Pendaki Pemula Berbagi Cerita

((( Yuk, ke Lawu besok Oktober! )))

Kalimat itu menggema di kepala saya berulang kali. Belum lagi bumbu (saya lebih suka menyebutnya racun), “Ayo, Het, ayo Het … ” dari teman-teman PM Menggunung benar-benar menggelitiki mimpi saya untuk pecah telor naik gunung. Ngg … . “Nanti bareng-bareng kok, nanti ditemenin kok, nanti jalannya pelan-pelan kok,” kata seorang teman yang melihat keraguan di wajah saya sekaligus optimis melihat muka saya yang setengah sumringah ‘doyan’ tantangan. Nah!

"Pada suatu hari, di negeri dongeng, ..." kalau Mel sudah mulai cerita soal drama naik gunung, adanya cuma ketawa (Dokumentasi: #SelepasPenempatan)

“Pada suatu hari, di negeri dongeng, …” kalau Mel sudah mulai cerita soal drama naik gunung, adanya cuma ketawa (Dokumentasi: #SelepasPenempatan)

Singkat cerita, Whatsapp Group dibuat. Lawu, begitu namanya. Teman-teman yang berniat berangkat ke Lawu dikumpulkan dalam satu ‘kandang’. Tanggal ditentukan bersama urut-urutan perjalanan (itinerary). Wiii, sebut saja ini adalah rencana perjalanan paling konkret yang pernah ada!

Tiket Kereta Api
Rencananya, kami akan mendaki Lawu dari Cemoro Sewu. Sebagai orang yang baru pertama kali mendaki, jujur, saya enggak ada gambaran sama sekali seperti apa Cemoro Sewu itu. Jadi, nurut dengan teman-teman saja. Rutenya adalah Jakarta – Madiun dan kami sepakat untuk naik kereta ekonomi.

Cek deh di website pemesanan tiket kereta api indonesia. Kereta api ekonomi yang melayani rute Jakarta – Madiun adalah Matarmaja dan Brantas. Rombongan saya terbagi dua, ada yang naik Brantas dan ada pula yang naik Matarmaja. Tiket Brantas biasanya lebih cepat habis daripada tiket Matarmaja karena lebih murah. Oh ya, pesan jauh-jauh hari ya agar enggak kehabisan!

Akhirnya, saya, Ridwan, dan Noel naik Kereta Api Matarmaja. Mel, Mas Teguh, dan Puput naik Kereta Api Brantas yang berangkatnya kurang lebih 1 jam setelah Kereta Api Matarmaja. Serta, Ajeng, Mbak Rully , dan Luluk sudah dulu sampai di Madiun (ceritanya, mereka jalan-jalan dulu di Madiun). Pas bersembilan!

Pembagian Tugas
Jangan sangka Whatsapp Group yang kami buat hanya untuk haha hihi aja. Di sini kami menyiapkan segalanya, termasuk saling mengingatkan sudah olahraga belum hehe. Di Whatsapp Group, kami berkoordinasi tentang peralatan yang dibutuhkan untuk pendakian, misalnya peralatan yang harus ada dalam kelompok dan peralatan individu. Semuanya dibagi dengan riang gembira, sama beban, dan dikompromikan.

Barang yang Dibawa
Again, please, ini pendakian gunung ya, bukan fancy traveling! Jadi, barang yang dibawa adalah barang yang dibutuhkan untuk pendakian serta menjamin keselamatan kita selama di gunung. Logikanya, dingin bawa jaket dan sarung tangan, hujan bawa jas hujan, di gunung nggak ada Indomaret berarti bawa bekal secukupnya. Nah!

Sebagai pendaki pemula, saya banyak belajar dari teman-teman yang sudah pernah naik gunung sebelumnya. Di Whatsapp Group, Mel langsung share peralatan yang dibawa. Kalau misal nggak punya, bisa pinjam, sewa, atau beli sekalian kalau menurutmu itu bisa untuk investasi. Misal, sleeping bag. Nggak hanya bisa dipakai untuk naik gunung, tapi ke depan kalau kamu pergi-pergi ke tempat yang lain. OOT ya, jadi inget temen saya saat KKN yang memilih tidur di sleeping bag daripada di tempat tidur. Padahal rumah Bapak Kepala Desa yang kami tempati, menyediakan kamar dengan tempat tidur lumayan.

Sharing dari Mel. Peralatan yang harus dibawa, baik kelompok maupun individu.

Sharing dari Mel. Peralatan yang harus dibawa, baik kelompok maupun individu.

Selain itu, ada seorang teman juga yang ngingetin lagi peralatan yang harus saya bawa. Dia nggak ikut pendakian kali ini tapi cukup concern karena tahu saya baru pertama kali. Jadi, akhirnya saya kombinasikan saja dua rekomendasi ini.

Sharing dari teman saya. Ini yang membuat saya tertawa, nomor 0  peralatan solat.

Sharing dari teman saya. Ini yang membuat saya tertawa, nomor 0 peralatan solat.

Olahraga!
Eh, kamu olahraga Het? Haha. Jadi malu. Saya hanya sempat joging satu kali. Jujur, itu nggak cukup banget sebenernya. Tapi, setiap hari, baik berangkat ke kantor atau pulang kantor, saya selalu jalan kaki dan naik turun tangga busway (justifikasi =p). Kalau inget pengalaman naik Gunung Lawu kemarin, itu nggak cukup. So sad but true, saya sempat ‘lelah’ berjalan kemarin. Pokoknya, olahraga deh!

Sebelum hari-H pendakian, kamu harus olahraga. Ini serius dan beneran. Selain untuk stamina, olahraga akan membantumu mengatur pernafasan. Medan naik gunung itu pada umumnya menanjak dengan rute yang berkelok. Kalau kamu nggak terbiasa berolahraga, kamu akan mudah terengah-engah dan kehabisan energi. Pilihan olahraga yang bisa diambil, misalnya joging dan berenang.

Mental Breakdown
Saya ngerti kok, selalu ada rasa deg-degan setiap melakukan hal yang sebelumnya belum pernah kita lakukan. Wajar karena kita masih nol pengalaman. Bertanya pada orang yang pernah melakukan bisa membuat kita lebih tenang, lebih excited atau sebaliknya, semakin down. So, itulah tujuan paragraf ini dibuat.

Kalau besok adalah pendakian perdanamu juga dan kamu merasa deg-degan nggak karuan, kamu jodoh membaca tulisan ini. Kamu nggak sendiri, saya juga mengalami itu jelang keberangkatan ke Lawu kemarin. Berikut daftar mental breakdown alias hal-hal yang membuat nyali ciut, enggak semangat, takut, grogi, dan gelisah dari pengalaman kemarin. Padahal jalan-jalan kan harusnya happy, ya!

1. Googling tentang gunung yang akan didaki
Saking excited-nya pendakian perdana dan keasyikan googling, saya melahap semua artikel di Google tentang Gunung Lawu. Sempat takut karena saya jadi tahu ternyata Gunung Lawu cukup mistis. Serta, ada sebuah artikel yang menyarankan untuk tidak menggunakan peralatan berwarna hijau. Saya langsung melirik carier, jaket, dan peralatan saya yang warnanya nyaris berwarna hijau semua (green is my favorite color, actually). Untungnya, Mel mengingatkan di Whatapps Group dengan bijak: “Selama ini kalau berangkat dengan niat baik, insyaaallah selamat.” Aw, thanks Mel!

Sebenarnya, enggak ada yang salah dengan googling di internet. Ya, paling nggak kamu jadi ada preferensi tentang kondisi gunung yang akan kamu daki. Misalnya, blog yang mengulas keindahan alam, pengalaman mendaki, atau sekadar tips pendakian. Tapi, hati-hati kalau kamu justru ‘terdampar’ di website yang mengulas ‘sisi lain’ gunung itu. Oke, mengetahui sisi mistis adalah hal bisa kamu ketahui agar kamu tidak sembrono saat di sana. Tapi memasukkan itu ke dalam pikiran justru akan membuatmu takut dan was-was. Be positive!

2. Teman
Simak percakapan Whatsapp saya dengan teman berikut. Mungkin maksudnya baik ya, perhatian dan khawatir dengan saya yang baru pertama mendaki, tapi saya yang masih 0 pengalaman ini justru jadi takut. Hiks!

Chatting Whatsapp sama temen yang berujung deg-degan.

Chatting Whatsapp sama temen yang berujung deg-degan.

Untungnya, kami di Whatsapp Group Lawu saling mengingatkan. Yang sudah pernah mendaki berbagi ketenangan dengan yang baru pertama mendaki. Jawaban Noel, “Semua gunung sepanjang tahun selalu batuk. Kalau Lawu, sejauh ini masih bisa didaki dan belum ada edaran larangan ke sana.” Disamber Mel, “Pokoknya, kalau naik gunung mah positif ajaaa … kalau mau hujan ya iyyain aja, mau kepanasan yaiyain aja. Yang penting bahagia.” Nah!

Saya bisa nulis seperti ini karena kemarin saya mengalami semuanya sendiri. Ini masih persiapan, ya! Sukses untuk kamu yang akan pendakian perdana. Terus gimana cerita saya naik Gunung Lawu kemarin dengan teman-teman #PMMenggunung? Lanjut ke posting berikutnya, ya.

Bersambung ke …

Bagian 3 cerita ini: Pengalaman Pertama Naik Gunung Lawu (1)
Bagian 4 cerita ini: Pengalaman Pertama Naik Gunung Lawu (2)

Baca cerita sebelumnya: Kenalan PM Menggunung

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: