Bukan Cerita Hari Ibu

Namanya mama. Perempuan yang menghadirkan saya di dunia. Bukan sedang Hari Ibu sih tapi saya ingin bercerita tentang mama. Hari ini, Minggu, malam, hujan, kosan. Rasa apa lagi yang mendorong anak perantauan untuk tidak ‘kangen rumah’? Saya di Jakarta, mama di Jogja. Tulisan ini menjadi cara kangen untuk ‘hubungan jarak jauh’ kami berdua.

Lebaran kemarin saya pulang. Jauh-jauh hari sebelum lebaran bahkan. Lumayan, enam hari bisa berpuasa di rumah Jogja. Saya punya kamar sendiri di rumah Jogja tapi setiap pulang, saya lebih suka berdandan nebeng meja rias yang ada di kamar mama.

Yang membuat saya geli adalah saat mama melihat saya berdandan kemarin. Oles make up sana-sini, ikat jilbab ke kanan ke kiri.

Spontan mama berkomentar, ”Sekarang nggak pede ya, Dek, kalau mau ke luar tapi nggak dandan.”

Saya meringis praktis, ”Biar nggak dikira muka bangun tidur, Mam.”

Singkat tapi tiba-tiba saya merasa sedang memutar koleksi kaset lawas. Jadul. Jadul sekali…

Kala itu, saya versi bocah tidak sabar untuk pergi dengan mama. Berulang kali saya merengek minta mama bergegas. Apa daya, meja rias itu seakan menahan mama (meja rias yang sama). Mama masih bertahan di depan meja rias menggunakan pensil alis, bagian make up favoritnya.

Mama, kita lho cuma pergi bentar. Nggak usah dandan juga nggak apa-apa,” rengekan andalan saya.

Pemandangannya kini berbalik. Ah iya, izinkan kaset lawas ini terus berputar dalam kepala saya sekarang. I grow up, Ma, but childhood memories (always) stay.

Katanya ...

Katanya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: