Diary, Si Wadah Emosi

Marah dan mengeluh itu beda tipis. Saat kita marah, yang keluar dari mulut kita adalah beban yang selama ini kita pendam (baca: keluhan). Ini, itu, dia, mereka, semuanya. Bahkan, kita juga sering marah atas diri kita sendiri.

Secara lisan, kemarahan dan keluhan itu bisa seperti konferensi pers 30 menit tanpa henti. Apalagi kalau bertemu dengan seorang teman yang bergelar ‘tempat curhat ternyaman,’ percaya deh, 30 menit tak akan cukup.

Marah memang tidak dianjurkan dalam agama. Saat marah, kita diminta untuk meredamnya dengan berwudlu sampai mandi. Intinya, agar kemarahan, yang sering dilambangkan di animasi dengan api, petir, mendung, dan asap, bisa padam seketika.

Walaupun demikian, tidak berarti kita semua tidak boleh marah sama sekali. Marah tidak dianjurkan karena marah mengandung energi yang biasanya berujung pada hal yang negatif. Hal ini bisa terjadi karena kontrol emosi yang lemah.

Lalu, bagaimana caranya untuk marah tapi tetap ‘elegan’? Cara sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan menyingkir sejenak dari tempat atau suasana yang membuat kita marah untuk mengambil napas dan mengalihkan perhatian. Ujung-ujungnya, marah itu mirip sampah, jangan dibuang sembarangan, buanglah di tempatnya =b.

Seorang senior saya mengaku, saat meeting, terjadi adu argumen dan marah, beliau langsung pergi ke toilet dan melampiaskan kemarahannya di sana. Dari mulai ngomel sendiri di depan kaca sampai cuci muka berulang kali. Baru setelah lega, beliau kembali lagi ke ruang meeting dengan cool-nya, seolah tidak terjadi apa-apa. Unik, ya?

Anyway

Saya yakin, ini bukan penemuan baru. Saya bukan seorang psikolog juga. Saya mengalaminya sendiri dan menarik untuk dibagikan.

Ketika kita marah, menulislah. Menulislah apa yang ada di kepala. Tuangkan semuanya. Keluhan, kekecewaan, semuanya boleh. Menulis dengan apa pun tak masalah, kertas dan pensil atau laptop/komputer.

Marah yang sarat energi dan tak terkendali itu, pelan-pelan kita salurkan energinya untuk menggerakkan pensil atau mengetik di keyboard laptop/komputer. Percayalah, ini sangat efektif. Syaratnya hanya satu, tidak boleh ditahan. Tuangkan semua yang ada di kepala. Mudah, bukan? Lalu, angkat dan tiriskan (eh, jadi acara masak! =b).

Beberapa hari yang lalu, saya bernostalgia dengan diary saya saat SD yang bergambar Hello Kitty. Jangan tanya kenapa saya masih awet menyimpannya. Bukan berarti saya belum move on, lho! Bagi saya, diary ‘jadul’ itu ajaib. Di setiap lembar yang saya baca, saya bisa tertawa. Oh, my god! How stupid I am! Pipi saya memerah mirip kue nastar lebaran yang sudah matang dari panggangan.

Si Diary, Hello Kitty

Si Diary, Hello Kitty

Sensasinya ajaib. Peristiwa yang saya tuliskan memang sudah berlangsung lama (bayangkan, SD!!) tapi saya masih bisa merasakan emosi yang saya rasakan saat itu. Walau tentunya, nggak 100% emosi yang sama. Suasana itu bisa terbangun karena saya membaca tulisan tangan saya sendiri. Ada yang rapi, ada yang lurus, ada yang miring-miring (pasti ditulis sambil tiduran, kenang saya), ada yang hurufnya seperti cacing disko dengan bekas bercak air (kalau ini lagi sedih berat pasti, hiks), dan ada pula yang besar-besar, lancip-lancip karena saat menuliskannya saya sedang marah.

Jadi, sekali lagi, tak ada ruginya saat marah kamu menulis. Kalau tidak, emosi apapun, deh! Senang, sedih, galau, marah, kecewa, salurkan dengan menulis. Selain sebagai media penyaluran emosi seperti yang saya ceritakan di atas, hasil tulisan yang kamu buat bisa menjadi ‘The Funniest Book of The Year‘ hihi

Fun Facts about Hety’s Diary!
1. Pernah dibaca mama!
Sekali lagi saya ulangi, pernah dibaca mama! Jangan ditanya rasanya. Berhubung saya tipikal anak yang ‘jarang curhat’ ke orang tua, duh, ampun-ampun rasanya. Kala itu, saya protes ke papa. Gara-gara itu, untuk kali pertama, saya bicara tentang ‘privasi’ kepada orang tua, yang biasanya kata itu hanya saya dengar di infotainment saja.

2. Punya berbagai jenis diary
Tanya deh, dari Diary imut bergambar Hello Kitty, buku tulis biasa yang diberi sampul kertas kado dan saya ikrarkan sebagai diary, organizer mini, binder yang berisi loose leaf, … dan lain-lain

3. Bakat gambar terasah
Kalau sudah capek menulis menggambarkan suasana (i love detail, actually), biasanya saya langsung menggambar. Yah, diary-nya jadi mirip sketsa reka ulang kejadian atau komik strip. Oh ya, biasanya, kalau menggambar, saya paling takut membuat goresan dengan pulpen/spidol langsung. Alasannya sepele, takut tidak bisa dihapus. Nah, di diary ini, entah kenapa saya bisa lancar sekali menggambar dengan pulpen. Magic!

Mahakarya, si Hety versi SMA (belum pakai hijab)

Mahakarya, si Hety versi SMA (belum pakai hijab)

Eng, the last but not least, jangan bilang, setelah ini, kamu jadi pengen baca diary saya, ya! Kabuuuuuuuuurrrr… ~~~~~~~~~~~~~~~\(‘0’)/

2 comments
  1. Bukik said:

    Suka sama kalimat
    “….marah itu mirip sampah, jangan dibuang sembarangan, buanglah di tempatnya”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: