Pengalaman Mengajukan Visa Afrika Selatan

Bulan September lalu, saya dinyatakan mendapatkan Travel Grant untuk mengikuti Global Summit on Community Philanthropy di Johannesburg pada 1-2 Desember 2016. Kabar via email itu membuat saya langsung mengetik kata ‘Johannesburg’ di Google dengan ekspresi masih tak percaya. Johannesburg!!

Johannesburg adalah salah satu kota di Afrika Selatan. Itu ‘secuil’ info yang saya tahu saat mengirimkan aplikasi Travel Grant ke penyelenggara tapi bagai mantra motivasi. Soalnya, hanya dengan kalimat itu saja bisa membuat saya semangat ’45 untuk menjawab lima pertanyaan model esai online yang disyaratkan.

I like to move it, move it .. I like to move it, move it .. I like to move it, move it .. You like to move it, move it!!” Suara King Julian di film Madagascar yang super kocak menggema di kepala saya.

Hei nona, Johannesburg! Bukan Madagascar!

Setelah puas melihat peta Johannesburg beberapa hari (see, betapa noraknya saya) dan mendapat email dari penyelenggara terkait hal-hal yang harus disiapkan, saya harus segera mengurus Visa ke Kedutaan Besar (Kedubes) Afrika Selatan di Indonesia (Jakarta). Maka, dari peta Johannesburg, kini beralih ke ‘Visa Afrika Selatan’ di Google. Sayangnya, tidak banyak info yang saya dapatkan dari blog – pengalaman orang, lebih banyak biro wisata yang menawarkan jasa pembuatan Visa. Jadi, saya putuskan untuk membuka langsung website kedubes Afrika Selatan di Indonesia.

Berikut dokumen yang saya siapkan kemarin. Sebenarnya di website juga sudah ada, lho! dan lengkap! Daftar di bawah ini saya sesuaikan dengan kebutuhan saya. Siapa tahu kamu membutuhkan referensi.
1. Formulir Permohonan Visa B1-84 (bisa diunduh di website)
2. Foto 4×6 berwarna dan berlatar putih 2 lembar
3. Flight itinerary atau tiket perjalanan pulang – pergi
4. Hotel confirmation atau bukti pemesanan hotel
5. Surat keterangan bekerja dalam bahasa Inggris
6. Paspor dan fotokopi pasport 1 lembar
7. Rekening koran 3 bulan terakhir (bisa minta di bank)
8. Undangan dari penyelenggara terkait acara bahwa kamu diundang ke Johannesburg
9. Bukti saya adalah penerima Travel Grant dari penyelenggara

Setelah dokumen terkumpul, pada hari kedua di bulan November, saya pun datang ke kantor Kedubes Afrika Selatan di Indonesia di Wisma GKBI. Sebenarnya, pelayanan Visa baru dibuka pukul 08.30 WIB, tapi saya sudah sampai di sana pukul 07.30 WIB. ‘Ambisius’ ya? Hehe. Maklum, saya tipe orang yang selalu memilih datang pagi untuk mengurus dokumen resmi yang berbau kedinasan/keprotokoleran. Misalnya, SIM, BPJS, SKCK, paspor, dan lain-lain. Selain itu, ini adalah antisipasi kalau-kalau mengantri seperti saat mengajukan Visa ke Belanda dan Korea beberapa waktu lalu. Kamu benar-benar akan melihat orang yang berjuang datang pagi untuk mendapatkan layanan yang berbatas jam. Jadilah (bisa ditebak cerita berikutnya) saat saya menuju lantai 7, saya ditolak mentah-mentah oleh Bapak Satpam yang berjaga dan diminta menunggu di lobi lantai dasar. “Fine! Haha, namanya juga usaha,” kata saya dalam hati sambil balik kanan, bubar jalan.

Saya pun turun lagi ke lobi dan duduk menjadi anak manis di salah satu sofa empuk. Tidak banyak pemandangan menarik pagi itu selain lalu-lalang orang-orang yang berdatangan kerja. Setelah bosan bermain HP, saya mengecek lagi dokumen, terutama formulir, kalau-kalau ada yang belum saya isi, serta memastikan kembali senyuman saya di foto 3×4 sudah pas.

Note: Salah satu keuntungan datang pagi untuk mengajukan Visa seperti ini adalah kamu bisa mengecek kembali dokumen-dokumen yang kamu bawa, termasuk membaca lagi formulir yang sudah kamu isi. Sekadar, menyempurnakan huruf ‘i’ yang belum ada titiknya hehe …

Pukul 08.25 WIB, saya putuskan untuk naik lift (lagi) ke lantai 7. Estimasi saya, 5 menit cukup untuk berjalan dari sofa ke lift, proses lift naik, dan berjalan dari lift ke kantor Kedubes Afrika Selatan. Sayangnya, tidak begitu. Tiba di kantor Kedubes Afrika Selatan masih belum pukul 08.30 WIB juga, masih kurang sekian menit. Bapak Satpam yang sama pun menegur saya (lagi), “Belum buka, Mbak!”. Saya pun menunggu di depan pintu. Berdiri tegak. Keki.

Doo be doo be doo … saya seperti anak hilang. Kikuk. Mau mengajak berbicara satpam, sungkan juga karena Si Bapak begitu jaim dan tegas. Untungnya frozen moment itu hanya sebentar. Pukul 08.30 WIB versi jam tangan Bapak Satpam dan jam dinding kantor kedubes, saya pun dipersilakan masuk. “Silakan masuk, Mbak. Silakan langsung mengisi buku tamu di sana, pukul 08.32,” kata Si Bapak Satpam.

Saya pun menulis nama di map folder besar berisi kertas-kertas bergaris.
2 November 2016. 08.32 (sesuai instruksi Bapak Satpam) Hety A. Nurcahyarini. Filantropi Indonesia. No.HP xxx. Mengurus Visa. Tanda tangan.

Saya sempat kaget setelah menunduk mengisi map folder. Ternyata ada laki-laki berperawakan besar yang ada di dalam bilik. Karena tersekat kaca, saya tak bisa memahami jelas suara laki-laki berdarah Arab/Timur Tengah itu, seperti orang kumur-kumur saja. Lalu, di angkatnya map folder yang tadi saya isi, didekatkan ke kedua matanya, dan senyumnya mengembang.

Si Mister ini senang sekali melihat tulisan saya. Katanya, dia belum pernah melihat tulisan tangan yang mirip ‘ketikan komputer’. Setelah puas, dia pun meminta saya bergeser ke bilik sebelah dan duduk persis di kursi yang ada di depan bilik. Hmm, ramah juga orangnya. Saya pun duduk di kursi (mirip kursi tamu yang ada di rumah) dan memandang sekeliling ruangan. Tidak luas dan tidak sempit, cukup saja. Suasananya homy sekali dengan berbagai hiasan ala Afrika Selatan menempel di dinding dan tertata rapi di rak. Beda sekali dengan ruangan tempat mengurus Visa di kantor Kedubes Belanda dan Korea yang cenderung lebih tersekat-sekat dan official sekali. Mungkin karena tidak banyak juga permohonan Visa ke Afrika Selatan sehingga penataan tempatnya dibuat seperti itu.

Tak lama, muncullah ibu-ibu berwajah Eropa yang meminta semua dokumen yang saya bawa. Ini salah satu bagian dalam mengajukan Visa yang membuat saya merasa jiper. Deg-degan. Si Ibu agak menurunkan dagunya dengan kacamata melorot sampai di hidungnya. Dipandanginya saya, tepat di kedua mata saya. Saya pun hanya menganggukkan kepala dan tersenyum dipandangi seperti itu. Tak berdaya.

Sepuluh menit berlalu, setelah pengecekan dokumen selesai, Si Ibu meminta saya melakukan pembayaran Rp 650.000,00 dan membuatkan saya kuitansi (bukti bayar). Saya pun dipersilakan pulang dan kembali lagi dalam 5 sampai 15 hari.

15 hari kemudian …

Kali ini, saya datang pukul 10.00 WIB ke Wisma GKBI. Kali ini bertemu dengan satpam yang berbeda dari saat saya mengajukan permohonan Visa kemarin. Si Bapak Satpam mempersilakan saya masuk dan mengisi map folder besar berisi kertas-kertas bergaris. Wow! Lagi-lagi saya orang nomor satu di daftar.

Bergeser ke bilik di sampingnya, saya bertemu dengan seorang ibu berdarah Indonesia yang langsung menyambut saya dengan, “Oh, pengajuan yang sudah lama itu, ya?” Tebakan saya, tidak banyak orang yang mengajukan permohonan Visa ke Afrika Selatan. Jadi, bisa jadi para officer kedutaan ini hafal dokumen-dokumen pengajuan Visa, termasuk Visa yang tak kunjung diambil empunya.

Saya mengepaskan waktu 15 hari, Bu.”
Oh, itu kan jangka waktunya, 5 sampai 15 hari. 5 hari pun sudah jadi.”
Oh, terima kasih ya, Bu. Boleh saya ambil peta Johannesburg ini?”
Silakan.”
Mbak, jangan lupa kembali, ya. Itu hanya Visa kunjungan.”
Siap, Bu.”

Demikianlah seri ‘petualangan’ mengajukan Visa Afrika Selatan, akhirnya putri dan pangeran hidup bahagia selama-lamanya. Dengan persyaratan yang jelas, pelayanan yang mudah, ada baiknya kamu mengurus Visa Afrika Selatan sendiri tanpa ‘dibimbing’ agen wisata. Itung-itung pemanasan merasakan ambience Afrika Selatan sebelum kamu berkunjung ke negaranya.

Johannesburg, I am coming!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: