Rem

Bahwa rem itu diciptakan untuk menahan sesuatu. Sudah dari sananya, manusia dikaruniai rem seumur hidupnya. Layaknya sesuatu yang beroda, agar tetap pada jalurnya. Bahkan, untuk mimpinya pun, manusia bisa menggunakan remnya. Sesuatu yang sangat diinginkan bisa dalam sekejap dilepaskan… Rem??

Ceritanya, saya pernah naksir sepatu. Open toe, warna kalem yang pastinya masuk dalam daftar ‘must have item’ fashionista penggemar sepatu. Bagi kamu yang belum paham dunia persepatuan, let me explain. Open toe itu adalah salah satu jenis sepatu di mana bagian depannya terbuka. Beberapa jemari kaki akan terlihat di bagian itu. Selain memang lagi nge-hits, open toe warna kalem dapat dipadu-padankan dengan busana apa saja, celana-rok, formal-casual, all. Nah, saking istimewanya, yang harus kamu lakukan kemudian adalah… memilikinya!

Yes! Sounds so simple, right? Tapi bukan hidup namanya kalau nggak ada cobaannya…

Saya belum berjodoh dengan open toe itu. Padahal sudah ‘love at the first sight‘ saat saya jalan-jalan ke sebuah mall. Sebenarnya, mimpi saya untuk memiliki sepatu itu tercapai kalau saja si mas-mas SPG tidak berkata demikian, “Untuk warna krem-nya, ukuran 39 habis. Tinggal 40!”

Kretek-kretek, mirip suara gelas kaca retak. Broken heart.

Jangan ditanya, apakah saya menyerah?

Setiap gerai sepatu yang saya kunjungi, saya selalu mencari sepatu dengan kriteria itu, open toe warna kalem, dan size 39. Sayangnya, belum ada yang pas dengan berbagai alasan dan tidak sesuai dengan open toe yang saya impikan. Ya, heels yang terlalu tinggi, warna mencolok, harga yang berlipat dari harga sepatu yang saya impikan semula, pokoknya ada saja alasan. Bagi saya, semua ini adalah ujian kesetiaan terhadap si sepatu. Godaannya juga ada. Misal, saat akan solat di sebuah musholla di mall, sepatu itu berdiri cantik di rak sepatu di samping tempat berwudu. Sumpah, hati saya bergetar, tidak untuk mencuri (buseet, nggak segitunya, ye!) atau bahkan hendak diam-diam mencoba. Tidak! Tidak ada sama sekali niatan seperti itu dalam hati saya. Saya justru semakin yakin sepatu itu memang bagus dan harus segera dimiliki karena terbukti banyak yang punya.

Singkat cerita, di ‘kunjungan’ ke gerai sepatu yang kesekian kalinya, sepatu itu ada! Ya, ada! Open toe warna krem size 39 idaman. Dengan semangat 45, saya mencoba sepatu itu dan pas! Tapi …

Oh, kelingking saya, oh! Kelingking saya nampak tidak ‘cantik’ di open toe itu. Agak terdesak, iya. Saat saya mencoba berjalan pun, telapak kaki bagian depan mengindikasikan ketidaknyamanan. Oh, jadi, inikah hasil perjuangan dan kesetiaan saya pada si sepatu. “Maaf, tidak jadi. Ternyata nggak nyaman di kaki saya.

Berjalan ke luar dari gerai sepatu, saya hanya melongo sambil bermonolog dengan diri saya sendiri. Separuh mempertanyakan, separuh membela habis-habisan. Walaupun saya seorang shopper, saya tipikal tidak mau ‘menggadaikan’ kenyamanan dengan tampilan atas nama fashionista. Kalau memang dari awal saya tidak nyaman dengan sebuah produk, saya tidak akan ‘mata buta’ membelinya. Fiuh, akhirnya saya lega, sepatu itu memang bukan untuk saya.

Perjuangan dan kesetiaan selama ini memang saya nikmati, tapi kalau memang pada akhirnya, tidak, ya memang tidak … Bukan begitu??

Lain Sepatu, Lain Beasiswa, Hikmah Sama!

Saya seorang oportunis. Eits, tunggu sebentar! Oportunis yang bagaimana dulu nih? Saya suka dengan kesempatan, terutama kesempatan untuk mengikuti suatu program beasiswa. Prinsip saya (khususnya saat umur 25 kemarin, ternyata banyak program yang batas umurnya 25 tahun. Halo, apa kabar 26? Hiks), selagi umur masuk, resume ada, syarat sesuai, kenapa kita tidak manfaatkan kesempatan yang ada? Tinggal kemauan saja, kok! Bahkan saya punya ‘teori’ saya sendiri tentang ini, “Kadang, saat berhadapan dengan kesempatan, sebenarnya bukan diri kita yang bermasalah dengan persyaratan yang diberikan, melainkan kemauan kita untuk mengusahakan semuanya.” Zalam zuper, hihihi

Ya, kemarin saya ‘sempat’ mengikuti seleksi suatu program pertukaran. Bayangkan ya, saya sudah mengincar program itu sejak saya masih mahasiswa, ingiiiiiiin sekali. Saya menginginkannya. Saya memimpikannya. Saya ngidam!

Akhirnya, saya mendaftarkan diri, saya lengkapi berkas, dan mengisi aplikasi. Semuanya lengkap. Suatu kebetulan saat itu adalah libur pemilu, jadi saya bisa mengantarkan berkas sendiri ke Jogja sesuai persyaratan. Beberapa hari kemudian, saat sudah kembali ke Jakarta, saya dinyatakan lolos untuk seleksi berkas. Tahap lanjutan yang harus saya lalui adalah interview. Jika semula saya terselamatkan dengan libur nasional pemilu, maka kali ini, untuk tahap interview di Jogja, saya kehabisan tiket untuk ke Jogja. Ya, saya ulangi lagi, saya kehabisan tiket.

Halo, apa kabar mimpi?

Seketika, dua hari jelang interview, tepat setelah pengumuman via online, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Skenario semula, saya booking tiket dan saya mengikuti seleksi interview di Jogja. Tapi nyatanya?? Apakah ada yang ‘tidak beres’ dengan mimpi saya??

Saya bimbung (bimbang dan bingung). Apa lagi yang harus saya korbankan?

Seorang teman yang cukup ‘mengerti’ bahwa saya adalah orang yang tidak bisa diam dengan yang namanya kesempatan, mencoba memberi saran via whatsapp:
Gini deh. Sambil makan siang, coba lu bikin kopi atau teh anget.
Sambil disruput dikit-dikit, ambil kertas sama pensil terus bikin 12 kotak.
Di usia yang baru ini, dalam setahun ke depan kegiatanku apa aja ya? Atau yang ingin kulakuin
Misal: Juni bikin SabangMerauke
Agustus, semangat JAI, dst
Nah, coba lu isi setiap kotaknya. Nanti lu bakal tau alur kegiatan lu dan apakah lu bener-bener menginginkannya atau cuma sekedar iseng aja.
Insha Allah, dalam setahun ke depan, semua keinginan lu bisa terwujud
Thats my wish
:D”

Ada yang tidak beres dengan mimpi saya. Apa lagi yang harus saya korbankan??

Hari itu, saya memang tidak membuat kotak seperti saran teman saya. Tangan saya kaku, mungkin wujud perlawanan terhadap saran teman saya yang memang benar. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya saya memilih mengalah. Saya memilih mengalah di saat saya menginginkan suatu hal yang memang ingin saya upayakan. Adakah yang salah? Pada akhirnya diri saya mencoba bermonolog.

Saya tidak merengek melepas mimpi saya, saya bahagia melepas mimpi saya, saya lega. Lucu, ya?

Mimpi ini saya lepas ke atas,
Saya serahkan kepada yang punya segala,
Ini hanyalah proses serah terima,
Di atas sana, Tuhan sedang menukar mimpi saya,
Tunggu ya, tanggal mainnya, begitu kata-Nya…

Rem
Si Sepatu dan Si Beasiswa, saya tidak pernah tahu mereka berkenalan di mana. Numpang bilang ‘permisi’ sama saya saja nggak. Uniknya, mereka mencoba memberikan pelajaran yang sama. Pelajaran untuk menjadi rem. Pelajaran untuk ‘mereda’. Pelajaran untuk tidak terlalu ngotot. Pelajaran untuk fokus dan tidak multitasking seperti badut atraksi bola sambil main sepeda. Bisa jadi, kemarin, saya ‘sedang’ tidak mempan diingatkan manusia, sesama yang hidup. Akhirnya, saya diingatkan melalui benda mati kesukaan saya. Ya, itu tadi, Si Sepatu dan Si Beasiswa.

Sudah ah, semoga yang membaca (kalau ada) tersenyum juga seperti saat saya mengakhiri cerita ini. Senyum bijak, senyum lebar.

1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: