Benteng Fort Roterdam melalui Jalan Penghibur. Mengapa jalan kaki? Bagi saya, saat ada kesempatan berkunjung ke luar kota, saya selalu menyempatkan berjalan kaki untuk melihat keadaan kotanya lebih dekat. Saya ingin merasakan suasana kotanya. Selain itu, jarak Pod House ke Benteng Fort Roterdam cukup dekat (versi saya ya, kalau dicek di Google Map jaraknya 1 km). Dengan udara pagi pukul 10.00-an rasanya masih layaklah, ya. Enggak panas-panas banget.

Kompleks bangunan Museum Benteng Fort Rotterdam mengingatkan saya pada Benteng Vrederburg di Jogja serta sebuah museum yang ada di Malaka, Malaysia (saya lupa namanya). Hanya saja, kompleksnya lebih besar dan lebih luas. Saya berkeliling ke setiap kompleks museum. Ada yang gratis dan berbayar. Tenang, pun berbayar, masih masuk dalam kategori murah kok.

Area bangunan Benteng Fort Rotterdam di Makassar.

Bangunannya khas sekali ya!

Tampak belakang.

Ada guide yang menerangkan sejarah museum kepada pengunjung.

Sebenarnya, museum punya potensi besar untuk jadi arena belajar sejarah yang menyenangkan. Sayangnya, saya sering sedih jika datang ke museum. Bukan karena terkenang-kenang perjuangan pahlawan, namun melihat kondisi museum. Ruangan tempat memajang benda-benda sejarah ‘seakan’ dibiarkan gelap dan pengap. Selain itu, beberapa aksi vandalisme cuka nampak. Tembok-tembok bangunan museum penuh corat-coret. Untung saja kemarin, Museum Benteng Fort Rotterdam sedang ramai. Banyak rombongan anak sekolah bersama gurunya yang datang. Saya pun bersemangat untuk berkeliling dan tidak berasa ‘spooky’ hiii …

Suasana di dalam museum.

Corat-coret di dinding bangunan museum ini merusak keindahan museum.

Masjid Apung Amirul Mukminin

Masjid Apung Amirul Mukminin.

Oh ya, setelah puas berjalan kaki dari Benteng Fort Rotterdam, saya menyisakan sore di masjid terapung untuk solat ashar. Masjid terapung ini namanya Amirul Mukminin. Mengapa harus masjid ini? Yaa .. karena masjid ini masih berada di Jalan Penghibur (Pantai Losari). Jadi, sekalian saja disinggahi. Selain itu, masjid ini juga direkomendasikan oleh beberapa Bapak Gojek yang mengantar-jemput saya selama di Makassar.

Akhirnya, pukul empat sore, saya jalan kaki kembali ke Pod House dan memesan mobil via aplikasi online untuk ke bandara. Jalan kaki ini sambil membakar kalori kuliner Makassar yang sukses saya santap kemarin ya hehe. So, bye bye Makassar! Dengan senang hati kalau ‘diminta’ kembali 🙂

Yeay or Nay?
Overall, yang saya sukai dari perjalanan singkat ke Makassar ini adalah …
Kawasan Pantai Losari yang sepertinya didesain untuk menjadi pusat pariwisata. Di sepanjang jalan Pantai Losari, kita dapat menjumpai hotel (hostel), tempat makan, supermarket mini, serta kawasan pedesrian yang nyaman untuk jalan kaki, bercengkrama, lari-lari, duduk-duduk ditemani semilir angin pantai. Misal kamu ingin liburan selama tiga harian, kawasan Pantai Losari ini paslah untuk kamu pilih.

Oh ya, menutup seri cerita jalan-jalan ke Makassar, ada yang bertanya, mengapa judulnya Makassar Dengan Dua ‘S’. Alasannya, satu, gara-gara dinas ke Makassar, saya baru ngeh kalau menulis ‘Makassar’ itu dengan dua huruf ‘s’. Kedua, ada dua es yang terkenal di Makassar, yaitu Es Pallu Butung dan Es Pisang Ijo. Keduanya favorit saya. Dhoeng! Eh, gimana?? Enggak nyambung ya?? Heu. Judulnya demikian karena benar-benar merepresentasikan pengalaman personal saya saat berkunjung pertama kali ke Makassar.

Jadi, apa pengalamanmu saat jalan-jalan ke Makassar?? Bagi di kolom komentar ya! :).

Bye bye Makassar!

Baca cerita sebelumnya di sini:
Makassar Dengan Dua ‘S’ Edisi 1
Makassar Dengan Dua ‘S’ Edisi 2
Makassar Dengan Dua ‘S’ Edisi 3

Advertisements

Hari ketiga di Makassar berarti hari pertama full-day liburan. Yeay!

Kok tiba-tiba saat saya menulis ‘full-day liburan’ rasanya gimana gitu ya? Semoga Pak Bos enggak baca hihi.

Dari awal saya sudah mencoret Toraja dalam daftar liburan saya di Makassar kali ini. Di samping jauh, sepertinya biayanya akan semakin besar, apalagi saya solo travelling. Kalau jalannya rame-rame kan ongkosnya bisa dibagi-bagi. Jadilah, ada beberapa opsi lain yang bisa dijadikan pilihan, antara lain: Rammang-Rammang, Taman Nasional Bantimurung, Taman Laut Taka Bonerate, dan Maliono.

Setelah berdiskusi dengan teman saya, akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke Rammang-Rammang (see, betapa random-nya saya, bisa jalan-jalan tanpa perencanaan sebelumnya). Rammang-Rammang merupakan salah satu destinasi wisata alam populer di Makassar. Pemandangan alamnya, katanya, tidak ada duanya. Coba deh browsing. Saya yakin akan banyak referensi tentangnya.

Oh ya, saya tahu Rammang-Rammang sekitar dua tahun lalu. Kalau itu, teman saya (seorang travel blogger) menceritakan tentang destinasi ini saat kami bertemu di blogger gathering Potret Mahakarya Indonesia. Siapa sangka baru kesampaian di tahun 2017 ini dan teman saya sudah meninggal. Al-fatihah untuk beliau (suwun ya Mas, ceritanya).

Untuk mencapai Rammang-Rammang, jalurnya cukup mudah dan terjangkau. Saya cukup terbantu, teman saya yang orang Makassar bersedia mengantar saya dengan mobil. Sehingga saya tidak kesulitan karena dia hapal jalannya. Jika tidak ada mobil pribadi, kamu bisa menggunakan Go-Car atau Grab-Car. Saya ingat, saat di Pod House, sempat ada bule yang ingin ke Rammang-Rammang. Mereka pun memesan mobil lewat aplikasi online. Mungkin, salah satu faktor yang yang bisa dipertimbangkan adalah saat kamu mencari kendaraan untuk kembali, dari Rammang-Rammang ke Makassar (kota). Saat kembali akan lebih sulit mencari kendaraan daripada saat kamu datang dari Makassar (kota) ke Rammang-Rammang.

Hari itu, saya bersyukur cuaca di Makassar sangat bersahabat. Panas yes tapi asal tidak hujan saja yang bisa menghalangi kami jalan-jalan. Ada payung sih, tapi … Ya, gitulah.

Dari parkiran mobil berupa tanah lapang berumput, kami menuju dermaga kecil, tempat beberapa perahu bersandar. Hah? Perahu? Untuk apa? Bagi kamu yang belum tahu, Rammang-Rammang menawarkan kenampakkan alam sungai/danau yang ‘dikepung’ bebatuan tua. Kita harus naik perahu untuk menikmati keindahannya. Ada beberapa objek yang ditawarkan selama kita berlayar. Kita bisa meminta bapak kapal (nahkoda) untuk singgah sejenak di setiap tempat.

Dora, The Explorer, edisi Rammang-Rammang.

Pemangangan yang dapat dinikmati dari atas kapal.

Selamat datang di Rammang-Rammang. Kali pertama melihat pemandangan ini, rasanya pengen nyanyi Mahadewi-nya Padi, “Hamparan langit maha sempurna …”

Kemarin, kami singgah di Kampung Berua, yang terdiri dari Situs Pasaung, Padang Ammarrung, dan Gua Kelelawar. Di sana merupakan persawahan luas yang dikelilingi oleh perbukitan. Begitu turun dari kapal, bawaannya langsung pengen jalan-jalan mengeksplorasi padang rumput dan persawahan yang luas ini. Di beberapa sisi, ada bukit batu atau tebing yang harus kamu lalui dengan sabar (tidak disarankan pakai heels di sini ya, Ladies!).

Dari kenampakkan alamnya, wisata Rammang-Rammang sangat cocok untuk dikunjungi di pagi atau sore hari. Kalaupun siang hari, teriknya matahari akan sangat berasa walau udaranya cukup sejuk. Konon katanya, saking indahnya, kawasan ini sering dijadikan sebagai lokasi syuting film. Hayuk tebak film apa?

Setelah kapal menepi, sempatkan singgah. Kamu akan menemukan pemandangan seperti ini.

Setengah hari jalan-jalan di Rammang-Rammang ternyata cukup menguras energi dan membuat naga-naga di perut berdansa dengan irama krucuk-krucuk. Apalagi saya dan teman-teman juga memasuki gua yang menguji ketrampilan kami memanjat. Lepas dari kawasan Rammang-Rammang, kami langsung kembali lagi ke tengah kota untuk makan siang. Tujuan kami tetap kuliner khas Makassar dan terpilihlah … jreng!!

Konro Karebosi!!

Konro Karebosi yang kami singgahi terletak di Jalan G. Lompobattang No.41 Makassar. Lokasi ini cukup terkenal dan selalu direkomendasikan.

Konro Karebosi adalah makanan khas Makassar yang menggunakan daging sapi sebagai olahan utamanya. Ada dua jenis Konro, yaitu Konro bakar dan konro biasa atau konro kuah. Rasanya mantap hehe. Maksudnya, Konro bakar merupakan daging sapi empuk yang berlumur bumbu. Penampakkannya sih seperti bumbu kacang sate Madura. Rasanya cenderung manis. Sedangkan, konro biasa atau konro kuah, lebih gurih karena seperti daging sapi empuk dengan sup rempah. Dua-duanya juara, kamu harus coba semua.

Konro Karebosi yang berkuah. Kuahnya seger banget. Pemirsa harus coba ya!

Kontro Karebosi versi bakar. Bumbu kacangnya mirip bumbu sate. Rasa manis – gurihnya bikin nagih!

Harga
Satu porsi konro harganya 50.000-an. Harga yang cukup logis untuk sajian daging sapi nan empuk dan rasa rempahnya yang yummy.

Es Pisang Ijo dan Es Palu Butung Muda Mudi

Kamu masih kuat makan, Het?”
Iyaaaa, kan aku belum ketemu kesukaanku, es pisang ijo hehe.”

Jadilah, kami meluncur ke Muda-Mudi di Jalan Rusa No. 45 A. Di sana, kami memesan satu porsi Pisang Ijo, satu porsi Pallu Butung, dan dua Jalangkote. Pisang Ijo yes, Pallu Butung yes, Jalangkote?? Jalangkote itu seperti kue pastel tapi ukurannya lebih besar. Di Muda-Mudi, Es Pisang Ijo dan Es Pallu Butung disajikan dingin (yaiyyalah!) dan Jalangkote disajikan hangat-hangat (layaknya abis digoreng). Yummy semua!

Sebelah kiri yang ada ijo-ijonya itu namanya Es Pisang Ijo. Sedangkan, di samping kanan adalah Es Pallu Butung.

Harga
Oh ya, satu porsi es harganya 22.000. Tapi semuanya worth it, kok.

Over all, Yeay or Nay?
Konro Karebosi harus dicoba. Es Pisang Ijo, Es Pallu Butung harus dicoba juga karena …
e n a k b a n g e t.

Eits, ini belum edisi final. Masih ada satu cerita lagi tentang Makassar. Tunggu yaa …

Catet alamatnya, nih:
Konro Karebosi
Jalan G. Lompobattang No.41 Makassar

Es Pisang Ijo & Es Pallu Butung
Muda-Mudi di Jalan Rusa No. 45 A Makassar

Baca cerita sebelumnya di sini:
Makassar Dengan Dua ‘S’ Edisi 1
Makassar Dengan Dua ‘S’ Edisi 2

Yeay, akhirnya jalan-jalan juga!
(Kalimat pertama ini ditulis dengan penuh antusias)

Nggak banyak sih, cuma dua hari. Tapi … Dua hari ini adalah dua hari yang saya syukuri. Mengapa? Karena:
Satu. Akhirnya, berhasil menginjakkan kaki di tanah Sulawesi untuk pertama kali.
Dua. ‘Bakat ngilang’ akhirnya tersalurkan lewat solo travelling ke Makassar ini (ini pun hasil extend dinas ke luar kota! hihi)

Pun mau lima hari, sebenarnya bisa. Karena dinasnya hanya Senin dan Selasa, saya hanya perlu cuti dua hari (Rabu dan Jumat), saya sudah bisa menikmati liburan selama ke lima hari sampai Minggu. Karena hari Kamis adalah hari libur. Indah bukan?

Sayangnya, dengan bijak dan sadar diri, saya memilih untuk extend dua hari saja, Rabu dan Kamis. Ini pun kata seorang teman saat saya masuk ke kantor di hari Jumat, “Het, bos kemarin nanya formulir cutimu!”

Ups!

Singkat cerita, setelah seharian mengurus acara kantor, di sore hari saya pindah hotel. Dari Jalan Andi Mappanyukki saya naik Gojek ke Jalan Penghibur. Enggak begitu jauh sih, biaya Gojek-nya Rp 6.000,00 saja. Jalan Penghibur merupakan jalan yang ada di pinggir Pantai Losari.

Hari Kedua di Makassar

Sepotong senja untuk pacarku, halah. Salah satu yang bikin semangat adalah melihat matahari terbenam. Tanda dimulainya petualangan di Makassar. Saya siap!

Nginep di mana?
Pod House
Jalan Penghibur No.58-59 Makassar 90111

Mengapa? Ini rekomendasi dari seorang temannya teman. Katanya, tempatnya lucu dan pas di pinggir Pantai Losari. “Aman juga, Het, buat solo traveller kayak kamu,” promosi teman saya meyakinkan.

Berbekal saran itu, akhirnya, saya browsing. Benar saja, selain harganya yang pas buat saya, foto-foto yang ada di internet juga tampak menyenangkan.

Nggak heran, pas sampai sana di hari Selasa, spontan saya langsung bilang ke resepsionis,”Huwaaa, semuanya mirip dengan yang ada di foto!”. Kakak yang sedang berjaga di desk resepsionis hanya tersenyum saja melihat aksi spontanitas saya. “Iya, Kak, soalnya, biasanya yang di foto di internet sama yang aslinya berbeda,” tambah saya.

Diminum dulu welcoming drink-nya, Kak,” kata resepsionis meredakan kenorakan saya. Hahaha.

Di Pod House ada beberapa tipe kamar. Ada kamar yang sendiri, satu bed ukuran single dan menyatu dengan kamar mandi dalam, serta ada juga kamar keroyokan alias satu ruangan dengan beberapa tempat tidur tingkat.

Bangun tidur kuterus melihat kamar mandi hahaha. Tenang, walau sekatnya kaca, ada tirai penutupnya kok.

Dengan pertimbangan keamanan ‘barang-barang kantor’ yang saya bawa, saya pilih satu kamar sendiri yang luas kamarnya mengingatkan saya pada kamar kosan saya di Jakarta. Kamar pilihan saya ini, letaknya di lantai 4. Untuk mencapainya, dari meja resepsionis di lantai dasar, saya harus naik tangga manual. Tidak ada lift ya, pemirsa!! Jadilah, dengan backpack dan tote bag (serempong itu), saya naik tanggal dan mengatur nafas. Tuk wak, tuk wak!

Di tiap peralihan lantai, ada quote-quote seperti ini. Naik tangganya jadi semangat deh hihi.

Hiburan di kamar lantai 4 adalah kamar ini selantai dengan teras yang langsung menghadap ke Pantai Losari. Uhuy! Di teras ini, kalau sore, akan berubah fungsi menjadi cafe yang ramai pengunjung (tidak hanya penghuni hotel) untuk makan-minum atau sekadar mengobrol.

Bisa duduk-duduk santai di sini.

Pemandangan Pantai Losari dari teras lantai 4 Pod House.

Oke, balik lagi. Setelah meletakkan beban hidup tas dan mengagumi dinding kamar (percaya atau enggak, perlu satu menit untuk merasakan betapa lucunya kamar ini), saya segera mandi karena seorang teman sudah berjanji akan menjemput saya malam itu.

Anjing-anjing yang lucu di dinding kamar.

Cuss!! Waktunya makan!!

Pallubasa Serigala
Jalan Serigala Mamajang Dalam Mamajang Makassar
Buka: 10.00-21.00 WITA

Saya diajak teman saya (yang orang asli Makassar) untuk makan malam di Warung Pallubasa di Jalan Serigala (makanya, terkenalnya jadi ‘Pallubasa Serigala’).

Sambil menunggu pesanan saya diantar, teman saya memulai ‘dongengnya’ tentang sejarah warung ini. Konon katanya, warung ini dulu adalah warung tenda di pinggir jalan. Karena semakin berkembang dan ramai pengunjung, akhirnya, warungnya dipindah ke bangunan yang lebih permanen. Uniknya, bekas tenda warung di pinggir jalan tetap dibiarkan berdiri.

Warung tenda ini adalah warung aslinya. Di seberang warung tenda ini ada ruko yang dijadikan untuk rumah makan Pallubasa seperti yang kita kenal sekarang.

Iseng saya tanya, “Kalau udah pindah ke sini, kenapa tendanya masih ada? Buat apa?”
Buat cuci piring, Het,” kata teman saya enteng. Entah benar atau tidak, saya sudah enggak fokus menanggapi teman saya karena pesanan kami akhirnya tiba di meja.

Gimana, Het, enak?” tanya teman saya memastikan.
Enak-enak,” jawab saya antusias. Ya, gimana enggak antusias coba kalau ini Pallubasa pertama saya. Palu yang lain yang saya kenal hanyalah Palubutung (es).

Saking enaknya, dari dulu, orang selalu bela-belain antri, Het, kalau makan di sini. Kebayang kan, dulu warungnya masih warung tenda di pinggir jalan. Tapi kelelahan kita pas antri terbayar lunas setelah kita makan di sini. Pun pernah ya, dagingnya abis, kuahnya aja deh enggak apa-apa, udah enak banget pake nasi,” kata teman saya yang membuat saya tertawa.

Buat kamu yang belum pernah makan Pallubasa, saya bantu mendeskripsikan. Jangan lupa sapu tangan kalau ngeces, please.

Bentuk makanan Pallubasa ini mirip sup alias makanan berkuah banyak dengan potongan daging sapi yang empuk. Salah satu hal yang membuat enak adalah kuahnya yang sangat kaldu sapi sekali. Gurih, gurih gimana gitu. Sepertinya, memang tidak dibuat asin alias agak tawar supaya orang bisa membuat cita rasanya sendiri dengan menambahkan garam yang sediakan di meja.

Ini dia Pallubasa Serigala yang disajikan dengan mangkok ukuran mini (mirip mangkok Soto Kudus). Yang kuning itu adalah telur.

Saat memesan, kamu juga akan ditanya pakai telur atau enggak. Maksudnya, kalau kamu ingin pakai telur, di Pallubasa kamu akan ditambahkan telur. Enggak digoreng, enggak direbus, lho! Telur akan langsung dipecah dan dituangkan di Pallubasa kamu yang disajikan hangat-hangat. Sumpah, enggak amis!

Harga
Saya lupa berapa harga satu porsi Pallubasa. Notanya hilang. Kalau tidak salah, dua porsi Pallubasa, dua porsi nasi, dan dua teh hangat Rp 70.000,00-an.

Yeay or Nay?
Yes! Saya akan merekomendasikan kamu untuk mampir ke sini kalau sedang di Makassar. Bagaimana tidak, Makassar adalah surganya kuliner dan semua orang mengamini hal ini. Saat mampir ke sana kemarin, warungnya ramai pengunjung. Rata-rata yang datang adalah rombongan. Jadi, enggak perlu ragu, mampir yaaa …

*
Ini belum berakhir. Masih ada hari ketiga dan keempat! Bersambung ke cerita selanjutnya. Pemirsa sabar ya 🙂
Baca cerita sebelumnya di sini.

Tulisan ini ditujukan untuk kamu yang baru pertama kali melakukan perjalanan dinas dengan atasan kamu (tanda pagar #MyLifeAsAnOfficer). Doo be dooo …

Bulan lalu, saya dapat kesempatan untuk jalan-jalan ke Makassar. Terdengar menyenangkan ya? Tapi sebenernya ini perjalanan dinas alias b-e-k-e-r-j-a. Jalan-jalan hanya bonus aja. Kalau di buku sejarah, kalimatnya seperti ini “Belanda datang ke Indonesia membonceng NICA” – “Hety jalan-jalan ke Makassar membonceng perjalanan dinas.”

Ah, ngaco nih! Hahaha. See, betapa noraknya saya membuat kalimat sebelumnya. Maklum, ini kali pertama saya menginjakkan kaki di bumi Sulawesi. Saya hanya terlalu … a n t u s i a s.

Sementara, teman saya hanya geleng-geleng kepala, “Hety-Hety, bagaimana kamu bisa antusias seperti itu untuk sebuah perjalanan dinas??”

Padatnya pekerjaan di minggu itu membuat saya tak berkutik membuat itinerary. Saya hanya sempat bertanya pada Paman Google dengan kata kunci ‘Jalan-jalan, Makassar’ dan muncullah berbagai destinasi wisata plus ulasannya. Dibaca semua?? Enggak. Sadar diri enggak akan extend lama-lama, saya pun juga enggak muluk-muluk untuk bisa pergi ke Toraja (walau sangat ingin, puppy eyes mode on). Apalagi perjalanan kali ini, saya bakal solo travelling. Jadilah saya hanya mengandalkan Whatsapp, mengirim pesan kepada teman saya yang ada di Makassar bahwa saya akan pergi ke sana. Again, the power of kekancan (baca: friendship).

Hari Pertama
Senin sore, saya tiba di Makassar. Bersama Pak Bos, saya langsung menuju kantor yayasan mitra untuk mengecek semua persiapan untuk acara besok. Tak lama, kami pun langsung ke hotel yang letaknya masih di jalan yang sama untuk istirahat (dan meletakkan ‘beban hidup’ → bagian ini khusus untuk saya saja). Bagaimana tidak, Pak Bos saya yang sangat ‘casual’ itu hanya membawa satu backpack hitam (backpack yang sama yang sehari-hari dibawa ke kantor). Sedangkan saya? Satu backpack yang ‘menempel’ di punggung, satu tas formal di lengan kanan, dan satu tas tenteng berisi bingkisan untuk 3 narasumber di bagian kiri.

Setiap perjalanan dinas, backpack selalu menjadi pilihan. Koper cantik hanya impian #MyLifeAsAnOfficer

Di manapun, film kartun selalu jadi pilihan untuk menemani sesi ‘goleran’ di kasur hotel yang maha empuk.

Pak Bos kan dua hari satu malam di Makassar. Sedangkan kamu? Empat hari tiga malam di Makassar → kalimat penghiburan.

Oh ya, ini kali pertama saya melakukan perjalanan dinas dengan Pak Bos (tanda pagar #MyLifeAsAnOfficer). Canggung? Iya. Tapi saya berusaha santai dan tetap menjalankan kewajiban saya sebagai stafnya seperti kalau di kantor. Misalnya, saya menawarkan diri untuk makan malam bersama jam 7.00. Pak Bos pun setuju.

Pak Bos yang tahu saya baru pertama kali ke Makassar langsung menawarkan untuk mencari makanan khas Makassar. Untung, di Sao Eating Point (food court) – Mall Ratu Indah ada yang menjual Mie Titi. Kata Pak Bos, Mie Titi ini khas Makassar dan masuk dalam daftar must eat food di Makassar.

Mie Titi khas Makassar.

Untuk komposisinya, ada mie kering, sayuran, telur, dan daging ayam. Ada dua cara penyajian, kuah disiram atau kuah dipisah. Kemarin, saya pilih Mie Titi kuah siram. Enaaak. Sebagai penyuka sayuran, saya sangat suka sayurannya yang dimasak dengan kematangan yang pas. Apalagi saat kuahnya mengenai mie kering. Teksturnya menjadi lembek-lembek gimana gitu. Yummy!

Sebenarnya, Mie Titi mengingatkan saya pada Ifu Mie di restoran Chinese food. Mirip! Hanya saja, Mie Titi yang saya pesan kemarin, porsinya lebih besar (walaupun demikian, saya habis satu porsi lho! dan saat melirik piring Pak Bos, beliau tidak habis. Aaaak, ketahuan yang lapar siapa ihik) 😀

Jadilah, malam pertama di Makassar, Pak Bos langsung tahu fakta bahwa ada stafnya yang jago makan.
Fin.

Hari Kedua
Saya terlambat untuk sarapan. Pak Bos sudah berada di restoran hotel, duduk paling ujung dan khusyuk dengan HP-nya. Saya pun memutuskan untuk duduk terpisah. Saya duduk menepi, dekat dengan jendela kaca yang menyuguhkan pemandangan keluarga dengan dua anak yang sedang asyik main cipak-cipuk air di kolam renang hotel. Mungkin itu potret di masa depan. Het, sehat??

Sarapan donat, why not? Roti tawar udah terlalu mainstream. Ini enaaaaak.

Acara diskusi penuh waktu di yayasan mitra sampai magrib. Kita skip saja bagian ini. Pemirsa dapat melihat ulasan kegiatan di website kantor saya :p.

Saatnya Dora bekerja (jalan-jalan kemudian).

Singkat cerita, setelah acara, Pak Bos langsung menuju bandara untuk kembali ke Jakarta dengan pesawat malamnya. Sedangkan saya pindah hotel menuju hotel di tepian pantai ciee.. . Di sinilah petuangan Dora di Makassar dimulai. Ayo Boots, kamu sudah siap??

Bersambung ke cerita selanjutnya (edisi 2). Pemirsa, sabar yaa …

Makassar, menginap di mana? Pesonna Hotel Makassar.

Kami (saya dan Pak Bos) menginap di hotel ini karena mendapat rekomendasi dari mitra kami yang ada di Makassar. Katanya, hotel yang terletak di Jalan Andi Mappanyukki ini dekat dengan kantor mitra. Sehingga, kami tidak perlu transportasi lokal. Cukup berjalan kaki saja.

Pesonna Hotel menghadirkan fasilitas yang nyaman. Saat tiba, kami disambut petugas yang ramah dan welcome drink. Lalu, saat masuk ke kamar, ada sajadah dan Al-Quran yang disediakan. Jarang saya temukan hotel tipe low-budget yang membawa suasana Islami. Di sepanjang koridor di tiap lantai, terpasang kaligrafi berbahasa Arab di dinding.

Lukisan kaligrafi yang selalu ada di dekat lift. Komposisi warnanya membuat saya jatuh cinta.

Saat melihat Google Map, saya baru sadar kalau lokasi hotel ini sangat strategis. Hari pertama saat ke Mall Ratu Indah saja, saya bisa berjalan kaki. Lalu, lokasi terdekat lainnya adalah Coto Nusantara (kuliner), Pallubasa Serigala (kuliner), dan Pantai Losari. Hanya berjarak kurang lebih 1 km.

Dengan berbagai fasilitas dan pelayanan yang ditawarkan, hotel ini menarik untuk jadi pilihan kalau kamu sedang singgah di Makassar. Penasaran?? Coba tanya Paman Google. Di salah satu aplikasi perjalanan, ulasan hotel ini mendekati sempurna. Saya sengaja tidak memotret hotel dengan detail karena ini bukan product review atau endorse hehe. Cuuss.

Selamat datang di Ojju.

Siapa yang enggak kenal Ojju? Restoran Korea ini memang sempat booming pada masanya. Apalagi saat video adegan melilit-lilitkan keju dengan daging viral di Istragram maupun Youtube. Uhu! Enggak salah jika kemudian banyak orang yang penasaran. Seperti apa sih rasanya??

Setelah dua kali ke Ojju dengan pesan menu yang sama dan datang dengan orang yang berbeda, jadi tertantang untuk menuliskan pengalamannya di sini. Sayang juga kan kalau yang unik-unik enggak ditulis? Jadi, tulisan ini ditujukan untuk kamu yang pernah makan di Ojju atau kamu yang belum pernah sama sekali. Segala pendapat dinantikan di kolom komentar, ya! 🙂

Makanan
Menu daging yang dililit-lilitkan dengan keju namanya ‘Rolling Cheese’. Ini menu andalan. Dagingnya sendiri di menu dinamakan beef ribs. Selain beef ribs, ada pilihan lain untuk dililit-lilitkan dengan keju, yaitu chicken wings (sayap ayam) dan chicken drumstick (paha ayam). Jadi, kamu bisa pilih sesuai selera, mau ayam atau sapi. Lalu, untuk level pedasnya pun bisa memilih: tidak pedas, pedas, sangat pedas. Kejunya juga bisa nambah kalau kurang, dengan additional price, tentunya. Cukup customize, kan?

Menu andalan, Rolling Cheese (versi nyata yang disajikan di meja)

Kalau ingin anti-mainstream dan enggak mau coba menu andalan, ada pilihan lain, seperti Budae Jjigae, Cheese Fondue, Dosirak (lunch boxyes, di buku menu tertulis begitu), Ramyeon, Kids Meals, Banchan, dan lain-lain. Tapi, sejauh mata memandang saat saya menunggu pesanan, mayoritas pengunjung memesan menu Rolling Cheese, chicken wings, spicy. Satu menu itu cukup untuk dua orang. Lainnya, pengunjung menambahkan minuman aneka rupa atau es krim sebagai desert. Yakin, kenyang kok.

Menu lain yang bisa dinikmati juga di Ojju (lupa namanya). Semacam bihun dengan sayuran dan telur.

Appetizer ala Ojju. Tenang, ini gratis kok. Udah termasuk makanan yang disajikan saat kita pesan makanan. Rasanya sangat Korea sekali. Pedas, tawar, gurih.

Oh ya, kalau memesan Rolling Cheese, kamu bisa juga menambah pesan nasi untuk dibuat nasi goreng di wadah hot plate yang sama. Heh, maksudnya? Iya, semula saya enggak sadar kalau opsi ini ditawarkan untuk memanfaatkan keju yang tersisa dari lilitan daging tadi. Menarik, ya! Jadi, alasannya bukan berarti untuk hemat piring hehe.

Lalu, untuk minuman, dua kali ke sini, saya selalu pesan corn tea. Rasanya itu lho, unik! Seperti air mineral biasa, tawar, tapi ada rasa sari-sari jagungnya. Lagi-lagi, corn tea ini bisa untuk berdua karena satu kali sajian dalam teko 1,2 Liter. Kita pun bisa memilih, mau hangat atau dingin.

Harga
Hmm, makin ke sini, makan di restoran yang ada di mall, pasti sudah bisa ditebak range harganya. Plus, jangan lupakan hitungan pajaknya.

Untuk satu sajian Rolling Cheese – beef ribs yang bisa dinikmati berdua, harganya Rp 219.000,00. Sedangkan Rolling Cheese – chicken wings dan Rolling Cheese – chicken drumstick, harganya lebih miring, yaitu Rp 99.000,00 dan Rp 139.000,00. Sedangkan, menu makanan lainnya, di atas Rp 50.000,00-an. Minuman dan desert juga di atas Rp 30.000,00-an rata-rata.

Yeay or Nay?
Di bagian ini, saya cuma bisa senyum-senyum aja. Saya suka sih Rolling Cheese – beef ribs, tapi kalau untuk makan sering-sering, kayaknya nggak deh (kantong bisa bolong, catatan: ditulis oleh anak kos xD ). Eh, maksudnya bolehlah sesekali icip-icip makanan yang ajaib seperti ini tapi menurut saya makanan di Ojju ini bukan tipe makanan yang bisa disantap sehari-hari secara reguler seperti soto, nasi padang, atau gado-gado. Dengan alasan seperti ini, lidah saya benar-benar lidah Indonesia sekali ya? 🙂

Kembali lagi, makanan itu selera. Tiap orang punya rasanya sendiri-sendiri. Bagi teman-teman yang tidak suka keju atau tidak cocok dengan rasa Korea yang ditawarkan, menu-menu di sini akan berasa ‘ah hiyaks’. Sebailknya, bagi penyuka keju, makanan di Ojju harus dicoba. Seperti saya, di mana lagi bisa makan keju meleleh yang dibalutkan ke daging, diputar-putar seperti mie, lalu dipotong sambungan kejunya dengan gunting besar??

Oh ya, Ojju juga punya sistem antri yang unik. Sistem antri dibagi menjadi tiga sesuai dengan jumlah pengunjung dan meja-kursi yang tersedia. Saat pertama kali datang ke Ojju, saya sampai jam 13.57. Sedikit terlambat untuk makan siang. Kala itu, Ojju lagi penuh-penuhnya. Saya pun antri dan mendapatkan nomor A 139. Sedangkan pada kedatangan kedua (belajar dari pengalaman), saya tiba jam 11.00 lebih sedikit. Saya langsung mendapatkan tempat duduk dan memesan menu dengan riang.

Selain sistem antrian yang unik, saya suka dengan laci ‘rahasia’ di bawah meja tempat menyimpan segala alat makan. Sarung tangan plastik pun ada hihi.

Ojju
Mall Kota Kasablanka Lantai 2
IG: @ojju.indo

Cerita jalan-jalan ke Jogja memang tidak ada habisnya. Selalu ada saja yang bisa diceritakan dari kota gudeg ini. Sekian banyak teman yang pernah berkunjung ke Jogja, mereka selalu mengaku kangen dan ingin kembali. “Enak ya, Het, Jogja,” begitu katanya. Saya yang orang asli Jogja hanya senyum-senyum saja. Ternyata cinta pada Jogja memang harus dibagi-bagi, agar semua bisa ikut merasakan :).

Sadar atau tidak, (hampir) enam tahun meninggalkan Jogja, membuat saya kurang update dengan perkembangan Jogja. Apalagi, soal wisata kuliner. Jujur, kalau zaman saya, ‘angkringan’ dan ‘lesehan’ masih menjadi top of mind wisata kuliner di Jogja, kini, lebih bervariasi. Industri kreatif tumbuh subur di Jogja. Salah satunya, melalui kafe-kafe ‘kekinian’ yang menawarkan makanan-minuman beraneka rupa. Yang membuat terkenal juga bukan hanya resep bumbunya. Garam dan gula sepertinya tidak cukup. Perlu ‘dua sendok makan’ koneksi internet di mana informasi akan tersebar tanpa batas. Lalu, goreng sampai kuning keemasan, dan tiriskan. Lah!

Nah, ngomong-ngomong soal kuliner, kepulangan saya ke Jogja awal Juli lalu menjadi istimewa saat papa mengajak saya ke warung Bakmi Jawa. “Ini beda, Dek,” katanya. “Iya, beda,” mama ikut nimbrung, membuat saya semakin penasaran.

Usut punya usut, papa membawa saya ke warung Bakmi Jawa yang pernah muncul di TV. Di sini, sebenarnya papa adalah korban, eh. Sejak berlangganan TV kabel, papa gemar menonton acara kuliner di sebuah stasiun TV. Sebagai pecinta bakmi, papa pun ingin membuktikan sendiri cita rasa salah satu warung Bakmi Jawa yang pernah diliput.

Saya tertawa saja. Iya juga sih. Apalah arti menonton acara kuliner dan jalan-jalan kalau kita, pemirsanya, juga belum ikut merasakan. Jangan biarkan host acaranya menjadi paling sotoy sedunia haha 😀

Namanya, Bakmi Jowo Mbah Gito. Letaknya di daerah Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta. Kemarin, saat saya dan keluarga tiba pukul tujuh malam, ramainya bukan main. Parkir kendaraannya saja sampai di ujung-ujung jalan. Untungnya, di belakang warung, ada tanah kosong dekat masjid yang ‘disulap’ menjadi tempat parkir.

Jangan kaget ya saat masuk ke dalam … Jreng! Serba kayu! Kayu disimpul sedemikian rupa menjadi tiang-tiang penyangga atap serta sekat antara area satu dengan yang lainnya. Ini bukan seperti warung makan kebanyakan, ini labirin! Ini lebih mirip seperti … kandang!!

Walau sempat was-was, bersyukur juga. Nyatanya, kami bisa langsung mendapat tempat, tidak masuk waiting list (oh yes, saking banyaknya pengunjung, kamu bisa masuk daftar tunggu kalau semua meja dan kursi full). Begitu masuk ke dalam labirin warung makan, ada pelayan yang langsung tersenyum menyambut dan menanyakan jumlah tamu untuk dipilihkan meja dan kursi yang pas.

Siapa sangka, kami yang bertiga ini langsung mendapat ‘kandang sapi’. Tuh, kan, apa tadi yang saya bilang! Saya dan mama tertawa. Kandang sapi di sini adalah benar-benar mirip kandang sapi, plus satu meja panjang beserta kursi panjang. Jadilah, malam itu, kami makan bertiga berjajar, tidak berhadapan.

Selamat datang di kandang sapi.

Makanan
Malam itu, papa memesan bakmi godog (mie rebus), mama memesan nasi goreng jawa, dan saya tetap pada kesukaan, capcay rebus. Untuk minuman, papa memesan teh poci, sedangkan saya dan mama memesan jahe panas.

Dari ketiga makanan yang kami pesan, saya suka semua (icip-icip). Soalnya, semuanya punya cita rasa khas. Bawang putih dan rasa rempahnya berasa dalam. Untuk capcay, sayurannya matang pas, tidak mentah dan tidak lembek. Nasi gorengnya juga tipikal nasi goreng Jawa yang manis.

Untuk minuman, (sepertnya) tidak jauh beda dengan yang ditawarkan di rumah makan lain. Teh poci disajikan dengan poci dari tanah liat. Minuman jahe panas disajikan dengan jahenya langsung diceburkan ke dalam gelas, beradu dengan gula batu. Oh ya, karena minumannya menggunakan gula batu, rasanya pun berbeda dengan minuman bergula pasir.

Harga
Harga makanan dan minuman di sini tidak tercantum di nota pemesanan. Tapi, jangan khawatir, kamu dapat mengeceknya saat melakukan pembayaran di kasir, setelah selesai makan. Di bilik kasir, akan ada papan di mana harga semua makanan dan minuman terpampang jelas.

Untuk 1 porsi bakmi godog (a.k.a bakmi rebus), 1 porsi nasi goreng, 1 porsi capcay kuah, 1 the poci, dan dua jahe panas, totalnya seratus dua puluh ribu sekian. Saya lupa-lupa ingat, karena saat membayar di kasir, saya kedistrak dengan pajangan-pajangan unik dari kayu yang ada di sekitar bilik kasir.

Yay or Nay?
Overall, saya sih ‘yes’ untuk kembali berkunjung ke sini. Cita rasa masakannya yang membuat kangen dan saya belum pernah menemukan yang seperti ini di Jakarta (anak perantauan curhat nih yee!). Masakan yang sedap bukan karena vetsin, melainkan perkawinan bawang putih, gula, dan garam. Selain itu, suasana warung makan yang unik membuat kita betah. Semuanya serba kayu, tradisional, dan ‘kampung’.

Walaupun demikian, karena banyaknya pengunjung yang datang, makan, lalu pergi, tak terhitung, suasana di sini cenderung ramai. Ditambah dengan pengunjung yang kehebohan berfoto saat panggung wayang mulai ‘hidup’ dengan sinden dan pak dalang. Eh, saya belum tulis ya? Di bagian tengah warung ini, ada semacam panggung kecil yang cukup untuk satu layar mini wayang kulit, tempat duduk sinden, pak dalang, dan beberapa orang penabuh gamelan.

It is show time! Pertunjukkan wayang kulit.

Sehingga, menurut saya, dengan suasana yang seperti ini, jangan bikin rapat yang serius-serius di sini hehe. Tapi kalau sekadar pertemuan, kangen-kangenan, reunian ada ruangan khusus yang disediakan dan cukup lapang untuk menampung banyak orang. Seperti saat papa tiba-tiba impulsif, “Ma, panitia kurban (baca: Idul Adha) apa rapat di sini aja ya? Kan bakminya enak nih,” yang langsung direspon dengan gelengan kepala oleh saya dan mama. Kurang cocok, sepertinya. Mending makan dan nonton wayang saja di sini hehe.

Yang penasaran dengan kandang sapi yang ‘nyeni’, pengen menikmati suasana Jogja sambil makan bakmi dan berdendang dengan alunan gamelan, cuss … mampir ke mari!

Bakmi Jowo Mbah Gito
Jalan Nyi Ageng Nis No. 9
Rejowinangun Kotagede Yogyakarta
Cek akun Intagramnya juga @bakmijowo_mbahgito
Buka: 11.00 – 23.00 WIB

Ini bukan dua – tiga hari saya baru mem-follow akun Twitter @JKTgoodguide. Sudah lama saya ngiler melihat cuitan jadwal jalan-jalan mereka di akun Twitter. Jalan-jalan di sini literally ‘jalan’ ya alias ‘jalan kaki’. Sebagai orang yang hobi jalan-jalan, saya selalu penasaran dengan destinasi yang mereka tuju: Menteng, Jatinegara, Kota Tua, China Town, Pasar Baru, Cikini, Cilincing, dan sebagainya. Aneh?? Enggak juga. Justru rute-rute ‘tak terduga’ seperti ini yang sering kita lewatkan sebagai penduduk Jakarta (baik pribumi maupun pendatang hehe). Ya kan??!!

Akhirnya, cita-cita saya jalan-jalan bareng @JKTgoodguide tercapai hari Sabtu (28/1) kemarin. Yang istimewa, pada kesempatan kali ini mereka lagi punya gawe dengan @ITDPIndonesia dan @PT_Transjakarta dalam acara yang bernama ‘Site Visit Busway – Passer Baroe’. Acara ini sebenarnya merupakan kombinasi antara walking tour dan sosialisasi tentang Bus Rapid Transit (BRT). Yuk, baca ulasannya dalam tulisan ini!

‘Site Visit Busway – Passer Baroe’.

‘Site Visit Busway – Passer Baroe’.

ITDP (Institute for Transportation and Development Policy) yang saya sebut di atas merupakan sebuah lembaga non-profit (Non-Governmental Organization/NGO) yang bergerak di isu sistem transportasi, baik inovasi maupun advokasi kebijakan. ITDP berkerja sama dengan United Nations Environment Programme (UNEP) untuk memberikan pendampingan teknis kepada pemerintah DKI Jakarta terkait pengoperasian Bus TransJakarta melalui sebuah proyek yang bernama ‘Bus Rapid Transit and Pedestrian Improvements in Jakarta’.

Salah satu program yang rutin dilaksanakan setiap bulan adalah ‘Site Visit Busway’. Mulanya, program ini hanya ditujukan untuk anak-anak saja dalam mengenalkan moda transportasi Transjakarta yang bisa mereka naiki saat ke sekolah nanti. Kemudian, muncullah ide untuk berkolaborasi dengan @JKTgoodguide, berupa walking tour yang diselingi dengan sosialisasi tentang BRT. Agar lebih soulful dalam mengenal BRT di Jakarta, ada kesempatan untuk naik Bus Transjakarta Vintage Series. Asyik!

Ngapain aja sih acaranya??
Pukul 07.30 WIB, para peserta sudah berkumpul di Halte Bundaran Senayan. Setelah briefing dari penyelenggara acara, kami dipersilakan untuk menaiki Bus Transjakarta – Vintage Series dengan riang gembira. Selama perjalanan menuju Halte Monas, kami diberikan informasi terkait keberadaan Bus Transjakarta plus sesi tanya jawab. Suasananya seru karena banyak fakta menarik yang terungkap yang sebelumnya tidak kami ketahui. Serta, keberadaan ornamen di dalam bus yang membuat kami sibuk sendiri dengan kamera masing-masing. Kapan lagi bisa naik Bus Transjakarta yang sampai saat ini masih limited edition alias baru ada dua armada.

Djaoeh - Dekat Rp 3500

Djaoeh – Dekat Rp 3500

Poster jadul yang bakal banyak kamu temui di dalam Bus Transjakarta - Vintage Series.

Poster jadul yang bakal banyak kamu temui di dalam Bus Transjakarta – Vintage Series.

Selain poster jadul, ada juga tempelan koran jadul di dalam Bus Transjakarta - Vintage Series.

Selain poster jadul, ada juga tempelan koran jadul di dalam Bus Transjakarta – Vintage Series.

Berhubung sampai sekarang baru ada dua armada, grab them fast kalau ketemu di jalan hihi.

Berhubung sampai sekarang baru ada dua armada, grab them fast kalau ketemu di jalan hihi.

Sesampai di Halte Juanda, kami turun dan bersiap memulai walking tour. Walau cuaca mulai mendung, kami tetap bersemangat. Dengan rute yang sama, rombongan dibagi menjadi dua. Masing-masing dipandu oleh guide dari @JKTgoodguide yang akan bercerita tentang sejarah atau bangunan yang kita lewati. Rutenya adalah Masjid Istiqlal – Gereja Katedral – Pintu Air – Santa Ursula – Gedung Filateli – Gedung Kesenian Jakarta – Gedung Foto Antara – Toko Kompak – Vihara Sin Tek Bio – Gereja Pniel – Halte Pasar Baru.

Tour guide dari @JKTgoodguide ini tahu banget cara cerita Jakarta dari sisi yang asyik.

Tour guide dari @JKTgoodguide ini tahu banget cara cerita Jakarta dari sisi yang asyik.

Saat tiba di Gereja Katedral, hujan menderas. Untungnya, kami semua sudah diminta membawa payung atau jas hujan. Kami sempat berteduh di Gedung Filateli dan Gedung Kesenian Jakarta. Nyatanya, hujan tak membuat semangat kami menurun untuk tetap melanjutkan perjalanan. Hampir dua setengah jam kami melahap habis rute itu. Serta, diselingi dengan makan bersama di Bakmi Gang Kelinci. Di akhir acara, kami naik Bus City Tour ‘Mpok Siti’ untuk diantar kembali ke Halte Bundaran Senayan.

Ooo, Ternyata …
– Bus Transjakarta yg beroperasi di Jakarta (Indonesia) termasuk dalam kategori Bus Rapid Transit (BRT).
– Jakarta merupakan kota dengan koridor busway terpanjang di dunia, yaitu 12 koridor dan saat ini sedang berlangsung pembangunan untuk koridor 13.
– ‘Busway’ merupakan jalur/jalan/lintasan bus. Sedangkan ‘Transjakarta’ merupakan bus. Banyak orang yang tertukar istilahnya.
– Bus Transjakarta di Indonesia diinisiasi sejak tahun 2004 saat periode Gubernur Sutiyoso.
– Sampai saat ini, Bus Transjakarta terus berkembang dengan memperluas jangkauannya sebagai salah satu moda transportasi massal. Tercatat, ada 12 koridor dan 232 halte di Jakarta.

Tulisan ini memang sengaja dibuat singkat biar kalian penasaran dan membuktikan sendiri hehe. So, pengen ikutan juga dengan acara serupa? Stand by terus di akun media sosial @JKTgoodguide atau @ITDPIndonesia Pasti ada rute baru yang nggak kalah serunya…

PS.
Saya nulis ‘Tanjung Priok’ di feedback form yang dibagikan. Seru juga kan, bisa kenal lebih jauh kawasan yang mirip area film Transformers ini, di mana sejauh mata memandang truk tronton! Moga-moga dikabulkan ya. Amin.

%d bloggers like this: