The Right Moment Part 5: ‘If It is Meant To Be, It Will Be’

Ini cerita tentang saya yang ‘nebeng’ rombongan relawan #RUBIBawean untuk pulang kampung ke Bawean (FYI Bawean adalah kampung halaman saya yang kedua, setelah Yogyakarta🙂 ). Kalau kamu menebak, kami bisa dengan mudahnya sampai di Bawean, kamu salah. Untuk itu, The Right Moment ini ada di blog saya dalam beberapa bagian (part). Perjalanan kami memang tidak mudah tapi bukan berarti tidak ada hal menyenangkan yang terjadi. Ini kali ketiga kami me-rescedule kepergian ke Bawean. Juni, Agustus, lalu Desember. Izinkan ini menjadi sedikit drama sentimentil tanpa bumbu penyedap yang sengaja ditambahkan (baca: true story).

Tokoh-tokoh dalam cerita ini masih sama seperti di part 1, hanya ada 1 teman baru Mbak @ArieBunny yang ikut dalam rombongan kami.

Jumat (4/12)

Siapa sangka, siang itu Sudirman bermandikan gerimis. Walaupun Desember adalah musim penghujan, saya selalu percaya sebenarnya Sudirman bisa memilih. Seperti misal, pada suatu hari, Sudirman justru terik terang tak menyisakan titik hujan. Tapi hari ini, sepertinya langit kalah taruhan dan kali ini giliran hujan.

12.23 WIB
Temukan saya di … *drum roll* halte GBK!! (bukan halte Transjakarta, melainkan halte bus yang ada di trotoar) Saya celingukan mencari duduk menunggu @Tunjungdmrjt – teman sharing taksi ke bandara. Tak banyak yang saya lakukan selain mengamati lalu lalang kendaraan. Sudirman tak seramai biasanya. Mungkin karena jam Jumatan atau karena cuaca yang mengerikan kurang bersahabat. Saya uji nyali duduk di halte bus yang terbuat dari logam, di bawah pohon, serta ‘berhias’ juntaian kabel tepat berada di atasnya. Dengan (sesekali) back sound petir, saya berdoa @Tunjungdmrjt segera datang. Dramatis, bukan?

Apakah dia datang? Pembicaraan kami terhenti dini hari tadi. Belum ada janji pasti, kami hanya sepakat bertemu di halte GBK. Kalau nyatanya pukul 12.23 WIB saya mengabarkan saya sudah di halte GBK, sepertinya saya terlalu ‘pe-de’ menunggunya di sini. Saya lapar tapi saya tidak mau kenyang berasumsi. Saya sudah siap ‘Plan Z’ yaitu kalau pesawat tak terkejar, saya tidak sendirian mengalami sesuatu yang baru pertama kali (akan) terjadi dalam hidup saya bernama ‘ketinggalan pesawat’.

Pukul 12.06 WIB, Mbak @Nan3W via grup Whatsapp
Hety, Tunj, aku sdh sampai terminal 3, kalian kira2 sampai pukul brp …

Toll macet parah
Aku dari cawang ke sini 2 jam

Deg! Membaca chat itu saya lier. Tenang, tenang.

Eng, bisakah saya santai sejenak? Rasanya tidak enak. Kombinasi menunggu orang, takut terlambat, dan grogi pergi ke Bawean untuk kedua kalinya. Teman-teman di kantor tadi yang justru bagai cheerleader menaikkan adrenalin saya. Seperti biasa, teman-teman gelisah melihat saya masih ‘gentayangan’ di kantor pukul 11.30 WIB. “Het, flight jam berapa? Telat, lho! Ini Jumat, hujan pula! Buruan! Naik apa ke bandara? Udah pesen bla bla bla …

Dan beginilah akhirnya. Berada di halte GBK menunggu orang, yang menurut perasaanmu bakal membaca Whatsapp pada jam sekian, segera menyusul ke halte GBK pada jam sekian, dan kalian akan ke bandara bersama pada jam sekian, serta tiba di Surabaya pada jam sekian dan … dan … dan … BLAM!!

Notifikasi Whatsapp memainkan nadanya sendiri.

12.28 WIB, @Tunjungdmrjt via japri
Het aku br kelar
10 menit
Aku lari

Thanks God!!

Di dalam taksi
Saya memandang lurus ke depan (yang sama artinya dengan memandang punggung @Tunjungdmrjt yang duduk di bangku depan). Sesekali saya menoleh ke kanan untuk mengobrol dengan Hanis, KPU Tanjung Pinang, seorang kenalan. Ya, Hanis adalah orang yang saya ajak berbincang untuk mengobati rasa tak karuan daripada hanya mematung menunggu di halte tadi. Tujuan kami ternyata sama, bandara Soekarno Hatta. Bedanya, Hanis menunggu bus Damri jurusan Blok M – Bandara. Sedangkan saya menunggu orang, dan tentu saja, taksi!

Akhirnya, beberapa menit kemudian, @Tunjungdmrjt datang. Kami menawari Hanis untuk berangkat bersama dengan taksi. Flight kami pukul 13.55 WIB dan flight Hanis pukul 16.00 WIB. Hanis shock dengan ‘kenekatan’ kami, “Semoga kalian nggak ketinggalan pesawatnya.”

Saya sebenarnya ingin tersenyum menyambut hari ini tapi tertahan. Hati rasanya sudah tak karuan. Mau mengekspresikan rasa apa, coba? Ini perjalanan sakral. Masih ingat cerita sebelumnya, kan? Ini adalah perasaan yang amat sangat wajar bagi orang yang mengalami gagal perjalanan. Izinkan saya sampai ke Bawean, Tuhan! Tapi ternyata, sebelum saya bisa sampai jauh ke Bawean, ada yang lebih krusial di depan mata. Saya deg-degan. Akankah pesawat ke Surabaya terkejar?

Flight: XT 7682
Date: 04 Dec 15

Merinding …

Jakarta – Surabaya – Gresik
Singkat cerita, pukul 13.10 WIB, kami sampai juga di bandara. Ajaib! Perjalanan cepat, hanya tersendat karena bersaing dengan kendaraan lain yang akan masuk ke bandara juga. Tak lupa, kami mengantarkan Hanis dahulu ke terminal satu. Deg-degan saya tadi seakan tak berarti. Pesawat 14.55 WIB?? Terkejarlah!

Manipulasi waktu? Saya masih tak percaya. Masih ada waktu satu jam lebih di bandara. Saya masih sempat makan siang dan mengobrol ngalor-ngidul dengan @Tunjungdmrjt di Bakmi GM, lanjut mengobrol lagi di Starbucks (baca: ada yang pengen jajan, padahal kita baru saja makan siang!!), ke toilet, … dan lain-lain. Oh, yeah, terbayang, kan, betapa selow-nya kami di bandara? Deg-degan saya sia-sia.

Bukti saya nggak ketinggalan pesawat ke Surabaya hehe. Hayo tebak, saya yang mana?  (foto: @Nan3W).

Bukti saya nggak ketinggalan pesawat ke Surabaya hehe. Hayo tebak, saya yang mana? (foto: @Nan3W).

16.54 WIB, Surabaya
Saya de javu. Mungkin karena pernah mengalami hal serupa di bulan Agustus kemarin. Mbak @astadewanti yang tiba duluan di Surabaya, menyambut kami dengan mobil rental andalan eh, langganan. Saya, @Tunjungdmrjt Mbak @Nan3W dan Mbak @ArieBunny membalasnya dengan ekspresi yang tak kalah sumringah. Kami berceloteh riang sepanjang perjalanan Surabaya – Gresik. 99% kami optimis bisa sampai Bawean (sisa 1% untuk force majure, sesuatu yang di luar kendali kami). Katanya, malam ini ada kapal. Itu saja cukup membuat kami bahagia.

20.14 WIB, Pelabuhan Gresik
Malam itu cerah. Kami langsung berhamburan keluar mobil, tak sabar mendekat ke kapal Gili Iyang yang bersandar di pelabuhan. Ada Mas @8adrvn Mas @OmIrwaan Mbak @unfrida dari Gresik (mereka adalah saksi kami gagal berangkat ke Bawean Agustus kemarin) serta ada juga rombongan relawan #RUBIBawean lainnya, @emtibyan dan @madinah_dina, yang sudah tiba duluan di pelabuhan karena naik bus dari Semarang.

Ledekan dan celotehan silih berganti. Kami cerewet sekali malam itu. Heboh foto-foto juga sampai menarik perhatian orang-orang yang ada di pelabuhan. Du du du … . Maklum saja, ekspresi kegembiraan. Hanya melihat kapalnya saja kami gembira, belum lagi besok, saat kapal ini merapat di Pelabuhan Sangkapura, Bawean. Sepuluh jam perjalanan yang harus kami lalui dengan kapal ini sama sekali tak mengecilkan nyali. Bawean, see u tomorrow!

Ketika foto adalah saksi setiap perjalanan kami (foto: @astadewanti).

Ketika foto adalah saksi setiap perjalanan kami (foto: @astadewanti).

If it is meant to be, it will be …

Special thanks to:
Mas @8adrvn yang sudah memilihkan kami tempat duduk di kapal, Mas @OmIrwaan yang sudah membawakan Nasi Krawu bekal perjalanan, serta Mbak @unfrida untuk semua supportnya selama ini. Mereka semua teman baik!

Baca cerita sebelumnya,
The Right Moment Part 1: Count Me in #RUBIBawean
The Right Moment Part 2: Plan F, Friendship
The Right Moment Part 3: Say ‘Hi’ to Situbondo!
The Right Moment Part 4: Meet ‘Hikmah’

3 comments
    • Hety A. Nurcahyarini said:

      Thanks ya Andinaaaaa..
      Masih ada kelanjutannya, lho ini hehe🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: