Morse

Makin saya tua, makin memaksa saya untuk lebih peka membaca clue hidup. Dari semua kejadian selama 27 tahun (6 bulan lagi, angka ini akan berubah. Aww!!), ada saja kejadian yang sebenarnya sudah ada tanda-tandanya. Bahwa Tuhan Maha Baik, kita sama-sama sepakat tentunya. Dari semua kejadian yang digariskan terjadi atau akan terjadi pada saya, kadang Tuhan dengan manis memberi tanda-tanda. Sayanya saja yang polos atau malas membaca tanda. Ah, saya!

Nyatanya, bisa membaca tanda-tanda atau kejadian di masa yang akan datang bukan melulu kuasa orang yang punya indra keenam saja (indigo ya, kita menyebutnya?). Kita semua juga bisa, asal kita rajin membaca tanda. Sederhana saja kok. Ini seperti peraturan ala sekolah dulu, bahwa ‘Rajin pangkal pandai’. Bahwa ada sesuatu yang bernama bejo atau keberuntungan bahkan networking, tidak dibahas sama sekali di sana. Bakal lebih ruwet. Jadi, mau bisa membaca masa depan? Rajin-rajinlah membaca tanda.

Semoga sampai di paragraf ketiga tulisan ini, saya tidak dicatat ‘sombong’ oleh malaikat di sisi kiri saya. Ampunilah. Niat saya hanya ingin berbagi dan syukur-syukur, bisa mengajak saya dan lainnya menjadi lebih peka pada sesuatu yang disebut dengan kehidupan yang sebentar (saking sebentarnya, diibaratkan cuma mampir minum, katanya).

Balik lagi, ya. Saat ini, saya juga masih tertatih-tatih belajar membaca tanda. Selama belajar membaca tanda, saya merasa belajar juga untuk menerima kenyataan dan belajar bersyukur. Lho, kok bisa? Ya, membaca tanda dimulai dengan menerima suatu kejadian terjadi pada saya, sekaligus bersyukur kejadian itu terjadi pada saya, bukan yang lain. Lalu, saat ada sesuatu yang terjadi lagi, ingatan ini akan mereview kembali kejadian yang telah lalu, dan membuat kita tersenyum sambil berkata, “Oh, ini ta, maksudnya … ”. Intinya, lebih peka membaca tanda membuat kita tidak mudah memaki “Kok pahit?” pada sesuatu yang disebut kenyataan.

Ada saja percakapan random dengan anak-anak bisa menjadi tanda-tanda untuk saya.

Ada saja percakapan random dengan anak-anak bisa menjadi tanda-tanda untuk saya.

Saya tak pernah bermimpi bisa ke Amerika. Mau ngapain di sana? Sebagai mahasiswa jurusan ilmu Hubungan Internasional yang lebih menyukai isu-isu grassroot, Amerika seperti negara yang cukup tau saja dari buku, intenet, atau lainnya. Mengunjungi yang sudah maju itu terlalu mainstream dan bukan saya banget. Nyatanya, saya salah. Hanya berawal dari percakapan random nan lucu dengan seorang murid saya yang berharap saya bisa ke Amerika dan menyampaikan salam untuk ikan Piranha, obsesi yang ditemuinya di buku ensiklopedia. Saat saya sudah menginjakkan kaki di benua Amerika, ingatan saya langsung flash back ke percakapan dengan murid saya. Malu, rasanya. Terlambat membaca tanda dan terlanjur mengerdilkan mimpi.

Lagi. Sebagai warga negara kepulauan terbesar di dunia, ingin rasanya bisa berkeliling ke semua pulau di Indonesia. Sumatra sudah, Jawa sudah, kepulauan di Nusa Tenggara juga sudah, tapi Kalimantan? Kapan, ya? Nyatanya, suatu hari saya membantu seorang teman dalam kegiatan CSR sebuah perusahaan sekaligus ulang tahun komunitasnya dengan menjadi kakak pendamping kelompok untuk anak-anak. Seorang anak, dengan lantang menjawab “Kalimantan!” saat saya tanya apa nama kelompok kita. Saat saya tanya lagi mengapa memilih Kalimantan, si anak menjawab “Karena Kalimantan pulau terbesar di Indonesia.” Tahukah? Beberapa hari setelah kejadian itu, saya diminta untuk site visit ke Kalimantan, padahal semula, sesuai jadwal, saya ditugaskan untu site visit ke Bima. Malu? Iya. Saya terlanjur mendesah karena beberapa daerah di kepulauan Nusa Tenggara pernah saya kunjungi sebelumnya.

Banyak lagi kejadian lain yang baru saya sadari saat semua sudah terjadi. Semua semakin mengukuhkan saya harus lebih peka membaca tanda. Keluhan, kekecewaan, penolakan adalah kardus-kardus yang harus disimpan rapat di gudang belakang. Mereka haram untuk ikut menyambut di teras saat sebuah kenyataan bertamu.

Jadi masih malas untuk membaca tanda? Tenang, tanda yang kita baca sebenanrnya lebih mudah. Dia hanyalah serangkaian aktivitas manusia atau peristiwa. Bersyukur kan, bukan berupa sandi Morse ala anak Pramuka. Ah, Het, ketahuan, dulu suka absen ekstra Pramuka. Ketidakmampuan membaca sandi Morse jangan terbawa untuk ketidakmampuan membaca tanda. Ah, saya!

Senin, 19/10/2015, 17:57
Bangun tidur kuterus menulis, lalu mandi

*Dayoff pasca site visit yang produktif =p

1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: