Antara A dan O

Antara A dan O. Selain tentang 14 huruf yang memisahkan keduanya, ada 27 tahun hidup saya di sana.

Krisis jati diri (ciee.. ) datang Sabtu kemarin saat tiba-tiba, seorang ibu berkata kepada saya, “Mbak A, bukan O!”

Takjub beberapa detik, saya baru bisa melakukan pembelaan, “Ibu, tapi dari kecil dan di semua dokumen tertulis bahwa golongan darah saya O.”

Nih lho, mbak, kalau nggak percaya,” jawab si ibu sambil menunjukkan dua tetes darah saya yang sudah dicampurkan suatu zat dan membuat warnanya berubah dari semula merah, “Kalau yang seperti ini, golongan darahnya A.” Si ibu dengan sigap, langsung mencoret kolom golongan darah yang saya tulis di formulir isian. Dari O, dicoret tebal dan mantap, A!

Karena darah mbak tidak cocok dengan darah yang dibutuhkan, mbak tidak bisa donor,” lanjut si ibu.

Percuma. Sebagai anak sosial, saya gagal paham saat diterangkan sesuatu yang berbau scientific atau kebiologi-biologian, keobat-obatan, kefisika-fisikaan, apalagi kekimia-kimiaan.

Kok golongan darah bisa ganti, ya, Bu?” sepolos-polosnya saya bertanya. Mengulur waktu agar mendapat penjelasan. Mempertanyakan sebenarnya, khas anak sosial hehe.

Mbak, golongan darah mbak nggak berubah. Kalau mbak tesnya pas bayi, itu kurang valid. Mending mbak tes lagi di lab.” Pernyataan tegas dari si ibu, mengusir saya dari arena. Saya pun beringsut mundur berganti antrean selanjutnya di belakang saya.

Jadi, begitulah kejadian kemarin yang langsung membuat saya galau dan krisis jati diri. Sambil duduk di bangku tunggu antrean, saya mengirim BBM ke mama dan kakak saya yang sangat paham dengan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (termasuk di dalamnya, trio Biologi, Fisika, dan Kimia).

Kamu anaknya siapa, Het? Bhahahahahaha.” BBM balasan dari si embak justru bukan jawaban dari pertanyaan singkat yang saya ajukan, “Mbak Yen, golongan darah bisa ganti ya?”

Mama O, papa B, aku O. Masak kamu A?” si embak malah mempertanyakan balik.

Bagaimana tidak, ini kali pertama saya melakukan donor darah. Sebelumnya, saya ditolak di PMI – Senayan City karena Hb (Hemoglobin) saya rendah sehingga tidak memenuhi persyaratan. Terkait golongan darah, kala itu, sama sekali tidak disinggung. Jadi, terbayang kan, kalau kemarin, saya langsung divonis bergolongan darah A.

Walaupun tidak jadi donor untuk teman yang anaknya sedang membutuhkan golongan darah O, akhirnya, saya tetap melakukan donor darah. Golongan darah A, tentu saja. Saya sempat deg-degan tidak memenuhi syarat. Selain (kadang-kadang) darah rendah, pagi itu saya melewatkan sahur, kesiangan. Komplet, kan? Tapi Alhamdulillah, berkah Ramadhan, saat dites, dokter menyatakan saya dalam kondisi fit dan siap untuk menjadi donor.

"Hai, semua!" Tenang, ini nyengirnya nyengir hepi. Rasanya, nggak sakit kok. Thanks to bapak di sebelah saya yang udah bersedia motoin. "Pasti baru pertama, ya, Mbak?" Hehe, bapak tahu aja.

“Hai, semua!” Tenang, ini nyengirnya nyengir hepi. Rasanya, nggak sakit kok. Thanks to bapak di sebelah saya yang udah bersedia motoin. “Pasti baru pertama, ya, Mbak?” Hehe, bapak tahu aja.

Lucunya, Minggu malam kemarin, saya menanyakan golongan darah papa saat papa menelepon. Papa lalu menjawab, “A, dek!” Saya pun melongo sekaligus malu. Keluarga kecil, hanya empat orang kepala di dalamnya, tapi saya merasa tidak cukup tahu informasi penting, seperti golongan darah setiap orang. Saya kira papa AB, lalu dari kakak saya, katanya papa B. Sepertinya, kejadian ini membuat saya harus menghapal lagi golongan darah setiap orang layaknya anak Sekolah Dasar yang diminta menghafal perkalian.

Saya mencoba menjawab, ya …
Oh ya, ini donor pertama kali saya, lho! Kalau ditanya, sakit atau tidak? Saya jawab sakit di awal dan di akhir saja. Seberapa sakitnya? Hanya seperti digigit semut. Cekit, sekali saja, sudah (lebih sakit patah hati =p). Percayalah, ini jawaban jujur dari saya yang sebenarnya takut melihat jarum suntik. Sedikit tips, sebaiknya tidak melihat si jarum jika kita takut. Lebih baik melayangkan pandangan ke objek lain di ruangan hehe.

Berapa lama? 10 menit. Sebentar, kan? Dan tidak terasa. Bahkan bisa sambil main HP.

Petugasnya baik? Baik dan ramah. Petugas yang menangani saya, mengajak saya mengobrol untuk mengalihkan perhatian saya saat si jarum suntik beraksi. Saya kayak bocah, ya? Hehe. Di awal, saya jujur kepada si petugas bahwa saya takut dengan jarum suntik.

Setelah donor, efeknya apa? Bahagia, hehe. Bagi saya, akhirnya pecah telor pernah donor darah dan mengalahkan ketakutan saya sendiri selama ini. Apakah pusing dan lier? Katanya, tergantung kondisi kita saat itu. Alhamdulillah, kemarin saya tidak. Bahkan, saya pulang masih bisa naik busway (bayangkan: naik tangga dan melewati jembatan busway yang aduhai itu).

Udah, sampai situ aja? Setelah donor, dapat apa? Selain itu, setelah donor, kita akan mendapatkan goodie bag berlogo PMI berisi makanan dan minuman ringan, sekaligus multivitamin. Kartu donor darahnya juga disimpan baik-baik ya, untuk donor selanjutnya.

Goodie bag dari PMI yang diberikan setelah kita selesai donor.

Goodie bag dari PMI yang diberikan setelah kita selesai donor.

Di mana saya donor? Di PMI Kramat. Menurut saya, sangat accessible. Alamatnya Jl. Kramat Raya No. 47 Jakarta 10450, telepon: (021) 3906666. Kalau naik busway, dari Halte Harmoni, naik ke arah PGC, lalu turun di Halte Pal Putih. Dari Halte Pal Putih, jalan 100 meter, dan sampai deh di gedung PMI Kramat.

1 comment
  1. ajeng said:

    Aaaaaa aku kan sudah menebaknya pas raker kemaren, kamu jelas golongan darah A banget! rapi, teliti, tekun, dan perfeksionis. Itu jelas ciri A, bukan O. Yeaaay! Aku benaar! ahahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: