The Right Moment Part 6: Bawean, Dream Comes True

Ini kali pertama saya naik Gili Iyang ke Bawean. Kalau dibandingkan beberapa tahun yang lalu, tentu berbeda. Dulu, zaman saya, hanya ada Express Bahari (3 jam perjalanan) dan Tungkal (8 jam perjalanan). Kedua kapal itu hanya berlayar tiga kali dalam seminggu secara bergantian (FYI. hari Jumat sama sekali tidak ada kapal).

Gili Iyang berukuran lebih besar dari Express Bahari dan Tungkal. Gili Iyang mengingatkan saya pada kapal Bukit Raya yang saya naiki beberapa waktu lalu saat penugasan ke Pulau Serasan, Natuna (via Pontianak). Karena ukurannya yang besar, saat berada di dalamnya, kita tidak merasakan apa-apa, pun saat kapal memecah ombak Laut Jawa (katanya, cuaca sedang bagus dan ombak relatif tenang). Hanya telinga kita yang harus beradaptasi dengan deru mesin kapal yang konsisten selama 10 jam perjalanan.

Saya dan teman-teman berada di dek tengah (di dalam sebuah kapal ada beberapa dek). Dek adalah sebuah ruangan berukuran luas (hall) yang berisi puluhan rangkaian tempat tidur tingkat bersusun (mirip meja belajar), toilet, dan mushola. Sistem yang berlalu di sini adalah siapa cepat dia dapat. Jadi, nomor tempat duduk eh, tempat tidur tidak berlaku. Hawa di dek pun relatif panas. Terlebih saat jendela di sisi-sisi selasar kapal ditutup terpal karena hujan. Sungguh bagai ruang sauna! Orang-orang sibuk mengipasi dirinya masing-masing. Beberapa bapak-bapak bahkan nekat bertelanjang dada saking gerahnya (aaak, tutup mata!).

Dua tingkat. Mirip meja belajar, kan?

Dua tingkat. Mirip meja belajar, kan?

Selang beberapa menit kapal meninggalkan pelabuhan Gresik, kami berkumpul untuk makan malam. Menunya, apalagi kalau bukan Nasi Krawu (yang tadi titip Mas @OmIrwaan). Bagi kami, belum berasa sampai Gresik kalau tidak makan Nasi Krawu. Enaknya Nasi Krawu berbanding lurus dengan kebahagiaan kami malam itu. Kami yang sudah dekat layaknya saudara, ber-haha-hihi seakan tak percaya sudah berada di dalam kapal menuju Bawean. Saya pun, tak sabar melihat kampung halaman. One step closer, katanya. Bismillah.

Sabtu (5/12)

Kapal Gili Iyang, pagi itu, yang berhasil membawa kami berlayar dari Pelabuhan Gresik menuju Pelabuhan Sangkapura, Bawean.

Kapal Gili Iyang, pagi itu, yang berhasil membawa kami berlayar dari Pelabuhan Gresik menuju Pelabuhan Sangkapura, Bawean.

06.30 WIB
Akhirnya … Bawean! Kapal sudah bersandar. Para penumpang berduyun-duyun turun dan sibuk mengangkuti barang-barangnya. Kami juga. Kami tak sabar untuk turun dan menginjakkan kaki ke Bawean (FYI. relawan #RUBIBawean untuk pertama kalinya, sedangkan saya untuk kedua kalinya sejak tahun 2012). Nyatanya, kami memilih untuk menunggu, sampai jalur pintu keluar tidak sepadat tadi.

Ini yang disebut 'barang-barang'. Semua dibongkar muat keluar kapal.

Ini yang disebut ‘barang-barang’. Semua dibongkar muat keluar kapal.

Begitu turun dari kapal, sambutan dari teman-teman Pengajar Muda angkatan X luar biasa. Kalau boleh saya ingat, tidak henti-hentinya rasa syukur sekaligus kata-kata penyambutan yang penuh penekanan, “Akhirnya sampai juga, ya, ke Bawean!”

Disambut suka cita (dokumentasi: PM Bawean)

Disambut suka cita (dokumentasi: PM Bawean)

Seperti perjanjian di awal, saya berpisah dengan rombongan relawan #RUBIBawean. Rombongan naik mobil pick up untuk istirahat dan bersiap acara #RUBIBawean pukul 12.00 WIB nanti. Bersama Deti, saya naik motor menuju dusun penempatan saya dulu, yang sekarang menjadi tempat bertugas Deti, Panyalpangan!

Sepanjang perjalanan, saya tak henti-hentinya menoleh ke kanan dan ke kiri. Kamera pocket ada di tangan kanan. Klik sana – klik sini. Setelah 3 tahun saya tinggalkan, semuanya berubah. Tak hanya pemandangan, saya pun mengamati jalanan, mencoba mengingat-ingat jalanan mana saja yang dulu berlubang. Tapi tak ada, jalanan benar-benar mulus dan bagus. Ini baru perjalanan dari pelabuhan Sangkapura ke Panyalpangan, kan? Saya semakin penasaran!

Menuju Panyalpangan, Deti sengaja melewati arah jalan lain yang pada zaman saya jalannya masih harus dilewati dengan kesabaran. Bahkan, saya tidak mau melewati jalan itu karena menembus hutan. Kini? Kami menanjak mulus tanpa halangan. Hanya harus terampil memainkan gigi motor sedemikian rupa karena tanjakan yang lumayan curam. “Deti, jalannya bagus banget sekarang!”

Seperti di dusun Pengajar Muda lainnya, begitu memasuki pemukiman penduduk, sapa ramah anak-anak terdengar begitu nyaringnya, “Ibuuuuuk!” Bersahut-sahutan dari rumah satu ke rumah lainnya yang kami lalui. Saya dan Deti hanya mampu membalas dengan senyum lebar dan menjawab cepat, “Iyaaaaaa!”

Sampai akhirnya, di sebuah ‘Dhurung’ ada sekelompok anak SMA berseragam. Salah satu dari mereka mengenali saya, “Bu Hety!” Deti menghentikan motornya. Si anak berjalan mendekati saya dan mengajak berjabat tangan. Dia adalah Ending! Murid saya yang pada zamannya sangat jago berolahraga, voli, takraw, sepak bola, all! Saya surprise kini anak itu sudah besar, sudah ABG, eh bahkan lebih. Tidak seperti saat SD dulu, kini, dia terlihat lebih matang dan trendi ala-ala personel band (rambut diatur sedemikian rupa dengan gel, klimis, menjulang ke atas), “Ending rambutmu kenapa?”

Bu Hety, bu Hety, bu Hety!” Ibu-ibu tidak henti-hentinya memanggil nama saya. Selesai mandi dan berganti baju, keluar dari rumah orang tua angkat Deti (keluarga Jaliyah, murid saya yang merantau ke Malaysia), ‘Dhurung’ sudah ramai dengan ibu-ibu. Saya berjabat tangan dengan mereka satu-persatu. Deti mengajak saya ke undangan (istilah untuk kondangan pernikahan). Tak terbayang bagaimana hebohnya di sana nanti karena hampir semua warga berkumpul di sana.

Dulu, saat bertugas, mereka sempat menyangsikan saya akan datang lagi ke Bawean. Saat saya datang, saya memang bukan satu-satunya orang dari luar yang pernah bertugas sebagai guru di dusun itu. Seperti yang sudah-sudah, biasanya orang-orang yang pernah bertugas di sana tak pernah kembali lagi. Warga merasa mereka dilupakan begitu saja. Tapi lihatlah, saya tak begitu. Nyatanya, saya datang lagi setelah tiga tahun.

Rasanya ingin menangis. Haru.

Baca cerita sebelumnya,
The Right Moment Part 1: Count Mei in #RUBIBawean
The Right Moment Part 2: Plan F, Friendship
The Right Moment Part 3: Say ‘Hi’ to Situbondo!
The Right Moment Part 4: Meet ‘Hikmah’
The Right Moment Part 5: ‘If It is Meant To Be, It Will Be’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: