Bukan Liburan Biasa

Masih ingat tentang Medha? Lupa? Baiklah, cek di sini. Kami saling menemukan di Pelatihan Intensif Pengajar Muda angkatan II Indonesia Mengajar. Nah, ingat kan? Sip.

Pada episode kehidupan kali ini, ceritanya Medha menikah. Tepat satu minggu yang lalu, 2 Mei. Eh, beneran menikah. Menikah dengan laki-laki pujaan hati. Singkatnya, mereka saling berkenalan, saling memuja, saling takut kehilangan, dan akhirnya berkomitmen untuk hidup bersama (kalimat ini karangan saya semata =b).

The bridesmaids (foto: Asti).

The bridesmaids (foto: Asti).

Sesuai rencana, Medha menikah di Madiun. Jauh-jauh hari,saya sudah bawel bin rewel meminta tanggal. Akhirnya, sebelum undangan disebar, saya sudah mengantongi tanggal pernikahan Medha (privilege seorang sahabat =b).

Cek kalender. Tanggal 1 Mei, tepat di hari Jumat, adalah hari buruh, Mayday, tanggal merah, hari libur. Itu tandanya, ada long weekend di awal bulan. Sebagai penyuka jalan-jalan dan liburan, saya pun berasa menemukan jodoh juga.

Tweet tanda cinta liburan akhir pekan nan panjang.

Tweet tanda cinta liburan akhir pekan nan panjang.

Long weekend kali ini tidak saya manfaatkan dengan fancy traveling ke destinasi terkenal. Mencoba antimainstream dari yang lain, saya memilih untuk berkunjung ke rumah sahabat. Skenarionya, setelah kondangan, saya akan ikut Asti pulang ke Kediri dan tinggal beberapa hari di sana. Toh, bagi saya, ke mana pun jalan-jalannya, akan tetap menyenangkan jika topiknya pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi.

(Oh ya, perkenalkan nama kedua dalam cerita ini, Asti. Saya, Medha, dan Asti sama-sama pernah menjadi Pengajar Muda walau berbeda angkatan. Kami bertiga baru saling menemukan saat sama-sama bekerja di komik sains anak-anak, Kuark).

Rute ditentukan, Madiun (kondangan Medha) – Kediri (rumah Asti) – Jakarta (pulang). Tiket kereta juga sudah dipesan. Asti, sebagai partner perjalanan, sudah kompak

Sahabat Versi di Balik Layar
Apa serunya liburan dan ‘numpang’ tinggal di rumah sahabat? Beberapa orang justru menghindari dengan alasan ‘takut merepotkan.’ Padahal, jika kita mengaku sahabat, tak ada yang salah untuk mengenal keluarganya. Yeah, minimal, kita bisa memperkenalkan diri sambil membantu sahabat kita untuk meyakinkan keluarganya bahwa di perantauan, anaknya dikelilingi orang-orang baik =b.

Piknik asyik bersama keluarga Asti di Kediri (foto: Asti).

Piknik asyik bersama keluarga Asti di Kediri (foto: Asti).

Berhasil bertemu keluarga Medha dan Asti, serta bisa berkunjung ke rumahnya seakan melengkapi imajinasi saya jika mereka berdua sedang bercerita. Saya tak perlu lagi menebak-nebak. Kini, saya bisa membayangkannya. Selain itu, dengan melihat lebih dekat, membuat hal lain yang luput dari perhatian kita terungkap. Latar belakang keluarga, lingkungan, bahkan kebiasaan ‘usil’ di rumah dari sahabat kita, bisa kita ketahui.

Ada yang bilang “Dalamnya persahabatan tak bergantung pada lamanya perkenalan.” Durasi pertemanan saya dengan Medha dan Asti memang masih bisa dihitung dengan jari. Kesamaan nasib sebagai perantauan ibu kota, alumni Pengajar Muda, teman kos, bahkan, teman belanja menjadi faktor utama. Jadi, wajar jika ini seperti sulap, dekat dalam waktu cepat!

2 comments
    • Hety A. Nurcahyarini said:

      Halo Ade!
      Hihi .. Semoga baca cerita ini, bisa menggantikan =b.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: