Something From Sudirman

Adalah saya, yang setiap pagi Senin sampai Minggu, melewati jalan raya Sudirman. Naik taksi, naik ojek, naik mobil (temen), naik motor (dibonceng temen), naik bus (metromini, bus gratis, busway), pokoknya semuanya!

Pun dengan kendaraan beroda dan bermesin, saya juga selalu berjalan kaki melewati jalan raya Sudirman. Bagi saya, berjalan kaki selalu menghadirkan kenikmatan sendiri. Capek tak jadi soal, asal dua bola mata ini terhibur dengan ‘aksi’ para Jakartans (sebutan untuk para warga ibukota).

Jadi, kenalkan saya, si pengamat jalanan Sudirman!

Jalan kaki selalu memberikan kesempatan untuk melihat lebih dekat. Menemukan hal-hal ajaib yang selama ini terlewat jadi bonus. Sebut saja, kesukaan saya mengamati apa yang dipakai orang-orang itu di pagi hari saat hendak berangkat ke kantor. ‘Sudirman fashion street‘ (sayang saya belum sempat menyertakan foto dalam tulisan ini).

Tak perlu lagi khawatir terlewat satu edisi majalah fashion untuk up date tren terkini, cukup melihat apa yang kebanyakan dipakai orang-orang itu saat melintas. Saya kadang geli sendiri. Warna baju mentereng sampai kalem, bahan baju sesuai atau melawan cuaca, sepatu lucu versus sandal butut, baju matching versus asal pakai sekenanya. Jakartans memang benar-benar beraneka rupa dan rasa.

Selain parade fashion, hal lain yang saya suka adalah saya random bertemu orang dengan profesi yang sebelumnya tak terbayang. Misalnya, saat saya berjalan di sebuah gedung di kawasan Sudirman, tiba-tiba ada seorang bapak berseragam rapi yang aktivitasnya membungkuk mengamati conblock dan memungut sesuatu dari sana. Entah, profesi macam apa itu. Dari tampilannya, nampak bukan petugas kebersihan biasa.

Lain halnya dengan ini. Ada seorang bapak berseragam rapi yang merapikan bendera-bendera yang terpasang di pagar sebuah gedung. Maklum, jelang 17 Agustus, banyak gedung yang mendandani dirinya sedemikan rupa. Si Bapak dengan telaten merapikan ujung-ujung bendera yang tergulung tertiup angin.

Dari parade fashion sampai profesi ajaib, saya terhibur untuk melihat sisi lain dari suatu hal. Lagi-lagi ini soal jalan kaki, melihat lebih dekat untuk yang terlewat. Surdiman macet? Itu cerita repetisi yang selalu bisa dimaklumi sebagai jalan raya jantung Jakarta. Sebaliknya, saya percaya masih banyak sejuta cerita lain dari Sudirman.

Selamat pagi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: