Volunteering Day: Cerita Bumi di Harinya

Acara ini memang sudah ‘agak’ lama berlalu, tapi saya merasa bersalah jika tidak membagi ceritanya. Ini istimewa. Pertama, melihat draft, tempat coretan ‘sementara’ yang terlalu setia menunggu saya untuk sekedar mengedit, mengetik, men-delete dan la la la. Kedua, membuat kamera biru saya tersenyum, alhamdulillah, fotonya berguna, katanya, daripada ‘membeku’ di folder. Ketiga, mengabadikan semangat anak-anak itu agar terekam sepanjang masa. Sayangnya, foto tak bisa bicara, tulisan yang bisa.

Lagi, lagi, dan lagi. Teman seperjalanan pulang kantor pasti bosan mendengar saya. Sebaliknya, saya tak pernah bosan menulis ini. Saya selalu salut dengan sekolah atau anak-anak, bahkan guru-guru, yang mampu bertahan menyelenggarakan kegiatan ajar-mengajar di antara kepungan gedung-gedung perkantoran Jakarta. Ya, saya salut. Salut sekali.

Ngomong-ngomong soal penyelenggaraan pendidikan, soal ruang publik, soal bangunan sekolah ideal nggak bakal ada habisnya. Saya besar dalam generasi sekolah lebar memanjang, berhalaman luas. Beberapa bangunannya adalah peninggalan Belanda yang sengaja tidak diruntuhkan. Yang paling membuat saya jatuh cinta adalah pintu dan jendela besar-besar, khas Belanda sekali. Saya dan teman-teman tak pernah defisit semilir angin. Lingkungannya (pada zaman itu) juga tidak bersinggungan langsung dengan jalan raya. Tidak bising. Lalu lalang kendaraan bermotor juga jarang. Pokoknya, 6 tahun sekolah di sana, saya merasa aman dan nyaman.

Dari masa Sekolah Dasar sampai kini, saya besar, saya jadi banyak bersyukur dan belajar. Terlebih, kemarin, setelah ‘mencicipi’ menjadi guru Sekolah Dasar, wali kelas 6. Betapa, ya betapa lingkungan sekolah yang kondusif akan berpengaruh juga pada proses penyelenggaraan Kegiatan Belajar Mengajar di sekolah. Guru, kepala sekolah, komite sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat di sekitar sekolah memegang peranan penting dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas untuk anak-anak.

Nah, bagi saya, bedanya, melihat Sekolah Dasar di daerah dengan fasilitas terbatas tetapi dikepung dengan lingkungan alam yang eksotis adalah biasa, bahkan search picture di Google pun bisa mudah ditemukan. Sebaliknya, bagi saya, pemandangan Sekolah Dasar menjadi begitu istimewanya justru ketika berada di antara gedung-gedung perkantoran, khas Jakarta.

Hari Bumi - SDN Karet Tengsin 01 Pagi Jakarta

Hari Bumi – SDN Karet Tengsin 01 Pagi Jakarta

Hmm… terbayang nggak sih, bagaimana si sekolah beserta segala isinya harus bertahan di antara dinamika perkantoran Jakarta yang.. yah semrawut. Bukan rahasia lagi, kan?? Gedungnya memang indah, bisa saja anak-anak itu belajar dan termotivasi untuk menjadi arsitek handal. Orang-orang di dalam gedungnya pun hadir dengan berbagai profesi. Guru-guru dapat mengenalkan keanekaragaman profesi yang ada di gedung itu, mulai dari staff keamanan, sopir, sekretaris, accounting, public relations, marketing communication, dan lain-lain. Tapi di sisi lain, kita juga tidak menutup mata akan kenyataan bahwa lingkungan sekolah menjadi ‘lebih’ menantang dalam penyelenggaraan Kegiatan Belajar Mengajar. Sekali lagi, guru, kepala sekolah, komite sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat punya andil besar untuk mewujudkan lingkungan belajar yang ramah anak.

Sabtu beberapa minggu yang lalu (26/4), saat ada kesempatan untuk merayakan Hari Bumi bersama volunteer dari Indonesia Berkibar, Cargill, Rotaract Semanggi, serta Jakarta Berkebun di SD N 01 Karet Tengsin, saya tak melewatkan kesempatan itu. SD N 01 Karet Tengsin adalah sekolah yang terletak di jalan Karet Pasar Baru Timur. Arahnya, dari halte busway Dukuh atas, berjalan ke arah hotel Shangrila atau wisma BNI. Sekolah Dasar itu berada dihimpitan gedung-gedung perkantoran Jakarta. Sekolah itu termasuk sekolah yang ‘langganan’ banjir. Jika banjir datang, Kegiatan Belajar Mengajar pun terpaksa ditiadakan. Saya bersemangat untuk menghabiskan waktu bersama anak-anak dan bertemu guru-guru di sekolah yang bagi saya istimewa.

Earth Day atau Hari Bumi memang jatuh tepat di hari Selasa, 22 April 2014. Tapi untuk merayakannya, tidak harus di hari Selasa, kapan pun bisa. Bahkan, Hari Bumi bisa dirayakan setiap hari dengan membudayakan perilaku hidup bersih dan cinta lingkungan. Ya, kan?

Hari Bumi - Earth day every day

Hari Bumi – Earth day every day

Hari itu, senang sekali melihat semangat anak-anak untuk mengikuti rangkaian acara Hari Bumi yang sudah dirancang oleh panitia. Acaranya pun beragam, mulai dari bermain bersama dipandu Kakak dari Pramuka, ‘operasi Semut’ di halaman sekolah, penyuluhan Reduce, Reuse, Recycle (3R) oleh Kakak dari Cargill (kreatif dan lucu banget dengan metode Lenong), praktek mengolah kembali barang bekas (seperti, botol minuman plastik menjadi hiasan dinding), dan berkebun bersama Kakak dari Jakarta Berkebun. Dari semua acara, bagi saya, yang paling menarik adalah saat beberapa anak kelas 5 dan 6 diajari dan praktek langsung berkebun di halaman belakang sekolah. Mereka diperkenalkan menanam bibit yang nantinya bisa bermanfaat untuk dikonsumsi, seperti kemangi dan cabai.

Hari Bumi - Plan today for a better tomorrow

Hari Bumi – Plan today for a better tomorrow

Hari Bumi - Kakak dari @JktBerkebun sedang menjelaskan cara berkebun 'sederhana' di halaman belakang sekolah

Hari Bumi – Kakak dari @JktBerkebun sedang menjelaskan cara berkebun ‘sederhana’ di halaman belakang sekolah

Berkebun memang seru dan mengasyikkan. Di sekolah, saat pelajaran, mereka memang sudah tahu bahwa reboisasi adalah penanaman kembali hutan yang gundul. Hutan tidak boleh ditebang karena mengakibatkan banjir. Tapi, nyatanya, di lingkungan mereka, tanah sudah menjadi conblock, saluran air menjadi tempat berkumpulnya sampah. Lalu, ke mana larinya air jika musim hujan? Dari sini, nampaknya berkebun, memanfaatkan lahan kosong, menjadi suatu aktivitas yang bisa membuka pemahaman anak-anak itu tentang pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan. Mereka menjadi lebih tahu karena bisa praktek langsung untuk menanamnya. Kakak dari Jakarta Berkebun pun dengan senang hati berbagi ilmu menanam. Ada satu anak yang saat itu antusias bertanya, “Kak, kalau menyiram, sebaiknya dari atas terkena daunnya langsung atau langsung ke tanahnya aja?”

Hari Bumi - Berkebun di sekolah itu mudah dan menyenangkan. Asyik!

Hari Bumi – Berkebun di sekolah itu mudah dan menyenangkan. Asyik!

Tak sabar rasanya punya kesempatan lagi untuk ‘menengok’ tanaman yang ditanam anak-anak itu. Tak hanya orang dewasa, berkebun pun ternyata menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk anak-anak. Jadi, kapan kita menanam lagi? Sampai jumpa di Volunteering Day berikutnya!

(cc: @IDBerkibar @racsemanggi @Cargill @JktBerkebun )

Yuk, baca juga: Memperingati Hari Bumi Dengan Kegiatan Volunteering

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: