Freshgrad Version

Halo? Jumat sore selalu terasa ‘menjanjikan’ bagi seorang karyawan dengan predikat 5 hari kerja. Merdeka! Mau pergi kemana, jam berapa, sama siapa, sejuta rencana walau sesungguhnya tetap saja hari Jumat itu 24 jam dan baru berasa merdeka selepas pulang kerja.

Oke, sudah cukup curcol-nya. Itu bukan arah saya bercerita =b.

Pagi ini, penghuni kos Haji Shidiq bertambah satu. Actually, it was not big news. Biasa aja. Teman-teman saya yang lain juga sudah biasa membawa temannya untuk menginap. Syaratnya cuma satu, kamu perempuan karena kos saya adalah kos perempuan.

Dengan modal muka bantal, setelah membuka pintu kamar, ada seorang perempuan asing yang duduk di ruang tamu menghadap TV yang tak dinyalakan.

Adiknya Dita, mbak. Udah kenalan belum, mbak? Dia mau kerja di Jakarta. Kenalan dulu sana?” kata teman kos saya yang saat itu sedang menyetrika baju.

Isyarat kenalan itu berarti saya harus mendekat dan mengajak berjabat tangan seraya menyebutkan nama. Sungguh kontras. Saya yang masih muka bantal dengan perut keroncongan bersalaman dengan perempuan yang sudah cuci muka dan nampak kenyang sarapan.

Hety,” kata saya sambil berjabat tangan.

Saya jadi ingat Hety versi fresh graduate beberapa tahun yang lalu. Datang ke Jakarta, dalam rangka tes kerja. Saat itu, kos kakak saya di daerah Kebon Jeruk menjadi tempat berteduh saya selama beberapa hari berada di Jakarta.

Di rumah itu, saya tidak hanya berdua dengan kakak saya saja. Kakak saya mengontrak rumah dengan dua orang temannya. Berada di sana, saya berasa sedang menjalani orientasi pra-kerja. Living skill, istilah kerennya. Ilmu itu tidak diajarkan di sekolah, apalagi kampus. Saya yang masih ‘bau’ kampus, melihat kehidupan kakak saya dan temannya sebagai pekerja di Jakarta dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Oh, begitu ya, rasanya kerja di Jakarta, “ guman saya, selalu.

Hidup di Jakarta sebagai pekerja tidak melulu bahagia tapi juga tidak melulu merana. Lhoh?? Rindu kampung halaman dan orang tua itu pasti tapi belajar survive di ibukota dan menikmati hasil keringat sendiri itu juga suatu anugerah. Dua-duanya tak ada yang salah.

Seorang teman, setelah lulus, memutuskan kembali ke kampung halamannya. “Mengabdi,” begitu katanya. Lagi-lagi tak ada yang salah. Itu juga sah.

Saya percaya, saya bukan satu-satunya orang yang merasakan hal ini. Jakarta kota urban. Pusatnya orang datang dan pergi, pulang dan kembali. Padatnya Jakarta tak akan pernah teratasi kalau kebutuhan tenaga kerja perusahaan-perusahaan itu masih ada. Itu kesimpulan sederhana saya.

Jakarta juga masih menjadi kota idola bagi fresh graduate. Bekerja di pusat pemerintahan, pusat kota, pusat segalanya, siapa yang tak bangga? (freshgrad version =b)

Ah, tenanglah. Nanti mereka akan mengerti sendiri. Kebahagiaan tidak melulu di mana kamu bekerja, tapi saat yang kamu kerjakan bisa bermanfaat untuk orang lain (oldgrad version =b)

Yuk ah, udah. Pulang, ya!

Have a nice Friday Night!

2 comments
    • Hety A. Nurcahyarini said:

      aiyaa-iyaa.. kebalikan yang mana nih?😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: