‘Pizza Ideology’

Bolehkah membuat setiap orang bahagia? Bisakah membuat setiap orang bahagia?

Semua ini berawal saat sebuah akun populer di Instagram memposting gambar pizza dengan tulisan “You can’t make everyone happy, you are not pizza!”. Pernah kamu nemu yang seperti itu? Kala itu, saya hanya manggut-manggut tanda setuju, mengklik gambar love, sambil lanjut scrolling down lini masa Instagram tanpa berprasangka apa-apa.

Lama berselang, tiba-tiba, pada suatu pagi, saat berangkat ke kantor, kalimat itu muncul lagi di kepala saya. “I want to be a pizza!” Mungkin ini salah satu akibat terlalu bersemangat menyambut pagi dan berangkat ke kantor (sebentar, atau efek sepatu baru? hehe).

Curiga. Saya langsung menginvestigasi kepala saya sendiri, “Hayo ngaku, siapa tadi yang bilang?”

Pikiran ini langsung tertuju pada sebuah gambar di Instagram yang saya love beberapa waktu lalu. Dalam pikiran saya, langsung ada dua kubu yang berdialog seru.

Apa enaknya jadi pizza sampai ingin begitu?”
Jobdesc-nya tunggal, bikin orang lain happy.”
Is it good?”
Yes. Single jobdesc.”
Yakin?”
Let’s compare with your jobdesc, eh…”.

Memang, ada benarnya kita nggak bisa membuat senang setiap orang. Ada saja yang harus dikorbankan. Seorang pemimpin menurut saya, adalah orang yang paling lihai dalam urusan ini. Dia yang membuat keputusan. Mau bikin orang senang atau justru menyusahkan, ya apa mau dikata. Beberapa kali, saya berinteraksi dengan bos model seperti ini. Setelah membuat keputusan dan cenderung kontroversial, beliau akan berguman, “Ya, kita emang nggak bisa bikin happy setiap orang!”

Kalau sudah begitu, biasanya saya tak berkomentar. Bagi saya yang tipe ‘enggak enakan’, I will try everything to make everyone happy. Saat jadi koordinator misalnya, saya memastikan setiap kepentingan anggota terakomodasi. Istilahnya, tidak ada yang ‘terluka’ dari setiap keputusan rapat. Enggak sehat juga sebenarnya. Beberapa teman sudah memberi feedback, “Coba jadi orang yang tegaan dikit, Het! Mereka baik-baik saja tanpa kamu bela-belain.”

Anyway, saya jadi ingat Santa Clause. Terlepas dari ada-tidaknya Santa Clause, coba, siapa yang ingin jadi Santa Clause? Santa Clause digambarkan sebagai sosok yang happy karena selalu berbagi. Di dongeng-dongeng, Santa selalu sibuk dengan daftar hadiah untuk anak-anak yang memohon padanya. Pun kerepotan membawa berkarung-karung hadiah, Santa selalu tampak easy going, datang dari satu rumah ke rumah lainnya. Bahkan bukan lewat pintu, melainkan lewat cerobong asap yang tak lazim dan cenderung menyusahkan diri. Tapi siapa peduli? Jobdesc Santa hanya satu, bagi-bagi hadiah dan itu membuatnya happy.

Praktiknya, pernah juga saya menegaskan, kita bukan pizza yang bisa menyenangkan hati setiap orang. Saya sudah tak tahan dan gemes sendiri. Saat diskusi alot reuni sekolah dengan tim, saya mengucapkan ‘mantra’, “Hei, we are not pizza, we can’t make everyone happy” untuk menanggapi seorang teman yang ketakutan memesan makanan untuk reuni tapi tak mempertimbangkan dana yang tersedia. Takut menunya kuranglah, menunya kurang bervariasilah, dan pertanyaan lainnya yang merepotkan diri sendiri (sepertinya, teman saya ini sedang ingin menjadi Santa). Mendengar mantra itu, beberapa teman lainnya justru berenspon, “Kok apik, Het, kata-katane?”

Lho, apakah mereka selama ini enggak sadar? Apakah menyenangkan hati setiap orang itu sudah mengakar? Digit mental melayaninya sepertinya tinggi. Sesungguhnya, kata-kata itu memang bukan buatan saya tapi Istragram punya. Andai mereka tahu (tapi sepertinya mereka tak perlu tahu), kata-kata itu bukan kata-kata biasa. Saya berefleksi dengan gambar pizza di Instagram. Tak ada yang melarang untuk menyenangkan hati setiap orang, tapi ada kalanya kita harus lebih peka dengan kondisi di mana tanpa perlu kita ambilkan tangga, orang sudah bisa memetik buah kesenangan untuk dirinya sendiri. Apalagi kalau menyediakan tangga itu di luar kemampuan kita (baca: memaksakan diri). Yah, dalam kasus ini, saya mengamini feedback dari teman tadi, serta bos saya. Jadi, mau jadi pizza atau jadi Santa? Atau Nutella?

Enggak cuma pizza ternyata, Nutella juga hihi (sumber gambar: Pinterest)

Enggak cuma pizza ternyata, Nutella juga hihi (sumber gambar: Pinterest)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: