Kereta Api Sahabat Keluarga

#UntukKeretaku Kereta Api Sahabat Keluarga*

Kalau ditanya, alat transportasi apa yang merekatkan hubungan keluarga,
saya akan menjawab mantap, kereta api!

Kereta api sudah menjadi bagian dari kehidupan keluarga saya sejak saya masih kecil. Ini bukan karena ayah saya seorang masinis atau ibu saya bekerja sebagai karyawan PT. KAI, lho! Melainkan banyak peristiwa yang melibatkan saya dan keluarga dengan kereta api.

Sejak kecil, setiap sore, pengasuh saya selalu mengantar saya ke rel kereta api dekat rumah untuk melihat kereta api yang lewat. Ini seperti ‘ritual’ sore hari. Sambil menyuapi saya, kami berdua rela menunggu kereta api lewat sejak sore hingga petang menjelang.

Kini, setelah dewasa, jika kebetulan lewat di daerah rel kereta api pada sore hari, saya selalu tertawa sendiri. Ternyata, banyak juga orang tua yang mengajak anaknya untuk melihat kereta api lewat di sore hari. Kalau tidak percaya, coba tengok di daerah stasiun Lempuyangan, dekat Baciro, Yogyakarta. Saking banyaknya orang yang menonton kereta api lewat, bermunculan pedagang makanan dan mainan yang mencoba memanfaatkan kempatan ini untuk mencari rejeki.

Tidak sampai di situ saja, kereta api juga menjadi alat transportasi dramatis yang kadang sampai membuat menangis. Dulu, seorang pengantar bisa ikut mengantarkan penumpang sampai masuk di gerbong kereta api. Terbayang, banyak adegan dramatis yang terjadi di dalam gerbong, mulai dari berpelukan melepas kepergian sampai menangis. Hal itulah yang terjadi pada saya.

Selama beberapa bulan, saya sempat berpisah dengan ibu saya karena beliau harus menyelesaikan pendidikan Diploma kepenyiarannya di Jakarta. Setiap beberapa minggu sekali, beliau akan menyempatkan waktu untuk pulang ke Yogyakarta dan kembali lagi ke Jakarta, begitu seterusnya sampai masa studi habis. Saya yang masih kecil selalu berat hati mengantarkan ibu saya ke stasiun, bahkan tak jarang saya menangis dan tidak mau turun dari gerbong, ingin ikut ke Jakarta.

Lucunya, saat akhir masa studi ibu, ada kejadian yang membuat saya dan keluarga selalu terkenang dengan kereta api. Mungkin bisa jadi ini adalah kenang-kenangan dari kereta api kepada keluarga saya. Kejadiannya terjadi di stasiun Gambir, Jakarta.

Saat akhir masa studi Diploma ibu di Jakarta, kami sekeluarga memutuskan untuk menyusul ke Jakarta. Kebetulan, saat itu ada saudara yang menikah dan mengundang kami sekeluarga ke Jakarta. Saat akan kembali ke Jogja, ibu turut membawa pulang kardus-kardus berisi buku-buku saat kuliah serta koper-koper. Ayah, ibu, kakak, dan saya bekerja sama membawa semua barang itu naik ke kereta api.

Mengingat banyaknya barang, ayah dan kakak saya memutuskan untuk naik dahulu ke kereta api sambil membawa beberapa barang. Sebagian barang yang tersisa masih ada di peron bersama ibu dan saya. Selanjutnya, ayah akan turun kembali menjemput ibu, saya, dan barang-barang yang tersisa sementara kakak saya sudah menunggu di dalam gerbong.

Di dalam gerbong, ternyata kakak saya waswas. Saat itu kereta sudah berjalan pelan akan meninggalkan stasiun Gambir menuju Yogyakarta. Padahal ayah, ibu, dan saya belum muncul-muncul juga.

Atas inisiatifnya sendiri, kakak saya segera berlari dan meloncat kembali ke stasiun menghubungi petugas bahwa ayah, ibu, dan saya ketinggalan kereta. Sementara, di waktu yang sama, ayah, ibu, dan saya sudah sampai di tempat duduk dan mencari keberadaan kakak saya. Sepanjang gerbong dan toilet kami cek, tapi hasilnya nihil. Kakak saya tidak ditemukan.

Ayah dan ibu mulai panik tapi apa daya, kereta api sudah berjalan cepat meninggalkan stasiun Gambir. Kereta api juga tidak bisa berhenti sampai tiba di stasiun berikutnya. Saya yang masih kecil hanya diam saja berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Setelah berkonsultasi dengan petugas di dalam gerbong, kami bertiga disarankan untuk berhenti di stasiun Jatinegara. Petugas kereta pun berjanji segera memberitahukan kepada pihak stasiun Gambir bahwa ada laporan kehilangan anak.

Sesampai di stasiun Jatinegara, kami bertiga diminta untuk menunggu di ruangan kantor. Ibu tak bisa menahan tangisnya, sementara ayah berusaha tegar dan tetap tenang berbicara dengan petugas kereta. Beberapa jam menunggu, ternyata, memang benar ada anak di Stasiun Gambir yang mengaku hilang kepada petugas kereta api. Mendengar itu, kedua orang tua saya lega sekali. Ayahpun menjeput kakak saya di stasiun Gambir. Ibu dan saya menunggu di stasiun Jatinegara.

Setelah kembali ke Yogyakarta, ayah pun sampai menulis surat pembaca di koran sebagai wujud apresiasi kepada PT. KAI yang sigap membantu menemukan kakak saya. Ayah juga menyampaikan ucapan terima kasih karena barang-barang yang tertinggal di kereta ternyata diamankan oleh petugas. Sungguh, itu adalah kejadian yang tak terlupakan untuk saya dan keluarga.

Kini setelah dewasa dan bekerja di Jakarta, saya selalu melakukan perjalanan pulang ke Yogyakarta dengan kereta api. Walaupun jika dibandingkan dengan waktu tempuh pesawat, pesawat tentu yang lebih singkat, saya tetap mengidolakan kereta api. Alasannya sederhana, dengan kereta api, saya bisa mengenang kembali masa kecil saya.

Terima kasih, PT.KAI.

* Peringkat V dalam Lomba Menulis Cerita Pengalaman Menarik Naik Kereta, 69 Tahun HUT PT KAI #UntukKeretaku

#UntukKeretaku

#UntukKeretaku

1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: