Tahu Bulat, Sebuah Self-Talk

Saya tidak tahu mengapa Tahu Bulat bisa sefenomenal ini. Jingle (lagunya)? Oke. Konsepnya? Oke. Lalu apa lagi yang membuat Tahu Bulat menjadi populer di antara makanan lainnya?

Beberapa waktu yang lalu, saat kemunculan Tahu Bulat dan orang-orang ramai membicarakannya? Saya hanya melongo. Jauh sebelumnya, saat masih kos di daerah Setiabudi, saya pernah memesan dua plastik Tahu Bulat untuk potluck di sebuah acara. Cantik memang bentuknya saat digoreng dengan minyak panas. Belum lagi, semerbak aroma yang tercium.

Singkat cerita, sesampai di tempat acara, tahu itu menjadi asimetris. Ibarat ban, dia kempes. Antara kaget dan malu, yang penting niatan baik saya untuk kontribusi di potluck sudah tercatat oleh malaikat. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tidak ‘berhubungan’ dengan Tahu Bulat lagi. Bagi saya, Tahu Bulat hanya menyenangkan dipandang saat digoreng, tidak untuk dibawa pulang.

Maka kagetlah saya saat tiba-tiba Tahu Bulat menjadi mainstream dengan tampilan barunya, pick up (mobil bak terbuka), padahal sebelumnya hanya gerobak biasa.

Belum lagi kisah ini. Saat menjadi asesor untuk relawan sebuah yayasan, orang yang saya wawancarai dengan sigap mengait-ngaitkan sifatnya dengan keberadaan Tahu Bulat. Kosa kata kekinian, sepertinya.

Mbak, aku tuh orangnya harus terencana, sistematis.”
Oh ya?”
Iya, nggak bisa mendadak kayak tahu bulat yang digoreng dadakan..”
Oh!”

Saking lamanya tak bersua dengan Tahu Bulat, ada seorang teman yang kaget saat saya mengaku belum pernah makan Tahu Bulat. Sesungguhnya, saya menjawab ‘belum pernah’ hanya karena sudah lupa rasanya seperti apa. Saya pernah makan Tahu Bulat versi gerobak tapi belum pernah makan Tahu Bulat versi pick up.

Setelah percakapan itu, jadilah malam ini, saat bertemu dengan pick up Tahu Bulat yang ngetem di pinggir jalan, saya membeli enam buah Tahu Bulat dalam plastik (1 buah Tahu Bulat Rp 500,00). Seperti ajaran teman saya kala itu, saya memesan versi original (tanpa bumbu). Hangat-hangat, saya masukkan Tahu Bulat ke dalam tas dan bergegas pulang. Sesampai di kos, bentuk tahu itu sudah asimetris. Saat saya makan, saya seperti bernostalgia dengan tahu yang dulu saya beli di pasar di daerah Setiabudi. Rasanya? Jeng-jeng … Sama!!

Dibalik Tahu Bulat, sebuah self-talk:
Tidak semua hal yang mainstream itu wajib diikuti. Pun sekedar menggugurkan kata ‘belum pernah’. Menjadi diri sendiri yang original itu wajib. Keyakinanmu yang akan dihargai orang, bukan apa yang sudah kamu lakukan seperti yang kebanyakan orang lakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: