Kapuas Hulu, Kalimantan Pertama Saya (Part 2)

Oktober. Kabut asap sudah mereda katanya. Siapa bilang? Tidak bagi maskapai Garuda yang nyatanya justru membatalkan semua penerbangannya untuk rute Pontianak – Putussibau. Tenang, masih ada maskapai Kalstar yang juga menawarkan penerbangan rute Pontianak – Putussibau. Yakin, ada penerbangan? Tenang, masih ada jalan darat selama 19 jam dengan mobil sewaan (baca: travel) atau bus. Mau khawatir apa lagi?

Yeah, selamat datang di Kapuas Hulu!

Tiga opsi itu seolah sudah menambal kekhawatiran saya dan Shofi yang ditugaskan untuk pergi ke Kapuas Hulu (beribu kota di Putussibau) dalam rentang waktu satu minggu (11/10-18/10). Jakarta – Pontianak tidak begitu menjadi soal karena pihak Garuda sudah mengkonfirmasi akan ada penerbangan. Flight Garuda terpagi di hari Minggu dipilih untuk mengejar penerbangan Kalstar yang terjadwal pukul 08.00 WIB!!

(Keterangan tambahan. Walaupun sudah flight terpagi, jadwal kedatangan pesawat Garuda di Bandara Supadio, Pontianak adalah pukul 07.00 WIB. Jadi, terbayang, kan drama apa yang akan terjadi di hari Minggu pagi itu? Satu jam untuk ‘mengejar’ Kalstar. Fight!)

Mulanya, semua tampak baik-baik saja saat pesawat Garuda tiba on time seperti jadwal di bandara Supadio. Pukul 07.00 kurang malah. Saya dan Shofi segera bergegas untuk membeli tiket di agen Kalstar di bandara. Oops! Di luar perkiraan, tiket Kalstar habis terjual. Hiks!

Wait! Saya tahu kamu pasti akan berprasangka mengapa saya tidak memesan tiket sebelumnya dan memilih ‘go show’. Nyatanya, karena kabut asap, tiga hari sebelumnya tidak ada penerbangan sama sekali sehingga penumpang langsung menyerbu penerbangan hari Minggu (11/10). Sama sekali tidak bersisa untuk penumpang yang baru memesan tiket di hari Minggu, termasuk saya dan Shofi.

Jadi … ??? Selamat menikmati perjalanan darat selama 19 jam!!

Di sepanjang jalan raya Pontianak, banyak agen travel yang menawarkan jasa pengantaran dengan mobil. Rutenya tidak hanya Pontianak – Putussibau saja, tetapi juga Sambas, Singkawang, Sintang, Entikong, Teraju, Pangkalan Bun, Sampit, Palangkaraya, Banjarmasin, dan lain-lain. Eh, tapi jangan dibayangkan seperti travel Jakarta – Bandung yang mobilnya penuh logo armada travel, supir berseragam, dan pelayanan serba modern. Di sini masih sederhana, sebatas mobil berjenis Innova atau Avanza dengan sistem pemesanan via telepon atau SMS. Dalam satu kali pengantaran bisa memuat sampai lima penumpang.

Oh ya, selain travel, untuk menuju kota-kota yang saya sebutkan tadi, bisa juga dengan menggunakan bus yang selalu stand by di terminal. Menurut jadwal, bus berangkat pukul 13.00 WIB. Karena mengejar Forum Keberlanjutan di Putussibau di hari Senin (12/10) pukul 08.00 WIB, saya dan Shofi memilih naik travel.

Disambut patung di perjalanan yang menandakan saya sedang di Kalimantan,

Disambut patung di perjalanan yang menandakan saya sedang di Kalimantan,

Pukul 10.30 WIB, kami meninggalkan Pontianak. Mobil menyusuri jalan aspal mulus di ibu kota provinsi dengan gedung-gedung bertingkatnya sampai ke jalanan tanah di mana sepanjang mata memandang hanyalah perkebunan sawit. Jujur, saya senang sekali. Ini pengalaman Kalimantan pertama saya yang biasanya hanya saya lihat di TV. Sttt … diam-diam ada rasa syukur gagal terbang dengan Kalstar. Kalimantan memang elok jika dilihat dekat melalui perjalanan darat. Tapi, ya konsekuensinya, saya harus mempelajari rencana moderasi (remod) untuk Forum Keberlanjutan selama perjalanan.

19 jam ternyata bukan tipu-tipu. Ya, memang begitu perjalanan Pontianak sampai ke Putussibau. Berangkat hari Minggu pukul 10.30 WIB dan tiba di Putussibau hari Senin pagi pukul 05.30 WIB. Itu sudah termasuk istirahat di tengah perjalanan selama dua jam (baca: tidur). Bandingkan dengan berangkat melalui jalur udara (pesawat) yang hanya memakan waktu satu jam. Saya ulangi, satu jam!

Kedatangan saya dan Shofi disambut gerimis, sisa-sisa hujan tadi malam. Andry, salah satu Pengajar Muda, langsung berlari menuju mobil membawakan payung. “Halo, Kak. Selamat datang di Kapuas Hulu!”

Begitulah perjumpaan pertama dengan Kapuas Hulu. Hari-hari berlangsung cepat dengan agenda Forum Keberlanjutan dan site visit di hari Senin (12.10) – Rabu (14/10). Hari Kamis (15/10) – Minggu (18/10) menyisakan agenda kunjungan ke sekolah Pengajar Muda. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, saya berbagi tugas dengan Shofi. Saya akan mengunjungi SD Negeri Nomor 12 Semalah yang terletak di Desa Semalah, Kecamatan Selimbau.

Selamat Datang di Semalah

Di manakah Semalah? Nama itu memang masih asing di telinga saya. Berulang kali bertanya ke teman-teman Pengajar Muda, mereka hanya tersenyum simpul. Mereka juga baru pertama ke sana terhitung tiga bulan bertugas. Hanya Febri, Pengajar Muda yang ditempatkan di sana, yang bisa menjawab pertanyaan saya.

Rabu (14/10) pukul 11.00 WIB, kami berangkat dari Putussibau dengan bus. Busnya unik dan klasik, mengingatkan saya pada bus zaman dahulu. Perjalanan melewati jalanan beraspal di antara hutan dan perbukitan. Tampak kontras memang. Jalan raya seolah membuktikan kuasa pemerintah atas pembangunan sampai ke daerah. Sinyal pun timbul tenggelam, kadang ada, kadang tidak. Udara di dalam bus pun cukup panas. Perjalanan seperti ini membuat kami terkantuk-kantuk di dalam bus.

Pukul 14.00 WIB, kami terbangun oleh teriakan supir. “Bangun-bangun, sudah sampai!” katanya lugas, tegas, tapi mengandung unsur pemakluman pada penumpang yang mayoritas tertidur di sepanjang perjalanan. Penumpang di bus langsung berhamburan. Kami sampai di sebuah warung kopi di pinggir jalan. Walaupun tidak mirip seperti terminal, keberadaan ojek-ojek yang ‘ngetem’ cukup membuktikan ini adalah tempat untuk menaik-turunkan penumpang.

Lagi-lagi, di manakah Semalah? Febri seolah mengerti muka penuh tanda tanya saya, “Belum sampai, Kak. Masih jauh!” Kami pun berganti transportasi. Kami harus naik ojek melalui rute selanjutnya, yaitu Danau Sentarum yang surut. Selain dengan ojek, bisa juga ditempuh dengan berjalan kaki. Jika Danau Sentarum sedang tidak surut, ada speed yang siap mengantarkan menuju Selimbau.

Rintangan 1: dalam danau ada danau.

Rintangan 1: dalam danau ada danau.

Apa yang kamu bayangkan dengan danau yang surut? Apakah medannya bisa mulus dilewati seperti jalan biasa? Alih-alih jalan biasa, saya lebih menyebutnya sebagai halang rintang. Banyak sekali jebakan di danau yang surut ini. Saya sempat terjatuh dari motor karena melalui lubang yang tertutup rerumputan. Belum lagi, ternyata tanahnya tidak kering, tapi basah, sehingga licin beradu dengan roda motor. Berulang kali bapak ojek yang memboncengkan saya minta maaf. Kesimpulannya, melalui danau yang surut diperlukan skill naik motor yang hebat.

Akhirnya, 30 menit kemudian, petualangan dengan ojek berakhir. Di depan kami sekarang terhampar perairan yang luas. Katanya, ini bagian danau yang tidak mengering. Untuk melaluinya, kami harus menaiki speed. Dalam satu speed, bisa memuat tiga sampai lima orang, tergantung berat badan dan keseimbangan, eh!

Naik speed! Ngeeeeng ...

Naik speed! Ngeeeeng …

Yuhuuu! Naik speed menuju Selimbau adalah babak terbaik dari perjalanan ini. Angin semilir, deburan air, suara mesin speed, serta suara burung yang terbang rendah mewarnai perjalanan ini. Udaranya segar dan sejauh mata memandang hanya hutan. Ini adalah bagian dari Taman Nasional Danau Sentarum. Satu jam kemudian, mulai tampak perkampungan penduduk yang berdiri di atas susunan kayu-kayu (disebut ‘gartak’) di pinggir sungai. Orang-orang melambai pada kami yang melintas, seakan berkata ‘halo’. Melihat perkampungan dan kapal-kapal yang bersandar, hampir semuanya berprofesi sebagai nelayan.

Selamat datang di Desa Semalah.

Selamat datang di Desa Semalah.

Pukul 17.30 WIB, akhirnya kami sampai di Selimbau. Speed menepi dan berhenti tepat di gartak tempat rumah Febri tinggal. Bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak riuh menyambut kedatangan kami. Saya jadi haru sendiri. Bagi saya, inilah potret masyarakat Indonesia yang sebenarnya. Ramah terhadap orang asing yang datang, tanpa membeda-bedakan latar belakang kita.

Ini Hety, temannya Pak Jaka, yang dulu bertugas sebagai guru juga. Sekarang Hety bekerja di kantor Indonesia Mengajar Jakarta, menengok saya dan teman-teman Pengajar Muda Kapuas Hulu yang sedang bertugas,” kata Febri memperkenalkan saya kepada ayah dan ibu angkatnya. Jaka adalah Pengajar Muda angkatan II yang dulu bertugas di desa Febri dan mengajar di sekolah yang sama saat saya bertugas di Pulau Bawean.

Selama dua hari tinggal di desa Semalah, banyak aktivitas yang saya lakukan. Selain kunjungan ke sekolah, pertemuan dengan warga masyarakat (persiapan Forum Keberlanjutan desa) dalam koridor penugasan sebagai site visitor, saya juga ikut berinteraksi dengan masyarakat. Masyarakat desa Semalah antusias sekali dengan kehadiran Pengajar Muda dari Indonesia Mengajar sejak tahun 2011. Mereka sampai hapal siapa saja guru yang pernah bertugas dan memajang fotonya. Mulai dari Pengajar Muda angkatan II, IV, VI, VIII, dan terakhir X. Mereka merasa kehilangan karena tahun ini adalah tahun terakhir Pengajar Muda ada di desanya.

Site visit selalu berhasil membuat saya merinding dan semakin mengamini teori Pak Anies tentang ‘tenun kebangsaan’. Para Pengajar Muda yang bertugas di berbagai daerah di Indonesia nantinya akan memiliki keluarga-keluarga baru yang sebelumnya tidak mereka sangka. Mereka rukun seperti saudara lama. Tidak peduli latar belakang yang sama sekali berbeda, mereka akan dikenang sebagai guru, anak, saudara, sekaligus keluarga.

Baca cerita sebelumnya, Kapuas Hulu, Kalimantan Pertama Saya (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: