Bulan Terbelah di Langit Amerika – Tentang Islam yang Cinta Damai

Selasa (15/12) kemarin terasa istimewa bisa berada di antara kerumunan orang-orang berbatik, berhijab, dan ber-dress code aneka rupa di XXI Epicentrum Kuningan. Ada apakah? Malam itu adalah premiere film Bulan Terbelah di Langit Amerika yang diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama. Bersama 23 orang dari Indonesian Hijab Blogger, saya merasa beruntung bisa mendapatkan undangan premierenya, free!

Jpeg

Pukul 19.30 WIB, semua undangan dipersilakan masuk ke ruang cinema. Pelan-pelan tapi pasti, kursi di ruang cinema mulai terisi penuh. Satu yang khas di XXI Epicentrum adalah kursi khusus yang disediakan untuk VIP, itu juga mulai terisi oleh Bapak dan Ibu berbatik. Duduk di kursi P 24 cukup membuat saya leluasa untuk melihat siapa yang datang selain ‘keuntungan’ menatap layar yang terhampar besar di hadapan saya.

Sebagai orang yang pernah membaca novel karya Hanum Rais ini, saya deg-degan juga. Antara ekspektasi yang sudah terbangun di kepala versus sajian visual dalam film. Ini memang bukan kali pertama saya melihat film yang ceritanya diambil dari buku yang pernah saya baca. Dilema memang.

Saya tidak tahu siapa yang diuntungkan, tapi meluncurkan film yang bercerita tentang Islam di tengah pemberitaan Donald Trump yang kontroversial tentang Islam adalah sesuatu yang tepat. Pas sekali momennya. Menarik animo pasar untuk menonton sekaligus membangkitkan nasionalisme dan Islam ala Indonesia. Bahwa Indonesia adalah sebuah negara muslim terbesar sekaligus negara demokratis dan menjunjung toleransi terhadap agama-agama lainnya.

Bulan Terbelah di Langit Amerika bercerita tentang Hanum (diperankan oleh Acha Septriasa) yang ditugaskan untuk menulis artikel dengan tema “Apakah dunia lebih baik tanpa Islam?” dalam rangka tragedi 11 September di Amerika. Di saat yang sama, Rangga (diperankan oleh Abimana Aryasatya) juga mendapatkan tugas untuk menemui seorang professor demi gelar doktornya. Petualangan ala pasangan muda di negeri orang pun dimulai, dari ego akan tugas masing-masing, sampai rasa saling kehilangan akibat terpisah.

Cerita yang sesungguhnya tidak sampai di situ saja. Penonton diajak untuk melihat kehidupan muslim di Amerika pasca tragedi 11 September yang serba salah. Mereka dimusuhi, dijauhi, dan dikucilkan karena muslim digeneralisasikan sebagai teroris, dalang dibalik penyerangan Menara Kembar WTC. Salah satunya adalah Azima (diperankan oleh Rianti Cartwright) yang terpaksa berganti nama dan menghilangkan identitas kemuslimannya. Padahal Azima adalah istri dari salah satu korban tragedi 11 September.

Azima menjadi narasumber utama Hanum. Mewawancari Azima bukanlah hal mudah. Tantangan silih berganti mulai dari map yang berisi data-data interview yang tertinggal di taksi, penolakan Azima untuk diwawancarai serta kejadian-kejadian lain yang menggambarkan bahwa Hanum, sebagai wartawan, sedang mengemban tugas maha penting. Terlebih sebagai seorang muslim, Hanum menyimpan beban tersendiri yang ingin dia buktikan kepada umat beragama lainnya bahwa Islam adalah agama yang penuh kedamaian.

Tenang, penonton tidak dibiarkan ‘lelah’ begitu saja dengan berbagai tantangan yang dihadapi Hanum dan Rangga. Tantangan yang silih berganti juga sebanding dengan kebetulan-kebetulan yang muncul, yang bisa ditebak, memudahkan Hanum dalam menyelesaikan tugas wawancaranya. Penemu map Hanum, profesor yang harus ditemui Rangga, tetangga-tetangga Azima, semua seolah menjadi jawaban dari semua tantangan yang dihadapi Hanum. Hal inilah yang kemudian memperkaya alur ceritanya.

Film ini juga dibumbui cerita asmara antara Stefan (diperankan oleh Nino Fernandez) dan Jasmine (diperankan oleh Hannah Al Rasyid). Selama di Amerika, Hanum dan Rangga menginap di rumah Stefan yang rupanya tinggal bersama Jasmine. Kehidupan keduanya jauh berbeda. Hanum dan Rangga adalah pasangan muda yang sudah menikah, sedangkan Stefan dan Jasmine adalah pasangan kekasih yang tak kunjung menikah.

Sekilas film Bulan Terbelah di Langit Amerika seperti film tentang Islam tapi kalau dilihat lebih jauh, film ini bisa dikatakan masih cukup netral. Ini film yang bercerita tentang kemanusiaan. Pesan dari buku maupun filmnya sama-sama tersampaikan bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan ajaran kedamaian, tidak ada yang menghendaki perselisihan. Lalu, masih penasaran dengan makna yang terkandung dalam ‘Bulan Terbelah di Langit Amerika? Temukan jawabannya di film ini.

Di akhir acara, panggung penuh dengan para pemeran film dan tamu undangan yang berasal dari kementrian dan tokoh nasional.

Di akhir acara, panggung penuh dengan para pemeran film dan tamu undangan yang berasal dari kementrian dan tokoh nasional.

Bulan Terbelah di Langit Amerika
Negara : Indonesia
Genre : Drama
Pemain : Acha Septriasa, Rianti Cartwright, Nino Fernandez, Hannah Al Rasyid, Abimana Aryasatya
Sutradara : Rizal Mantovani
Durasi : 90 menit
Rilis : 17 Desember 2015 (Indonesia)
Rumah Produksi : Maxima Pictures

2 comments
  1. Mbab Hety, kemarin kita duduk sebelahan. Hana p23😀 semoga bisa silaturahmi di event IHB lainnya🙂

    Like

  2. JNYnita said:

    Cakep banget postnya,,, hehehee,, aku gak bs nulis sebagus ini,,,😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: