Pringsurat 7.488 Jam*

Sekarang sumber air su dekat. Beta sonde pernah terlambat lagi. Lebih mudah bantu mama ambil air untuk mandi adik. Karena mudah ambil air katong bisa hidup sehat.

Dengan logat ketimuran yang khas seorang anak Nusa Tenggara Timur (NTT) berseru mengungkapkan kegembiraan tentang mudahnya, kini, mengambil air dari rumahnya.

Cuplikan pariwara di atas merupakan gambaran dari program ‘1 Liter Aqua untuk 10 Liter Air Bersih’ atau dikenal dengan nama ‘Satu untuk Sepuluh’. Program yang digagas oleh Aqua tersebut bertujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat luas tentang cara hidup sehat melalui penyediaan akses air bersih serta pendidikan tentang kesehatan. Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT dipilih sebagai sasaran program karena pada saat itu sebagian besar wilayahnya sedang mengalami kelangkaan air bersih. Selain itu, jauhnya sumber air dari pemukiman, membuat masyarakat setempat kesulitan dalam mengakses air bersih.

Rupanya, masalah kelangkaan air bukan hanya milik kabupaten Timor Tengah Selatan saja. Berbagai daerah di Indonesia juga mengalami masalah kelangkaan air karena struktur tanah yang tidak mudah menyerap air serta curah hujan yang rendah. Salah satu daerah yang mengalami masalah serupa adalah kabupaten Gunung Kidul yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sudah bukan rahasia lagi, Kabupaten Gunung Kidul sering dilanda kekeringan sepanjang tahun. Selain disebabkan oleh faktor curah hujan yang rendah, struktur tanah kapur yang mendominasi wilayah kabupaten Gunung Kidul membuatnya sulit menjadi daerah resapan air. Hal itulah yang terjadi di Dusun Pringsurat. Pringsurat adalah sebuah dusun yang menjadi bagian dari Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi DIY.

Bencana kekeringan sering melanda Dusun Pringsurat. Masyarakat di Dusun Pringsurat membutuhkan sumber mata air baru yang lebih layak karena sumber air yang sudah ada memiliki nilai debit yang relatif kecil. Sehingga, air yang dihasilkan belum dapat memenuhi semua kebutuhan masyarakat.

Sebenarnya, beberapa sumber mata air dapat kita temukan di Dusun Pringsurat, terutama di daerah hutan rakyat. Walaupun demikian, beberapa sumber mata air tersebut belum dikelola oleh masyarakat setempat. Hal tersebut disebabkan karena letak sumber mata air yang jauh dari pemukiman serta akses jalan menuju sumber mata air yang relatif sulit. Selain itu, belum adanya teknologi yang dapat digunakan masyarakat dalam pemanfaatan sumber mata air. Masyarakat masih bergantung pada sistem tradisional untuk mendapatkan air dari sumber mata air.

KKN PPM UGM
Berbekal fakta tersebut, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) UGM menginisiasi sebuah kegiatan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk melakukan konservasi dan pengembangan sumber mata air di dusun Pringsurat. Sekelompok mahasiswa tersebut melihat bahwa potensi masalah tentang kelangkaan air yang sudah berhasil dipetakan dapat segera diatasi dengan mengajak masyarakat setempat untuk mengoptimalisasikan sumber mata air baru.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk meyakinkan masyarakat, yang diwakili para tokoh masyarakat, untuk segera terjun ke lapangan. Mereka sama-sama meyakini bahwa air merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat ditawar lagi. Mereka berharap keberadaan sumber mata air baru dapat meningkatkan taraf hidup mereka menjadi lebih baik.

Sebagai langkah awal, dilakukan pengukuran debit dan pengambilan sampel air dari beberapa sumber mata air yang ada di dusun Pringsurat. Dari sumber-sumber mata air tersebut, ditentukan debit standar yang mampu digunakan untuk mencukupi kebutuhan air masyarakat setempat. Pengambilan sampel air pun dilakukan untuk mengetahui zat-zat yang terkandung serta tingkat keamanan jika kelak air dari sumber air tersebut dikonsumsi.

Jangan ditanya, berapa kali masing-masing anggota kelompok KKN-PPM tersebut mandi. Mungkin, bisa dihitung dengan jari. Walaupun selama program KKN-PPM berlangsung, berhubungan dengan air, masing-masing orang paham betul mereka sedang berada di daerah yang ‘defisit’ air. Semuanya dilewati dengan suka cita, terlebih saat bisa berinteraksi dengan masyarakat melalui beberapa program bertema sosial yang nantinya mendukung kesiapan masyarakat dengan adanya sumber mata air baru.

Pelibatan Masyarakat
Dalam melakukan tahapan-tahapan program, kelompok mahasiswa KKN tidak berjalan sendiri. Masyarakat juga berperan aktif dalam mewujudkan rencana pengangkatan sumber mata air baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pelibatan masyarakat secara intensif dimulai dari kerja bakti dan gotong royong dalam pembuatan akses jalan menuju sumber mata air yang berada di tengah hutan rakyat.

Pringsurat - Gotong royong pembuatan akses jalan menuju sumber mata air.

Pringsurat – Gotong royong pembuatan akses jalan menuju sumber mata air.

Setelah pembuatan akses jalan menuju sumber mata air selesai, masyarakat diajak dalam pembuatan instalasi penampungan air. Dalam pembuatan instalasi penampungan air, ada kolaborasi antara dosen pembimbing mahasiswa KKN, mahasiswa KKN, dan masyarakat. Pelibatan masyarakat dimaksudkan agar masyarakat memiliki rasa kepemilikan terhadap apa yang sudah dikerjakan bersama demi kebermanfaatan bersama.

Pringsurat - Kolaborasi antara dosen pembimbing mahasiswa KKN, mahasiswa KKN, dan masyarakat.

Pringsurat – Kolaborasi antara dosen pembimbing mahasiswa KKN, mahasiswa KKN, dan masyarakat.

Pringsurat - Pemasangan instalasi pengangkatan air.

Pringsurat – Pemasangan instalasi pengangkatan air.

Pringsurat - Hidran umum, tempat penampungan air dari sumber mata air.

Pringsurat – Hidran umum, tempat penampungan air dari sumber mata air.

Hal-hal yang bersifat teknis tersebut juga diimbangi dengan hal-hal yang bersifat sosial. Mahasiswa KKN menggerakkan masyarakat untuk ikut serta dalam usaha pemeliharaan dan pengelolaan air. Dari situlah, maka, dibentuk Kelompok Pengelola Air (KPA). KPA bertugas untuk mengenalkan masyarakat setempat tentang SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) sederhana dan pengelolaan air sederhana.

Paska Pengangkatan Air
Dalam rentang waktu dua bulan, instalasi pengangkatan air dari sumber mata air ke hidran umum berhasil dilakukan. Masyarakat menyambut suka cita karena mimpi adanya sumber air yang lebih dekat dengan pemukiman menjadi kenyataan. Optimisme masyarakat akan kehidupan yang lebih baik pun bertambah seiring dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang kini dilakukan.

Para ibu yang biasanya harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengambil air dari sumber mata air, bisa memanfaatkan waktunya untuk menemani anaknya ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan aktif di pengembangan diri dan keluarga melalui Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Para bapak pun rajin bergotong royong menjaga instalasi dan hidran umum demi sumber air yang bersih untuk semua.

Keberadaan sumber air yang dekat dengan pemukiman berpengaruh juga pada pola konsumsi air bersih dan Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK) masyarakat. Masyarakat beramai-ramai mengantri mengambil air bersih untuk keperluan konsumsi dan MCK di rumah. Jika semula hanya mengandalkan air dari sungai dan air hujan dari bak penampung air hujan, maka masyarakat mempunyai pola baru dengan memfungsikan kembali kamar mandi yang kini bisa teraliri air bersih. Hal ini menarik karena keberadaan air bersih berdampak signifikan pada kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Perjuangan KKN-PPM belum habis sampai di situ saja. Semangat keberlanjutan masih tetap menyala saat diadakan kembali KKN-PPM di Dusun Pringsurat sebagai KKN-PPM tahap 2. Rencana jangka panjang sudah disiapkan. Jika pada tahap pertama meliputi kegiatan konservasi sumber mata air, pembukaan akses jalan dan pemetaan, pembuatan penampungan dan distribusi air, maka di tahap selanjutnya adalah program pendistribusian air ke rumah-rumah warga dan tempat umum lainnya seperti masjid.

Kini, setelah sekian tahun berlalu, masyarakat Dusun Pringsurat sudah bisa tersenyum lebar. Masalah kelangkaan air dapat teratasi. Sebagai sebuah kebutuhan dasar, adanya sumber air yang dekat dengan pemukiman membuat masyarakat setempat mempunyai pola kehidupan baru yang semuanya mengarah pada peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan.

*Catatan :
Angka 7.488 diambil dari volume kerja kelompok KKN Tematik. Berdasarkan ketentuan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), masing-masing mahasiswa memikul Jam Kerja Efektif Mahasiswa (JKEM) sebesar 288 jam. Dengan jumlah kelompok KKN Tematik sebanyak 26 orang, maka total JKEM KKN adalah 288 x 26 = 7.488 jam JKEM KKN.

Referensi bacaan :
Oehela: Sekarang Sumber Air Su Dekat diakses pada 21 Agustus 2014
Satu untuk Sepuluh AQUA Bikin Hidup Lebih Berkualitas diakses pada 21 Agustus 2014
Air Untuk Pringsurat diakses pada 21 Agustus 2014
Proposal KKN-PPM Pemberdayaan Masyarakat Melalui Konservasi dan Pengembangan Sumber Mata Air di Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta – dokumentasi pribadi

Referensi foto :
Diunggah oleh anakkamera melalui Air Untuk Pringsurat diakses pada 21 Agustus 2014

Tulisan ini diikutsertakan dalam Anugerah Jurnalistik Aqua IV Kategori Blogger ‘Air dan Kehidupan, Untuk Indonesia yang Lebih Sehat’, kerjasama Aqua dengan BLOGdetik.

628e24d0b6756573c6c7005ff002e71b_lomba-blog-aqua-aja

1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: