Cerita Umroh 1: Kerelaan, Sebuah Teori

Sabtu, 21 Februari 2015

My cute white gamis, brown socks, and black flat shoes.

My cute white gamis, brown socks, and black flat shoes.

Hari Sabtu yang lalu rasanya seperti mimpi. Seperti yang sudah-sudah, sesuatu yang semula hanya mampu saya bayangkan slash saya andaikan, benar-benar menjadi hari yang harus saya jalani. Cubit-cubit pipi, pijit-pijit jari tangan. Auow, sakit! Ternyata, saraf saya masih bisa mengirimkan sinyal ke otak untuk mengidentifikasikan sensasi rasa nyeri. Yeah, hari ini memang benar-benar terjadi (baca: kenyataan).

Jangan lupa, ya, Mbak. Berkumpul di Lounge Blue Sky jam 12.00.”

Takut? Iya.

Ini memang bukan kali pertama saya harus ke bandara sendiri. Ini juga bukan kali pertama saya bepergian sendiri. Bahkan, saya termasuk orang yang cukup ‘nekat’ untuk menjelajah tempat baru sendirian tanpa kawan (teringat, Januari kemarin, saya tersesat malam-malam di Palembang untuk menuju Jembatan Ampera sendirian).

Di bagian sebelah mana Soetta-kah Lounge Blue Sky itu?

Saya sudah siap tersesat. Saya juga sudah siap muka innocent, modal bertanya ke satpam bandara terdekat. Sayangnya, ketidaktahuan letak Lounge Blue Sky hanyalah ketakutan semu. Tidak ada.

Lebih dari itu, saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri. Kepergian kali ini benar-benar dilalui dengan serangkaian seremoni kegrogian yang luar biasa beberapa hari sebelumnya. Pamitan keluarga, grogi. Ditanya teman, grogi. Mengajukan cuti, grogi. Packing pun, grogi.

Maklum. Kepergian pertama yang bermula dari percakapan random dua orang perempuan yang mendambakan kedamaian hati. Tuhan (sepertinya) ikut mendengar rumpian kami dan tidak sampai satu tahun, Tuhan ‘menuliskan’ tiket perjalanan saya untuk menemuinya.

EY 475 Jakarta – Abu Dhabi
EY 313 Abu Dhabi – Jeddah

Siapa yang tidak bahagia bisa bertamu ke rumah Tuhan?

Di sinilah kemudian, saya menemukan teori kerelaan. Siapa yang tidak senang jalan-jalan? Jalan-jalan berarti rela melepaskan hati untuk bersenang-senang sekaligus siap kehilangan. Sesungguhnya, saat jalan-jalan, banyak hal di luar kendali kita yang harus siap direlakan. Kepulangan kita, misalnya.

Berniat pulang pun bukan jaminan. Tidak pernah ada yang tahu tujuan kepulangan kita sesungguhnya. Rumah yang mana? Takdir sudah memberikan alamatnya sendiri tentang rumah, tentang kepulangan.

Lalu, apa yang perlu ditakutkan? Kepulangan itulah bagian terpenting yang harus direlakan.

Astaudi ‘ukumullahalladzii laa tadzii u’ wa daaiu’hu.
Aku titipkan kalian kepada Allah yang tidak akan hilang titipan-Nya.
(HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah)

So, here we go, bissmillahirrohmanirrohim, stairway to heaven like Led Zeppelin’s song.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: