Angry Birds The Movie

Angry Birds yang biasanya hanya ada di games, sekarang ada filmnya, lho!!

Hey, Het, where have you been? Udah lamaaa

Yup! Angry Birds The Movie memang sudah dirilis di Indonesia sejak bulan lalu, tanggal 13 Mei 2016. Tapi, nyatanya, saya baru sempat nonton kemarin. Hiks.

why so angry

Siapa sangka, Sabtu (4/6) kemarin, Angry Birds The Movie hanya tersisa di tiga bioskop di Jakarta. Puri XXI, Gading XXI, dan Bassura XXI. Saya nyaris ketinggalan film ini, padahal saya khatam games Angry Birds dan penasaran filmnya. Sayangnya, tiga tempat itu sama sekali bukan pilihan saya nonton biasanya. Puri? Jakarta Barat. Gading? Jakarta Utara. Bassura? Di mana lagi itu?

Lelah menerka, bukan paman Google yang saya tanya, melainkan paman Gojek. Melalui aplikasi, dari alamat saya ke Bassura XXI ternyata hanya Rp 12.000,00. Bagi saya, Rp 12.000,00 itu menandakan daerahnya tidak jauh dan ‘gojekable’. Yeay!

Ternyata, Bassura XXI adalah bioskop baru, juga mallnya, Bassura City. Bioskop yang namanya singkatan dari alamatnya, Jalan Basuki Rahmat (Bassura), itu dibuka tanggal 26 Mei 2016. Pantas saja harga tiketnya masih terhitung murah, Rp 30.000,00 untuk hari biasa dan Rp 35.000,00 untuk akhir pekan dan hari libur. Saya kaget saat memesan tiket nonton untuk pukul 19.00 WIB. Hampir semua seat penuh padahal saat itu belum jam 18.30 WIB. Olala, ternyata banyak ‘krucil’ (baca: anak-anak) yang menonton dengan orang tuanya.

Angry Birds The Movie dibuka dengan musik pengantar seperti yang ada di games-nya. Yah, ada sedikit aransemen tapi tetap khas Angry Birds. Film ini menampilkan tokoh-tokoh yang sama dengan yang ada di games Angry Birds. Red (Si Burung Merah yang pemarah), Chuck (Si Burung Kuning yang gesit), Bomb (Si Burung Hitam besar yang bisa meledakkan diri), Terence (Si Burung Merah besar yang bisa mental), Matilda (si Burung Putih, guru kelas pengendalian marah), dan masih banyak lagi varian tokoh burung lainnya.

Film ini bercerita tentang seekor burung berwarna merah, bernama Red, yang memiliki masalah dengan rasa marahnya. Jika Red sudah marah, alisnya yang tebal berwarna hitam akan mengerut dan dia bisa berkata-kata tanpa henti. Kondisi ini membuat Red tidak punya teman dan menjadi asosial.

Puncaknya, saat Red disidang karena terlambat membawa kue pesanan untuk anak pelanggannya yang berulang tahun dan memecahkan telur. Red yang tidak punya teman berusaha membela dirinya sendiri. Di awal film memang banyak adegan yang menggambarkan kesialan Red. Bukannya mendapat simpati, Red justru semakin mendapat kecaman, “Don’t make a story, just take a responsibility.” Sebagai hukuman, Red harus mengikuti kelas pengendalian rasa marah. Di kelas inilah, Red bertemu dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Chuck, Bomb, Terence, dan Matilda, Si Ibu Guru.

Apakah film ini hanya akan bercerita tentang persahabatan mereka berempat di kelas pengendalian rasa marah? Tidak sedangkal itu. Cerita masih berlanjut dengan kedatangan babi hijau (Green Piggies) ke pulau burung. Lalu berlanjut dengan cerita tentang usaha Red dan teman-temannya untuk menemui Mighty Eagle, cerita Red yang tidak punya teman di Pulau Burung, dan cerita-cerita burung lainnya yang diselipkan untuk menyempurnakan 1 jam 37 menit.

Sepanjang film berlangsung, jalan ceritanya memang tidak membosankan. Apalagi kita bisa melihat warna-warni burung serial Angry Birds yang memanjakan mata. Namun, saya tidak bisa membayangkan jika jalan cerita ini bukan Angry Birds yang memainkannya. Tentu akan sedikit berat dan ‘tidak mengangkat’. Bisa jadi karena Angry Birds sudah tenar dulu sebagai games dan merchandise, dari seprei sampai kaos. Di sinilah, Angry birds sudah memenangkan hati orang-orang.

Dari segi humor, film ini banyak membuat saya tertawa. Ada saja adegan-adegan lucu yang diciptakan out of the box (namanya juga film animasi, imajinasi). Sayangnya, adegan-adegan lucu itu hanya dimengerti oleh orang dewasa. Dari satu deret seat bioskop, saya nonton sendiri diapit ayah bunda yang membawa anak-anaknya. Dan yang tertawa paling nyaring adalah … saya dan si ayah bunda!! Saya tidak tahu cara anak-anak itu menikmati film Angry Birds. Lagi-lagi, bisa jadi karena Si Anak sudah mempunyai koleksi menchandise Angry Birds sehingga tidak asing dengan para tokoh burung dan bisa menonton film tanpa beban.

Oh ya, sepanjang film, saya selalu menantikan penampilan semua tokoh burung yang ada di games Angry Birds. Saya penasaran dengan peran yang mereka bawakan. Si Burung ini jadi apa, Si Burung itu jadi apa. Dengan tokoh Angry Birds yang banyak variannya itu, si pembuat cerita harus terampil memberikan peran pada masing-masing burung. Bahkan, seperti kejutan, di akhir film pun, si pembuat cerita masih sempat memunculkan trio burung pemecah es yang dari awal belum muncul-muncul. Nice try-lah, Angry Birds The Movie!

Angry Birds The Movie

PS.
Tokoh favorit saya di film ini adalah si burung yang menjadi pantomim (walau sama sekali tidak ada di games-nya). Dia menjadi tokoh yang tidak penting tapi kocak dan sering dimunculkan untuk hiburan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: