Saya dan Dinosaurus

Mimpi sederhana saya di peak season kantor Juni ini adalah bisa nonton Jurassic World (dan Insidious 3). Yakin, sederhana??

Tidak pernah sempat jika tidak disempatkan menjadi mantra untuk ‘curi-curi’ waktu di kala badai pekerjaan datang. Mau mengeluh juga bukan sebuah solusi. Jadi, marilah menari di antara deadline yang turun bagai rintik hujan.

Kalian bisa jadi menganggap saya aneh karena meletakkan kebahagiaan di antara deadline pekerjaan dengan hanya menonton Jurrasic World. Sumpah demi apa? Itu hanya sebuah film!

Film tentang dinosaurus-dinosaurusan itu (yeah, itu animasi kan? Izinkan saya menyebutnya demikian) menyimpan kenangan masa kecil saya. Kala itu, papa mengajak saya dan Si Embak ke bioskop untuk menonton film dinosaurus, The Lost World: Jurrasic Park, di bioskop Ratih 21, Jogja (Note: Jangan dicari, sekarang bioskop itu sudah tidak ada).

Ritual jalan bertiga ini adalah cara papa untuk menghibur anak-anaknya yang kangen mama. Di tahun itu, mama sedang menempuh pendidikannya di TVRI Jakarta. Kalau sekarang saya bayangkan, lucu juga. Saya dan Si Embak benar-benar menjadi anak papa.

Jadi, nostalgia dengan film dinosaurus ini yang kamu cari sebagai kebahagiaan, Het?

Bioskop terdekat dari Kemendikbud Fatmawati adalah Blok M Plaza. So, here we go. Satu keinginan tercapai untuk 'mood booster' di antara ke-hectic-an bulan Juni.

Bioskop terdekat dari Kemendikbud Fatmawati adalah Blok M Plaza. So, here we go. Satu keinginan tercapai untuk ‘mood booster’ di antara ke-hectic-an bulan Juni.

Lima menit sebelum film dimulai, tiba-tiba HP saya bergetar. Ada sms masuk dari … PAPA!!

Ass. Baru apa dik?”

(SMS yang khas papa sekali untuk mengecek keberadaan anak perempuannya).

Jadi, beginilah ikatan kuat saya dengan film dinosaurus. Sekarang kalian percaya?😀

Oh ya, walaupun ada label R 13+ (artinya, ‘R’ untuk Remaja, ’13+’ untuk usia tiga belas tahun ke atas) untuk film Jurassic World ini, kemarin yang duduk di samping saya adalah keluarga dengan anak satu berusia pra-TK. Setiap ada adegan dinosaurus yang memangsa manusia, si bapak akan menggendong anaknya dan lari ke belakang stage. Itu dilakukan berulang kali. Sebaliknya, saat ada adegan telur dinosaurus yang menetas, gentian si ibu yang akan menjelaskan kepada anaknya. Hmm, ada-ada saja, ya.

#NulisRandom2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: