Dosa Popmie

(Ini sebenarnya, sekadar obrolan yang lalu-lalu, tapi entah kenapa saya masih ingat. Bisa jadi kode semesta untuk saya menuliskannya. Baiklah).

Kamis beberapa minggu yang lalu, via obrolan Whatsapp, seorang teman di ujung sana menyebut soal ‘proses’. Begini katanya, “Hety, guru keren itu pun mulai dari nol. Semua bisa karena biasa. Everything needs process. Bahkan Popmie pun demikian.”

Sayangnya, Whatsapp itu terkirim 5 menit jelang pukul 00.00. Saya tak sempat membalas, pun mendebatkannya karena saya sudah ‘sleeping beauty’ alias tertidur pulas.

Bagaimana awalnya? Sederhana saja. Via percakapan Whatsapp, saya hanya berbagi cerita padanya. Begini, saya terkadang merasa malu untuk mengaku-aku sebuah usaha yang saya lakukan (hanya) dalam satu hari jika dibandingkan dengan orang-orang di luar sana yang sudah melakukan hal yang sama, lebih lama, serta (hebatnya) tanpa kicau berita. “Aku kadang malu, Kak. Di luar sana, sesungguhnya, masih banyak guru-guru keren yang berjuang di daerah.”

Keesokan harinya, saat membaca balasan Whatsapp darinya (itu tuh, paragraf pertama tulisan ini), saya spontan membalas. “Popmie aja instant. Mempercepat proses yang harusnya masak Indomie itu 7 menit.”

Saya kira percakapan itu akan berbalas lagi. Nyatanya, tidak. Saya penasaran saja dengan jawabannya yang melibatkan Popmie. Bagi saya, dosa Popmie adalah dia termasuk dalam bagian generasi tidak sabar. Bahwa Popmie berproses, ya. Tapi dia menginstankan yang sudah instan. Jadi, apakah ini masih bisa disebut ‘proses’?

Dua centang menandakan balasan saya dibaca olehnya. Yeah, paling tidak dia membaca.

Jadilah, sepanjang perjalanan ke kantor pagi itu, saya sudah punya ‘bekal’ untuk dipikirkan.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dari jawaban teman saya sampai saya harus repot memikirkannya. Semua hal besar tentu selalu dimulai dari hal kecil. Misalnya, kalau soal waktu, ya satu hari. Satu hari menjadi bagian dari perhitungan minggu, bulan, tahun, windu, bahkan abad, bukan?

Lucunya, pembicaraan tentang ‘proses’ ini masih berlanjut beberapa jam setelahnya, di lingkar pertemanan saya yang lain.

Bing! Ada sebuah email penugasan mendadak (yang artinya harus dikerjakan segera) yang dikomentari oleh seorang teman yang masuk dalam daftar penerima email besama saya. “Lu kira kita mie instan apa?”

Sedikit menggoda, saya pun menimpali, “Hei, ada yang lebih instan. Jawabnya gini, kamu kira kami Popmie?”

Sami mawon, Het. Popmie is mie instan.”

Generasi Sabar = Generasi Proses?

Dua kejadian yang tidak janjian tapi menimpa saya di waktu yang hampir bersamaan itu mengingatkan saya pada satu istilah hidup, yang bersama ‘proses’. Proses tidak sendiri. Proses melibatkan durasi atau waktu.

Lama atau sebentar kita berproses, bukan kita yang menentukan. Kita tidak berhak. Satu hal yang bisa kita lakukan hanya menunggu dengan cara berusaha sekuat tenaga sesuai kemampuan. Hmm, sesabar itukah kita, ya untuk berproses?

Saya kembali teringat analogi Popmie dan Indomie. Walau menurut teman saya dua-duanya adalah mie instan, tetap saja, bagi saya, ada yang berbeda.

Indomie adalah mie instan. Indomie adalah sebuah solusi dari memasak mie yang relatif lama. Waktu memasak mie yang 15 menit, menjadi 7 menit saja dengan Indomie. Walaupun sudah 7 menit, nyatanya, bisa dipersingkat lagi menjadi 3 menit, hanya dengan air panas dan Popmie, namanya. Voila, mie! Itu yang saya ceritakan di atas sebagai menginstankan sesuatu yang sudah instan.

Masih sabar membaca tulisan ini? Lanjutkan …

Lagi-lagi proses. Sebenarnya, saya bukan orang yang enggan untuk melewati proses. Toh, kalimat yang saya imani selama ini adalah ‘Great thing takes time.’ Semua berproses, bersabar, untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Selain bahwa kita harus bersabar untuk sebuah proses, ada hal lain yang harus kita ketahui juga. Bahwa setiap hal-hal yang kita lewati sebaiknya membuat diri ini tetap menjadi biasa. Maksudnya, ya selama berproses, selama belajar, tetap rendah hati dan tidak berlebih-lebihan dalam bersikap. Jagalah diri agar tetap menunduk. Di atas langit, masih ada langit.

Pada sebuah kantor, 21:35 WIB
Selamat menghabiskan Selasa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: