Belajar Seru di #SundaySharing

Kalau saya bilang, “Belajar paling seru, ya, di #SundaySharing!” bakalan dicap sombong nggak, ya? Mengaku-ngaku, padahal baru kali pertama saya datang ke #SundaySharing =b.

Semuanya bermula saat saya menjelajah lini masa. Ada satu tweet menarik tentang #SundaySharing yang digagas oleh @Blogdetik. Karena penasaran, saya langsung menuju TKP dan sampailah saya di tautan #SundaySharing 9 : Tips Menulis Agar Dilirik Penerbit.

da35665562b1aa7aa579846b18f061b0_eposter-sundaysharing-9

Tanpa babibu lagi, saya langsung mendaftarkan diri via email karena takut tidak kebagian seat (yang gratis, topiknya hits, biasanya laris =b). Email terkirim. Yes! Langsung tandai kalender: “28 September #SundaySharing @11AM”.

Belajar Bebas, Bebas Belajar
Jaman memang berubah. Belajar tidak melulu di sekolah dengan posisi duduk manis dan tangan dilipat di atas meja. Itu kuno bin konvensional, katanya. Kini, belajar tidak lagi terikat ruang dan waktu. Jauh dan dekat tetap tiga ribu tidak menjadi kendala berarti bagi si pengajar dan si pembelajar.

Mitos belajar itu harus membayar pelan-pelan juga terpatahkan. Buktinya, ada kelas-kelas belajar yang memang diperuntukkan sebagai ajang belajar bersama sambil beraksi sosial (berbagi ilmu). Semuanya gratis. Nggak percaya?

Tak hanya #SundaySharing sebenarnya, sebut saja Akademi Berbagi yang ada di berbagai kota di Indonesia. Dengan topik-topik menarik dan kekinian, mengajak semua untuk belajar bersama. Pengajarnya pun juga orang–orang yang berpengalaman di bidangnya. Jadi, terbayang, kan, betapa serunya.

#SundaySharing 9
#SundaySharing kemarin Minggu (28 September) adalah #SundaySharing ke-9 yang diadakan. #SundaySharing selalu diadakan di kantor Detik, di daerah Warung Buncit. Pesertanya bebas, asal mendaftarkan diri dahulu melalui email. Uniknya, di setiap #SundaySharing, dipilih ketua kelas dan wakilnya yang akan mengatur acara dan menentukan tema serta narasumber di pertemuan berikutnya. Sehingga, dengan demikian, semuanya bisa aktif berperan.

Sebagai pendatang baru #SundaySharing, pertemuan kemarin Minggu sangat berkesan. Mulanya saya malu-malu tapi tak lama, setelah berkenalan dengan beberapa peserta yang hadir, saya justru semakin bersemangat untuk belajar. Ternyata hampir semua yang datang berasal dari komunitas blog maupun penulis-penulis yang telah memiliki beberapa buku. Walaupun telah menulis beberapa buku, mereka tetap humble dan bersedia berbagi tips dengan peserta lainnya (bahkan berbagi info lomba menulis juga, lho!). Jadilah dalam #SundaySharing 9 kemarin, pembicara dan peserta saling berbagi dan melengkapi.

Jadi, berminat untuk ikut #SundaySharing berikutnya? Nantikan, ya! Siapa tahu kita ketemu =b.

#SundaySharing - Foto di salah satu 'spot' unik di kantor Detik

#SundaySharing – Foto di salah satu ‘spot’ unik di kantor Detik

Catatan #SundaySharing 9
Cara Asyik Agar Naskah Dilirik Penerbit oleh Mbak Nunik Utami
Kalau ada pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang, maka dalam dunia penerbitan pun bisa jadi demikian, tak kenal maka tak diterbitkan. Walaupun menggunakan kata-kata yang sedikit berbeda, pepatah tersebut memiliki maksud yang hampir sama. Siapa sih kita sehingga buku kita ‘layak’ untuk diterbitkan. Siapa sih kita sehingga tulisan hasil karya kita ‘wajib’ dibaca orang. Nah, untuk membantu kita mengidentifikasi hal-hal itu, Mbak Nunik memberikan beberapa tips yang bisa kita ‘amalkan’ dalam kehidupan sehari-hari.

Lomba, lomba, lomba
Ikuti lomba menulis, terutama yang diselenggarakan oleh penerbit. Selain mengasah bakat menulis yang kita punya, lomba menulis juga bisa menjadi cara agar tulisan kita bisa ‘eksis’ di dunia kepenulisan.

Jadi teman
Tidak dapat dipungkiri, jaman sekarang, networking memiliki peran penting dalam pencapaian karir/tujuan. Jika kita ingin menjadi penulis, tidak ada salahnya berteman dengan orang-orang yang bekerja di penerbitan, seperti editor atau penulis. Selain bakal lebih update informasi, kita pasti punya kesempatan untuk menimba ilmu dari mereka.

It’s time for jaim (jaga image)
Kalau sudah berusaha ikut lomba menulis ini-itu dan berteman dengan beberapa editor yang bekerja di penerbitan, jangan lupa jaga sikap, ya! Jangan terlalu mengejar. Menyapa atau bertanya sih sah-sah saja, tapi jangan sampai terkesan meneror mereka. Selain itu, jaga sikap di social media. Tampakkan citra baik tentang diri kita.

Wajib kepo
Cari tahu itu wajib hukumnya. Jadilah seorang penulis yang aktif. Ya aktif menulis, ya aktif mencari informasi. Tidak hanya informasi soal lomba saja, tetapi juga informasi lain terkait penerbit yang kita incar. Misal, maunya penerbit X itu tulisan yang seperti apa, sih? Nah, dengan kepo, kamu bisa lebih peka dan tahu apa yang dimaui penerbit.

Ayo serbu
Punya tulisan-tulisan yang hanya ‘mendekam’ di folder komputer? Ayo, saatnya menunjukkan pesona tulisanmu kepada penerbit. Jangan takut ditolak. Anggap saja penolakan adalah sumber kekuatan. Jika tulisanmu ditolak oleh suatu penerbit, kamu masih bisa mengirimkannya kepada penerbit lain.

Awas diserbu balik
Kata Mbak Nunik, kalau kita sudah punya ‘nama’, terkadang orang-orang yang bekerja di penerbitan yang memburu kita. Kita diminta untuk menulis atau mengelurkan koleksi-koleksi tulisan kita yang siap untuk diterbitkan. Bisa juga kita menjadi penulis orderan yang diminta untuk menulis sesuai tema yang ditentukan oleh pihak penerbit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: