Archive

Event

Akan ada hari di mana mimpimu akan menjadi dekat. Hari apakah itu?

Saya? Bagi saya, hari itu kemarin.

Dalam satu hari, tiba-tiba ada tiga kejadian yang menggelitiki mimpi saya untuk bangun dari nina bobonya di penghujung tahun. Ayo-ayo!

Kejadian Satu
Mantan bos di kantor sebelumnya, tiba-tiba menelepon. Seperti biasa, sapaan hangat dan gaya ‘ngakrab’-nya itu bisa membuat cair pembicaraan kami di telepon dalam hitungan detik. Padahal sudah lama sekali tidak ketemu. Valid kan beliau jadi bos? Sosok yang hangat untuk mengguyubkan sebuah hubungan, termasuk dengan saya, bawahannya versi zaman dahulu kala.

Tak hanya sampai di situ saja, satu hal lagi yang membuat kaget adalah saat beliau menutup pembicaraan kami dengan, “Jangan lupa, lho Het?”
Apa, Pak?” tanya saya polos karena saya memang tak pernah menjanjikan apa-apa sepanjang pertemuan lewat suara ini.
Bikin sekolah, kan? Hahahaha
Deg.

Ya, saya tak pernah menutup-nutupi mimpi saya dengan orang yang mempunyai kutub positif di sekitar saya. Terlebih orang yang mempunyai kemampuan untuk melihat potensi saya dan bersedia menjadi supporter bukan hater. Si bapak bos di atas, misalnya. Beliau tahu saya punya cita-cita mempunyai sekolah suatu saat nanti dan tetiba diingatkan dengan cara seperti kemarin? Hmm, rasanya …

Kejadian Dua
Masih di hari yang sama tiba-tiba seorang teman yang paham betul kalau saya sebenarnya mempunyai jiwa kesasar petualang mengirimkan chat Whhatsapp, “Mana fotomu di Thailand?:)”

Thailand? Ya, Thailand adalah liburan ‘colongan’ saat perjalanan ke Afrika Selatan kemarin (saya janji akan menuliskan cerita perjalanan ini di posting berikutnya, ya). Dia menagih foto karena saya terlanjur berjanji untuk foto di Wat Arun, salah satu destinasi wisata. Nyatanya, saya tidak jadi ke sana karena waktu saya habis di imigrasi bandara. Jadilah, saya ganti dengan mengirimkan foto saat kesasar di stasiun.

Nggak enak ya ternyata jalan-jalan sendiri. Aku sempat salah stasiun, jadi muter gitu.”
Ahaha. Nggak apa-apalah. Yang penting 4 benua udah checked. Next tinggal Ausie. Hety the Exploler.”

Deg. Saya tak menyangka teman saya yang satu ini menghitung kepergian saya selama ini. Ya, memang tinggal satu benua lagi, Australia, yang menurut road map hidup saya akan menjadi negara impian untuk melanjutkan studi S2. Bisa ditebak, percakapan saya selanjutnya, dipenuhi tulisan ‘Amin’.

Kejadian Tiga
Malam kemarin, saya memenuhi undangan untuk hadir dalam acara temu alumni penerima program Australia (mereka menyebutnya dengan tagar #OZAlum di Twitter) dengan Hon Stevem Ciobo, menteri perdagangan, investasi, dan pariwisata Australia. Acara itu diadakan di rumah dinas Duta Besar Australia, Paul Grigson, di kawasan Menteng. Walau tidak lolos seleksi program, pihak Kedubes Australia tetap menganggap kami (yang tidak lolos seleksi) sebagai alumni.

Mimpi ke Australianya belum kesampaian, jadi main ke rumah dinas duta besarnya dulu.

Mimpi ke Australianya belum kesampaian, jadi main ke rumah dinas duta besarnya dulu.

Saya agak grogi juga hadir malam itu tapi mau bagaimana lagi. Motivasi saya datang ke acara kemarin adalah mengetahui siapa saja yang lolos seleksi dan belajar dari mereka. Akhirnya, setelah mingle ke sana ke mari, saya temukan juga orang-orang yang lolos program dan berangkat ke Australia untuk mendapatkan training selama 2 minggu. Bayangkan, mereka training di kampus impian saya untuk melanjutkan S2.

Jika pada kalimat selanjutnya kamu tebak saya akan menuliskan serentetan kalimat iri hati dan ambisius, salah besar. Entah kenapa, mendengar cerita ‘kebahagiaan’ orang-orang yang lolos seleksi itu saja, justru membuat hati saya adem.

Ya Tuhan, saya tertular virus! Malam itu, saya bahagia melihat orang yang bahagia. Walau bukan saya yang terpilih tapi saya tetap bahagia bisa berdiri di antara mereka. Semakin antusias mereka berbagi cerita, semakin kencang saya melafalkan dalam hati, merengek pada Tuhan, “Tuhan-Tuhan, mimpi saya enggak salah, kan?”

Advertisements
Sa Choom datang kembali ke Jakarta dalam rangkaian Jakarta Performing Arts & Tourism Festival yang diselenggarakan pada 24 – 26 November 2016. (Dokumentasi: KTO Jakarta)

Sa Choom datang kembali ke Jakarta dalam rangkaian Jakarta Performing Arts & Tourism Festival yang diselenggarakan pada 24 – 26 November 2016. (Dokumentasi: KTO Jakarta)

Hari Kamis (24/11) kemarin, saya mendapatkan undangan untuk pertunjukkan Sa Choom di Ice Palace Lotte Shopping Avenue sebagai bagian dari Wow Korea Supporters. Ini pengalaman pertama saya melihat pertunjukkan asal Korea ini, sekaligus pengalaman pertama masuk ke Ice Palace, Lotte Shopping Avenue. Where have u been, Het? Saya surprise di Lantai 4 ada venue untuk pertunjukkan.

Sa Choom atau kependekan dari Saranghamyeon Choom chuora (dalam bahasa Indonesia artinya ‘Jika kamu cinta, menarilah!’) merupakan salah satu pertunjukan tari asal Korea yang menyuguhkan pertunjukan menghibur dengan kemasan cerita yang unik. Bayangkan ya, dalam satu kali pertunjukkan dan satu bingkai cerita, Sa Choom memadukan hip hop, jazz, tekno, break dance, pop dance, sampai gaya tarian kontemporer. Oh ya, Sachoom merupakan pertunjukkan non-verbal. Jadi, semua ditampilkan dalam bentuk visual/tarian, tanpa dialog panjang lebar. Full music!

Ada 6 bagian dalam sebuah pertunjukkan Sa Choom:
1. Life the body
2. Lantern dance
3. Sensuality and temptation
4. Hero
5. Contest
6. Let’s dance – Ini adalah bagian favorit saya karena pengunjung diajak berdiri dan menari bersama =D

Bagi saya yang baru pertama kali menonton, pertunjukkan kemarin sangat menghibur. Unforgetable. Sampai-sampai, saat menulis ini, kepala saya masih bergoyang mengikuti lagu-lagu tadi malam. Sebagai penonton, kita benar-benar dibuat untuk mengikuti hentakan musik serta bersorak “Aaaaaaa, Waaaaa, Woooo …” sepanjang pertunjukkan. Penonton juga dibebaskan untuk ikut menari, memfoto, dan ikut bersuara. Justru, kalau penonton diam saja, tak beraksi apa pun, para pemain Sa Choom turun panggung dan beraksi lucu.

Sebagai penutup pertunjukkan yang manis, semua penonton diajak menari bersama mengikuti koreografi yang sudah disiapkan. Para pemain Sa Choom sangat ramah dan interaktif dengan penonton. Tak lupa, mereka juga menyediakan sesi foto bersama di depan venue.

Sa Choom, we love u!

3 fakta Sa Choom yang harus kamu tahu:
– Slogan Sa Choom adalah ‘Dance is the most honest language’.
– Ternyata, Sa Choom merupakan pertunjukan budaya khas Korea yang paling banyak dicari oleh penonton asing, lho!
– Sachoom menjadi pertunjukan penting dalam berbagai acara besar di dunia termasuk di Festival Fringe Edinburgh di Scotlandia. Keren!

Sa Choom online:
http://www.sachoom.com
http://www.facebook.com/sachoom
http://www.twitter.com/sachoom

Sa Choom di Korea:
Sa Choom Theater, Cine Core 4 F, 386 Samil-daero, Jongno-gu, Seoul, Korea

Sumber: Press release Korea Tourism Organization (KTO) Jakarta, 25/11/2016
Tentang KTO Jakarta: http://www.visitkorea.or.id/

Ada yang istimewa di Hari Blogger Nasional yang jatuh hari Kamis (27/10) kemarin. Tidak janjian, padahal. Di saat linimasa Twitter dihujani dengan tagar #HariBloggerNasional, kami yang ada di Kampus Binus, FX Sudirman juga tidak kalah meriah.

the-power-of-content

‘The Power of Content’, begitu namanya. Semacam blogger gathering tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai kelas belajar bersama karena banyak sekali ‘oleh-oleh’ ilmu yang didapat. Belum lagi, acara ini diselenggarakan pada pagi hari dan di kampus pula. Lengkap sudah, ini benar-benar sesi belajar bersama.

‘The Power of Content’ diselenggarakan oleh Serempak (Seputar Perempuan dan Anak), sebuah inisiasi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama IWITA (Indonesian Women IT Awareness). Di dunia online, serempak.id merupakan sebuah portal informasi, komunikasi, serta wadah dukungan terhadap topik terkait perempuan dan anak.

‘The Power of Content’ dipilih sebagai judul acara karena berkaitan dengan kampanye ‘3 ends’. Melalui topik ‘The Power of Content’, penyelenggara acara ingin mengajak para blogger agar mulai membuat konten-konten yang bermanfaat untuk perempuan dan anak, salah satunya ‘3 ends’.

Apa itu ‘3 ends’? ‘3 ends’ adalah sebuah kampanye terkait program untuk: (1) mengakhiri kekerasan pada anak dan perempuan (termasuk kejahatan seksual), (2) mengakhiri perdagangan manusia (termasuk anak dan perempuan), dan (3) mengakhiri kesenjangan akses ekonomi bagi perempuan. Wajar jika ‘3 ends’ mulai giat disosialisasikan, mengingat saat ini, kasus-kasus terkait kekerasan/kejahatan terhadap anak dan perempuan makin meningkat tajam.

Blogger yang hadir diberikan ilmu terkait pembuatan personal branding blogger sampai pada penulisan konten yang bermanfaat. Harapannya, ilmu yang didapat dapat langsung diaplikasikan untuk turut membuat konten-konten yang bermanfaat terkait anak dan perempuan di blog pribadi maupun serempak.id.

Yuk, ikut menulis di Serempak.id, klik di sini. Baca juga cara menjadi kontributor tetap serempak.id di sini.
untitled-design

Catatan kecil seorang peserta, bukan note taker.

"Berharap pada bintang jatuh, biar bisa make a wish .." Lagu dari @oppieandaresta tentang sahabat kecilnya, seorang pengamen jalanan.

“Berharap pada bintang jatuh, biar bisa make a wish ..” Lagu dari @oppieandaresta tentang sahabat kecilnya, seorang pengamen jalanan.

Senin (17/10) adalah Supermentor pertama saya, Sepermentor seri ke-16. Serinya memang sudah ke-16, tetapi ini baru pertama untuk saya. Ke mana aja saya selama ini? Kalau kamu tanya begitu, saya jawab, saya adalah orang yang selalu tidak kebagian tiket. Lebih detail lagi, kategori orang yang kalau nge-klik Eventbrite Supermentor, terhibur oleh tulisan ‘sold out’. Cukup drama, kan?

Singkat cerita, akhirnya saya mendapatkan tiket untuk seri ke-16 ini. So, kemarin malam, kamu bisa membayangkan semangat saya datang ke XXI Ballroom Djakarta Theater, sepulang kerja. Sttt … Supermentor pertama saya!

Topik Supermentor 16 kali ini adalah ‘End Poverty, Bisakah Umat Manusia Mencapai Nol Kemiskinan di Abad 21?’. Ini masih terkait dengan 17 Tujuan Pembangunan Global/Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 1, ‘End Poverty‘. Enggak hanya temanya, narasumber Supermentor 16 juga enggak kalah kece. Sebut saja Dino Patti Djalal – founder Foreign Policy Community of Indonesia, Paul Grigson – Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rodrigo Chaves – Country Director World Bank Indonesia, Vivi Alatas – Lead Economist World Bank, Reza Rahadian – UNDP SDGs Mover, dan Sri Mulyani – Menteri Keuangan RI.

Serba Antri
Pukul 17.15 WIB saya tiba di XXI Ballroom Djakarta Theater. Sesuai konfirmasi email yang saya terima, kami diminta hadir pukul 16.30 WIB untuk menghindari hujan atau kemacetan (masalah klasik Jakarta hehe). Pukul 17.00 WIB, panitia baru open gate untuk pengecekan tiket. Betapa terkejutnya saya, ternyata antrian sudah mengular. Tidak hanya di luar, juga di dalam untuk mengambil hidangan coffee break. Semuanya tampak jelas, karena baik kami yang di luar atau di dalam, bisa saling pandang lewat dinding kaca, khas gedung XXI.

Peminat Supermentor memang luar biasa. Tenang. Antrian berjalan lancar dan tertib kok. Jangan kaget jika saat pintu ballroom dibuka, brrr … semua ‘berjuang’ menduduki bangku depan. Saya yang hadir sendiri kemarin malam excited juga. Lumayan, saya mendapat bangku tengah – depan. Mayoritas yang hadir mengajak teman segang, jadi sesekali terdengar heboh cekikikan. Dari kostumnya juga, mayoritas pulang kerja (wajah-wajah kelas pekerja muda Indonesia-lah, eh).

Pembicara Oh Wow!
Setelah mempimpin ‘tradisi’ Supermentor – standing applause 60 detik – Dino Patti Djalal membuka acara dan berbagi cerita tentang ‘best poverty terminator’. Dengan slide bergambar Arnold Schwarzenegger, best poverty terminator adalah education, pro poor technology, dan entrepreneurship‘. Dino menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan interaktif di depan penonton yang hadir malam itu.

Setelah Dino Patti Djalal, Paul Grigson maju ke panggung dan menyampaikan sambutannya. Duta besar Australia untuk Indonesia itu menyampaikan pentingnya kontribusi setiap orang dalam mengakhiri rantai kemiskinan. Tidak ada penggolongan kontribusi besar atau kecil. Justru yang terpenting semua harus memulainya sekarang, apalagi kaum muda (youth).

Panggung kembali riuh saat Reza Rahadian dipanggil naik ke atas panggung. Reza adalah magnet acara malam ini. Semuanya menurut bagai tersihir saat Reza meminta penonton mengumpulkan uang Rp 1.000,00 ke panggung. Dari deretan bangku belakang, tak henti-hentinya uang logam dan kertas disalurkan melalui penonton. Tidak sampai 15 menit, uang sudah terkumpul dalam empat atau lima kantong plastik. Reza mengaitkan hal itu dengan menjelaskan kontribusi setiap orang dalam program Bring Water for Life untuk masyarakat Sumba yang diinisiasi oleh UNDP Indonesia.

Selang beberapa menit kemudian, Dino kembali ke panggung untuk memandu dialog dengan Rodrigo Chaves dalam bahasa Inggris. Country Director World Bank Indonesia itu menyampaikan pentingnya berinvestasi pada sumber daya manusia, melalui pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Tujuannya, agar manusia itu bisa produktif dan mampu menghasilkan sesuatu sehingga berdaya dan tidak terhimpit rantai kemiskinan. Dino menutup dialog dengan pertanyaan unik (menarik menurut saya), “Apa yang menurutmu baik dari orang Indonesia tapi orang Indonesia tidak cukup pede mengakuinya?” dan jawaban Rodrigo adalah orang Indonesia harus asertif dalam mengemukaan pendapatnya. Tidak perlu takut karena menurut Rodrigo, orang Indonesia memiliki sikap hangat – bersahabat dan sopan. Nyess deh, dengernya.

Oke, kamu mulai bosan membaca, ya. Saya pun enggak ingin tulisan di blog ini menjadi notulensi atau resume meeting kebanyakan. To the point aja, ya. Setelah Rodrigo Chaves, pembicara selanjutnya adalah Vivi Alatas, Sri Mulyani dengan ‘Addressing Poverty and Inequality’-nya melalui mekanisme kebijakan fiskal, dan Paul Grigson (lagi).

Vivi Alatas dan Superconnector
Malam itu adalah kali pertama saya bertemu dan mendengar sharing dari Vivi Alatas. Selang lima menit, Vivi berbicara di atas panggung, saya langsung googling, mencari info tentang Vivi Alatas. Dari semua narasumber, sharing dari Vivi Alatas adalah yang paling ‘nyantol’ di otak saya, bahkan sampai tulisan ini dibuat.

Penampilan Vivi Alatas di panggung Supermentor 16.

Penampilan Vivi Alatas di panggung Supermentor 16.

Saya sangat meng-iya-kan, mengamini, dan sepakat dengan gagasan ‘superconnector’ seperti yang disampaikan Vivi Alatas di panggung Supermentor 16. Superconnector tidak membutuhkan apa-apa selain niat baik dalam menyebarkan informasi yang bermanfaat. Menurut Vivi, daripada membuat status ‘sedang apa, dengan siapa, di mana’ di media sosial, lebih baik kita membagikan hal-hal positif atau informasi kepada orang lain. Misalnya tentang info Kartu Indonesia Pintar, beasiswa, tips sukses wawancara kerja, dan lain-lain.

Lalu hubungannya dengan kemiskinan? Ya, kita bisa menolong orang lain dengan memberikan informasi yang bermanfaat. Bisa jadi orang yang tergolong miskin di Indonesia adalah orang-orang yang tidak tahu: pentingnya, haknya, dan caranya. Di situlah, superconnector hadir dan memberikan informasi melalui word of mouth (baca: ngobrol) atau kemajuan teknologi (sharing di media sosial, broadcast info di Whatsapp, dan lain-lain). Mudah bukan? Setiap orang bisa melakukannya, mulai dari lingkar sosial terdekatnya, seperti keluarga dan teman.

Vivi memberikan studi kasus di Zimbabwe. Petugas salon yang biasanya melayani jasa mengepang rambut dengan leluasa bisa mengajak pelanggannya untuk mengobrol. Salah satu yang diobrolkan adalah tentang pencegahan HIV Aids. Tanpa disadari, petugas salon itu adalah superconnector yang melakukan sosialisasi sekaligus memberikan informasi. Menyebarkan kebaikan juga, kan?

Jadi, Supermentor 16 kali ini …
Saya pengen datang lagi! Saya suka acara ini walau harus mengantri. Sesederhana, saya suka diceramahi, didongengi, diberitahu dengan hal-hal yang saya belum tahu. So sad but true, sering kali, kita berjumpa dengan orang yang banyak bicara tetapi tanpa inti, kosong. Itu nggak sehat, menurut saya. Coba duduk dan diam, dengar dan resapi (bahkan catat) hal-hal yang menarik dari sebuah forum di mana orang berbicara menarik dan bermakna.

Kalau acara Supermentor didesain untuk memberikan anak muda inspirasi dan pencerahan, saya akui malam itu saya kagum dengan sharing dari Vivi Alatas. Sure! Ini buktinya. Menulis blog tentang pengalaman pertama mengikuti Supermentor adalah cara saya untuk menjadi superconnector. Siapa tahu pembaca blog saya juga jadi ingin mengikuti acara Supermentor dan terinspirasi bersama. Sampai jumpa di Supermentor 17! Note: jangan sampai kehabisan tiket =b.

PM Menggunung atau Pengajar Muda Menggunung. Sebuah prakarsa yang berisi alumni Pengajar Muda yang suka dan sudah fasih (baca: sering) naik gunung. Sebelum ada grup ini, ternyata sudah banyak alumni Pengajar Muda yang naik gunung bersama, baik di daerah penempatannya maupun daerah lain. Konon katanya, naik gunung bersama sesama alumni Pengajar Muda itu rasanya beda. Susah senang dijalani bersama. Eh, bukannya memang harus begitu, ya? Entah.

Dari sini …

Semua berawal saat acara #SelepasPenempatan 27 Agustus lalu. #SelepasPenempatan adalah reuni sepuluh angkatan Pengajar Muda sekembali dari daerah penempatan. Terbayang kan, bagaimana Pengajar Muda angkatan I yang dikirim tahun 2010 dipertemukan dengan Pengajar Muda angkatan II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, bahkan X yang dikirim selama lima tahun berturut-turut. Ada rasa haru, sekaligus lucu. Ini bukan soal berapa umurmu, tua-muda, seperti reuni kebanyakan. Tahun kelahiran tidak berlaku di sini. Bisa jadi kamu yang berumur sekian ternyata lebih tua daripada Pengajar Muda angkatan sebelumnya. Unik, kan? Inilah yang kami sebut #BukanReuniBiasa.

Ayo guyub. 278 alumni Pengajar Muda, 10 angkatan.

Ayo guyub. 278 alumni Pengajar Muda, 10 angkatan.

Selain itu, ini menjadi #BukanReuniBiasa karena akhirnya kami dipertemukan setelah sekian lama. Tinggal di suatu daerah selama satu tahun dan digantikan berturut-turut oleh empat orang yang berbeda membuat ikatan ini mirip sebuah keluarga. Ini tidak terjadi di satu daerah saja, lho! Tujuh belas kabupaten! Terlihat solid dari luar hanya karena sesuatu yang kami sebut sebagai ‘melunasi janji kemerdekaan’ seperti kata pendiri gerakan ini. Tetap saja, kami belum bisa membuktikan kekompakan kami sampai acara ini terselenggara. Ajang pembuktian, begitulah.

Nyatanya, cek saja hari itu. Kami tidak melulu dipersatukan atas nama ‘melunasi janji kemerdekaan’. Sebagai alumni Pengajar Muda, kontribusi kami lebih ditantang. What’s next?

Beda daerah penempatan atau beda angkatan bukan menjadi masalah. Di acara reuni kemarin, untuk bisa berkontribusi ke depan, kami memulainya dengan forum-forum kecil berdasarkan preferensi kesukaan. Alumni Pengajar Muda yang selama ini terjun di politik pemerintahan atau berminat dengan isu politik, bersatu dalam forum ‘Mari Bicara Politik’. Ada juga yang kini sudah berumah tangga, membuat forum ‘Keluarga Muda’. Yang hobi olahraga, makan sehat, bisnis start-up, sampai jomblo-jomblo yang berkumpul di ‘Pojok Single’. Tujuannya tentu saja, berkolaborasi dan bersinergi.

Kamu di mana …

PM Menggunung!

PM Menggunung!

Kalau kamu tanya saya pilih apa waktu itu, saya terkikik sendiri, mengingatnya. Mendadak #SelepasPenempatan bisa mengabulkan mimpi saya. Saya berkumpul bersama teman-teman yang sudah fasih naik gunung di grup PM Menggunung. Agak beban mental juga sih, mengingat saya belum pernah naik gunung sebelumnya. Cita-cita saya sederhana: bisa naik gunung sebelum menikah (please, jangan tertawa). Di luar dugaan, teman-teman PM Menggunung justru menyambut hangat sembari becanda, “Naik gunung dulu sebelum naik pelaminan,” dan spontan mengajukan penawaran, “Yuk, Lawu besok Oktober!!” Jeng-jeng …

Bersambung ke …

Bagian 2 cerita ini: Pendaki Pemula Berbagi Cerita
Bagian 3 cerita ini: Pengalaman Pertama Naik Gunung Lawu (1)
Bagian 4 cerita ini: Pengalaman Pertama Naik Gunung Lawu (2)

Dengan kemarin, resmi sudah saya dua kali berturut-turut, bertujuh belas agustusan tanpa upacara di ibu kota. Apakah sama dengan kamu? Ternyata, selain upacara bendera, masih banyak kegiatan lain yang bermanfaat untuk memaknai kemerdekaan republik ini.

Tahun 2014 lalu, bersama alumni Pengajar Muda, kami melakukan napak tilas kemerdekaan dengan mengunjungi dua museum dan satu monumen di Jakarta. Mengadopsi konsep Amazing Race, kami membagi diri dalam kelompok dan saling berkompetisi untuk sampai di lokasi tujuan melalui clue yang diberikan. Sebagai bukti jika sudah sampai di tempat yang ditentukan dan menjawab pertanyaan yang diajukan, kami berfoto, lalu mengirimkannya melalui Whatsapp. Benar-benar Amazing Race yang kekinian.

Lagi-lagi, tanggal 17 Agustus 2015 kemarin, saya tidak melakukan upacara bendera. Kali ini, bersama teman-teman relawan, kami melakukan kegiatan berbagi buku yang terkumpul sebagai donasi. Mengusung konsep kolaborasi, pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan memberikan kontribusi sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Grabtaxi dan grabbike mengantarkan para relawan dari Indonesia Berkibar dan Nusantara Bertutur membawa buku-buku dari Femina ke beberapa Rumah Belajar Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) dan Sekolah Dasar. Adapun Rumah Belajar dan Sekolah Dasar tujuan kami ada 6, yaitu Rumah Belajar Duri Kepa, Rumah Belajar Cengkareng, Rumah Belajar Manggarai, Rumah Belajar Cipinang, SD N Slipi 01, dan SD N Karet Tengsin.

Sesungguhnya, bagian yang paling saya sukai dari kegiatan kerelawanan seperti ini adalah kesempatan bertemu orang-orang baru, sekaligus mengunjungi tempat-tempat baru. Bagi saya, bertemu orang baru dan berada di tempat baru adalah dua hal yang selalu bisa membuat saya ‘lebih hidup’ dalam menjalani kehidupan. Wujudnya macam-macam, mulai dari teman baru, networking lintas sektor, pengalaman, ilmu baru, sampai melintasi jalan yang belum pernah saya lewati. Sederhana, bukan?

Jadi, ‘petualangan’ tujuh belas agustusan saya, Senin (17/8) kemarin, dimulai dari Kantor Majalah Femina yang terletak di Jalan HR Rasuna Said (persis di depan Masjid Al-Bayyinah, Setiabudi). Saat tiba di sana pukul 07.30 WIB, sudah banyak relawan dan bapak-bapak driver Grabtaxi dan Grabbike yang berkumpul. Kami langsung membagi diri dalam kelompok-kelompok berdasarkan Rumah Belajar dan Sekolah Dasar yang akan dikunjungi. Tak lupa juga, membagi kardus-kardus yang berisi buku kepada masing-masing kelompok.

Bersama Tony dan Carol dari Grabtaxi-Grabbike, serta Pak Suharto dari Taksi Express.

Bersama Tony dan Carol dari Grabtaxi-Grabbike, serta Pak Suharto dari Taksi Express.

Pagi itu, bersama Carol dan Tony dari Grabtaxi-Grabbike, serta Pak Suharto dari Taksi Express, saya akan berkunjung ke Rumah Belajar YCAB di Manggarai. Walaupun jarak Kantor Femina dengan Manggarai dekat, saya tetap antusias karena belum pernah berkunjung ke Rumah Belajar ini sebelumnya. Antusiasme saya bertambah ketika bertemu dengan Pak Suharto. Diam-diam, Pak Suharto adalah seorang selebriti di kalangan driver ibu kota yang terkenal karena kejujurannya (penasaran kan? baca cerita tentang Pak Suharto di sini).

Pak Suharto bercerita dengan antusias sepanjang perjalanan.

Pak Suharto bercerita dengan antusias sepanjang perjalanan.

Sepanjang perjalanan, Pak Suharto menceritakan pengalamannya menjadi driver taksi di ibu kota. Lengkap! Sampai-sampai, saya merasa sedang liputan ‘live’ untuk sebuah acara TV. Maklum, saya di dalam taksi seorang diri. Carol dan Tony memutuskan untuk naik Grabbike ke lokasi.

Sekitar pukul 08.35 WIB, saya dan teman-teman sampai di Rumah Belajar YCAB Manggarai. Kami disambut oleh Mbak Rini dan Mbak Victoria, para pengajar di Rumah Belajar Manggarai. Selain mengantar buku, kami juga mengobrol dan berinteraksi dengan anak-anak yang belajar di Rumah Belajar itu.

Selamat datang di Rumah Belajar Manggarai (foto: Tony).

Selamat datang di Rumah Belajar Manggarai (foto: Tony).

Menyortir buku bersama para pengajar Rumah Belajar Manggarai (foto: Carol)

Menyortir buku bersama para pengajar Rumah Belajar Manggarai (foto: Carol)

Beberapa murid peserta kejar paket di Rumah Belajar Manggarai (foto: Tony).

Beberapa murid peserta kejar paket di Rumah Belajar Manggarai (foto: Tony).

Layaknya sekolah, Rumah Belajar itu adalah tempat anak-anak yang kurang mampu untuk menuntut ilmu. Selain kejar paket, ada juga kursus komputer dan bahasa Inggris. Baik sekolah maupun kursus dikenakan kursus dengan biaya yang sangat terjangkau, yaitu Rp 10.000,00 perbulan.

Saling menuliskan semangat dalam Student Day 2015.

Saling menuliskan semangat dalam Student Day 2015.

Saat berbagi cerita, tantangan terbesar yang dihadapi para pengajar adalah memotivasi para siswa untuk terus mau belajar. Berbagai hal terus diupayakan termasuk membuat Kelas Inspirasi mini dan sesi berbagai pengalaman. Nah, jika teman-teman ingin datang dan berbagi dengan murid-murid di sini, para pengajar akan menyambut dengan suka cita.

Pose andalan. Tanda siap berpetualang dan berbagi.

Pose andalan. Tanda siap berpetualang dan berbagi.

Bisa bertemu dengan orang-orang ‘ajaib’, dari orang yang ingin ‘sekedar’ berbagi, driver taksi yang berintegritas tinggi, serta guru yang semangat mengajar di hari kemerdekaan republik tercinta ke-70, membuat saya belajar. Ada satu hal yang harus disyukuri. Pekik merdeka kini bukan lagi tentang bebas dari belenggu penjajahan antarbangsa melainkan merdeka karena kita masih diberikan kesempatan untuk berbagi apa yang kita punya dengan sesama. Merdeka untuk berbuat kebaikan, istilah saya. Terdengar indah dan tidak muluk, kan?

Rumah Belajar YCAB Manggarai
Lokasi: Jalan Dr. Saharjo Gang Rambutan No. 42 RT 004/RW 07 Manggarai Selatan Tebet Jakarta

Senang sekali, sore kemarin (9/7) saya mendapatkan invitasi untuk hadir dalam peluncuran Anugerah Jurnalistik Aqua (AJA) V, sekaligus buka puasa bersama di The Belly Clan, Jakarta. Agak surprise juga, karena AJA V kali ini mengingatkan saya pada AJA sebelumnya. Pada AJA IV tahun 2014, saya ikut mengirimkan artikel untuk kategori blogger. Sayangnya, saya belum mendapatkan juara.

Pada AJA IV, saya memanfaatkan momentum itu untuk berbagi pengalaman saya saat KKN di Gunung Kidul tentang konservasi air. Bukan rahasia lagi, Gunung Kidul tidak pernah lepas dari masalah kekeringan. Daripada menyimpan kegemasan saya tentang kekeringan di kepala, saya membaginya melalui kompetisi menulis di AJA IV (baca tulisan saya di sini: Pringsurat 7.488 Jam).

Masalah tentang air memang tidak pernah ada habisnya. Mau di desa atau kota sekalipun, masalah tentang air selalu hadir dengan karakteristik yang berbeda. Mau berbagi cerita seperti saya? Yuk! Tahun ini, Aqua kembali lagi menyelenggarakan AJA V dengan mengangkat tema “Kelestarian Air dan Lingkungan Sebagai Tanggung Jawab Bersama”. Syarat dan mekanisme AJA V dapat dilihat melalui Anugerah Jurnalistik Aqua (AJA) V. Yang istimewa pada AJA V kali ini adalah adanya kategori baru yang sebelumnya tidak ada, yaitu kategori radio.

Selain berbagi informasi tentang AJA V, kemarin juga diadakan diskusi dengan tema yang sama. Narasumber yang hadir antara lain Prof. Dr. Emil Salim, tokoh lingkungan hidup Indonesia, Sigit Kusumawijaya, inisiator Indonesia Berkebun, dan Karyanto Wibowo, Sustainable Development Director PT. Tirta Investama (Aqua Group). Diskusi berlangsung seru karena masing-masing narasumber ‘kaya’ pengetahuan pada bidang masing-masing.

Prof. Dr. Emil Salim berulang kali menekankan pada berbagai pihak untuk ikut menjaga kelestarian air, baik melalui water balance maupun water recycling dengan pemanfaatan teknologi.

Prof. Dr. Emil Salim berulang kali menekankan pada berbagai pihak untuk ikut menjaga kelestarian air, baik melalui water balance maupun water recycling dengan pemanfaatan teknologi.

Siklus air yang terjadi secara alami memang membuat volume air di bumi tetap. Walaupun demikian, kita tetap harus memperhatikan water balance, yaitu saat X liter air diambil dari alam, maka kita harus bisa memastikan bahwa kita melakukan konservasi untuk mengembalikan X liter air yang telah kita ambil. Wujud konservasi ini bisa bermacam-macam, mulai dari penananam pohon, pembuatan biopori, pembuatan sumur resapan, pembuatan embung, rehabilitasi saluran irigasi, dan pengembangan pertanian organik. Di sinilah, Aqua, selaku perusahaan yang mengemban Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, berkewajiban untuk melibatkan masyarakat lokal, komunitas, dan LSM dalam melakukan semua usaha konservasi tersebut.

Anugerah Jurnalistik Aqua (AJA) V, batas pengumpulan karya 31 Oktober 2015.

%d bloggers like this: