Satu Setengah Jam Saja

16 Juni 2015

Jarak Sudirman – Priuk bagai mimpi buruk Senin sore kemarin. Apa sih yang tidak menjadi mimpi buruk di Jakarta selain kemacetan jalan raya? Terlebih perjalanan dari selatan ke utara ini terjadi pada sore hari. Ya, sore hari, di mana orang-orang ‘berlomba’ pulang kerja. Siapa cepat, dia dapat … kursi bus, katanya.

Setidaknya, jarak Sudirman – Priuk masih dekat jika dibandingkan dengan Jakarta – Bawean. Itulah semangat saya satu-satunya. Satu lagi, ada busway yang hanya dengan Rp 3.500,00, kamu bisa sampai di ujung Jakarta. Apa lagi yang dikhawatirkan?

Menurut aplikasi Komutta di handphone saya, untuk mencapai halte Tanjung Priuk (terminal), dari halte Bundaran Senayan, saya harus melewati 56 ‘stops’ alias 56 halte! Welcome to something called reality, darling. Apakah detik berikutnya saya pingsan? Tidak, sepertinya 56 ‘stops’ itu mudah. Hanya tinggal duduk manis kan?

Setelah minta izin ke manager untuk pulang lebih awal, saya bergegas menuju halte busway Bundaran Senayan. Jika dari Sudirman pukul empat sore, saya berharap bisa sampai Priuk sebelum adzan Isya berkumandang. Semoga.

Pukul lima kurang lima belas menit, busway yang saya tumpangi sudah sampai di Stasiun Kota. Cepat? Banget! Walaupun demikian, nampaknya ada ‘kenyataan’ yang belum masuk dalam narasi optimisme saya. Ternyata, waktu perjalanan terlama adalah saat saya, dari halte Stasiun Kota, harus menunggu busway koridor 12, menuju Tanjung Priuk. Ditambah, sore yang mulai menggelap dan jalanan yang mulai padat kendaraan. Lengkap sudah!

Tidak usah dibayangkan, bentukan saya saat berada dalam busway koridor 12, dari Stasiun Kota menuju Tanjung Priuk. Sudah pernah ‘berkeliaran’ di Jakarta Utara dan sekitarnya, khususnya saat petang menuju malam? Yah, begitulah gambarannya.

Bukankah perjuangan menjanjikan hadiah di ujungnya?

Ayu dan Fani, hadiah saya malam itu. Dari perjalanan panjang Sudirman – Priuk, akhirnya, saya berhasil bertemu Ayu dan Fani selama satu setengah jam. Ayu dan Fani, kakak beradik. Mereka berdua tinggal dan bersekolah di Bawean. Sebelum bulan puasa, bersama Ibunya, mereka menyempatkan untuk mengunjungi makam ayahnya di Jakarta.

Ayu dan Fani memang bukan murid saya di sekolah tempat saya mengajar dulu. Tapi karena rumah mereka di dekat pantai dan bersinyal, rumah mereka menjadi transit saya sebelum ‘naik’ ke gunung, menuju desa. Dari situlah, saya kenal, lalu disambung bernyanyi lagu anak-anak bersama, membantu mengerjakan PR, dan kegiatan menyenangkan ala anak-anak lainnya.

Kalau dulu, Ayu masih kelas 5 SD, kini sudah kelas 2 SMP. Fani, yang dulu belum sekolah, kini duduk di kelas 2 SD. Ayu, kini, suka pelajaran Bahasa Inggris, sedangkan Fani (saya tidak sempat bertanya) bertambah tinggi sekian centi. Ayu, kini, tidak pemalu lagi. Sebaliknya, Fani, yang dulu suka menyanyi, menjadi anak yang lebih pendiam. Setelah tiga tahun sekian bulan tidak bertemu mereka, melewatkan pertumbuhan mereka, ternyata, hal yang paling membahagiakan yang terjadi adalah … mereka ingat saya!

Ya, mereka ingat saya! Satu setengah jam bercerita dan saling lempar senyum karena tak menyangka akhirnya bisa bertemu di Jakarta. Maklum, sejak kembali dari penugasan dari Bawean tahun 2012, dari 6 orang yang bertugas di sana, hanya saya satu-satunya yang belum sempat kembali lagi ke sana. Kangen? Banget! Walau hanya satu tahun, Bawean seperti menjadi kampung halaman kedua saya.

Apa yang terjadi pada saya selama tiga tahun? Pindah kos, pindah kantor, pergi ke sana-ke mari, jatuh sakit, acara ini-itu, dan lainnya, anak-anak itu tetap tumbuh. Semua tumbuh dan berubah dengan sendirinya tanpa ada kuasa saya untuk menunda usia mereka. Walaupun demikian, kenyataan yang serba baik itu hanya menyisakan kenyataan bahwa saya pernah menjadi bagian dari masa kecil mereka.

Kenalkan, namanya Ayu. Tak menyangka, sudah besar sekarang. Sudah tidak semalu-malu dulu kalau saya ajak foto. Kemarin, langsung pasang senyum. Cheers, Ayu!

Kenalkan, namanya Ayu. Tak menyangka, sudah besar sekarang. Sudah tidak semalu-malu dulu kalau saya ajak foto. Kemarin, langsung pasang senyum. Cheers, Ayu!

PS.
Tiba-tiba saya merasa bahwa dihantui rasa penasaran untuk melihat anak-anak kita tumbuh besar adalah karma menjadi guru selama satu tahun di suatu daerah😀

#NulisRandom2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: