The Right Moment Part 2: Plan F, Friendship

Gado-gado kacang tanah,
Kalau nggak jodo ya mau gimanah .. (@AstaDewanti)

Makan gado-gado nambah gorengan,
Meski nggak jodo, asal barengan .. (@Nan3W)

Semula, #RUBIBawean akan diadakan pada awal bulan Juni lalu. Berhubung tingginya ombak Laut Jawa dan tidak ada kapal yang berani berlayar, akhirnya tim #RUBIBawean batal berangkat ke Pulau Bawean. Jadwal pun disusun ulang, dipilih dua bulan kemudian dengan pertimbangan kondisi cuaca dan posisi bulan dari BMKG. Cukup valid, bukan? Akhirnya, para relawan sepakat memilih tanggal 7-10 Agustus 2015 untuk kembali (lagi) ke Pulau Bawean.

Sabtu (8/8)

Perjalanan bandara Juanda – Gresik pada dini hari memang melelahkan. Pukul 02.00 WIB lebih, saya dan teman-teman relawan #RUBIBawean tiba di Gresik dan menginap di rumah seorang relawan Dhurung Elmo (thanks to: Mbak Rida). Dalam beberapa jam ke depan, pukul 09.00 WIB, kapal Natuna Express akan membawa kami ke Pulau Bawean. Jadi, terbayang, siapa yang berani tidur nyenyak pada dini hari itu?

Pukul 07.30 WIB, kami sudah siap berangkat lagi ke pelabuhan Gresik. Mata panda atau kantung mata masih ada, menyisakan kantuk semalam. Nanti bisa lanjut tidur lagi di kapal, bela kami. Pagi itu, ada seorang relawan Dhurung Elmo lain (thanks to: @ChyBlnPurnama) yang berbaik hati ‘mengangkut’ kami serombongan untuk ke pelabuhan dengan mobilnya. Senyum kami cerah menyambut kedatangannya. Tapi …

Hari ini nggak ada kapal. Baru saja ada info dari pihak pelabuhan!”

Kalimatnya datar, tanpa ba bi bu, dan jelas. Fakta, kan? Mau diramu dengan pilihan kata yang lain pun, intinya tetap sama. Tidak ada kapal. Saya langsung teringat pembicaraan via telepon dengan mama semalam saat tiba di bandara Juanda. Memang janji saya untuk selalu mengabarkan mama keberadaan saya di muka bumi ini. “Duh, Dek, hati-hati. Katanya, ke Natuna, kok kamu malah mau ke Bawean. Jauh, Dek.”

Saya sudah cerita di tulisan sebelumnya. Tugas saya hanya berusaha, bukan merasa (lalu mengomel, meratapi nasib, dan menyalahkan keadaan). Surabaya memang menjadi pintu gerbang ‘The Right Moment’ saya untuk ke Bawean, tapi pagi ini, pintu gerbang itu nyatanya tertutup atas nama ketiadaan kapal. Mau dikatakan apa lagi? Ternyata kali ini bukan ‘The Right Moment’ saya. Feeling mama benar adanya.

Hei, lihat sisi positifnya. Di sini, saya sedang bersama orang-orang baru, teman-teman baru, keluarga baru. Memang bisa dihitung dengan jari berapa lama kita saling kenal. Tapi bukanlah lama perkenalan tidak menentukan kedekatan sebuah hubungan?

Plan A switched. Let’s do Plan F. Friendship.

Sebagai penghibur hati, relawan Dhurung Elmo (thanks to: @ChyBlnPurnama dan @OmIrwaan) mengajak kami untuk menjemput buku-buku yang dikumpulkan oleh siswa-siswa SMA Muhammadiyah 1 Gresik. Dia juga berjanji untuk mengantarkan kami ke pelabuhan. Yah, setidaknya, untuk melihat pelabuhan (please, jangan ditertawakan. Ini menjadi sedikit sentimentil untuk kami Tim #RUBIBawean). Walau secara kostum saya dan teman-teman tidak matching untuk standar kostum bertemu instansi resmi, biarlah. Siapa tahu bertemu guru dan beberapa murid bisa menjadi hiburan.

Siapa sangka, sambutan guru-guru di sana sehangat sinar matahari Gresik hari itu. Kami diajak duduk di ruang rapat sekolah dan mengobrol dengan sosok guru, bernama Dewi Musdalifah, admin Humas sekolah sekaligus pegiat sastra Gresik. Rupanya, Ibu Dewi sangat menantikan kesempatan untuk bisa sharing dengan para Pengajar Muda. Saking inginnya, beliau sudah punya fantasi rasa sendiri, “Ngobrol dengan guru lalu dengan Pengajar Muda pasti rasanya seperti makan nasi lalu makan spaghetti.”

Walaupun kali ini baru bertemu relawan Indonesia Mengajar dan saya, Pengajar Muda angkatan II yang sudah purna tugas, Ibu Dewi tetap antusias mengobrol, bahkan bisa dikatakan, dengan ilmu sastra dan kepenulisannya, kami yang belajar hari itu dengan Ibu Dewi.

Di bangku sekolah, perempuan umumnya lebih rajin daripada laki-laki, apalagi dalam soal menulis. Tapi, semakin lama, jumlah penulis atau sastrawan perempuan tidak banyak. Mengapa? Karena perempuan kurang ulet, perempuan terkendala norma dalam masyarakat. Padahal, menulis bagi perempuan itu penting. Perempuan atau sosok ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Kalau perempuan saja tidak menulis, perempuan mau menyampaikan nilai ke anak-anaknya dengan cara apa?” Itulah gagasan Ibu Dewi yang disampaikan kepada kami.

Bagi Ibu Dewi, menulis adalah sebuah terapi. Ibu Dewi pernah menunggui muridnya menulis sampai 2 jam. Semula, sebelum menulis, muridnya hanya menangis. Ternyata, si murid memiliki kisah yang selama ini disembunyikannya dan belum pernah diungkapkan pada siapa pun.

Selalu happy 'main-main' ke sekolah. Bagi saya, suasana sekolah itu khas sekali. Walau dalam foto ini, @Tunjungdmrjt dan @emtibyan usil (Foto: @Nan3W)

Selalu happy ‘main-main’ ke sekolah. Bagi saya, suasana sekolah itu khas sekali. Walau dalam foto ini, @Tunjungdmrjt dan @emtibyan usil (Foto: @Nan3W)

#RUBIBawean bersama Ibu Dewi Musdalifah (Foto: @AstaDewanti)

#RUBIBawean bersama Ibu Dewi Musdalifah (Foto: @AstaDewanti)

Gagal berlayar, cukup beraksi di depan kapal. Saya mengabadikan aksi mereka. Melihat relawan #RUBIBawean happy, saya pun happy (Pelabuhan Gresik)

Gagal berlayar, cukup beraksi di depan kapal. Saya mengabadikan aksi mereka. Melihat relawan #RUBIBawean happy, saya pun happy (Pelabuhan Gresik)

Setelah puas mengobrol di sekolah dan mampir pelabuhan, akhirnya, kami memutuskan untuk berangkat ke Situbondo malam itu. Situbondo dipilih karena ada rumah salah satu relawan (thanks to: @Tunjungdmrjt), sekaligus ada taman baca di Rumah Pemulihan Gizi (RPG) di Dinas KEsehatan Situbondo yang bisa diaktivasi (thanks to: @AstaDewanti).

Apakah kami menyimpang? Toh, tema #RUBIBawean adalah ‘Pengelolaan Taman Baca’. Daripada kami reschedule tiket dan tidak mendapatkan apa-apa sekembali ke Jakarta, lebih baik kami menjalankan rencana yang lain, rencana yang spontan, tapi tetap bisa dipertanggung jawabkan. Oke, dalam hidup, kita memang tidak bisa mundur, hidup selalu maju, lurus ke depan, tapi ingatlah, selalu ada kesempatan di depan sana untuk belok kanan atau kiri yang membuat kita sampai juga ke destinasi. Ini tentang beda jalan, sama tujuan.

Sampai jumpa di Situbondo!

Baca tulisan sebelumnya, The Right Moment Part 1: Count Me In #RUBIBawean

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: