Tersenyum Untuk Masa Pensiun

Tomorrow is promised to no one

― (Clint Eastwood)

Pensiun? Akkkk … seakan menjerit tak percaya. Pensiun cukup abstrak untuk dibayangkan karena menyangkut masa depan. Banyak yang berpendapat bahwa masa depan itu nanti, serba tak pasti. Jadi, dibayangkan sekarang pun tidak akan ada artinya. Belum lagi, jargon ‘kita hidup untuk hari ini’, menambah daftar alasan untuk tidak berpikir tentang masa depan, termasuk masa pensiun itu tadi.

Nyatanya, yang tidak pernah dibayangkan sesungguhnya justru akan menimbulkan ketakutan tersendiri. Saya mengalaminya. Beberapa tahun mendekati masa pensiun, papa berulang kali mengingatkan saya dan kakak saya untuk segera mencari pekerjaan tetap. Alasannya cukup jelas. Memasuki masa pensiun, maka papa tidak bisa lagi membiayai semua pengeluaran saya dan kakak karena salah satu sumber pemasukan keluarga, yaitu gaji papa bekerja, akan hilang. Fasilitas-fasilitas dari kantor papa yang selama ini diterima pun akan ditarik kembali. Jadi, mau tidak mau, semua anggota keluarga harus bersiap.

Saat itu, saya tidak terlalu memikirkannya. Bagi saya, nanti itu nanti, bisa dipikirkan kemudian. Tak berselang lama (yeah, karena waktu memang terus berjalan), papa mengumumkan kepada kami semua bahwa beliau mulai tidak aktif bekerja, memasuki masa pensiun. Penawaran dari kantor untuk bertugas kembali pun ditolak dengan alasan ingin beristirahat di rumah.

Pensiun? Akkkk … Saya panik, papa tertawa. Saya tak menyangka waktu cepat sekali berjalan. Papa hanya mengiyakan. Papa tertawa melihat saya yang masih belia dan bekerja justru panik ketakutan dengan pensiun. Ada apa dengan pensiun?

Di kepala saya, saya membayangkan papa yang dahulu aktif bekerja, beraktivitas ini dan itu menjadi seorang yang pendiam dan pasif. Papa kesepian di rumah, sendiri, dan bla-bla-bla … Lagi-lagi papa justru menertawakan ketakutan saya.

Ternyata, saya salah besar. Pensiun bukan hantu atau sesuatu yang harus ditakuti dan dihindari. Masa depan itu memang serba tidak pasti, tapi bisa kita hadapi dengan segala perencanaan sebagai modal keberanian.

Di masa pensiun, papa memilih untuk berwirausaha di rumah dengan memanfaatkan tabungan dan simpanan yang sudah dipersiapkannya selama bekerja. Daripada mengambil kesempatan untuk ditugaskan kembali di kantor, papa memilih untuk membuka bisnisnya sendiri di rumah. Menyalurkan passion yang selama ini tertunda, katanya.

Papa 'menyulap' rumah menjadi oranye sesuai dengan warna jasa ekspedisi yang menjadi bisnisnya.

Papa ‘menyulap’ rumah menjadi oranye sesuai dengan warna jasa ekspedisi yang menjadi bisnisnya.

Saya malu ternyata pensiun bukan hantu.

Sekarang, saya mengerti ketika saya memakai baju yang belum pernah dilihat mama, mama hanya berkomentar singkat, “Baju baru? Lagi?” Mama paham betul saya orang yang cukup loyal dalam membeli baju. Mama bahkan memberikan saya gelar, “Si Tukang Baju.” Almari baju saya saksinya.

Itu belum selesai, mama juga akan menambahkan komentar, “Kamu nabung, kan?” Mmm … Komentar yang wajar sebenarnya karena sepertinya mama lebih sering melihat saya berbelanja daripada saya menabung.

Fakta bahwa saya suka berbelanja juga dikuatkan dengan intensitas saya berpindah tempat kerja. Papa dan mama sangat kritis dengan kondisi saya. Mereka selalu mengingatkan saya tentang masa depan dan masa pensiun. Apa yang akan terjadi nanti jika saya masih suka berbelanja dan sering berganti-ganti pekerjaan tanpa meyisihkan uang yang banyak? Pensiun macam apa?

It is not about counting the numbers, it is about willingness

― (Anonymous)

Saya percaya setiap generasi mempunyai masanya sendiri-sendiri. Cara hidup generasi tua, para pendahulu, tentu akan berbeda dengan generasi muda, sekarang. Keduanya tidak dapat disamakan. Perbedaan cara hidup itulah yang juga berpengaruh pada perbedaan cara dalam mengatur uang. Saya dan kedua orang tua saya, misalnya.

Papa dan mama saya memilih untuk menyisihkan uangnya setiap bulan untuk mengumpulkan dana pensiun selama periode waktu tertentu. Bagaimana dengan saya? Saya pun juga melakukan hal yang sama, menabung, tetapi tidak ‘sekencang’ papa dan mama. Mengalokasikan hampir 50% untuk tabungan pensiun adalah hal yang mustahil bagi saya, terlebih di masa sekarang. Saya yakin, saya tidak sendirian. Di luar saya banyak perempuan single, 26 tahun, dan berpenghasilan rutin setiap bulan, mengalami hal yang sama.

Zaman sekarang, di mana arus informasi dan teknologi lebih maju, manusia berlomba-lomba untuk mencari kemudahan dalam segala aspek kehidupannya. Hidup dibuat sedemikian rupa agar lebih mudah dan lebih cepat sesuai dengan kebutuhan. Kemajuan ini pun termasuk dalam cara mengatur uang. Selain tabungan, muncul berbagai produk perbankan yang ditawarkan, seperti deposito, reksadana, dan investasi emas. Nantinya, semuanya sama-sama dapat menjadi simpanan dan dimanfaatkan di masa pensiun.

Lagi-lagi, sebelum melangkah lebih jauh dan menentukan produk perbankan, kita harus melakukan perencanaan keuangan (financial planning). Cukup sederhana, kok. Pertama, kita harus memahami kondisi keuangan kita (Yes, u have to be honest with your self). Kedua, menentukan tujuan. Misalnya, dalam kasus ini adalah mempersiapkan dana pensiun. Ketiga, membuat perencanaan keuangan. Ketiga langkah itu bisa dimulai dari sekarang dan tidak ada kata terlambat untuk memulainya. Mumpung kita masih sadar tentang betapa pentingnya mempersiapkan dana pensiun.

Saya dalam tahap itu. Selain menabung, saya mulai melirik produk-produk perbankan lainnya yang tentunya sesuai dengan kebutuhan saya. Saya sadar, ternyata, menabung saja tidaklah cukup. Misalnya, dalam kasus mempersiapkan dana pensiun. Orang tua saya, bisa saja, hanya mengandalkan tabungan pensiun kala itu. Tetapi seiring berjalannya waktu, besarnya uang yang harus disisihkan setiap bulan, menjadi sangat besar jika dikonversikan dengan masa kini. Banyak hal lain yang juga harus dipertimbangkan, seperti lama menabung, besar uang yang harus ditabung sekarang, suku bunga, target pensiun, target uang saat pensiun, dan uang yang sudah ditabung saat ini.

usia sekarang, usia pensiun, hingga nanti usia yang menjadi rahasia Tuhan. Sampai di mana kita?

usia sekarang, usia pensiun, hingga nanti usia yang menjadi rahasia Tuhan. Sampai di mana kita?

Belajar dari pengalaman papa, saya jadi ingat akan sesuatu hal. Pensiun bukanlah sebuah titik. Sesungguhnya, pensiun adalah waktu yang lebih panjang jika dibandingkan dengan kita saat ini menuju masa pensiun. Masa depan memang tidak pasti. Alangkah baiknya jika selagi muda, di waktu yang terbatas, kita bisa mempersiapkan masa pensiun kita dengan sebaik-baiknya. So, are u ready??

BP_simponi-blogger-2

* Cerita ini diikutkan dalam BNI Simponi Blogging Competition http://bit.ly/BNI_Simponi

5 comments
  1. TRachmadi said:

    Generasi baby boomers (ayah-ibu kita) dan millenials memang punya perspektif yang berbeda soal pekerjaan dan orientasi masa depan. Baby boomers cenderung lebih konservatif dan safe player, sementara millenials sangat fleksibel, eksploratif, dan risk taker. Begitupun soal persepsinya tentang uang.

    Namun, kita diuntungkan dengan lebih beragamnya pilihan investasi perbankan. Jadi, habis baca tulisan ini, ada 2 hal yang urgent dilakukan: Set goals dan pilih jenis investasi yang tepat. Dan itu harus dimulai sekarang! Begitu kan, Mbak Hety?🙂

    Like

    • Hety A. Nurcahyarini said:

      Hi Tidar🙂
      Thanks ya sharingnya.
      Bener banget.
      Mumpung masih muda dan ‘dimudahkan’dalam usia, yuk kita susun tujuan buat ke depan.

      Like

  2. Hello Hety, salam untuk papa! Iya, sebagai perempuan yang bercita-cita pensiun ngantor di umur 40 tahun, rasa-rasanya itu sebentar lagi. Akh, musti persiapan ya? *heboh sendiri mengingat umur, jika Allah menghendaki* Iya udah nabung, jadi harus apa lagi selain itu? Investasi apa ya yang menarik?

    Like

    • Hety A. Nurcahyarini said:

      Medha hai hai..
      heboh banget nih hihi.
      Katanya, setiap jenis produk perbankan ada plus n minusnya.
      Semuanya pun juga bisa dimanfaatkan untuk dana pensiun.
      Sebelum melangkah ke sana, ada baiknya kita periksa dulu kondisi finansial kita beserta tujuan kita ke depan =D

      Like

  3. Salut sama papamu, Het. Bisa diaplikasikan tuh, kombinasi tabungan, investasi, dan dana pensiun sebagai bekal di hari tua. Selain mempertahankan pemasukan bulanan juga menyalurkan passion. Btw bisnis apa? Asik dong Hety bisa belajar bisnis sama papa hehe..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: