Pengalaman Pertama Naik Gunung Lawu (2)

Cerita sebelumnya, hujan yang tak kunjung reda …

Setelah berapa lama (saya tak tahu jam berapa, sepertinya definisi waktu di hutan hanya terang dan gelap, cerah dan hujan). Para pendaki mulai membubarkan diri dari ‘tempat bernaung bersama’. Ada yang melanjutkan naik, ada yang turun. Hujan memang tidak sama sekali berhenti, tapi badai mereda. Sisanya, rintik. Lumayan untuk melanjutkan perjalanan walau dinginnya makin tak karuan.

Sekarang saya dengan Noel dan Melisa. Teman-teman yang lain, seperti Luluk, Ajeng, Puput, dan Ridwan berjalan dulu agar bisa cepat sampai dan mendirikan tenda di Pos 3. Sedangkan, Mas Teguh dan Mbak Rully masih di belakang. Lagi-lagi, kami memang terpisah, masih di jalan yang sama, hanya jauh berjarak.

Masih tertatih-tatih tak ada beda, saya membelah jalan setapak dengan headlamp. Ini baru pos berapa? Saya bukannya merindu kamar kosan ingin pulang, tapi dingin. Mental breakdown-kah ini? Sama seperti nasehat Puput dan Noel, berulang kali mengingatkan untuk tetap bergerak, satu-satunya cara melawan dingin.

Note: please pakai jaket anti air dan angin yang bisa menyelamatkan tubuhmu dari dingin! Sebaiknya memakai itu baru pakai jas hujanmu.

Jalan, naik, turun, duduk, nanjak, belok, jalan, naik, turun, duduk, nanjak, begitu seterusnya yang saya ingat. Badan ini seperti sudah autopilot.

Oh ya, saya lupa cerita. Malam itu adalah malam satu Suro. Banyak sekali orang-orang (baik orang berpakaian pendaki seperti kami atau masyarakat umum) naik turun. Saya kagum dengan bapak/ibu yang sudah berumur, yang tanpa peralatan naik gunung – bermodal tas plastik berisi makanan dan air mineral, bisa lincah menaiki dan menuruni medan.

Kami saling bertegur sapa, menyemangati walau tak kenal nama. Macam-macam bahasanya, dari bahasa Indonesia sampai bahasa Jawa. Sempat ada yang melihat saya yang kelelahan, seorang Ibu menyemangati saya, “Ayo Mbak, sebentar lagi pos 3. Itu hanya di depan setelah belokan.”

Noel mungkin tak tega melihat saya yang mulai ‘nampak’ kelelahan dan mulai meracau capek mengantuk. Saya mencoba melawan. Saya mengutuki diri saya sendiri yang mulai manja dan mulai refleksi apa tujuan saya naik gunung kalau hanya untuk menyusahkan orang lain. Akhirnya, dengan strong, Noel membawakan carier saya! Duh, malunya!

Setelah beberapa menit berjalan berjalan, mulai terdengar suara-suara berisik dalam kegelapan. Ada yang berkerumun. Ternyata, Si Ibu tidak bohong. Teman-teman yang sudah duluan sampai, nampak mulai mendirikan tenda. Ya, dengan cuaca seperti ini, sepertinya tidak mungkin kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Lebih baik beristirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Hal pertama yang saya lakukan adalah berganti baju dan ‘memerdekakan’ kaki dari sepatu dan kaos kaki basah. Lega! Badan mulai menghangat dengan pakaian yang kering.

Malam itu, kami mulai (bisa) bercanda dan merumuskan rencana untuk keesokan harinya. Bangun jam 5 pagilah, masak-memasaklah, sampai apa yang akan dilakukan di puncak (jajan pecel Mbok Yem yang terkenal itu tuh).

Keesokan harinya. Doo be doo be doo… . Nyatanya, tidak ada yang bergeming dari tenda di jam 05.00 pagi. Semuanya khusyuk di tenda masing-masing. Mengejar sunrise? Hmm, tak ada yang peduli sepertinya. Pukul 06.00, baru ada tanda-tanda kehidupan. Kompor mulai dihidupan, ‘panci-pancian’ mulai diisi air, bahan makanan dan sayuran disatukan. Di antara kehebohan kami memasak, orang-orang berlalu lalang. Nampaknya mereka akan terus melaju sehingga bisa turun dari puncak sebelum siang.

Kami baru siap sekitar pukul 10.00. Di saat pendaki lain yang naik subuh tadi turun, kami baru akan naik ke puncak. Carier kami tinggal di tenda bersama Mbak Rully yang memutuskan untuk beristirahat karena tidak enak badan. Saya baru sadar tempat kami bermalam adalah pos 3, berarti masih akan ada dua pos lagi yang harus kami lalui untuk sampai di puncak. Medannya masih sama, berbatu dan menanjak. Oke, kami siap.

Halo kamu, Adidas Biru, Si Sepatu Lari.  Sepatu yang bikin pengalaman naik gunung pertama jadi manis, asem, asin kepeleset-peleset. (Dokumentasi: Mbak Ruli).

Halo kamu, Adidas Biru, Si Sepatu Lari. Sepatu yang bikin pengalaman naik gunung pertama jadi manis, asem, asin kepeleset-peleset. (Dokumentasi: Mbak Ruli).

Note: jangan pakai sepatu lari buat naik gunung!

Singkat cerita, pos 4, pos 5 (baca: puncak), plus jajan pecel di warung Mbok Yem berhasil kami lalui. Kami tidak berlama-lama, pokoknya asal foto jepret, jepret, jepret, sudah. Targetnya, kami sudah harus sampai Stasiun Madiun pukul 22.00 WIB untuk kembali ke Jakarta. Nyatanya, saat perjalanan turun gunung, hujan kembali menerjang kami. Semula hanya gerimis lalu menderas. Dengan rute jalan yang menurun dan berbatu, saya tertatih-tatih karena terpeleset di antara bebatuan dan tanah yang becek. Dalam hati, saya hanya berjanji pada diri saya sendiri untuk menyelesaikan semua ini. Cobaan hujan badai saat naik kemarin membuat saya lebih struggling menuruni jalanan arah pulang.

Puncak bersama kalian, PM Menggunung! (Gunung Lawu, Hargo Dumilah 3265 mdpl) (Dokumentasi: Melisa)

Puncak bersama kalian, PM Menggunung! (Gunung Lawu, Hargo Dumilah 3265 mdpl) (Dokumentasi: Melisa)

Teman seperjalanan yang menemani naik Gunung Lawu pertama. Thank you! (Dokumentasi: Melisa)

Teman seperjalanan yang menemani naik Gunung Lawu pertama. Thank you! (Dokumentasi: Melisa)

Tetiba saya ini tertawa sendiri sampai di paragraf ini. Bukan berarti saya menggampangkan, lho. Saya bisa menulis seperti ini karena kemarin saya sudah mengalaminya sendiri. Kalau kemarin pas saya mendaki, yaa … semua bagai birthday surprise bagi saya. Ya rutenya, ya jalanannya, ya cuacanya … semua deh!

Note: Naik gunung benar-benar membuat kita tahu limit kita.

Noel, saksi yang menemani saya jatuh bangun, sempat bertanya, “Kapok nggak, Het, naik gunung? Awas ketagihan, lho!” Saya hanya tertawa mengiyakan. Nggak kapok, seruuuu! Sambil menatap ke bawah, melihat sepatu lari saya yang coreng-moreng terkena gesekan batu. Mau naik gunung lagi tapi nggak lagi-lagi deh pakai sepatu lari. Terima kasih Gunung Lawu jadi pengalaman pertama naik gunung.

Ini quote yang pas banget untuk menggambarkan pengalaman pertama naik gunung saya kemarin.

Ini quote yang pas banget untuk menggambarkan pengalaman pertama naik gunung saya kemarin.

Cerita akhirnya Hety naik gunung berakhir di sini 🙂

Baca cerita sebelumnya:
Bagian 1 cerita ini: Kenalan PM Menggunung
Bagian 2 cerita ini: Pendaki Pemula Berbagi Cerita
Bagian 3 cerita ini: Pengalaman Pertama Naik Gunung Lawu (1)

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: