Jujur Bukan Berasal Dari Buku PPKn

Jujur adalah salah satu sikap terpuji dan sifat baik. Setiap orang, bahkan warga negara, diharapkan mempunyai sifat jujur. Saking mulianya, jujur menjadi satu bab tersendiri dalam buku pelajaran PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaran). Buku berwarna merah-putih dan bergambar Pancasila itu, menjelaskan bab jujur dengan cerita dan gambar yang sangat jelas untuk dipahami anak usia Sekolah Dasar.

Kamu pernah meliat buku itu? Buku itu kudapat dari perpustakaan dan tidak diperjual-belikan bebas. Kami semua hanya dipinjami.

Yah, itulah pendapatku kalau ditanya tentang Jujur. Hal itu menjadi begitu berkesan untuk dikenang sampai sekarang padahal saat itu aku baru duduk di bangku Sekolah Dasar. Bisa jadi karena cerita dan gambar yang ada di buku pelajaran itu. Mudah sekali untuk dihafal. Terlebih kalau muncul di soal ujian rowami dua (II) bagian mengisi titik-titik. Aku dan teman-teman bisa dengan mudah mengisikannya.

Sayangnya, itu hanya ‘pemandangan’ di sekolah. Itu hanya di kelas, sebuah ruangan berukuran 4×6 m. Itu hanya saat pelajaran PPKn yang berdurasi 2 x 45 menit, di mana dalam seminggu hanya dua kali pelajaran PPKn. Selebihnya?

Saat ulangan Matematika, beberapa teman tampak gelisah. Gerak-gerik yang ganjil bisa terbaca mulai dari bola mata yang melirik ke kanan dan ke kiri, posisi tangan yang ada di bawah meja dan berusaha meraih sesuatu yang ada di laci, sampai memelototkan bola mata sedemikian rupa memandangi meja kayu karena di sanalah rumus-rumus (baca: contekan) tertulis secara acak bagai sandi – hanya penulisnya yang bisa membaca.

Aku bisa detail betul menjelaskan karena aku hanya bisu melihat ‘parodi’ yang terjadi saat ulangan Matematika di kelas. Tidak sampai satu jam padahal. Sebagai anak, sebenarnya kami semua ketakutan mendapatkan nilai jelek. Ibu guru hobi sekali meminta kami untuk meminta tanda tangan orang tua di setiap hasil ulangan kami. Kalau sampai nilai jelek bersanding dengan tanda tangan orang tua, fiuh, bisa terbayangkan apa yang terjadi selanjutnya?

Oke, aku adil kok. Berikutnya, giliran pengakuan dosaku. Ruang kelas bukan ‘arenaku’. Sebagai anak yang mudah panik, gelagat anehku saat mencontek akan dengan mudah diketahui Ibu Guru. Aku hanya akan jadi bahan tertawaan teman-teman sekelas. Jadi, aku lebih memilih belajar mati-matian semalaman untuk berjuang mendapatkan nilai di atas 5. Nilai 6 untuk ulangan Matematika dan bonus dimarahi orang tua, sudah menjadi sebuah anugerah bagiku.

Di swalayan, saat menemani mama belanja, aku merengek habis-habisan. Aku melihat kepala kelinci berwarna pink di deretan rak permen – coklat dan ingin membelinya. Apa daya mama melarang. Bagi mama, kepala kelinci itu tidak ada artinya. Sebenarnya, aku juga mengakuinya. Kepala kelinci itu seperti bagian dari wadah permen tapi sudah lepas. Jadi, dibeli dengan uang pun akan sangat mubazir. Diam-diam, kukantongi kepala kelinci tak bertuan itu ke saku celana.

Sesampai di rumah, kepala kelinci itu menjadi bagian dari permainan bongkar pasang yang aku mainkan sehari tiga kali. Kepala kelinci itu menjadi sangat menggemaskan bertemu dengan mainanku yang lain. Dia tak nampak kesepian sekarang, seperti saat di rak permen – coklat swalayan. Menyenangkan untuk dipandang, tapi tidak untuk dikenang. Aku tidak jujur pada mama, pada petugas swalayan, dan pada diriku sendiri. Aku mengambil barang diam-diam. Pun, atas nama mainan tak bertuan di rak swalayan atau rasa kasihanku yang terlalu besar pada mainan kepala kelinci.

Kini, setelah belasan tahun dan aku tumbuh besar, kenangan itu benar-benar tidak bisa hilang. Antara sedih dengan sikapku kala itu, juga pembelajaran yang aku refleksikan. Jujur ternyata bukan sekadar cerita yang ada di buku PPKn. Jujur ternyata bukan sesuatu untuk dihafalkan. Jujur juga bukan normatif, buku teks, melainkan sesuatu yang harus dilakukan dan dikatakan karena adanya hati nurani.

Lagi. Jujur bukan berasal dari buku PPKn, melainkan hati nurani. Hati nurani membuat kita bersaksi pada diri sendiri tentang kondisi yang sebenarnya. Ya, ini sederhana tapi banyak yang mengerdilkannya. Mereka mengerdilkan suara hati dan justru membesarkan volume ego untuk berbuat sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani (baca: tidak jujur).

Bagiku, jujur pada diri sendiri adalah latihan kejujuran yang paling dasar tapi penting dan selamanya. Sejak kecil sampai sekarang (sampai kapan pun bahkan), aku masih berproses berlatih. Saat kecil (pasca kejadian mainan kepala kelinci), aku mulai berlatih untuk jujur pada mama tentang pendapatku walaupun aku termasuk anak penurut dan mengiyakan semua pilihan mama. Misal, bahwa aku lebih suka buku gambar daripada boneka.

Pun, saat ini, setelah dewasa, aku tetap berlatih jujur pada diri sendiri, setiap hari. Aku akan menyampaikan pendapat sesuai dengan apa yang aku rasakan. Tak perlu takut, selama hati nurani mendampingi. Dengan dimulai dari diri sendiri, aku merasakan kenyaman yang tiada tara untuk tindakan jujur berikutnya.

Jadi, katakan, “Ya, aku berani dengarkan hati nurani. Aku anak jujur.”

Aku bisa, aku kuat, aku anak baik.

Aku bisa, aku kuat, aku anak baik.

Tulisan diikutsertakan dalam rangka Lomba Menulis Blog Tentang Kejujuran oleh KPK RI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: