Sembilan April

Cerita kali ini disponsori oleh ulang tahun saya yang jatuh tepat saat pemilu legislatif beberapa hari yang lalu. Ucapan selamat panjang umur dan WYATB datang dalam berbagai versi dari teman-teman yang menyadari hari itu adalah ulang tahun saya (Ya, iyyalah, kalau mereka nggak sadar, mana mungkin mereka mau repot-repot ngucapin hee…)

Birthday = Holiday
Banyak hal yang saya syukuri pada ulang tahun saya ke-26 kali ini. Diberi umur panjang dan masih bisa bernapas sehat itu tak terkira. Dikeliling keluarga dan teman-teman hebat, karir, pengalaman, pencapaian, keberanian, kenekatan… semuanya istimewa. Dua puluh enam tahun hidup di dunia, sampai sekarang, … oh, God! (Ups! Okey, sesi curhat will be on the other story)

Selain itu, bersyukurnya kali ini adalah ulang tahun saya bertepatan dengan hari pemilu legislatif, di mana disepakati sebagai hari libur nasional atau tanggal merah. Yeay! (Girang banget!) Berbekal izin dari kantor untuk ‘meliburkan diri’ lebih awal di hari Selasa, jadilah saya mengantongi dua hari untuk pulang ke Jogja, Selasa dan Rabu. Yes, Lumayan!

Awalnya Terasa Aneh
Saat di media marak diberitakan bahwa banyak pendatang di ibukota yang akan golput karena tidak bisa mencoblos di Jakarta, saya justru menjadi orang yang ‘melenggang kangkung’ pulang ke Jogja.

Hei, serius, kamu pulang hanya untuk mencoblos pemilu? Hanya untuk mencoblos??

Okey, agar tidak terlalu aneh, anggap saja itu bakti perdana saya pada Republik ini di usia ke-26, menjadi warga negara yang baik. Apakah masih terasa aneh? Okey, alasan kedua kepulangan, saya ingin berulang tahun di Jogja. Maaf, dilarang iri, ya, berulang tahun saat pemilu, saat libur nasional.

Tiga Belas Kali Dua
Ulang tahun ke-26 berkesan mendalam. Saya masih ingat, di ulang tahun ke-25 tahun lalu, saya masih ‘sempat’ ditanya oleh kedua orang tua saya, “Mau kado apa?” Kalau sekarang?? (Hening)

Tidak ada black forest, tidak ada confetti. Balon, apalagi. Saya tidak protes. Di Jogja, hanya ada papa dan mama. Tapi please, jangan bayangkan saya anak tunggal yang hari itu dikelilingi puluhan kado warna-warni, “Pilih yang kamu suka, sayang?”

Tidak, tidak, bukan seperti itu.

Ucapan selamat ulang tahun dan doa dari kedua orang tua memang tak tergantikan tapi kalau selanjutnya ditodong pertanyaan yang menjurus pada lima kata berawal ‘N’ dan berakhir huruf ‘H’, saya tak kuasa.

Saya mirip anak SD yang baru kemarin belajar angka dan tiba-tiba keesokan harinya mencongak perkalian.

Adek segera tentukan target, ya? Mau kapan? 27, 28, 29? Pokoknya sebelum 30!”

Glek! Saya menelan ludah. Sama sekali tak mengobati rasa haus, meredakan rasa kaget, mungkin iya.

Tidak ada black forest, tidak ada confetti. Balon, apalagi. Saya tidak protes. Di antara diam saya, saya merasa angka dua puluh enam raksasa sedang menertawakan saya. Puassss sekali, di ujung sana…

Age is only important if u are a cheese.
And if u are a cheese, u will be very expensive by today!”
(said my colleague)

So, happy birthday to u, dear Hety Apriliastuti Nurcahyarini!😀

Saya nggak ngiklan JNE. Ini kejutan dari jauh, eh dari sahabat saya di Bali yang sukses mendarat di meja kantor pada 10 April.

Saya nggak ngiklan JNE. Ini kejutan dari jauh, eh dari sahabat saya di Bali yang sukses mendarat di meja kantor pada 10 April.

1 comment
  1. Bukik said:

    Kapan……ni……. *eh *kabuuur

    Selamat ulang tahun Kak Hety! Tambah heppy!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: