Curhat Si Bungsu

Apakah menjadi kakak itu sulit? Yakin, pertanyaan itu tidak akan terjawab jika ditanyakan pada si bungsu. Dia yang terkecil, tidak pernah tahu rasanya menjadi yang besar (atau agak besar) kalau tidak ada yang lebih kecil darinya.

Sebagai bungsu, dulu, saya kagum dengan kakak saya. Bukan tentang ukuran tubuh atau fisik (jelas saja, badan saya lebih ‘bongsor’ daripada badannya) melainkan dari sisi kepribadian. Bagaimana dia memilih untuk berani jalan-jalan di rak supermarket sendiri daripada berjalan patuh di samping mama atau bahkan bagaimana dia bisa memilih untuk menyukai warna hitam daripada pink. Caranya membuat keputusan itu, saya suka.

Seiring tumbuh dewasa, saya pun sadar. Hal-hal yang dulu saya kagumi dari seorang kakak, bisa saya lakukan kini. Ternyata rumusnya gampang, saya tinggal hidup di usianya, maka saya pun akan melakukan hal yang sama. Jadi, runtuh sudah teori kekaguman bungsu pada si kakak yang saya amini sejak masih bayi.

Oh ya, kalau ditanya cita-cita si bungsu? Saya menjawab ingin menjemput adik di sekolah. Bagi saya, rasanya seperti tugas negara. Memastikan si adik dijemput dengan riang gembira dengan didahului adegan pencarian di abang-abang tukang jajan atau sedang main bola di lapangan. Seru, kan? Sayang, cita-cita itu tidak pernah kesampaian. Bungsu tetaplah adik terkecil.

Beda empat tahun dan hidup dengan kepastian teknologi yang maha labil (baca: dinamis, selalu berganti), membuat para bungsu beruntung. Setidaknya, dia tidak lagi mengalami ‘zaman susah’ si kakak. Semua terjawab dan … selisih usia justru menjadikan mereka teman, rekan, mitra hidup.

Jadi masih ingin menjadi kakak? Hmm, kalau secara biologis tidak tertakdirkan demikian, Tuhan nampaknya masih memberikan saya kesempatan. Di bangku SMP, SMA, dan kuliah, selalu saja saya dipanggil ‘Mbak’ atau ‘Kak’ oleh adik-adik saya. Adik apa?? Adik kelas.

Adik kelas memang bukan sesuatu yang ‘given’ dari yang di atas tapi itu seperti ‘hadiah’. Setiap saya naik kelas, saya punya adik kelas. Tidak hanya satu, tapi banyak. Tergantung, seberapa kenalnya kita. Kalau memang cocok, kita bisa pinjam-pinjaman layaknya kakak-adik biologis. Ya, pinjam buku catatan, pinjam sepatu pantofel untuk baris, pinjam kaos olahraga, semua deh.

Lepas dari bangku sekolah, nyatanya, masih saja saya menjadi kakak bagi mereka yang berusia di bawah saya. Di tempat kerja, misalnya. Yakinlah, ini bukan pekerjaan yang mudah. Tidak hanya urusan pinjam-meminjam saja, tugas bertambah untuk mengajarkan sesuatu agar dilakukan dengan benar. Walaupun demikian, nyatanya, bagi saya, si bungsu, ini tetaplah menyenangkan. Saya selalu tersipu. Tuhan tahu rasanya si bungsu ingin menjadi kakak.

#NulisRandom2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: