Dunia Dalam Jadwal

Ritual membuat ‘kotak-kotak’ – entah apa istilah kerennya, saya sih sering menyebutnya, ‘timeline’ – selalu menyenangkan. Membuat ‘kotak-kotak’ lalu memberi nama hari dan tanggal, kemudian menambahkan informasi dengan pulpen warna-warni.

Gagal membayangkan? Oke.

Jika menurut kalian itu tampak rumit, ada juga yang lebih sederhana lagi, yaitu menandai kalender dengan tulisan tangan.

Masih rumit juga? Oke.

Di toko buku, ada yang namanya ‘schedule check’. Bisa dibeli di sana. Pokoknya, apapun istilahnya, timeline ini diciptakan untuk memudahkan pengaturan jadwal.

(Kalau masih bingung juga dan saya takut, kita nggak nyambung, berhenti di sini, dan baca cerita saya yang lain saja, ya hehe hastag #kejam xD )

Writing is self employment, so you can make your own schedule - Lois Lowry (Dokumentasi : Stuart Miles/FreeDigitalPhotos.net)

Writing is self employment, so you can make your own schedule – Lois Lowry (Dokumentasi : Stuart Miles/FreeDigitalPhotos.net)

Saya masih ingat. Beberapa tahun lalu, saat wawancara dengan user di salah satu perusahaan besar di Indonesia (wawancara terakhir sebelum medical check up), saya ditanya, bagaimana saya mengatur jadwal saat bekerja. Dengan fasih, saya jelaskan ‘hobi’ saya membuat ‘kotak-kotak’ timeline setiap bulannya untuk tahu apa yang harus saya kerjakan dan kapan harus saya kerjakan. Jawaban saya hanya disambut anggukan si user atau calon bos saya kelak jika saya diterima di perusahaan itu.

Saya berani bertaruh, itu jawaban standar jika ditanya tentang managing work. Para pekerja di berbagai perusahaan bisa jadi sudah menggunakan metode itu. Tapi, kala itu, bagi saya yang masih menyandang gelar fresh graduate yang sedang mencari kerja, jawaban itu sempurna.

Duh, betapa kuno dan idealismenya saya kalau mengingat kejadian itu. Antara malu dengan jawaban standar sekaligus merasa benar karena hanya itu yang bisa kita lakukan untuk mengatur jadwal.

Kini, setelah gelar fresh graduate hilang – percayalah, setelah beberapa kali pindah kerja, gelar itu hilang dengan sendirinya – kesukaan saya membuat ‘kotak-kotak’ justru berbalik menjadi sesuatu yang menakutkan. Rentetan kalimat berdiri sejajar dengan angka yang menunjukkan tanggal. Padatnya kegiatan dan deadline menjadi sesuatu yang menyeramkan.

Apakah ini penanda saya sudah dewasa dan tidak bisa menikmati padatnya kegiatan? Sepertinya, saat kecil, tanpa timeline pun kita sangat menikmati kegiatan kita. Dalam sehari, bisa berganti berbagai permainan tanpa merasa bosan.

Anggap saja kali ini, saya naik kelas. Kalau dulu, timeline saya butuhkan untuk managing work alias mengatur jadwal. Maka, sekarang, tidak hanya jadwal saja yang saya atur, tetapi juga mengatur kecemasan untuk menghadapi badai deadline yang datang.

Selamat satu Juni! Jangan lupa bahagia, ya hehe.

PS.
Yang saya percaya, tidak salah dan benar dalam managing work. Semua kembali pada kita sendiri sebagai empunya jadwal. Mau dicatat manual atau catatan elektronik dengan bantuan handphone, sama saja. Yang penting, kita konsisten dan patuh jadwal. Oh ya, singkat cerita, saya diterima bekerja di perusahaan itu. Sayangnya, di saat yang sama, saya juga diterima di tempat lain yang sudah saya mimpikan =D.

#NulisRandom2015

1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: