Thailand 11 Jam

Keberangkatan ke Johannesburg, Afrika Selatan, bulan lalu masih menyisakan utang cerita di blog. Tahun memang berganti, utang tetap saja membebani kalau tidak dilunasi.
Emang kamu janji sama siapa, Het?”
Sama diri sendiri.”
Sigh!

*

Setelah cerita pertama tentang mudahnya membuat visa Afrika Selatan tanpa bantuan agen, pada urutan kedua kali ini, saya akan bercerita pengalaman di Thailand selama 11 jam.

Thailand? Ya, ‘libur colongan’ 11 jam ini dipersembahkan oleh kepergiaan ke Johannesburg, Afrika Selatan. Dari berbagai pilihan penerbangan, akhirnya, Thailand menjadi tempat transit yang saya pilih dengan berbagai pertimbangan (serta catatan, mumpung dibayarin haha).

Fakta pertama, ini kali pertama saya ke Thailand. Please, jangan tertawa kalau kalian traveller ulung. Setelah Singapura dan Malaysia, Thailand menjadi negara Asia ketiga dalam daftar jelajah saya.

Fakta kedua, saya termasuk orang yang harus melihat sendiri baru kemudian percaya. Selama 3 tahun 11 bulan kuliah di Hubungan Internasional dan mengambil konsentrasi kawasan Asia Tenggara, hubungan saya dengan Thailand hanya sebatas buku-buku literatur. Selama itu, saya banyak meng-‘gibah’ Thailand, mulai dari tata kelola pertanian nasional, pengembangan industri kecil dan menengah, sampai pembangunan pariwisata. Jujur, agak sanksi memang karena saya menjadi sensitif kalau kondisi Thailand lebih baik dari Indonesia dalam bidang yang saya sebutkan di atas. Nyatanya, baru berasa saat saya buktikan sendiri dalam perjalanan kali ini.

Fakta ketiga, skripsi saya mengambil topik pariwisata dan feminisme. Dua hal itu akhirnya melahirkan judul skripsi ‘Sex Tourism di Thailand, Tinjauan Perspektif Feminisme.’ Asoy, bukan? Kala itu, beberapa orang langsung refleks bertanya, “Kamu, ke Thailand, Het?” Saya hanya menggeleng malu sambil nyengir, “Enggak.” So sad but true, saya hanya studi literatur untuk skripsi saya. Siapa sangka, akhirnya, di tahun 2016, saya bisa ke Thailand dan membuktikan sendiri tata kelola pariwisata di Thailand.

Cuss!

Berangkat: Jakarta – Bangkok – Nairobi – Johannesburg

Hello Thailand

Selasa, 29 November 2016, pukul 09.40 WIB, saya berangkat dari Soekarno Hatta International Airport (Jakarta) menuju Suvharnabhumi (Bangkok) dengan maskapai Kenya Airways. Di Indonesia sendiri, Kenya Airways dioperasikan oleh Garuda Indonesia. Sehingga, dari Jakarta menuju Bangkok, saya naik pesawat Garuda Indonesia.

Mengapa Kenya Airways? Deg-degan juga karena ini kali pertama saya naik Kenya Airways. Beberapa orang berbagi cerita di blog tentang pengalaman kurang baik terbang dengan Kenya Airways saat saya browsing di internet. Tapi mau bagaimana lagi? Rute Jakarta – Johannesburg yang transit di Bangkok hanya dilayani oleh Kenya Airways. Jadi, saya bismillah saja. Ingat, ini ‘libur colongan’ jadi saya harus siap dengan kejutan manis, asem, pahitnya.

Selain itu, mengingat ini adalah perjalanan jauh dengan transit yang aduhai, saya sengaja memilih satu maskapai yang langsung bisa mengantarkan bagasi saya sampai tujuan tanpa saya harus memindahkan bagasi saya. Sebutannya, ‘check in through‘. Walau transit di beberapa negara dalam waktu yang tidak sebentar, saya tidak perlu stress memikirkan bagasi, karena bagasi akan tiba di tujuan terakhir, Johannesburg. Jadi, saya bisa jalan-jalan di masa transit dengan riang.

Halo Thailand!

halo Thailand

Masih di hari yang sama, saya tiba di Bangkok pukul 13.00 WIB (tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bangkok). Rasanya campur-campur saat mengintip bandara Suvharnabhumi dari jendela pesawat. Excited bercampur grogi. Thailand perdana, Kenya pedana, dan Afrika perdana. Pun tidak ada yang bisa ditanya karena perbedaan bahasa, masih ada papan-papan petunjuk di setiap bangunan dan jalan yang bisa dibaca. Itulah mantra saya.

Turun dari pesawat dan berdecak kagum – membuktikan sendiri ulasan tentang bandara Suvharnabhumi di blog orang-orang, saya mengikuti rute di dalam bandara menuju bagian imigrasi. Tenang, tidak bakal kesasar karena tinggal mengikuti rombongan yang mayoritas orang asing yang akan berlibur ke Thailand. Tidak lupa, saya mampir toilet dan mengisi botol Tupperware dari keran air minum di bandara. Haus pisan, euy!

Saya baru sadar kali ini sudah masuk hitungan akhir tahun saat melihat hall imigrasi full orang asing (bule). Hubungannya apa? Ini adalah masa liburan bagi orang-orang itu. Saat di negaranya mengalami musim dingin (salju bahkan), mereka memilih untuk ‘bermigrasi sesaat’ di negara tropis, seperti Thailand. Mayoritas turis itu berwisata dengan membawa anak-anaknya yang balita. Terbayang kan, anak balita bule itu seperti apa? Lucu maksimal dan itu adalah hiburan saya satu-satunya di hall imigrasi yang antriannya sudah seperti ular putih. Panjang!

Fiuh! Akhirnya pukul 14.45, saya berhasil melalui bagian imigrasi bandara. Dengan backsound “We are the champion, my friend”, eh, itu hanya di khayalan, saya menuju mushola di bandara yang sudah banyak direview di blog orang-orang. Saya tak canggung karena bentuk dan deskripsi musholanya persis seperti di blog. Usai solat dzuhur dan ashar, saya bergegas turun menuju area stasiun BTS dan Airport Rail Link (ARL).

Mushola di Bandara Suvharnabhumi, Bangkok, Thailand.

Mushola di Bandara Suvharnabhumi, Bangkok, Thailand.

PS. Bandara Suvharnabhumi itu bagus banget. Besar, luas, dan jelas. Walau tidak menguasai bahasa lokal, papan petunjuknya besar-besar, bilingual, dan disertai gambar. Lift dan eskalatornya banyak, sehingga sangat memudahkan kita untuk mobilisasi di setiap lantai.

Rasanya sudah gelisah saja. Saya membaca lagi daftar destinasi yang harus saya kunjungi di Thailand versi saya di transit 11 jam ini. Ada 10 tempat alternatif pilihannya (see, betapa ambisiusnya saya haha). Jujur, saya ingin sekali mampir ke Grand Palace, Wat Arun, atau Wat Pho tapi apa daya jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Candi-candi itu tutup pukul 17.00. Dengan menghitung waktu tempuh dari bandara (serta mungkin ada bagian kesasarnya), jelas tidak cukup waktu.

Akhirnya, pilihan saya jatuh ke … *drum roll*
Platinum Fashion Mall!

Platinum Fashion Mall , Surga Belanja
Platinum Fashion Mall terletak di Jalan Phetchaburi. Jika naik BTS, turun di stasiun Ratchathewi, lalu jalan kaki 15 menit. Tidak jauh kok. Bahkan, kita melewati KBRI Indonesia sebelum sampai di Platinum Fashion Mall.

Harga tiket ARL di Bandara Suvharnabhumi 45 Baht menuju Stasiun Phayathai dan berganti BTS. Dari Stasiun Phayathai menuju stasiun Ratchatewi 15 Baht.

Tiket ARL yang wujudnya koin.

Tiket ARL yang wujudnya koin.

Tiket BTS

Tiket BTS

Tiket BTS ini kalau dibalik, ada informasi urutan stasiun dalam huruf Thailand dan huruf cetak.

Tiket BTS ini kalau dibalik, ada informasi urutan stasiun dalam huruf Thailand dan huruf cetak.

Platinum Fashion Mall buka dari pukul 08.00-20.00. Dari namanya, pasti sudah bisa ditebak menjual apa. Sayur! Huu.. Kalau di Indonesia, Platinum Fashion Mall itu seperti Blok M Square yang menjual baju-baju selengkap koleksi di Tanah Abang atau Thamrin City. Saya sempat berpapasan dengan orang Indonesia yang membawa tas beroda atau semacam kereta dorong (biasanya digunakan untuk mengangkat galon). Nggak mungkin kan hanya membeli satu baju dengan alat bantu seperti itu?

Baju-baju yang dijual di Platinum Fashion Mall lucu-lucu dan sangat up to date. Harga? Bervariasi. Kamu bisa menemukan yang mahal sampai murah. Baju-baju sale ada tandanya. Jadi, enggak perlu capek-capek nawar lagi karena kalau dirupiahkan sudah terjangkau. Coba deh, cek.

Sebagai seorang fashion enthusiast (ciee), saya bisa menemukan 3 baju lucu dalam waktu kurang dari 1 jam! Jeng, jeng.. Padahal kalau di Indonesia, saya bisa lama sekali untuk menentukan baju yang ingin saya beli. Bolak-balik membandingkan harga dan kualitas bahan. Ini yang saya sebut sebagai tanda bahaya. Penanda, saya enggak boleh berlama-lama di Platinum Fashion Mall kalau masih ingin sampai di Johannesburg hehe.

Pukul 18.30, saya meninggalkan Platinum Fashion Mall dan memilih untuk menikmati pemandangan street food yang mulai ramai lapaknya. Di jalan rayanya sendiri, ramai oleh kendaraan bermotor yang lalu-lalang, mirip Jakartalah. Dari semua jajanan, akhirnya, saya membeli mangga yang diberi ketan seharga 60 Baht.

Mangga ketan ini manis dan seger banget. Enak!

Mangga ketan ini manis dan seger banget. Enak!

Dengan rute BTS yang sama, saya akhirnya kembali lagi ke bandara pada pukul 20.00 WIB. Saya mampir untuk solat magrib dan isya, lalu makan dan akhirnya, larut dalam antrian di imigrasi untuk penerbangan selanjutnya menuju Nairobi (Kenya). Walau penerbangan berikutnya pukul 00.00, saya ingat petugas bandara yang berpesan untuk tidak mepet sampai di bandara. Ternyata betul, pukul 22.00, dari check in sampai menuju imigrasi sudah dipenuhi orang-orang. Saya bersyukur sudah bisa sampai di bandaram walau di sisi lain, 11 jam di Thailand kali ini benar-benar kode untuk saya datang lagi.

Oh ya, di Thailand, saya sudah tidak akan naik pesawat Garuda, tapi pesawat Kenya Airways. So, sampai jumpa di Nairobi dan Johannesburg di cerita selanjutnya!

goodbye07gif-107704

Baca cerita sebelumnya:
Pengalaman Mengajukan Visa Afrika Selatan

Advertisements
4 comments
  1. Kak hety aaak kewl banget! Btw ada foto platinum fashion mallnya ga? Sama fotoin bajunya dong. Penasaran wkwkkwkwk
    Bikin postingan khusus dong: my ootd from bangkok journey. Eaa hahahhaa
    Btw sukses and have fun di kenya!♡

    Like

    • Hety said:

      Halo Ifa… Ahaha, aku nggak sempat foto-foto di sepanjang jalan karena kondisinya petang dan rame. Jadi, grogi mau ngeluarin kamera. Gara-gara jalan sendirian kan … Sayang juga sih nggak sempat foto tapi kalau mau lihat foto Platinum Mall-nya, coba browsing aja. Atau coba aku update deh di postingan ini. Thanks yaaa udah mampir xoxo

      Like

  2. Jet said:

    Hetiiiii aku br sempet mampir ke blogmu. Inspiratif ! Suka banget sama gaya cerita kamu kayak dengerin kamu ngomong. Hehe

    Like

    • Hety said:

      Hai Jet. Ahaha, komenmu nih, lho. Makasih yaaa … Boleh lho kapan-kapan aku didongengin pengalamanmu jalan-jalan selama ini, biar aku tulis 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: