Archive

Jalan-jalan

Cerita jalan-jalan ke Jogja memang tidak ada habisnya. Selalu ada saja yang bisa diceritakan dari kota gudeg ini. Sekian banyak teman yang pernah berkunjung ke Jogja, mereka selalu mengaku kangen dan ingin kembali. “Enak ya, Het, Jogja,” begitu katanya. Saya yang orang asli Jogja hanya senyum-senyum saja. Ternyata cinta pada Jogja memang harus dibagi-bagi, agar semua bisa ikut merasakan :).

Sadar atau tidak, (hampir) enam tahun meninggalkan Jogja, membuat saya kurang update dengan perkembangan Jogja. Apalagi, soal wisata kuliner. Jujur, kalau zaman saya, ‘angkringan’ dan ‘lesehan’ masih menjadi top of mind wisata kuliner di Jogja, kini, lebih bervariasi. Industri kreatif tumbuh subur di Jogja. Salah satunya, melalui kafe-kafe ‘kekinian’ yang menawarkan makanan-minuman beraneka rupa. Yang membuat terkenal juga bukan hanya resep bumbunya. Garam dan gula sepertinya tidak cukup. Perlu ‘dua sendok makan’ koneksi internet di mana informasi akan tersebar tanpa batas. Lalu, goreng sampai kuning keemasan, dan tiriskan. Lah!

Nah, ngomong-ngomong soal kuliner, kepulangan saya ke Jogja awal Juli lalu menjadi istimewa saat papa mengajak saya ke warung Bakmi Jawa. “Ini beda, Dek,” katanya. “Iya, beda,” mama ikut nimbrung, membuat saya semakin penasaran.

Usut punya usut, papa membawa saya ke warung Bakmi Jawa yang pernah muncul di TV. Di sini, sebenarnya papa adalah korban, eh. Sejak berlangganan TV kabel, papa gemar menonton acara kuliner di sebuah stasiun TV. Sebagai pecinta bakmi, papa pun ingin membuktikan sendiri cita rasa salah satu warung Bakmi Jawa yang pernah diliput.

Saya tertawa saja. Iya juga sih. Apalah arti menonton acara kuliner dan jalan-jalan kalau kita, pemirsanya, juga belum ikut merasakan. Jangan biarkan host acaranya menjadi paling sotoy sedunia haha 😀

Namanya, Bakmi Jowo Mbah Gito. Letaknya di daerah Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta. Kemarin, saat saya dan keluarga tiba pukul tujuh malam, ramainya bukan main. Parkir kendaraannya saja sampai di ujung-ujung jalan. Untungnya, di belakang warung, ada tanah kosong dekat masjid yang ‘disulap’ menjadi tempat parkir.

Jangan kaget ya saat masuk ke dalam … Jreng! Serba kayu! Kayu disimpul sedemikian rupa menjadi tiang-tiang penyangga atap serta sekat antara area satu dengan yang lainnya. Ini bukan seperti warung makan kebanyakan, ini labirin! Ini lebih mirip seperti … kandang!!

Walau sempat was-was, bersyukur juga. Nyatanya, kami bisa langsung mendapat tempat, tidak masuk waiting list (oh yes, saking banyaknya pengunjung, kamu bisa masuk daftar tunggu kalau semua meja dan kursi full). Begitu masuk ke dalam labirin warung makan, ada pelayan yang langsung tersenyum menyambut dan menanyakan jumlah tamu untuk dipilihkan meja dan kursi yang pas.

Siapa sangka, kami yang bertiga ini langsung mendapat ‘kandang sapi’. Tuh, kan, apa tadi yang saya bilang! Saya dan mama tertawa. Kandang sapi di sini adalah benar-benar mirip kandang sapi, plus satu meja panjang beserta kursi panjang. Jadilah, malam itu, kami makan bertiga berjajar, tidak berhadapan.

Selamat datang di kandang sapi.

Makanan
Malam itu, papa memesan bakmi godog (mie rebus), mama memesan nasi goreng jawa, dan saya tetap pada kesukaan, capcay rebus. Untuk minuman, papa memesan teh poci, sedangkan saya dan mama memesan jahe panas.

Dari ketiga makanan yang kami pesan, saya suka semua (icip-icip). Soalnya, semuanya punya cita rasa khas. Bawang putih dan rasa rempahnya berasa dalam. Untuk capcay, sayurannya matang pas, tidak mentah dan tidak lembek. Nasi gorengnya juga tipikal nasi goreng Jawa yang manis.

Untuk minuman, (sepertnya) tidak jauh beda dengan yang ditawarkan di rumah makan lain. Teh poci disajikan dengan poci dari tanah liat. Minuman jahe panas disajikan dengan jahenya langsung diceburkan ke dalam gelas, beradu dengan gula batu. Oh ya, karena minumannya menggunakan gula batu, rasanya pun berbeda dengan minuman bergula pasir.

Harga
Harga makanan dan minuman di sini tidak tercantum di nota pemesanan. Tapi, jangan khawatir, kamu dapat mengeceknya saat melakukan pembayaran di kasir, setelah selesai makan. Di bilik kasir, akan ada papan di mana harga semua makanan dan minuman terpampang jelas.

Untuk 1 porsi bakmi godog (a.k.a bakmi rebus), 1 porsi nasi goreng, 1 porsi capcay kuah, 1 the poci, dan dua jahe panas, totalnya seratus dua puluh ribu sekian. Saya lupa-lupa ingat, karena saat membayar di kasir, saya kedistrak dengan pajangan-pajangan unik dari kayu yang ada di sekitar bilik kasir.

Yay or Nay?
Overall, saya sih ‘yes’ untuk kembali berkunjung ke sini. Cita rasa masakannya yang membuat kangen dan saya belum pernah menemukan yang seperti ini di Jakarta (anak perantauan curhat nih yee!). Masakan yang sedap bukan karena vetsin, melainkan perkawinan bawang putih, gula, dan garam. Selain itu, suasana warung makan yang unik membuat kita betah. Semuanya serba kayu, tradisional, dan ‘kampung’.

Walaupun demikian, karena banyaknya pengunjung yang datang, makan, lalu pergi, tak terhitung, suasana di sini cenderung ramai. Ditambah dengan pengunjung yang kehebohan berfoto saat panggung wayang mulai ‘hidup’ dengan sinden dan pak dalang. Eh, saya belum tulis ya? Di bagian tengah warung ini, ada semacam panggung kecil yang cukup untuk satu layar mini wayang kulit, tempat duduk sinden, pak dalang, dan beberapa orang penabuh gamelan.

It is show time! Pertunjukkan wayang kulit.

Sehingga, menurut saya, dengan suasana yang seperti ini, jangan bikin rapat yang serius-serius di sini hehe. Tapi kalau sekadar pertemuan, kangen-kangenan, reunian ada ruangan khusus yang disediakan dan cukup lapang untuk menampung banyak orang. Seperti saat papa tiba-tiba impulsif, “Ma, panitia kurban (baca: Idul Adha) apa rapat di sini aja ya? Kan bakminya enak nih,” yang langsung direspon dengan gelengan kepala oleh saya dan mama. Kurang cocok, sepertinya. Mending makan dan nonton wayang saja di sini hehe.

Yang penasaran dengan kandang sapi yang ‘nyeni’, pengen menikmati suasana Jogja sambil makan bakmi dan berdendang dengan alunan gamelan, cuss … mampir ke mari!

Bakmi Jowo Mbah Gito
Jalan Nyi Ageng Nis No. 9
Rejowinangun Kotagede Yogyakarta
Cek akun Intagramnya juga @bakmijowo_mbahgito
Buka: 11.00 – 23.00 WIB

Ini bukan dua – tiga hari saya baru mem-follow akun Twitter @JKTgoodguide. Sudah lama saya ngiler melihat cuitan jadwal jalan-jalan mereka di akun Twitter. Jalan-jalan di sini literally ‘jalan’ ya alias ‘jalan kaki’. Sebagai orang yang hobi jalan-jalan, saya selalu penasaran dengan destinasi yang mereka tuju: Menteng, Jatinegara, Kota Tua, China Town, Pasar Baru, Cikini, Cilincing, dan sebagainya. Aneh?? Enggak juga. Justru rute-rute ‘tak terduga’ seperti ini yang sering kita lewatkan sebagai penduduk Jakarta (baik pribumi maupun pendatang hehe). Ya kan??!!

Akhirnya, cita-cita saya jalan-jalan bareng @JKTgoodguide tercapai hari Sabtu (28/1) kemarin. Yang istimewa, pada kesempatan kali ini mereka lagi punya gawe dengan @ITDPIndonesia dan @PT_Transjakarta dalam acara yang bernama ‘Site Visit Busway – Passer Baroe’. Acara ini sebenarnya merupakan kombinasi antara walking tour dan sosialisasi tentang Bus Rapid Transit (BRT). Yuk, baca ulasannya dalam tulisan ini!

‘Site Visit Busway – Passer Baroe’.

‘Site Visit Busway – Passer Baroe’.

ITDP (Institute for Transportation and Development Policy) yang saya sebut di atas merupakan sebuah lembaga non-profit (Non-Governmental Organization/NGO) yang bergerak di isu sistem transportasi, baik inovasi maupun advokasi kebijakan. ITDP berkerja sama dengan United Nations Environment Programme (UNEP) untuk memberikan pendampingan teknis kepada pemerintah DKI Jakarta terkait pengoperasian Bus TransJakarta melalui sebuah proyek yang bernama ‘Bus Rapid Transit and Pedestrian Improvements in Jakarta’.

Salah satu program yang rutin dilaksanakan setiap bulan adalah ‘Site Visit Busway’. Mulanya, program ini hanya ditujukan untuk anak-anak saja dalam mengenalkan moda transportasi Transjakarta yang bisa mereka naiki saat ke sekolah nanti. Kemudian, muncullah ide untuk berkolaborasi dengan @JKTgoodguide, berupa walking tour yang diselingi dengan sosialisasi tentang BRT. Agar lebih soulful dalam mengenal BRT di Jakarta, ada kesempatan untuk naik Bus Transjakarta Vintage Series. Asyik!

Ngapain aja sih acaranya??
Pukul 07.30 WIB, para peserta sudah berkumpul di Halte Bundaran Senayan. Setelah briefing dari penyelenggara acara, kami dipersilakan untuk menaiki Bus Transjakarta – Vintage Series dengan riang gembira. Selama perjalanan menuju Halte Monas, kami diberikan informasi terkait keberadaan Bus Transjakarta plus sesi tanya jawab. Suasananya seru karena banyak fakta menarik yang terungkap yang sebelumnya tidak kami ketahui. Serta, keberadaan ornamen di dalam bus yang membuat kami sibuk sendiri dengan kamera masing-masing. Kapan lagi bisa naik Bus Transjakarta yang sampai saat ini masih limited edition alias baru ada dua armada.

Djaoeh - Dekat Rp 3500

Djaoeh – Dekat Rp 3500

Poster jadul yang bakal banyak kamu temui di dalam Bus Transjakarta - Vintage Series.

Poster jadul yang bakal banyak kamu temui di dalam Bus Transjakarta – Vintage Series.

Selain poster jadul, ada juga tempelan koran jadul di dalam Bus Transjakarta - Vintage Series.

Selain poster jadul, ada juga tempelan koran jadul di dalam Bus Transjakarta – Vintage Series.

Berhubung sampai sekarang baru ada dua armada, grab them fast kalau ketemu di jalan hihi.

Berhubung sampai sekarang baru ada dua armada, grab them fast kalau ketemu di jalan hihi.

Sesampai di Halte Juanda, kami turun dan bersiap memulai walking tour. Walau cuaca mulai mendung, kami tetap bersemangat. Dengan rute yang sama, rombongan dibagi menjadi dua. Masing-masing dipandu oleh guide dari @JKTgoodguide yang akan bercerita tentang sejarah atau bangunan yang kita lewati. Rutenya adalah Masjid Istiqlal – Gereja Katedral – Pintu Air – Santa Ursula – Gedung Filateli – Gedung Kesenian Jakarta – Gedung Foto Antara – Toko Kompak – Vihara Sin Tek Bio – Gereja Pniel – Halte Pasar Baru.

Tour guide dari @JKTgoodguide ini tahu banget cara cerita Jakarta dari sisi yang asyik.

Tour guide dari @JKTgoodguide ini tahu banget cara cerita Jakarta dari sisi yang asyik.

Saat tiba di Gereja Katedral, hujan menderas. Untungnya, kami semua sudah diminta membawa payung atau jas hujan. Kami sempat berteduh di Gedung Filateli dan Gedung Kesenian Jakarta. Nyatanya, hujan tak membuat semangat kami menurun untuk tetap melanjutkan perjalanan. Hampir dua setengah jam kami melahap habis rute itu. Serta, diselingi dengan makan bersama di Bakmi Gang Kelinci. Di akhir acara, kami naik Bus City Tour ‘Mpok Siti’ untuk diantar kembali ke Halte Bundaran Senayan.

Ooo, Ternyata …
– Bus Transjakarta yg beroperasi di Jakarta (Indonesia) termasuk dalam kategori Bus Rapid Transit (BRT).
– Jakarta merupakan kota dengan koridor busway terpanjang di dunia, yaitu 12 koridor dan saat ini sedang berlangsung pembangunan untuk koridor 13.
– ‘Busway’ merupakan jalur/jalan/lintasan bus. Sedangkan ‘Transjakarta’ merupakan bus. Banyak orang yang tertukar istilahnya.
– Bus Transjakarta di Indonesia diinisiasi sejak tahun 2004 saat periode Gubernur Sutiyoso.
– Sampai saat ini, Bus Transjakarta terus berkembang dengan memperluas jangkauannya sebagai salah satu moda transportasi massal. Tercatat, ada 12 koridor dan 232 halte di Jakarta.

Tulisan ini memang sengaja dibuat singkat biar kalian penasaran dan membuktikan sendiri hehe. So, pengen ikutan juga dengan acara serupa? Stand by terus di akun media sosial @JKTgoodguide atau @ITDPIndonesia Pasti ada rute baru yang nggak kalah serunya…

PS.
Saya nulis ‘Tanjung Priok’ di feedback form yang dibagikan. Seru juga kan, bisa kenal lebih jauh kawasan yang mirip area film Transformers ini, di mana sejauh mata memandang truk tronton! Moga-moga dikabulkan ya. Amin.

Halo, saya Hety.”
“…”
Hello Kitty.”
Hahaha.”

Begitulah cara saya untuk mengatasi keheningan atau ‘membuat’ sedikit gaduh akibat cueknya orang-orang saat sesi perkenalan di suatu forum. Begitu menyebut ‘Hello Kitty’, entah kenapa, mereka tergelak. Ini seperti mantra saja. Saya hanya melempar senyum, misi mencairkan suasana berhasil dengan menyebut tokoh kartun berwujud kucing itu.

Mengapa Hello Kitty? Saya ngarang saja. Sebuah kebetulan nama saya bisa dipanjangkan menjadi HEllo KitTY. Nenek (ibu papa) yang memberikan nama ‘Hety’ sudah meninggal sebelum saya menanyakan artinya. Nenek saya penggemar Hello Kitty? Wallahualam.

… dan akhirnya, setelah sekian lama, saya bisa pulang kampung.

He? Ke mana? Jogja?”
Hello Kitty Café!”
“…”

Rasanya senang sekali bisa menginjakkan kaki di sebuah tempat di mana sejauh mata memandang adalah Hello Kitty. Vitamin mata! Hello Kitty di sini tidak sekadar furniture kafe saja lho, tetapi juga makanan dan minuman. Ada berbagai kreasi makanan dan minuman yang ditambahkan unsur Hello Kitty-nya. Penasaran kan, seperti apa??

hello kitty cafe

Hello Kitty Cafe yang saya kunjungi ini terletak di kawasan ruko Pantai Indah Kapuk. Jika kamu berjalan di kawasan ini, kamu akan menemukan deretan kafe dan tempat makan unik. Mirip di luar negeri deh! Tempat parkirnya juga dibuat sedemikian rupa, sehingga pengunjung bisa berjalanan kaki dengan nyaman.

Tampak depan, sekilas, Hello Kitty Cafe ini mirip dengan yang ada di Korea. Nuansa pink dan tulisan ‘Hello Kitty Cafe’-nya khas sekali. Sayangnya, saat ke Korea dulu, saya tidak sempat mampir masuk. Jadi, tidak banyak hal yang bisa saya bandingkan.

Hello Kitty Cafe di Hongdae, Korea.

Hello Kitty Cafe di Hongdae, Korea.

Hello Kitty Cafe yang ada di Pantai Indah Kapuk, Jakarta, Indonesia.

Hello Kitty Cafe yang ada di Pantai Indah Kapuk, Jakarta, Indonesia.

Saat saya mampir kemarin, suasanya tidak begitu ramai. Pengunjung cenderung memilih tempat duduk di dekat hiasan-hiasan Hello Kitty. Saya amati, pengunjung yang datang memang bukan untuk hal-hal yang serius. Meeting, misalnya. Mereka sekadar bercengkrama, bersantai sejenak, dan tentu saja berfoto! Dengan nuansa ruangan yang ‘cute’ seperti ini, menurut saya ini lebih mirip studio foto daripada kafe, tempat makan haha.

mynameishety-wordpress-com

Hello Kitty Cafe - mynameishety

Makanan
Walau hampir memasuki jam makan siang, saya tak berniat untuk makan siang di Hello Kitty Cafe. Kafe ini hanya menyajikan makanan dan minuman ringan saja, seperti cupcakes, pizza, sandwich, spaghetti, donat, hotdog, burger, yang semuanya berbentuk Hello Kitty. Kebayang?? Sedangkan, untuk minuman, mayoritas berbahan dasar susu dan kopi yang di-garnish sedemikian rupa dengan rupa-rupa Hello Kitty.

Kemarin, saya memesan ‘Kitty Regal’, sejenis minuman berbahan dasar roti marie yang diblender bersama susu, serta disajikan dengan whipped cream, mesis warna-warni, potekan roti marie, serta Hello Kitty dari coklat putih. Sehingga, rasanya sangat susu sekali. Slurp!

Sedangkan, Tasha, teman saya, memesan ‘Spanish Coffee’. Dari namanya saya bisa ketahuan kalau bahan dasarnya memang kopi. Yang seru, penyajian kopi ini dilengkapi dengan ice cream vanila dan cone berisi strawberry cream dan mesis warna-warni sebagai topping. Yummy!

Kitty Regal (kiri), Spanish Coffee (kanan).

Kitty Regal (kiri), Spanish Coffee (kanan).

Harga
Kitty Regal yang saya pesan harganya Rp 58.000,00. Sedangkan, Spanish Coffee harganya Rp 36.000,00. Jika terdengar mahal, menurut saya, ini sebanding dengan usaha mereka untuk meng-garnish setiap makanan dan minuman dengan rupa-rupa Hello Kitty. Banyak sentuhan kreativitas dalam penyajian makanan dan minumannya di sini. Cek deh di akun Instagram mereka di @hellokittycafejkt

Kreativitas tanpa batas. Daftar menunya dibuat seperti jendela kayu yang bisa dibuka-tutup.

Kreativitas tanpa batas. Daftar menunya dibuat seperti jendela kayu yang bisa dibuka-tutup.

Nah, kamu ngaku penggemar Hety, eh Hello Kitty?? Nggak usah jauh-jauh ke Korea, cuss aja ke Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Walau jauh, nggak rugi kok. Banyak tempat makan menarik lainnya yang bisa kamu kunjungi saat mampir ke sini. Catat alamatnya:

Hello Kitty Cafe
Ruko Crown Golf No.30 Pantai Indah Kapuk Jakarta
(021) 22512383
Jam buka: Minggu – Kamis 11.00 – 22.00 WIB, Jumat – Sabtu 11.00 – 23.00 WIB

Ada yang unik di bandara internasional Incheon, Korea. Dari sekian banyak flyer atau brosur pariwisata, ada kertas berwarna orange yang berbentuk seperti handphone. Lucu!

the-stationer-1

Tertulis, “No Language Barier in Korea.”

Usut punya usut, ternyata kertas itu merupakan panduan bahasa bagi orang asing yang berkunjung ke Korea. Bandara internasional Incheon bekerja sama dengan ‘bbb’ Korea mencoba mengatasi kendala bahasa yang sering dialami oleh orang-orang non-Korea, khususnya di bandara. Cara kerjanya sederhana. Kita hanya perlu berbicara sesuai bahasa ibu kita kepada relawan ‘bbb’ untuk diterjemahkan secara gratis, baik melalui telepon atau aplikasi ‘bbb’ (bisa didownload gratis melalui Android dan IOS). ‘bbb’ mampu melayani 19 bahasa selama 24 jam/7 hari, termasuk Bahasa Indonesia, lho!

Wow, keren, ya! Jadi, kita tidak perlu takut kesasar karena gagal paham dengan huruf Korea yang meliuk-liuk itu. Kalau sudah begitu, siapa yang tidak ingin jalan-jalan ke Korea??!! Coba angkat tangan!!

Hmm …

Nyatanya, masih ada saja yang angkat tangan tuh. Katanya, satu kendala yang dihadapi saat jalan-jalan ke Korea adalah ‘makanan’. Ya, karena bukan termasuk negara muslim, sulit untuk menemukan makanan halal di Korea. Ah, apa iya??!!

Nyatanya, di tahun 2016, ada 300.000 wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korea. Sedangkan, di tahun sebelumnya, tercatat ada 198.000 wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korea. Jika keduanya dibandingkan, jumlah ini meningkat hampir 53,2%. Dengan jumlah itu, wisatawan Indonesia menduduki peringkat ke-8 dari 9 negara asal wisatawan yang mengunjungi Korea. Bahkan, diprediksi, dalam sepuluh tahun ke depan, Indonesia bisa menduduki peringkat ke-3 atau ke-4 negara asal wisatawan yang mengunjungi Korea. Demikian data yang disampaikan oleh OH Hyonjae selaku Direktur Korea Tourism Organization (KTO) Jakarta berberapa waktu yang lalu.

Meningkatnya jumlah wisatawan Indonesia ke Korea ternyata diikuti juga dengan meningkatnya jumlah wisatawan muslim. Dilemanya, sulit untuk menemukan makanan halal di Korea tetapi di sisi lain wisatawan Indonesia merupakan pasar potensial bagi Korea. Ternyata, kondisi ini sudah diantisipasi oleh pemerintah Korea, melalui KTO, mengingat Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia.

ByunChu-seok, Direktur KTO, menerbitkan buku ‘Muslim-Friendly Restaurants in Korea’ untuk memudahkan wisatawan muslim menemukan makanan halal di Korea. Buku ini memperkenalkan sekitar 118 restoran di Korea yang tidak hanya menjual makanan muslim, tetapi juga makanan Korea yang dapat dikonsumsi oleh wisatawan muslim. Restoran-restoran itu dibagi dalam 5 kategori, yaitu restoran halal-certified, restoran self-certified, restoran Muslim-friendly, restoran Muslim-welcome, dan restoran pork-free.

www-mynameishety-wordpress-com

Selain itu, buku ‘Muslim-Friendly Restaurants in Korea’ ini juga mengelompokkan 36 menu makanan Korea yang terkenal dalam 4 kategori, yaitu sayuran saja, makanan berbahan seafood, makanan berbahan sayur dan seafood, dan makanan berbahan daging tetapi bukan babi. Hal ini bertujuan agar wisatawan muslim tetap dapat menikmati makanan Korea dan tidak mengalami kesulitan dalam menemukan makanan halal di Korea.

Nah, keren kan support dari pemerintah Korea kepada wisatawan muslim yang berkunjung ke Korea? Kalau gitu, gimana dengan di Indonesia, ya?

Di Indonesia sendiri, ada yang dikenal dengan nama ‘wisata halal’ (halal tour). Wisata halal merupakan perjalanan wisata dengan menu halal serta aktivitas muslim, seperti ibadah solat, kunjungan ke masjid, kunjungan ke pusat budaya muslim, dan lain-lain. Walaupun namanya wisata halal, wisata ini tetap dapat mengunjungi daerah nonmuslim, seperti negara-negara di kawasan Eropa, Cina, Jepang, Hongkong, Australia, maupun Korea. Serta, pesertanya pun tidak terbatas pada muslim saja, nonmuslim bisa ikut. Salah satu, biro perjalanan yang menawarkan wisata halal di Indonesia adalah Cheria Travel.

Hmm, jadi penasaran, kalau wisata halal ke Korea ala Cheria Travel seperti apa yaaa …

Nonton lagi, lagi, lagi …

Ooo … Setelah menjelajah Cheria Travel, ada empat pilihan Paket Tour Wisata Halal Korea. Pilihannya lengkap lho, mulai dari 5 hari, 6 hari, sampai 7 hari.

Paket Tour Facinating Winter Korea Muslim – 5 Hari 3 Malam
paket-tour-facinating-winter-korea-muslim-5d3n

Paket Tour Beautiful Winter Korea Muslim – 6 Hari 5 Malam
paket-tour-beautiful-winter-korea-muslim-6d5n

Paket Tour Korea Jeju Winter Muslim – 7 Hari 6 Malam
paket-tour-korea-jeju-muslim-holiday-7d6n

Paket Tour Korea Jeju Muslim Holiday – 7 Hari 6 Malam
paket-tour-korea-jeju-winter-muslim-7d6n

Semua destinasi di Paket Tour Wisata Halal Korea di atas ada di ‘10 Objek Wisata Korea Paling Populer’ versi KTO.

Penasaran, kan??!! Yuk, kita intip ulasannya …

Gyeongbukgung Palace

Foto: Gyeonghoeru Pavilion (atas) / Geunjeongjeon Hall, ruang takhta di Dinasti Joseon (kiri bawah) / Upacara Pergantian Penjaga Istana (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326

Foto: Gyeonghoeru Pavilion (atas) / Geunjeongjeon Hall, ruang takhta di Dinasti Joseon (kiri bawah) / Upacara Pergantian Penjaga Istana (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326

Gyeongbukgung Palace merupakan sebuah istana yang terletak di sebelah utara kota Seoul (Northern Palace). Istana ini merupakan istana terbesar yang dibangun oleh Dinasti Joseon. Selain berjalan-jalan menikmati arsitektur bangunan istana dan berfoto, kamu juga bisa melihat atraksi ‘Royal Guard Changing Ceremony‘ pada jam-jam tertentu.

Agar jalan-jalanmu ke Korea lebih menghayati, jangan lupa juga untuk mengunjungi National Folk Museum of Korea. Kamu bisa menyaksikkan sendiri sejarah Korea. Lokasinya berada di dalam istana, sayang kalau dilewatkan.

Nami Island

Foto: Pine Nut Tree Path dekat pintu masuk ke Pulau Namiseom (atas) / Situs dari ciuman pertama karakter utama 'dalam drama "Winter Sonata (2002" (kiri bawah) / Wisatawan menikmati Pulau Namiseom (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326

Foto: Pine Nut Tree Path dekat pintu masuk ke Pulau Namiseom (atas) / Situs dari ciuman pertama karakter utama ‘dalam drama “Winter Sonata (2002” (kiri bawah) / Wisatawan menikmati Pulau Namiseom (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326

Nami Island merupakan destinasi wisata populer di Korea. Keindahan alam di pulau ini menarik wisatawan dari berbagai negara untuk datang. Apalagi sejak pulau ini dijadikan tempat syuting film Winter Sonata. Oh! Selama kunjungan ke Nami Island, kamu bisa menghabiskan waktu dengan berjalan mengelilingi pulau. Nggak bakal bosan, deh! Ada saja tempat menarik yang cocok digunakan untuk foto.

Mount Sorak

Seoraksan National Park. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Seoraksan National Park. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Mount Sorak merupakan daerah pegunungan di Korea. Selain itu, kawasan ini juga merupakan taman nasional. Pengunjung dapat berjalan menikmati pemandangan dengan rute jalan menanjak atau bisa juga naik cable car. Adapun yang dapat disaksikan di sini antara lain Shinheungsa Temple, Gwongeumseong Fortress, atau Great Bronze Buddha.

Itaewon

Itaewon merupakan kawasan yang unik di Korea. Di sini kamu dapat berjumpa dengan orang-orang dari berbagai negara (kebangsaan). Itaewon juga dikenal sebagai pusat belanja ‘jalanan’ di Korea. Kamu dapat menemukan makanan dari berbagai negara, serta tas, pakaian, sepatu, perhiasan, aksesoris, kerajinan, dan lain-lain.

Sebagai sebuah pemukiman, Itaewon juga mempertemukan berbagai adat istiadat dan budaya, termasuk agama. Kamu dapat mengunjungi masjid di Itaewon, Seoul Central Mosque. Ini adalah destinasi yang wajib dikunjungi bagi wisata halal. Tak hanya wisatawan muslim, wisatawan nonmuslim pun banyak yang datang untuk mengagumi keindahan arsitektur masjid yang berdiri tahun 1976 ini. Terlebih, Islam bukan merupakan agaman maoritas di Korea sehingga banyak pengunjung yang penasaran.

Dongdaemun

Dongdaemun sering disebut sebagai ‘street of passion for passion and art‘. Dongdaemun merupakan pusat perbelanjaan utama di Korea. Suasana yang akan kamu rasakan di sini adalah perpaduan antara sejarah, budaya, dan modernitas Korea melalui berbagai bangunannya.

Myeong-dong

Foto: Deretan toko ternama di Myeong-dong (atas) / toko kosmetik (kiri bawah) / Turis sedang melihat pakain dari luar jendela (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326.

Foto: Deretan toko ternama di Myeong-dong (atas) / toko kosmetik (kiri bawah) / Turis sedang melihat pakain dari luar jendela (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326.

Myeong-dong juga dikenal sebagai ‘Beauty Road’ atau jalan kecantikan karena banyaknya toko kosmetik yang berjajar di suatu area. Sebagai pusat bisnis dan belanja di Korea, jalan sepanjang 1 Km ini dipenuhi dengan mall, toko bebas bea, dan berbagai toko bermerek. Pun kamu tidak suka berbelanja, kamu masih bisa menikmati Myeong-dong dengan mencoba jajanan (street food) dan restoran terkenal di daerah ini. Oh ya, bagi para K-Pop mania, daerah Myeong-dong bagaikan surga.

Gimana??!! Seru kan??!!
Itu tadi hanya beberapa ulasan, lho! Masih banyak destinasi wisata Korea lainnya di wisata halal. Kalau kamu ikut Paket Tour Wisata Halal Korea, dijamin, semua itinerary alias rencana perjalanan akan ditata apik dan tidak ada destinasi menarik yang terlewat.

Yang spesial lagi, biar Paket Tour Wisata Halal Korea masuk jadi wishlist liburanmu di tahun 2017, ada video Enjoy your Creative Korea nih. Biar nambah semangat ke Korea, eh.

Ada bocoran nih. Video berdurasi tepat 60 detik ini merupakan official TVC KTO yang dirilis Agustus 2016 lalu. Video itu dibintangi oleh bintang Korean wave, Song Joong Ki, yang terkenal lewat drama ‘Descendants of the Sun‘.

Akkk … Mau nyusul Song Joong Ki??!!

Tunggu apa lagi? Cuss ke ‘Cheria Wisata Tour Travel Halal Terlengkap di Indonesia’ dan pesan paket wisatamu sekarang!!

cheria-travel-wisata-halal-korea

Cheria Travel bisa dijumpai di Gedung Twink Lantai 3, Jalan Kapten P. Tendean No. 82 Mampang Prapatan Jakarta 12790. Telepon: (021) 7900201 (Hunting). Email: info@cheria-travel.com

Keberangkatan ke Johannesburg, Afrika Selatan, bulan lalu masih menyisakan utang cerita di blog. Tahun memang berganti, utang tetap saja membebani kalau tidak dilunasi.
Emang kamu janji sama siapa, Het?”
Sama diri sendiri.”
Sigh!

*

Setelah cerita pertama tentang mudahnya membuat visa Afrika Selatan tanpa bantuan agen, pada urutan kedua kali ini, saya akan bercerita pengalaman di Thailand selama 11 jam.

Thailand? Ya, ‘libur colongan’ 11 jam ini dipersembahkan oleh kepergiaan ke Johannesburg, Afrika Selatan. Dari berbagai pilihan penerbangan, akhirnya, Thailand menjadi tempat transit yang saya pilih dengan berbagai pertimbangan (serta catatan, mumpung dibayarin haha).

Fakta pertama, ini kali pertama saya ke Thailand. Please, jangan tertawa kalau kalian traveller ulung. Setelah Singapura dan Malaysia, Thailand menjadi negara Asia ketiga dalam daftar jelajah saya.

Fakta kedua, saya termasuk orang yang harus melihat sendiri baru kemudian percaya. Selama 3 tahun 11 bulan kuliah di Hubungan Internasional dan mengambil konsentrasi kawasan Asia Tenggara, hubungan saya dengan Thailand hanya sebatas buku-buku literatur. Selama itu, saya banyak meng-‘gibah’ Thailand, mulai dari tata kelola pertanian nasional, pengembangan industri kecil dan menengah, sampai pembangunan pariwisata. Jujur, agak sanksi memang karena saya menjadi sensitif kalau kondisi Thailand lebih baik dari Indonesia dalam bidang yang saya sebutkan di atas. Nyatanya, baru berasa saat saya buktikan sendiri dalam perjalanan kali ini.

Fakta ketiga, skripsi saya mengambil topik pariwisata dan feminisme. Dua hal itu akhirnya melahirkan judul skripsi ‘Sex Tourism di Thailand, Tinjauan Perspektif Feminisme.’ Asoy, bukan? Kala itu, beberapa orang langsung refleks bertanya, “Kamu, ke Thailand, Het?” Saya hanya menggeleng malu sambil nyengir, “Enggak.” So sad but true, saya hanya studi literatur untuk skripsi saya. Siapa sangka, akhirnya, di tahun 2016, saya bisa ke Thailand dan membuktikan sendiri tata kelola pariwisata di Thailand.

Cuss!

Berangkat: Jakarta – Bangkok – Nairobi – Johannesburg

Hello Thailand

Selasa, 29 November 2016, pukul 09.40 WIB, saya berangkat dari Soekarno Hatta International Airport (Jakarta) menuju Suvharnabhumi (Bangkok) dengan maskapai Kenya Airways. Di Indonesia sendiri, Kenya Airways dioperasikan oleh Garuda Indonesia. Sehingga, dari Jakarta menuju Bangkok, saya naik pesawat Garuda Indonesia.

Mengapa Kenya Airways? Deg-degan juga karena ini kali pertama saya naik Kenya Airways. Beberapa orang berbagi cerita di blog tentang pengalaman kurang baik terbang dengan Kenya Airways saat saya browsing di internet. Tapi mau bagaimana lagi? Rute Jakarta – Johannesburg yang transit di Bangkok hanya dilayani oleh Kenya Airways. Jadi, saya bismillah saja. Ingat, ini ‘libur colongan’ jadi saya harus siap dengan kejutan manis, asem, pahitnya.

Selain itu, mengingat ini adalah perjalanan jauh dengan transit yang aduhai, saya sengaja memilih satu maskapai yang langsung bisa mengantarkan bagasi saya sampai tujuan tanpa saya harus memindahkan bagasi saya. Sebutannya, ‘check in through‘. Walau transit di beberapa negara dalam waktu yang tidak sebentar, saya tidak perlu stress memikirkan bagasi, karena bagasi akan tiba di tujuan terakhir, Johannesburg. Jadi, saya bisa jalan-jalan di masa transit dengan riang.

Halo Thailand!

halo Thailand

Masih di hari yang sama, saya tiba di Bangkok pukul 13.00 WIB (tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bangkok). Rasanya campur-campur saat mengintip bandara Suvharnabhumi dari jendela pesawat. Excited bercampur grogi. Thailand perdana, Kenya pedana, dan Afrika perdana. Pun tidak ada yang bisa ditanya karena perbedaan bahasa, masih ada papan-papan petunjuk di setiap bangunan dan jalan yang bisa dibaca. Itulah mantra saya.

Turun dari pesawat dan berdecak kagum – membuktikan sendiri ulasan tentang bandara Suvharnabhumi di blog orang-orang, saya mengikuti rute di dalam bandara menuju bagian imigrasi. Tenang, tidak bakal kesasar karena tinggal mengikuti rombongan yang mayoritas orang asing yang akan berlibur ke Thailand. Tidak lupa, saya mampir toilet dan mengisi botol Tupperware dari keran air minum di bandara. Haus pisan, euy!

Saya baru sadar kali ini sudah masuk hitungan akhir tahun saat melihat hall imigrasi full orang asing (bule). Hubungannya apa? Ini adalah masa liburan bagi orang-orang itu. Saat di negaranya mengalami musim dingin (salju bahkan), mereka memilih untuk ‘bermigrasi sesaat’ di negara tropis, seperti Thailand. Mayoritas turis itu berwisata dengan membawa anak-anaknya yang balita. Terbayang kan, anak balita bule itu seperti apa? Lucu maksimal dan itu adalah hiburan saya satu-satunya di hall imigrasi yang antriannya sudah seperti ular putih. Panjang!

Fiuh! Akhirnya pukul 14.45, saya berhasil melalui bagian imigrasi bandara. Dengan backsound “We are the champion, my friend”, eh, itu hanya di khayalan, saya menuju mushola di bandara yang sudah banyak direview di blog orang-orang. Saya tak canggung karena bentuk dan deskripsi musholanya persis seperti di blog. Usai solat dzuhur dan ashar, saya bergegas turun menuju area stasiun BTS dan Airport Rail Link (ARL).

Mushola di Bandara Suvharnabhumi, Bangkok, Thailand.

Mushola di Bandara Suvharnabhumi, Bangkok, Thailand.

PS. Bandara Suvharnabhumi itu bagus banget. Besar, luas, dan jelas. Walau tidak menguasai bahasa lokal, papan petunjuknya besar-besar, bilingual, dan disertai gambar. Lift dan eskalatornya banyak, sehingga sangat memudahkan kita untuk mobilisasi di setiap lantai.

Rasanya sudah gelisah saja. Saya membaca lagi daftar destinasi yang harus saya kunjungi di Thailand versi saya di transit 11 jam ini. Ada 10 tempat alternatif pilihannya (see, betapa ambisiusnya saya haha). Jujur, saya ingin sekali mampir ke Grand Palace, Wat Arun, atau Wat Pho tapi apa daya jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Candi-candi itu tutup pukul 17.00. Dengan menghitung waktu tempuh dari bandara (serta mungkin ada bagian kesasarnya), jelas tidak cukup waktu.

Akhirnya, pilihan saya jatuh ke … *drum roll*
Platinum Fashion Mall!

Platinum Fashion Mall , Surga Belanja
Platinum Fashion Mall terletak di Jalan Phetchaburi. Jika naik BTS, turun di stasiun Ratchathewi, lalu jalan kaki 15 menit. Tidak jauh kok. Bahkan, kita melewati KBRI Indonesia sebelum sampai di Platinum Fashion Mall.

Harga tiket ARL di Bandara Suvharnabhumi 45 Baht menuju Stasiun Phayathai dan berganti BTS. Dari Stasiun Phayathai menuju stasiun Ratchatewi 15 Baht.

Tiket ARL yang wujudnya koin.

Tiket ARL yang wujudnya koin.

Tiket BTS

Tiket BTS

Tiket BTS ini kalau dibalik, ada informasi urutan stasiun dalam huruf Thailand dan huruf cetak.

Tiket BTS ini kalau dibalik, ada informasi urutan stasiun dalam huruf Thailand dan huruf cetak.

Platinum Fashion Mall buka dari pukul 08.00-20.00. Dari namanya, pasti sudah bisa ditebak menjual apa. Sayur! Huu.. Kalau di Indonesia, Platinum Fashion Mall itu seperti Blok M Square yang menjual baju-baju selengkap koleksi di Tanah Abang atau Thamrin City. Saya sempat berpapasan dengan orang Indonesia yang membawa tas beroda atau semacam kereta dorong (biasanya digunakan untuk mengangkat galon). Nggak mungkin kan hanya membeli satu baju dengan alat bantu seperti itu?

Baju-baju yang dijual di Platinum Fashion Mall lucu-lucu dan sangat up to date. Harga? Bervariasi. Kamu bisa menemukan yang mahal sampai murah. Baju-baju sale ada tandanya. Jadi, enggak perlu capek-capek nawar lagi karena kalau dirupiahkan sudah terjangkau. Coba deh, cek.

Sebagai seorang fashion enthusiast (ciee), saya bisa menemukan 3 baju lucu dalam waktu kurang dari 1 jam! Jeng, jeng.. Padahal kalau di Indonesia, saya bisa lama sekali untuk menentukan baju yang ingin saya beli. Bolak-balik membandingkan harga dan kualitas bahan. Ini yang saya sebut sebagai tanda bahaya. Penanda, saya enggak boleh berlama-lama di Platinum Fashion Mall kalau masih ingin sampai di Johannesburg hehe.

Pukul 18.30, saya meninggalkan Platinum Fashion Mall dan memilih untuk menikmati pemandangan street food yang mulai ramai lapaknya. Di jalan rayanya sendiri, ramai oleh kendaraan bermotor yang lalu-lalang, mirip Jakartalah. Dari semua jajanan, akhirnya, saya membeli mangga yang diberi ketan seharga 60 Baht.

Mangga ketan ini manis dan seger banget. Enak!

Mangga ketan ini manis dan seger banget. Enak!

Dengan rute BTS yang sama, saya akhirnya kembali lagi ke bandara pada pukul 20.00 WIB. Saya mampir untuk solat magrib dan isya, lalu makan dan akhirnya, larut dalam antrian di imigrasi untuk penerbangan selanjutnya menuju Nairobi (Kenya). Walau penerbangan berikutnya pukul 00.00, saya ingat petugas bandara yang berpesan untuk tidak mepet sampai di bandara. Ternyata betul, pukul 22.00, dari check in sampai menuju imigrasi sudah dipenuhi orang-orang. Saya bersyukur sudah bisa sampai di bandaram walau di sisi lain, 11 jam di Thailand kali ini benar-benar kode untuk saya datang lagi.

Oh ya, di Thailand, saya sudah tidak akan naik pesawat Garuda, tapi pesawat Kenya Airways. So, sampai jumpa di Nairobi dan Johannesburg di cerita selanjutnya!

goodbye07gif-107704

Baca cerita sebelumnya:
Pengalaman Mengajukan Visa Afrika Selatan

Bulan September lalu, saya dinyatakan mendapatkan Travel Grant untuk mengikuti Global Summit on Community Philanthropy di Johannesburg pada 1-2 Desember 2016. Kabar via email itu membuat saya langsung mengetik kata ‘Johannesburg’ di Google dengan ekspresi masih tak percaya. Johannesburg!!

Johannesburg adalah salah satu kota di Afrika Selatan. Itu ‘secuil’ info yang saya tahu saat mengirimkan aplikasi Travel Grant ke penyelenggara tapi bagai mantra motivasi. Soalnya, hanya dengan kalimat itu saja bisa membuat saya semangat ’45 untuk menjawab lima pertanyaan model esai online yang disyaratkan.

I like to move it, move it .. I like to move it, move it .. I like to move it, move it .. You like to move it, move it!!” Suara King Julian di film Madagascar yang super kocak menggema di kepala saya.

Hei nona, Johannesburg! Bukan Madagascar!

Setelah puas melihat peta Johannesburg beberapa hari (see, betapa noraknya saya) dan mendapat email dari penyelenggara terkait hal-hal yang harus disiapkan, saya harus segera mengurus Visa ke Kedutaan Besar (Kedubes) Afrika Selatan di Indonesia (Jakarta). Maka, dari peta Johannesburg, kini beralih ke ‘Visa Afrika Selatan’ di Google. Sayangnya, tidak banyak info yang saya dapatkan dari blog – pengalaman orang, lebih banyak biro wisata yang menawarkan jasa pembuatan Visa. Jadi, saya putuskan untuk membuka langsung website kedubes Afrika Selatan di Indonesia.

Berikut dokumen yang saya siapkan kemarin. Sebenarnya di website juga sudah ada, lho! dan lengkap! Daftar di bawah ini saya sesuaikan dengan kebutuhan saya. Siapa tahu kamu membutuhkan referensi.
1. Formulir Permohonan Visa B1-84 (bisa diunduh di website)
2. Foto 4×6 berwarna dan berlatar putih 2 lembar
3. Flight itinerary atau tiket perjalanan pulang – pergi
4. Hotel confirmation atau bukti pemesanan hotel
5. Surat keterangan bekerja dalam bahasa Inggris
6. Paspor dan fotokopi pasport 1 lembar
7. Rekening koran 3 bulan terakhir (bisa minta di bank)
8. Undangan dari penyelenggara terkait acara bahwa kamu diundang ke Johannesburg
9. Bukti saya adalah penerima Travel Grant dari penyelenggara

Setelah dokumen terkumpul, pada hari kedua di bulan November, saya pun datang ke kantor Kedubes Afrika Selatan di Indonesia di Wisma GKBI. Sebenarnya, pelayanan Visa baru dibuka pukul 08.30 WIB, tapi saya sudah sampai di sana pukul 07.30 WIB. ‘Ambisius’ ya? Hehe. Maklum, saya tipe orang yang selalu memilih datang pagi untuk mengurus dokumen resmi yang berbau kedinasan/keprotokoleran. Misalnya, SIM, BPJS, SKCK, paspor, dan lain-lain. Selain itu, ini adalah antisipasi kalau-kalau mengantri seperti saat mengajukan Visa ke Belanda dan Korea beberapa waktu lalu. Kamu benar-benar akan melihat orang yang berjuang datang pagi untuk mendapatkan layanan yang berbatas jam. Jadilah (bisa ditebak cerita berikutnya) saat saya menuju lantai 7, saya ditolak mentah-mentah oleh Bapak Satpam yang berjaga dan diminta menunggu di lobi lantai dasar. “Fine! Haha, namanya juga usaha,” kata saya dalam hati sambil balik kanan, bubar jalan.

Saya pun turun lagi ke lobi dan duduk menjadi anak manis di salah satu sofa empuk. Tidak banyak pemandangan menarik pagi itu selain lalu-lalang orang-orang yang berdatangan kerja. Setelah bosan bermain HP, saya mengecek lagi dokumen, terutama formulir, kalau-kalau ada yang belum saya isi, serta memastikan kembali senyuman saya di foto 3×4 sudah pas.

Note: Salah satu keuntungan datang pagi untuk mengajukan Visa seperti ini adalah kamu bisa mengecek kembali dokumen-dokumen yang kamu bawa, termasuk membaca lagi formulir yang sudah kamu isi. Sekadar, menyempurnakan huruf ‘i’ yang belum ada titiknya hehe …

Pukul 08.25 WIB, saya putuskan untuk naik lift (lagi) ke lantai 7. Estimasi saya, 5 menit cukup untuk berjalan dari sofa ke lift, proses lift naik, dan berjalan dari lift ke kantor Kedubes Afrika Selatan. Sayangnya, tidak begitu. Tiba di kantor Kedubes Afrika Selatan masih belum pukul 08.30 WIB juga, masih kurang sekian menit. Bapak Satpam yang sama pun menegur saya (lagi), “Belum buka, Mbak!”. Saya pun menunggu di depan pintu. Berdiri tegak. Keki.

Doo be doo be doo … saya seperti anak hilang. Kikuk. Mau mengajak berbicara satpam, sungkan juga karena Si Bapak begitu jaim dan tegas. Untungnya frozen moment itu hanya sebentar. Pukul 08.30 WIB versi jam tangan Bapak Satpam dan jam dinding kantor kedubes, saya pun dipersilakan masuk. “Silakan masuk, Mbak. Silakan langsung mengisi buku tamu di sana, pukul 08.32,” kata Si Bapak Satpam.

Saya pun menulis nama di map folder besar berisi kertas-kertas bergaris.
2 November 2016. 08.32 (sesuai instruksi Bapak Satpam) Hety A. Nurcahyarini. Filantropi Indonesia. No.HP xxx. Mengurus Visa. Tanda tangan.

Saya sempat kaget setelah menunduk mengisi map folder. Ternyata ada laki-laki berperawakan besar yang ada di dalam bilik. Karena tersekat kaca, saya tak bisa memahami jelas suara laki-laki berdarah Arab/Timur Tengah itu, seperti orang kumur-kumur saja. Lalu, di angkatnya map folder yang tadi saya isi, didekatkan ke kedua matanya, dan senyumnya mengembang.

Si Mister ini senang sekali melihat tulisan saya. Katanya, dia belum pernah melihat tulisan tangan yang mirip ‘ketikan komputer’. Setelah puas, dia pun meminta saya bergeser ke bilik sebelah dan duduk persis di kursi yang ada di depan bilik. Hmm, ramah juga orangnya. Saya pun duduk di kursi (mirip kursi tamu yang ada di rumah) dan memandang sekeliling ruangan. Tidak luas dan tidak sempit, cukup saja. Suasananya homy sekali dengan berbagai hiasan ala Afrika Selatan menempel di dinding dan tertata rapi di rak. Beda sekali dengan ruangan tempat mengurus Visa di kantor Kedubes Belanda dan Korea yang cenderung lebih tersekat-sekat dan official sekali. Mungkin karena tidak banyak juga permohonan Visa ke Afrika Selatan sehingga penataan tempatnya dibuat seperti itu.

Tak lama, muncullah ibu-ibu berwajah Eropa yang meminta semua dokumen yang saya bawa. Ini salah satu bagian dalam mengajukan Visa yang membuat saya merasa jiper. Deg-degan. Si Ibu agak menurunkan dagunya dengan kacamata melorot sampai di hidungnya. Dipandanginya saya, tepat di kedua mata saya. Saya pun hanya menganggukkan kepala dan tersenyum dipandangi seperti itu. Tak berdaya.

Sepuluh menit berlalu, setelah pengecekan dokumen selesai, Si Ibu meminta saya melakukan pembayaran Rp 650.000,00 dan membuatkan saya kuitansi (bukti bayar). Saya pun dipersilakan pulang dan kembali lagi dalam 5 sampai 15 hari.

15 hari kemudian …

Kali ini, saya datang pukul 10.00 WIB ke Wisma GKBI. Kali ini bertemu dengan satpam yang berbeda dari saat saya mengajukan permohonan Visa kemarin. Si Bapak Satpam mempersilakan saya masuk dan mengisi map folder besar berisi kertas-kertas bergaris. Wow! Lagi-lagi saya orang nomor satu di daftar.

Bergeser ke bilik di sampingnya, saya bertemu dengan seorang ibu berdarah Indonesia yang langsung menyambut saya dengan, “Oh, pengajuan yang sudah lama itu, ya?” Tebakan saya, tidak banyak orang yang mengajukan permohonan Visa ke Afrika Selatan. Jadi, bisa jadi para officer kedutaan ini hafal dokumen-dokumen pengajuan Visa, termasuk Visa yang tak kunjung diambil empunya.

Saya mengepaskan waktu 15 hari, Bu.”
Oh, itu kan jangka waktunya, 5 sampai 15 hari. 5 hari pun sudah jadi.”
Oh, terima kasih ya, Bu. Boleh saya ambil peta Johannesburg ini?”
Silakan.”
Mbak, jangan lupa kembali, ya. Itu hanya Visa kunjungan.”
Siap, Bu.”

Demikianlah seri ‘petualangan’ mengajukan Visa Afrika Selatan, akhirnya putri dan pangeran hidup bahagia selama-lamanya. Dengan persyaratan yang jelas, pelayanan yang mudah, ada baiknya kamu mengurus Visa Afrika Selatan sendiri tanpa ‘dibimbing’ agen wisata. Itung-itung pemanasan merasakan ambience Afrika Selatan sebelum kamu berkunjung ke negaranya.

Johannesburg, I am coming!

Cerita sebelumnya, hujan yang tak kunjung reda …

Setelah berapa lama (saya tak tahu jam berapa, sepertinya definisi waktu di hutan hanya terang dan gelap, cerah dan hujan). Para pendaki mulai membubarkan diri dari ‘tempat bernaung bersama’. Ada yang melanjutkan naik, ada yang turun. Hujan memang tidak sama sekali berhenti, tapi badai mereda. Sisanya, rintik. Lumayan untuk melanjutkan perjalanan walau dinginnya makin tak karuan.

Sekarang saya dengan Noel dan Melisa. Teman-teman yang lain, seperti Luluk, Ajeng, Puput, dan Ridwan berjalan dulu agar bisa cepat sampai dan mendirikan tenda di Pos 3. Sedangkan, Mas Teguh dan Mbak Rully masih di belakang. Lagi-lagi, kami memang terpisah, masih di jalan yang sama, hanya jauh berjarak.

Masih tertatih-tatih tak ada beda, saya membelah jalan setapak dengan headlamp. Ini baru pos berapa? Saya bukannya merindu kamar kosan ingin pulang, tapi dingin. Mental breakdown-kah ini? Sama seperti nasehat Puput dan Noel, berulang kali mengingatkan untuk tetap bergerak, satu-satunya cara melawan dingin.

Note: please pakai jaket anti air dan angin yang bisa menyelamatkan tubuhmu dari dingin! Sebaiknya memakai itu baru pakai jas hujanmu.

Jalan, naik, turun, duduk, nanjak, belok, jalan, naik, turun, duduk, nanjak, begitu seterusnya yang saya ingat. Badan ini seperti sudah autopilot.

Oh ya, saya lupa cerita. Malam itu adalah malam satu Suro. Banyak sekali orang-orang (baik orang berpakaian pendaki seperti kami atau masyarakat umum) naik turun. Saya kagum dengan bapak/ibu yang sudah berumur, yang tanpa peralatan naik gunung – bermodal tas plastik berisi makanan dan air mineral, bisa lincah menaiki dan menuruni medan.

Kami saling bertegur sapa, menyemangati walau tak kenal nama. Macam-macam bahasanya, dari bahasa Indonesia sampai bahasa Jawa. Sempat ada yang melihat saya yang kelelahan, seorang Ibu menyemangati saya, “Ayo Mbak, sebentar lagi pos 3. Itu hanya di depan setelah belokan.”

Noel mungkin tak tega melihat saya yang mulai ‘nampak’ kelelahan dan mulai meracau capek mengantuk. Saya mencoba melawan. Saya mengutuki diri saya sendiri yang mulai manja dan mulai refleksi apa tujuan saya naik gunung kalau hanya untuk menyusahkan orang lain. Akhirnya, dengan strong, Noel membawakan carier saya! Duh, malunya!

Setelah beberapa menit berjalan berjalan, mulai terdengar suara-suara berisik dalam kegelapan. Ada yang berkerumun. Ternyata, Si Ibu tidak bohong. Teman-teman yang sudah duluan sampai, nampak mulai mendirikan tenda. Ya, dengan cuaca seperti ini, sepertinya tidak mungkin kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Lebih baik beristirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Hal pertama yang saya lakukan adalah berganti baju dan ‘memerdekakan’ kaki dari sepatu dan kaos kaki basah. Lega! Badan mulai menghangat dengan pakaian yang kering.

Malam itu, kami mulai (bisa) bercanda dan merumuskan rencana untuk keesokan harinya. Bangun jam 5 pagilah, masak-memasaklah, sampai apa yang akan dilakukan di puncak (jajan pecel Mbok Yem yang terkenal itu tuh).

Keesokan harinya. Doo be doo be doo… . Nyatanya, tidak ada yang bergeming dari tenda di jam 05.00 pagi. Semuanya khusyuk di tenda masing-masing. Mengejar sunrise? Hmm, tak ada yang peduli sepertinya. Pukul 06.00, baru ada tanda-tanda kehidupan. Kompor mulai dihidupan, ‘panci-pancian’ mulai diisi air, bahan makanan dan sayuran disatukan. Di antara kehebohan kami memasak, orang-orang berlalu lalang. Nampaknya mereka akan terus melaju sehingga bisa turun dari puncak sebelum siang.

Kami baru siap sekitar pukul 10.00. Di saat pendaki lain yang naik subuh tadi turun, kami baru akan naik ke puncak. Carier kami tinggal di tenda bersama Mbak Rully yang memutuskan untuk beristirahat karena tidak enak badan. Saya baru sadar tempat kami bermalam adalah pos 3, berarti masih akan ada dua pos lagi yang harus kami lalui untuk sampai di puncak. Medannya masih sama, berbatu dan menanjak. Oke, kami siap.

Halo kamu, Adidas Biru, Si Sepatu Lari.  Sepatu yang bikin pengalaman naik gunung pertama jadi manis, asem, asin kepeleset-peleset. (Dokumentasi: Mbak Ruli).

Halo kamu, Adidas Biru, Si Sepatu Lari. Sepatu yang bikin pengalaman naik gunung pertama jadi manis, asem, asin kepeleset-peleset. (Dokumentasi: Mbak Ruli).

Note: jangan pakai sepatu lari buat naik gunung!

Singkat cerita, pos 4, pos 5 (baca: puncak), plus jajan pecel di warung Mbok Yem berhasil kami lalui. Kami tidak berlama-lama, pokoknya asal foto jepret, jepret, jepret, sudah. Targetnya, kami sudah harus sampai Stasiun Madiun pukul 22.00 WIB untuk kembali ke Jakarta. Nyatanya, saat perjalanan turun gunung, hujan kembali menerjang kami. Semula hanya gerimis lalu menderas. Dengan rute jalan yang menurun dan berbatu, saya tertatih-tatih karena terpeleset di antara bebatuan dan tanah yang becek. Dalam hati, saya hanya berjanji pada diri saya sendiri untuk menyelesaikan semua ini. Cobaan hujan badai saat naik kemarin membuat saya lebih struggling menuruni jalanan arah pulang.

Puncak bersama kalian, PM Menggunung! (Gunung Lawu, Hargo Dumilah 3265 mdpl) (Dokumentasi: Melisa)

Puncak bersama kalian, PM Menggunung! (Gunung Lawu, Hargo Dumilah 3265 mdpl) (Dokumentasi: Melisa)

Teman seperjalanan yang menemani naik Gunung Lawu pertama. Thank you! (Dokumentasi: Melisa)

Teman seperjalanan yang menemani naik Gunung Lawu pertama. Thank you! (Dokumentasi: Melisa)

Tetiba saya ini tertawa sendiri sampai di paragraf ini. Bukan berarti saya menggampangkan, lho. Saya bisa menulis seperti ini karena kemarin saya sudah mengalaminya sendiri. Kalau kemarin pas saya mendaki, yaa … semua bagai birthday surprise bagi saya. Ya rutenya, ya jalanannya, ya cuacanya … semua deh!

Note: Naik gunung benar-benar membuat kita tahu limit kita.

Noel, saksi yang menemani saya jatuh bangun, sempat bertanya, “Kapok nggak, Het, naik gunung? Awas ketagihan, lho!” Saya hanya tertawa mengiyakan. Nggak kapok, seruuuu! Sambil menatap ke bawah, melihat sepatu lari saya yang coreng-moreng terkena gesekan batu. Mau naik gunung lagi tapi nggak lagi-lagi deh pakai sepatu lari. Terima kasih Gunung Lawu jadi pengalaman pertama naik gunung.

Ini quote yang pas banget untuk menggambarkan pengalaman pertama naik gunung saya kemarin.

Ini quote yang pas banget untuk menggambarkan pengalaman pertama naik gunung saya kemarin.

Cerita akhirnya Hety naik gunung berakhir di sini 🙂

Baca cerita sebelumnya:
Bagian 1 cerita ini: Kenalan PM Menggunung
Bagian 2 cerita ini: Pendaki Pemula Berbagi Cerita
Bagian 3 cerita ini: Pengalaman Pertama Naik Gunung Lawu (1)

%d bloggers like this: