Mama dan Doraemon

Mama dan Doraemon - Hadiah spesial, foto dan gambar untuk Mama

Mama dan Doraemon – Hadiah spesial, foto dan gambar untuk Mama

Sosok Mama di dunia ini identik sebagai superman. Buktinya, ada istilah ‘supermom’ untuk menyebut sosok Mama yang serba bisa. Ya, dengan kekuatan dan keserba-bisaannya untuk mengurus semua hal, sosok Mama memang layak untuk menyandang predikat itu.

Beda dengan saya. Alih-alih, supermom, saya malah menganggap Mama saya sebagai Doraemon. What??!! Silakan kaget tapi tidak boleh tertawa.

Mama itu idenya adaaaa saja dan bisa apaaaa saja layaknya Doraemon. Banyak hal-hal ‘ajaib’ berasal dari buah pikiran Mama. Saking ajaibnya, sampai membuat saya susah lupa hingga beranjak dewasa.

Contohnya, saat saya curhat enggak pede saat diminta maju ke depan kelas zaman SD. Mama, dengan cuek dan santai mengatakan, “Kenapa mesti malu, Dek? Selama kamu enggak mencuri, nggak usah malu.” Saya pun kaget, terharu, dan ingin tertawa mendengar kata-kata mutiara dari Mama. Sampai sekarang pun, saya masih ingat kalimat itu saat krisis pede menyerang.

Itu baru, level nasehat, ya. Ada lagi lainnya.

Ketrampilan. Mama itu pintar menjahit. Mesin jahit di rumah pun hasil kerja keras mama saat pertama kali bekerja. Dari kecil sampai saya dewasa, ada satu benda yang selalu dijahitkan Mama. Benda itu adalah mukena. Ya, mukena saya dan kakak adalah buatan tangan terampil Mama. Walaupun bekerja, Mama selalu meluangkan waktunya untuk menjahit. Tiada wiken tanpa menjahit, slogannya.

Ada cerita lucu. Saat mukena berbahan parasit sedang ngetren, Mama membelikan satu mukena putih dengan renda hijau untuk saya. Sayangnya, saya cukup ceroboh untuk menjaganya. Setelah kering dijemur, papa tidak sengaja menyetrikanya (jangan kaget ya, Papa dan Mama membagi pekerjaan rumah dengan adil =p).

Saya kaget mendapati mukena saya bolong di bagian belakang. Rasanya ingin menangis tapi tidak untuk Mama. Cling! Mendapat ide, Mama pun segera memotong bagian lain dari mukena dan menciptakan dua persegi berenda, layaknya saku baju. Dijahitnya, satu saku baju itu untuk menambal bagian mukena yang bolong. Agar tampak estetik dan simetris, Mama menjahit satu saku baju lagi di sisi lainnya. Hasilnya?? Taddaaaa… Mukena parasit bolong hanya dalam mimpi. Tidak ada bekasnya sama sekali.

Plok plok plok … Bebas tepuk tangan untuk Mama.

Sudah ya, ini bukan atraksi sirkus, melainkan betapa piawainya Mama untuk menjadi seorang Mama.

Ada kisah lain lagi yang cukup mengharu biru. Kala itu, saya dan kakak sedang kenaikan kelas. Kenaikan kelas berarti buku tulis baru, tempat pensil baru, tas baru, sepatu baru, dan seperangkat alat sekolah lainnya dengan embel-embel baru. Sayangnya, di saat yang sama Mama dan Papa sedang tidak ada uang untuk membeli semua itu.

H-1 masuk tahun ajaran baru, Mama tiba-tiba mengajak saya ke warung yang letaknya tidak jauh dari rumah. Mama meminta saya menghitung berapa buku tulis baru yang dibutuhkan saya dan kakak. Mama memilihkan buku tulis yang berkertas tipis karena harganya jauh lebih murah daripada merek buku tulis lainnya. Di luar dugaan, ternyata Mama membayar semua buku itu dengan koin Rp 500,00. Ya, semua koin Rp 500,00 itu adalah hasil celengan Mama selama ini. Karena terdesak, Mama memecahnya untuk membayar buku.

Rasanya ingin menangis. Mama mengeluarkan uang-uang itu dari dompet koinnya yang mengembung karena banyaknya koin. Dari situ saya belajar, betapa pentingnya menabung walau hanya sedikit, bahkan walau hanya di celengan semar sekalipun.

Nyatanya…
Walaupun saya menganggap Mama itu Doraemon, di kehidupan nyata Mama tidak begitu ‘akur’ dengan Doraemon. Sungguh! Kenyataan ini membuat saya harus diam-diam menggangap Mama adalah Doraemon.

Sejak kecil sampai dewasa, setiap Minggu pagi, Mama menjadi uring-uringan saat melihat saya duduk sambil menonton Doraemon. Kata Mama, “Duh, Dek, Doraemon itu nggak mendidik. Kok, ya, kamu tonton?”

Tidak sampai di situ saja, komentar Mama kepada Doraemon bertambah, “Nobita itu nggak bisa apa-apa. Pasti minta tolong, Doraemon. Kamu jangan kayak gitu, ya!”

Mungkin, Mama takut saya menjadi anak manja yang tidak bisa apa-apa kecuali merengek. Sama sekali tidak. Tidak ada dalam kamus hidup saya untuk tidak berusaha. Tanpa disadari, Mama mengajarkan banyak hal. Ah, Mama! I Luv u, FULL!

PS.
Perasaan seorang Mama itu kuat sekali, ya. Kemarin malam, saat keluar dari bioskop menonton Doraemon Stand by Me, Whatsapp dari Mama masuk. Sempat ‘deg‘ juga, kenapa bisa pas, sih? Hihi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: