Cerita Umroh 3: Hello Jeddah!

Minggu, 22 Februari 2015

Jakarta – Abu Dhabi
Abu Dhabi – Jeddah
Jeddah – Mekkah

Perjalanan kali ini terasa menyenangkan. Kalau boleh digambarkan, rasanya syahdu ceria-ceria gimana gitu. Seperangkat rasa kesepian karena pergi sendirian sudah digembok di kotak dan diceburkan jauh ke Laut Jawa (lebay =p). Yang tersisa, rasa sumringah sekaligus ‘sadar diri’ karena perjalanan religi.

Ini penerbangan ke luar negeri pertama saya bersama Etihad Airways. Mengapa Etihad? Bukan saya yang memilih melainkan pihak biro travelnya. Jika kita pergi ke Jeddah, dari Jakarta, menggunakan Etihad, maka kita akan transit di Abu Dhabi selama beberapa jam.

Pukul 22.50 waktu setempat (21/2), saya tiba di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Dari Abu Dhabi, pesawat baru akan berangkat ke Jeddah pukul 01.55 (22/2). Karena cukup lelah dan mengantuk, saya tidak sempat jalan-jalan keliling bandara (padahal biasanya antusias saat berada di tempat baru, bandara sekali pun hehe). Saya dan beberapa jamaah memanfaatkan waktu transit untuk membersihkan diri dan istirahat di ruang tunggu.

Oh ya, sedikit berbagi informasi, ya. Seperti dijelaskan di buku panduan umroh, untuk orang Indonesia yang akan menjalankan ibadah umroh, maka kita mengambil miqat di Yalamlam atau lokasi yang sejajar dengannya, dan bukan di Jeddah. Miqat di sini artinya ketentuan waktu untuk melakukan ibadah haji dan umroh, misalnya berniat. Sehingga, saat perjalanan umroh, di pesawat terbang, kita tidak boleh melewatkan miqat ini tanpa berikram. Bagaimana kita tahu kalau sudah tiba di lokasi miqat? Jangan khawatir, pilot atau pramugari akan memberikan pengumuman via speaker saat tiba di lokasi miqat.

Rasa-rasanya akan cukup merepotkan jika semua jamaah berganti pakaian ikram saat di pesawat. Sehingga, disarankan, saat transit beberapa jam di Abu Dhabi, kita dapat memanfaatkannya untuk membersihkan diri dan berganti baju. Untuk laki-laki, bisa segera menggunakan kain ikram. Sedangkan, untuk perempuan ada beberapa pilihan.

Pertama, bersuci di rumah dan menggunakan pakaian ikram sejak di bandara. Kedua, sama seperti jemaah laki-laki, berganti baju saat transit di Abu Dhabi. Saya sendiri memilih yang pertama. Sehingga, saat transit, saya tinggal membersihkan diri dan beristirahat sejenak (baca: berdiam diri sambil memanfaatkan wifi bandara yang super kencang =p).

Sekitar pukul 04.00 waktu setempat (22/2), saya tiba di bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Sesuai prosedur, rombongan harus melakukan pengecekan dokumen di bagian imigrasi bandara. Ujian kesabaran tahap satu dimulai karena pengecekan di imigrasi ini cukup memakan waktu yang lama, apalagi untuk jamaah laki-laki.

Yeay, welcome to Jeddah!

Yeay, welcome to Jeddah!

Melihat jamaah dari negara lain yang mulai sibuk. Selamat pagi, Jeddah!

Melihat jamaah dari negara lain yang mulai sibuk. Selamat pagi, Jeddah!

With the angels, Tante Wulan dan Tante Ratna

With the angels, Tante Wulan dan Tante Ratna

Sarapan perdana yang 'Indonesia Banget' di negeri orang.

Sarapan perdana yang ‘Indonesia Banget’ di negeri orang.

Di bagian imigrasi ini, antara antrian laki-laki dan perempuan dipisah. Saya cukup lega karena jika tidak dipisah, untuk perempuan yang pergi sendiri, walaupun di pasport sudah tertulis nama muhrim ‘yang dibuat’ akan tetap diminta untuk membuktikan. Maksudnya, kita diminta untuk menunjukkan siapa muhrim kita oleh petugas imigrasi. Sehingga, saat mengantri, kita harus berbaris, dengan urutan muhrim ada di belakang kita.

Selain itu, jangan heran jika dalam antrian cukup riuh dengan beraneka ragam bahasa. Ternyata tidak hanya jamaah dari Indonesia saja yang akan melakukan ibadah umroh, tetapi juga dari negara-negara lain, seperti India, Pakistan, Iran, dan Bangladesh.

Di Jeddah, adzan subuh berkumandang dua kali. Pertama, pukul 04.30 waktu setempat sebagai penanda, lalu, adzan kedua atau adzan subuh berkumandang pukul 05.30 waktu setempat. Usai mengurus dokumen di imigrasi dan solat subuh di bandara, saya dan rombongan berangkat menuju Mekkah dengan bus.

So, Mekkah, here we go!

Tips:
– Batik yang diberikan oleh biro travel lebih baik dijahitkan menjadi rompi/blazer/luaran agar mudah dilepas pakai. Pada dasarnya, batik ini lebih berfungsi sebagai tanda pengenal karena banyaknya jamaah umroh dengan berbagai biro travel.
– Bawa tas kecil berisi seperangkat alat gosok gigi (a.k.a peralatan bersih-bersih) yang bisa dibawa ke kabin. Hal ini sangat bermanfaat apabila kita transit, sebelum sampai di tujuan.

1 comment
  1. Wah. Sama kita mba. Saya maret kmrn juga berangkat sendiri. Pakai program backpacker. Hehe salam kenal

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: