Cerita Panjang Umur

Papa panjang umur. Usianya yang sudah puluhan itu, bertambah satu satuan. Satu satuan sama dengan satu tahun kehidupan. Tidak ada trik sulap di sini. Semuanya adalah kehidupan yang nyata-nyata dijalani selama 365 hari.

Papa tidak pernah mengeluhkan umurnya. Walaupun demikian, di setiap nasihatnya, selalu saja ada kalimat, “Papa kan sudah tua, kamu segera bla bla bla … .” Apakah itu termasuk kategori mengeluh? Tidak, kan? Kalau papa sudah begitu, tandanya, saya harus lebih kalem, lebih ngerem dan mengurangi digit keambiusan untuk mendapatkan ini itu.

Papa ulang tahun. Walaupun namanya ulang tahun, percayalah, tidak ada yang namanya pengulangan tahun. Pengulangan hidup, apalagi? Yang ada hanyalah bertambah tua, bertambah dewasa, dan bertambah besar. Itulah sebabnya, saya lebih senang menyebutnya panjang umur. Umur yang memanjang satu tahun, bertambah satu tahun.

***

Papa masih muda? Yup! Masih terbayang jelas, papa memarahi saya karena mencuci piring sendiri setelah makan. Bukan bermaksud untuk memanjakan tapi ini menyangkut persedian piring kaca di rumah. Saya selalu memecahkan piring kaca saat mencucinya. Jemari saya, yang saat itu masih usia TK, belum mampu memegang piring kaca yang super licin berlumuran sabun cuci.

Ditegur papa sedemikian rupa, saya hanya menunduk diam. Sesi bermain air berakhir. Kala itu, pikiran polos saya menganggap papa sudah dewasa sehingga bisa memegang piring dengan baik. Suatu saat kalau sudah dewasa, saya pasti juga bisa memegang piring dengan baik dan tak ada lagi piring yang pecah. Saya lupa rumus hidup bahwa seiring saya dewasa, papa pun juga bertambah umurnya.

***

Sejak lulus kuliah, momen-momen ulang tahun papa menjadi sering terlewat. Biasanya, si bungsu yang lebih lama tinggal di rumah, akan menjadi saksi bertambah ‘dewasanya’ orang tua mereka. Si bungsu jugalah yang akhirnya menjadi ‘otak’ untuk memberikan kejutan-kejutan yang belum pernah dialami orang tuanya. Nyatanya, tidak lagi kini.

Dosa saya, untuk memastikan hari ini hari ulang tahun papa, saya harus mengeceknya di soft copy Kartu Keluarga di laptop. Tanggal ulang tahun papa yang dulu saya hapal di luar kepala, kalah dengan ingatan tanggal cuti liburan.

Jadi, ritual apa yang harus saya lakukan untuk menebus dosa ini?

Papa, selamat ulang tahun!”
Iya, Dek. Makasih, ya. Baru pulang kamu? Ini papa lagi masukin undangan ke plastik. Banyak banget ini.”

Ratusan undangan itu ternyata mengalihkan perhatian papa. Lega! Seperempat mengeluh, tigaperempat riang, saya yakin papa riang kok. Pernikahannya anak pertamanya akan berlangsung akhir April nanti. Baginya, itu sudah cukup menjadi kado ulang tahunnya tahun ini.

Selamat panjang umur, Papa!
16 Maret 2015

PS. Soal nikah-menikah ini akan ada di cerita selanjutnya, ya =b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: