Apa Diganti Terima Snack Saja?

Ibu kos bertingkah. Bukan tingkah baru sih, tapi makin lama saya semakin punya imajinasi sendiri tentangnya. Jadi alih-alih dibawa ke hati, saya anggap ini sebagai lucu-lucuan saja hidup di ibukota. Lumayan, hiburan gratis!

Sudah bukan rahasia lagi di kalangan penghuni kos kalau ibu kos tidak bisa tersenyum. Bahkan, saat jadi anak baru di kosan, penghuni lama langsung berpesan, “Jangan kaget ya, Tante orangnya enggak bisa senyum.” Pilihannya, antara jaim (jaga image) atau default face dari sono-nya sudah begitu. Jadi, mau dikatakan apa lagi.. seperti lirik lagu Raisa.

Justru, semakin Tante tidak tersenyum, semakin tinggi rasa penasaran dan usaha saya untuk membuat Tante tersenyum. Setiap menemui Tante untuk membayar uang kosan misalnya, sikap ramah dan murah senyum selalu saya obral. Ditanggapi atau tidak, saya tak peduli.

Akhirnya, usaha yang saya lakukan setiap bulan berbuah manis. Suatu hari di akhir 2014, saat membayar uang kosan, Tante tersenyum saat menghitung uang yang saya bayarkan. “Hmm, bisa tersenyum gara-gara uang, rupanya,” batin saya.

Sayangnya, teori itu tidak bertahan lama. Di bulan-bulan selanjutnya, Tante kembali lagi dengan wajah datar, tanpa senyum, bahkan cenderung galak (eh!). Saat menghitung uang kosan yang saya bayarkan pun, tidak ada senyum sama sekali.

Nah, rupanya, kali ini, ada lagi tingkah Tante yang baru saya sadari. Kemarin, saat membayar uang kosan dengan uang plus keramahan yang saya obral, Tante tetap dingin seperti biasa.

Ini, Tante uangnya,” kata saya renyah dan membiarkan Tante menghitung uang.
Iya,” jawab Tante pendek, dingin, dan … sekenanya.
Terima kasih, ya, Tante,” pancing saya super ramah.
“…”
Krik.
Hening.
Oke. Ucapan terima kasih saya sama sekali tak dibalas.

Sebenarnya, saya sama sekali tidak mempermasalahkan siapa yang seharusnya berterima kasih. Di luar hal itu, saya berprinsip, kita harus memberikan balasan positif kepada orang yang sudah ‘berusaha’ mengucapkan terima kasih. Sebagai bentuk penghargaan kepada orang itu, berkata, ‘ya,’ atau ‘sama-sama’ saja sudah cukup menyenangkan.

Ada lho, di dunia ini, orang yang nggak bisa bilang ‘terima kasih.’ Ya, kan?

Satu Juta Terima Kasih Ala Paman Gober
Sejak kejadian itu, tiba-tiba, saya teringat komik Donald Bebek, edisi nostalgia, yang pernah saya baca.

Salah satu edisi Donald Bebek yang saya punya.

Salah satu edisi Donald Bebek yang saya punya.

Diceritakan, Donald Bebek merugikan Paman Gober yang terkenal kaya raya itu. Kwak, Kwik, Kwek, keponakan Donald, pun khawatir karena ternyata Paman Gober mengirimkan Donald ke penjara. Sebenarnya, Paman Gober sadar, Donald tidak mampu membayar ganti rugi dengan uang karena tidak sekaya dirinya. Akhirnya, Paman Gober datang ke kantor polisi dan meminta polisi untuk mengganti hukuman Donald. Tahukah apa hukuman itu?

Satu juta terima kasih. Ya, Donald harus mengucapkan terima kasih kepada Paman Gober sebanyak satu juta kali.

Kontan, di balik jeruji besi, Donald beraksi dan mengucapkan satu juta terima kasih kepada Paman Gober. Sayangnya, belum sampai satu juta kali, Paman Gober sudah tidak tahan lagi dengan suara Donald.

Cukup, cukup, cukup!” katanya kewalahan menghentikan suara Donald yang berisik.

Akhirnya, Donald pun dibebaskan dan Kwak, Kwik, Kwek pun bersorak gembira.

Itu adalah salah satu cerita Donal Bebek favorit saya. Cerita itu selalu mengingatkan saya kalau terima kasih itu seperti gula. Kalau cukup, manis. Kalau kebanyakan, jadi kemanisan dan tidak enak. Jadi, apresiasilah orang yang sudah ‘berusaha’ mengucapkan terima kasih kepada kita. Bahkan, setiap bahasa di dunia ini punya kaidah masing-masing dalam menjawab ucapan terima kasih.

Cerita ‘Satu Juta Terima Kasih’ juga selalu mengingatkan saya kalau ucapan terima kasih itu tidak ternilai harganya. Bahkan, ucapan ‘terima kasih,’ sesungguhnya tidak akan tergantikan oleh uang dan barang. Lucunya, makin ke sini, saya justru sering mendengar, “Terimalah hadiah ini, sebagai bentuk ucapan terima kasih atas kebaikan Saudara yang telah membantu kami.” Fiuh.

Terima Kasih, Gratis Sih!
Masih tentang terima kasih. Saya benar-benar tak bosan membahas topik ini. Kalau terima kasih sesungguhnya adalah sikap ketulusan yang non-uang dan non-barang, lalu apa syarat terima kasih? Berbayarkah?

Bus Transjakarta gratis.

Bus Transjakarta gratis.

Pemandangan tidak biasa terjadi di dunia per-bus-an. Sejak beberapa waktu lalu, pemerintah kota Jakarta mengoperasikan bus gratis yang didukung oleh beberapa perusahaan besar (terbukti di dalam bus banyak tempelan logo/iklan). Busnya sama seperti bus Transjakarta koridor 1, besar dan bersih.

Yang berbeda, bus gratis ini melewati jalur kendaraan biasa, bukan jalur Transjakarta. Di kaca depan ada tulisan ‘GRATIS.’ Jadi, jangan heran ketika ada beberapa penumpang yang menyetop bus ini dari tepi jalan (trotoar). Bus ini akan dengan senang hati berhenti dan membuka pintu depannya.

Sepanjang saya naik dari kawasan Karet, mayoritas penumpang turun di depan Ratu Plaza. Bahkan, bus yang semula lumayan ramai itu menjadi lenggang. Sebagai penumpang yang juga turun di Ratu Plaza, saya turut dalam antrian untuk turun di pintu depan bus.

Makasih, ya, Pak.”
Terima kasih, Pak.”
Bapak, terima kasih.”

Berbagai versi ucapan terima kasih satu persatu diucapkan oleh penumpang sebelum turun. Karena berada di antrian paling belakang, saya geli sendiri menyaksikkan kejadian pagi itu. Semua penumpang ramah, bapak driver dan kondekturnya pun juga ramah. Mereka berdua tersenyum dan mengangguk untuk membalas ucapan terima kasih yang bertubi-tubi dari para penumpang.

Ya, saya percaya karma. Saya percaya hukum alam. Aturannya, ketika kita sudah bertingkah baik, maka balasan yang kita terima adalah hal-hal baik juga. Tapi dalam kasus ini, apakah para penumpang itu berterima kasih karena diberi layanan gratis? Hush, prasangka saya. Terbayang, saat di Kopaja, Metromini, Transjakarta, bahkan angkot sekali pun, saya belum pernah menjumpai orang yang berterima kasih saat diturunkan di tempat yang diminta.

Mungkin, sudah saatnya kita mendefiniskan ulang ucapan terima kasih. Bisa jadi setiap orang mempunyai versi ucapan terima kasihnya masing-masing sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Lalu, bagaimana ucapan terima kasih versimu?

Selamat menikmati ucapan terima kasih di sekeliling kita sebelum berubah menjadi … terima snack!😀

Gambar Edisi Donald Bebek dari sini
Gambar Transjakarta gratis dari sini

1 comment
  1. Terima kasih & tersenyum itu penting, terus ucapkan meskipun tak berbalas.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: