Pelajaran ‘Bagus-bagusan’

Tentang kejujuran dan masalah originalitas. Tahu apa ya, saya yang dulu masih duduk di kelas 2 SD. Setelah dewasa, kini, saya bisa bercerita di blog ini.

*Sungkem dulu dengan guru SD saya.

***

Dulu saat kelas 2 SD, ibu guru saya meminta kami, siswanya, untuk membuat jam. Jam yang sederhanalah, instruksinya. Boleh berbentuk apa saja, asal ada angkanya, jarum jam, dan … apapun. Pokoknya, jam!

Karena akan menjadi penilaian pelajaran Kerajinan Tangan dan Ketrampilan (KTK), kami diminta untuk kreatif dan mengembangkan ide sendiri. Jadi, bahannya suka-suka, boleh dari karton, kertas kalender bekas, kertas warna, terserah.

(Hmm, kalau saya ingat-ingat lagi, mungkin ibu guru saya sedang menerapkan prinsip ‘Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui’. Memang sih tugasnya untuk pelajaran ketrampilan, tapi pasti ibu guru ingin mengetes juga, apakah kami paham dengan hitungan jam yang ada di pelajaran Matematika).

Akhirnya, selama beberapa kali pertemuan pelajaran KTK, kami semua diminta untuk menyelesaikan jam itu di kelas. Semuanya bekerja, menempel, menggunting, menjiplak, dan lain-lain. Saya melihat teman-teman saya juga begitu. Karena keterbatasan waktu di kelas, ibu guru pun meminta kami untuk menyelesaikan jam itu di rumah dan minggu depan harus dibawa ke sekolah untuk penilaian.

Seminggu berlalu. Betapa terkejutnya saya saat itu, ketika melihat jam milik teman-teman saya berubah. Jamnya ada yang berbentuk ayam, bulat, dan persegi warna-warni. Penggunaan lemnya sangat rapi. Bentuk angkanya cantik. Dua jarum jamnya dikaitkan dengan paku pines (paku payung) dan diberi pengganjal di belakang, sehingga kedua jarum jamnya dapat diputar sedemikian rupa sesuka hati.

Sedangkan punya saya? Jangan tanya! Kedua jarum jamnya saya rekatkan dengan lem, sehingga tidak dapat diputar. Jam saya berbentuk rumah. RSSS, Rumah Sangat Sederhana Sekali. Lemnya belepotan di sana-sini. Di hari penilaian itu, rasanya campur aduk, ibarat jus kombinasi dari buah kecewa, buah sedih, dan buah dongkol.

Mengapa ibu guru tidak bilang kalau jarumnya lebih bagus jika bisa diputar-putar? Mengapa teman-teman saya bisa mendapatkan ide seperti itu sedangkan saya tidak? Mengapa jam teman-teman saya menjadi bagus bentuknya, padahal saat di kelas tidak seperti itu? Pasti mereka dibuatkan orang tuanya karena drastis sekali perubahannya. Tahu begitu saya minta dibuatkan mama saja. Mana mungkin teman-teman saya bisa menempel dengan pines dan mengganjalnya dengan karet dengan rapi, itu kan berbahaya.”

Selain itu, bisa jadi saya anak yang sensitif untuk menerima fakta ini, semua jam yang jarumnya dapat diputar-putar disimpan di kelas. Hal itu pertanda hasil karyanya bagus (entah, ibu guru sadar atau tidak melihat perubahan jam milik teman-teman saya). Sedangkan jam buatan saya? Jarumnya tidak dapat diputar karena keduanya saya rekatkan dengan lem. Lemnya belepotan di sana-sini. Setelah dinilaikan, boleh dikembalikan, boleh di bawa pulang, pertanda hasil karyanya ‘tidak’ bagus. Angka 6,5 pun tersenyum pada saya.

Sejak tragedi jam itu, saya sakit hati dengan pelajaran KTK. Padahal, saya termasuk anak yang suka menggunting, menempel, dan rupa-rupa kegiatan ketrampilan lainnya. Nah, saat penugasan selanjutnya, saya mendapat kesempatan untuk membalas (*devil mode on).

Saat itu, kami diminta untuk menggambar bebas. Sama seperti penugasan sebelumnya, karena keterbatasan waktu, boleh diselesaikan di rumah, dan minggu depan dibawa untuk penilaian. Sesampai di rumah, saya pun meminta mama menggambar untuk saya. Saya masih ingat (mungkin saat itu mama tidak ada ide dan ‘kebetulan’ di depannya ada majalah Bobo, serta tidak mau mengecewakan anaknya =p), mama menggambar Paman Gembul yang sedang bertanding tinju di atas ring. Mirip sekali dengan yang ada di Bobo.

Hari penilaian tiba. Saya tenang saja dan tadda… gambar saya menjadi pusat perhatian teman-teman sekelas. Mereka mengagumi dan memuji gambar saya. Ibu guru memberikan angka 8. Lebih dari itu, sebenarnya saya senang sekali dan puas karena berhasil membalas perilaku teman-teman saya. Yes!

Ini adalah pengakuan dosa eh, sharing pengalaman saya. Konyol sekali, ya. Saya selalu tertawa sendiri ketika mengingat peristiwa itu. Saya (hety kecil) tidak tahu apa itu originalitas. Yang saya tahu, pelajaran KTK adalah pelajaran ‘bagus-bagusan’. Siapa paling bagus akan mendapat pujian dan disimpan di lemari ibu guru di kelas. Bagi anak kelas 2 SD, itu adalah suatu kebanggaan.

Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once he grows up - Pablo Picasso (Dokumentasi : http://theberry.com/)

Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once he grows up – Pablo Picasso (Dokumentasi : http://theberry.com/)

Jadi, moral story dari cerita ini adalah …

Wahai orang dewasa, orang tua, guru juga, biarkan anak berkarya sendiri dan buat mereka percaya diri dengan karyanya. Pelajaran ketrampilan bukan ajang ‘bagus-bagusan’ semata. Lebih dari itu, bagaimana si anak berproses membuat karya dari hatinya, dari imajinasinya, dan dari usaha kerasnya sendiri.

P.S.
Sepertinya, saya kualat. Sejak kejadian itu, saya ‘officially‘ jatuh cinta dengan dunia menggambar. Saya memang tidak pernah ikut kursus menggambar, apalagi menang lomba di SD atau SMP. Saya otodidak saja dan menggambar dengan hati. Saya selalu terpesona kelihaian mama meniru gambar di majalah. Kalau mama bisa, saya pasti bisa. Saat SMA dan kuliah, akhirnya, ada beberapa piala lomba gambar yang ‘tersenyum’ pada saya =D.

#NulisRandom2015

1 comment
  1. Bisa jadi kriteria penilaian dalam karya seni adalah bagus dan tidak 😄

    Saya juga nggak bisa menggambar, menempel dan apalah itu. Sering banget malas kalau pelajaran kesenian.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: