Keenam Belas Tapi Yang Pertama

Catatan kecil seorang peserta, bukan note taker.

"Berharap pada bintang jatuh, biar bisa make a wish .." Lagu dari @oppieandaresta tentang sahabat kecilnya, seorang pengamen jalanan.

“Berharap pada bintang jatuh, biar bisa make a wish ..” Lagu dari @oppieandaresta tentang sahabat kecilnya, seorang pengamen jalanan.

Senin (17/10) adalah Supermentor pertama saya, Sepermentor seri ke-16. Serinya memang sudah ke-16, tetapi ini baru pertama untuk saya. Ke mana aja saya selama ini? Kalau kamu tanya begitu, saya jawab, saya adalah orang yang selalu tidak kebagian tiket. Lebih detail lagi, kategori orang yang kalau nge-klik Eventbrite Supermentor, terhibur oleh tulisan ‘sold out’. Cukup drama, kan?

Singkat cerita, akhirnya saya mendapatkan tiket untuk seri ke-16 ini. So, kemarin malam, kamu bisa membayangkan semangat saya datang ke XXI Ballroom Djakarta Theater, sepulang kerja. Sttt … Supermentor pertama saya!

Topik Supermentor 16 kali ini adalah ‘End Poverty, Bisakah Umat Manusia Mencapai Nol Kemiskinan di Abad 21?’. Ini masih terkait dengan 17 Tujuan Pembangunan Global/Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 1, ‘End Poverty‘. Enggak hanya temanya, narasumber Supermentor 16 juga enggak kalah kece. Sebut saja Dino Patti Djalal – founder Foreign Policy Community of Indonesia, Paul Grigson – Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rodrigo Chaves – Country Director World Bank Indonesia, Vivi Alatas – Lead Economist World Bank, Reza Rahadian – UNDP SDGs Mover, dan Sri Mulyani – Menteri Keuangan RI.

Serba Antri
Pukul 17.15 WIB saya tiba di XXI Ballroom Djakarta Theater. Sesuai konfirmasi email yang saya terima, kami diminta hadir pukul 16.30 WIB untuk menghindari hujan atau kemacetan (masalah klasik Jakarta hehe). Pukul 17.00 WIB, panitia baru open gate untuk pengecekan tiket. Betapa terkejutnya saya, ternyata antrian sudah mengular. Tidak hanya di luar, juga di dalam untuk mengambil hidangan coffee break. Semuanya tampak jelas, karena baik kami yang di luar atau di dalam, bisa saling pandang lewat dinding kaca, khas gedung XXI.

Peminat Supermentor memang luar biasa. Tenang. Antrian berjalan lancar dan tertib kok. Jangan kaget jika saat pintu ballroom dibuka, brrr … semua ‘berjuang’ menduduki bangku depan. Saya yang hadir sendiri kemarin malam excited juga. Lumayan, saya mendapat bangku tengah – depan. Mayoritas yang hadir mengajak teman segang, jadi sesekali terdengar heboh cekikikan. Dari kostumnya juga, mayoritas pulang kerja (wajah-wajah kelas pekerja muda Indonesia-lah, eh).

Pembicara Oh Wow!
Setelah mempimpin ‘tradisi’ Supermentor – standing applause 60 detik – Dino Patti Djalal membuka acara dan berbagi cerita tentang ‘best poverty terminator’. Dengan slide bergambar Arnold Schwarzenegger, best poverty terminator adalah education, pro poor technology, dan entrepreneurship‘. Dino menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan interaktif di depan penonton yang hadir malam itu.

Setelah Dino Patti Djalal, Paul Grigson maju ke panggung dan menyampaikan sambutannya. Duta besar Australia untuk Indonesia itu menyampaikan pentingnya kontribusi setiap orang dalam mengakhiri rantai kemiskinan. Tidak ada penggolongan kontribusi besar atau kecil. Justru yang terpenting semua harus memulainya sekarang, apalagi kaum muda (youth).

Panggung kembali riuh saat Reza Rahadian dipanggil naik ke atas panggung. Reza adalah magnet acara malam ini. Semuanya menurut bagai tersihir saat Reza meminta penonton mengumpulkan uang Rp 1.000,00 ke panggung. Dari deretan bangku belakang, tak henti-hentinya uang logam dan kertas disalurkan melalui penonton. Tidak sampai 15 menit, uang sudah terkumpul dalam empat atau lima kantong plastik. Reza mengaitkan hal itu dengan menjelaskan kontribusi setiap orang dalam program Bring Water for Life untuk masyarakat Sumba yang diinisiasi oleh UNDP Indonesia.

Selang beberapa menit kemudian, Dino kembali ke panggung untuk memandu dialog dengan Rodrigo Chaves dalam bahasa Inggris. Country Director World Bank Indonesia itu menyampaikan pentingnya berinvestasi pada sumber daya manusia, melalui pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Tujuannya, agar manusia itu bisa produktif dan mampu menghasilkan sesuatu sehingga berdaya dan tidak terhimpit rantai kemiskinan. Dino menutup dialog dengan pertanyaan unik (menarik menurut saya), “Apa yang menurutmu baik dari orang Indonesia tapi orang Indonesia tidak cukup pede mengakuinya?” dan jawaban Rodrigo adalah orang Indonesia harus asertif dalam mengemukaan pendapatnya. Tidak perlu takut karena menurut Rodrigo, orang Indonesia memiliki sikap hangat – bersahabat dan sopan. Nyess deh, dengernya.

Oke, kamu mulai bosan membaca, ya. Saya pun enggak ingin tulisan di blog ini menjadi notulensi atau resume meeting kebanyakan. To the point aja, ya. Setelah Rodrigo Chaves, pembicara selanjutnya adalah Vivi Alatas, Sri Mulyani dengan ‘Addressing Poverty and Inequality’-nya melalui mekanisme kebijakan fiskal, dan Paul Grigson (lagi).

Vivi Alatas dan Superconnector
Malam itu adalah kali pertama saya bertemu dan mendengar sharing dari Vivi Alatas. Selang lima menit, Vivi berbicara di atas panggung, saya langsung googling, mencari info tentang Vivi Alatas. Dari semua narasumber, sharing dari Vivi Alatas adalah yang paling ‘nyantol’ di otak saya, bahkan sampai tulisan ini dibuat.

Penampilan Vivi Alatas di panggung Supermentor 16.

Penampilan Vivi Alatas di panggung Supermentor 16.

Saya sangat meng-iya-kan, mengamini, dan sepakat dengan gagasan ‘superconnector’ seperti yang disampaikan Vivi Alatas di panggung Supermentor 16. Superconnector tidak membutuhkan apa-apa selain niat baik dalam menyebarkan informasi yang bermanfaat. Menurut Vivi, daripada membuat status ‘sedang apa, dengan siapa, di mana’ di media sosial, lebih baik kita membagikan hal-hal positif atau informasi kepada orang lain. Misalnya tentang info Kartu Indonesia Pintar, beasiswa, tips sukses wawancara kerja, dan lain-lain.

Lalu hubungannya dengan kemiskinan? Ya, kita bisa menolong orang lain dengan memberikan informasi yang bermanfaat. Bisa jadi orang yang tergolong miskin di Indonesia adalah orang-orang yang tidak tahu: pentingnya, haknya, dan caranya. Di situlah, superconnector hadir dan memberikan informasi melalui word of mouth (baca: ngobrol) atau kemajuan teknologi (sharing di media sosial, broadcast info di Whatsapp, dan lain-lain). Mudah bukan? Setiap orang bisa melakukannya, mulai dari lingkar sosial terdekatnya, seperti keluarga dan teman.

Vivi memberikan studi kasus di Zimbabwe. Petugas salon yang biasanya melayani jasa mengepang rambut dengan leluasa bisa mengajak pelanggannya untuk mengobrol. Salah satu yang diobrolkan adalah tentang pencegahan HIV Aids. Tanpa disadari, petugas salon itu adalah superconnector yang melakukan sosialisasi sekaligus memberikan informasi. Menyebarkan kebaikan juga, kan?

Jadi, Supermentor 16 kali ini …
Saya pengen datang lagi! Saya suka acara ini walau harus mengantri. Sesederhana, saya suka diceramahi, didongengi, diberitahu dengan hal-hal yang saya belum tahu. So sad but true, sering kali, kita berjumpa dengan orang yang banyak bicara tetapi tanpa inti, kosong. Itu nggak sehat, menurut saya. Coba duduk dan diam, dengar dan resapi (bahkan catat) hal-hal yang menarik dari sebuah forum di mana orang berbicara menarik dan bermakna.

Kalau acara Supermentor didesain untuk memberikan anak muda inspirasi dan pencerahan, saya akui malam itu saya kagum dengan sharing dari Vivi Alatas. Sure! Ini buktinya. Menulis blog tentang pengalaman pertama mengikuti Supermentor adalah cara saya untuk menjadi superconnector. Siapa tahu pembaca blog saya juga jadi ingin mengikuti acara Supermentor dan terinspirasi bersama. Sampai jumpa di Supermentor 17! Note: jangan sampai kehabisan tiket =b.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: