Catatan Kecil Hari Minggu

Catatan kecil hari Minggu yang dibuat di hari Senin.

Ternyata, dari kosan di daerah Salemba lalu lurus ke utara, juga dari kantor di daerah Gunung Sahari, maka akan berjumpa dengan kawasan Jakarta Utara. Beberapa teman menyebutnya, kawasan ‘Transformers’. Kawasan di mana sejauh mata memandang adalah truk dengan muatan yang serba besar dan berat. Serta, bahwa Ancol dan Dufan itu ada di sana, seperti hadiah. Tuhan Maha Adil, kan?

Ancol belok kiri.

Nyatanya, Gojek yang saya naiki melaju lurus. Minggu pagi kali ini, bukan Ancol tujuannya, melainkan Stasiun Tanjung Priuk. Andai bisa bangun lebih pagi, maka busway pilihannya. Sungguh hiburan bisa melihat sesuatu yang sehari-hari tidak dilihat. Ya, truk dengan muatan serba besar, kapal-kapal yang bersandar, dan deretan peti kemas yang tertata mirip kotak sepatu raksasa.

Cilincing, katanya. Saya memang belum sekalipun pernah ke sana. Dari Stasiun Tanjung Priuk (yang ternyata bersebelahan dengan Terminal Tanjung Priuk), bisa naik angkot M 14, begitu instruksi sederhananya. Sedikit tenang karena di Whatsapp Group sudah ada yang berbaik hati share location. Jadi, tinggal dicari saja. Lampu insting petualang ala Dora langsung menyala. Bip bip ..

Nyatanya, share location di Google Map itu hanyalah seperti mantra. Tak selamanya manjur untuk menemukan suatu lokasi. Apalagi di gang-gang dengan batas antar rumah tidak ada satu centi. Mepet!

(dokumentasi foto: Sun)

(dokumentasi foto: Sun)

Tapi inilah sensasi yang saya cari. Jujur. Melihat potret Jakarta lebih dekat setelah sekian hari terjejali oleh berita-berita ala ibukota yang seolah surga. Anak-anak kecil yang berlarian, hilir mudik tukang jualan, ibu-ibu yang sedemikian rupa dengan apa saja yang dikerjakannya, belum lagi motor-motor yang lalu lalang.

Peluh menetes seiring langkah kaki menyusuri gang yang tak kunjung sesuai tujuan. Matahari benar-benar melaksanakan tugasnya dengan baik siang itu. Cerah. Saya bertanya ke sana-ke mari alamat saya akan bertemu dengan malaikat-malaikat kecil ini. Saya baru sadar, di tengah padatnya rumah, orang-orang menjadi benar-benar hafal komunalnya berdasar RT/RW saat ditanya.

Sana, Mbak. Sini. Lurus saja. Lewat saja. Kejauhan. Lewat jembatan. Ujung. Ada gapura. Seberang.

Cilincing benar-benar potret Jakarta ‘sebelah sini’. Saya mencoba memahami. Sungguh, saya tidak sedang mencoba mengkhawatirkan. Toh, jika mereka merasa baik-baik, mengapa kita menjadi terlalu memikirkan? Kita sedang tidak menerapkan standar kebahagiaan yang sama kan?

Ini memang catatan kecil di hari Minggu. Catatan setelah bertemu, lalu keesokan harinya tidak bertemu. Mengganggu di kepala 1×24 jam memang, sehingga harus ‘dituangkan’. Lagi-lagi, ini catatan hari Minggu yang dibuat di hari Senin.

(dokumentasi foto: Sun)

(dokumentasi foto: Sun)

*
Sebuah catatan perjalanan pertama, pemetaan pada sebuah komunitas penerima beasiswa yang sekian tahun diberikan. Anak-anak terus tumbuh dengan beragam motivasi. Sekolah tetap menjadi idola tetapi bagai medan perjuangan. Lingkungan yang akhirnya memberi pilihan.

1 comment
  1. Eni Mega said:

    Mba inget ga cilincing jaman dulu pas kita lihat di film 3 Dara ? kebayang ya mba perubahannya dulu vs sekarang. Jadi inget cerita bapak kalau Jakarta jaman dulu juga sama lah kayak Kebumen. kampung-kampung juga. hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: