Pintu Ajaib

Siapa yang enggak kenal Pintu Ajaib?

Pintu ajaib adalah salah satu alat (canggih) milik Doraemon, berupa pintu berwarna pink yang bisa membawa kita ke mana pun sesuai tujuan. Sejak pertama kali menonton film Doraemon, Pintu Ajaib menjadi salah satu alat yang sukses membuat saya iri dan tak berhenti berandai-andai memilikinya. Saking pengennya, Pintu Ajaib selalu mendapat peran saat saya bermain dengan teman-teman. Pokoknya, Pintu Ajaib berhasil membuat saya dan teman-teman berimajinasi dalam setiap permainan kami.

Itu dulu, masa kanak-kanak. Seiring bertambah usia (dan tetap konsisten menjadi penonton setia film Doraemon), pemikiran saya naik satu tingkat. Saya tidak lagi kagum pada Pintu Ajaib milik Doraemon tetapi kagum dengan sang pencipta Doraemon dan Pintu Ajaibnya. Bisa ya, kepikiran membuat sesuatu yang tidak mungkin di dunia nyata tapi justru diiyakan dan menghibur banyak orang di dunia fantasi. Yah, itulah imajinasi.

Lama tak berandai-andai dengan Pintu Ajaib, Sabtu (7/5) lalu, kambuh lagi. Saya tak tega melihat wajah pucat pasi mama melihat jam. 15.25 WIB. Satu jam tiga puluh lima menit lagi, pesawat tujuan Jakarta-Jogja akan berangkat dari bandara Halim Perdanakusuma. Tapi kenyataannya, mama masih berada di rumah. Rumah kakak di daerah Halim memang tidak jauh dari bandara tapi lain cerita kalau tertahan hujan dan petir yang kompak ‘tampil’ sore itu. Sebagai penganut aliran ‘2-3 jam harus berada di bandara/stasiun sebelum jadwal keberangkatan’, ini adalah masalah besar bagi mama.

Saya tak tega. Saya tahu rasanya. Cemas, panik, dan pikiran pasti sudah melambung jauh (baca: asumsi). Saya hanya bisa menenangkan mama dengan satu senyuman dan kata-kata klasik, “Tenang, Ma. Kekejar kok pasti.”

Akhirnya, setelah petir selesai menderu dan masih menyisakan hujan, kakak mengantar mama ke bandara dengan taksi. Saya ditahan menjaga rumah sebentar dan dilarang pulang sebelum hujan reda. Di keheningan rumah dan bunyi hujan, saya teringat Doraemon dan Pintu Ajaibnya. Ah, memang itu hanya khayalan semata, tidak bisa diharapkan untuk benar-benar ada. Walau tak benar-benar ada, berkhayal pada Doraemon dan Pintu Ajaib nyatanya cukup menghibur. Saya hanya ingin berprasangka baik pada cuaca sore itu. Please, jangan ganggu penerbangan mama ke Jogja.

16.40 WIB, bus transjakarta, gerimis
Bip bip, Whatsapp dari mama yang terkirim 16.11 WIB baru terbaca
Dik, hati-hati yo..”

PS.
Menulis cerita ini di penghabisan hari. Hari yang (katanya) tertanggal sebagai mother’s day versi internasional. Cerita ini sebuah persembahan untuk mama. Mama yang selalu mengingatkan untuk tidak mepet-mepet jam dan jangan ngoyo di setiap detik kehidupan saya. Matur sembah nuwun, mama!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: