Mulusnya Jalan Kebaikan

Namanya, Pak Dian Kelana. Saya mengenalnya begitu. Tidak sebegitu kenal deng. Baru benar-benar kenal mengucap nama dan bersalaman kemarin. Sebenarnya, ini bukan kali pertama saya bertemu beliau. Saya sering bertemu dengan beliau pada beberapa acara blogger/community gathering. Dasarnya saya orang visual, saya hanya kenal muka saja.

Kemarin, saat acara peluncuran Anugerah Jurnalistik Aqua (AJA) V, kami duduk bersebelahan. Merasa kenal muka tidak tahu nama, maka saya manfaatkan kesempatan ini untuk berkenalan. Kami saling menyebut nama, bertukar kartu nama, menambahkan akun twitter, dan ngobrol tentang motivasi menulis.

Saat diskusi berlangsung, saya asyik mencatat. Saya memang lebih senang menulis manual (baca: pegang pulpen dan menulis di kertas) daripada mencatat di HP. Rupanya, sore itu, saya lupa membawa buku kecil saya. Jadilah, saya menulis di atas selembar metaplan yang berisi coretan arahan bos saya saat di kantor (dilarang ketawa, please, lihat betapa kreatifnya saya haha). Terlanjur, saya pun menulis tak beraturan. Vertikal, horizontal, tabrak sana, tabrak sini. Sampai kertas itu penuh.

Nih!” Tanpa saya duga, Pak Dian menyodorkan notes kepada saya, “Ambil.”

Saya speechless. Mungkin, beliau kasihan melihat saya menulis di metaplan yang memang sudah penuh coretan tapi tetap saya paksakan. Terima kasih, Pak Dian. Saya jadi malu *blushing.

Tidak sampai di situ saja, saya jadi ingat kejadian serupa yang dialami teman saya. Dulu, saat bertugas sebagai guru di daerah penempatan, kami sudah diwanti-wanti dengan kalimat ‘Lepaskan baju kota kalian.’ Kalimat ini sebenarnya multitafsir. Jika ditelan bulat-bulat, maknanya seperti nasehat agar kita berpakaian yang sederhana, tidak mencolok, sehingga tidak berjarak dengan masyarakat di sana. Sedangkan jika dilihat lebih dalam lagi, maknanya tidak hanya sekedar baju yang kita pakai (literally), tetapi juga nasehat agar kita pandai beradaptasi dan menempatkan diri di masyarakat. Maklum saja, sebagai angkatan pertama yang di tugaskan di daerah itu, tugas pertama kami adalah membuat keberadaan kami diterima. Mengingat, Indonesia Mengajar, akan berada di daerah itu selama lima tahun dan akan ada lima guru yang dikirimkan setiap tahunnya.

Alkisah, teman saya mengajar di Aceh dan memiliki kemeja yang senantiasa dipakainya pada situasi apapun. Mengajar di kelas, pertemuan wali murid, bahkan sampai menghadiri undangan. Sebenarnya, bukannya tidak punya, tapi sudah menjadi kebiasaan bagi kami, lebih praktis untuk tidak mengeluarkan semua koleksi baju yang kita punya. Sebagai gambaran, untuk satu tahun penugasan, cukup packing baju untuk 2 minggu, sepertinya sudah cukup. Tinggal cuci, kering, pakai saja.

Nah, singkat cerita, saat ibu angkatnya mengajaknya menghadiri undangan, teman saya langsung disodori bungkusan baju baru. Ibu angkatnya memintanya untuk berganti baju. Terbayang, kan, betapa terkejutnya dan terharunya teman saya.

Lagi-lagi ini bukan soal tidak punya. Jangan-jangan ini hanya soal kecepatan. Kecepatan kita untuk mengeluarkan barang pengganti karena barang sebelumnya sudah usang melawan kecepatan niat baik orang-orang (yang tanpa kita sadari) melihat tingkah laku kita. Saya yakin, Tuhan selalu memberikan ‘jalan tol bebas hambatan’ untuk niat baik setiap orang agar cepat diaksikan.

Happy Ramadhan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: