Pernah Muda

Beberapa hari yang lalu, ketenangan saya naik Metromini terusik (eh, sejak kapan di Jakarta ini, naik Metromini bisa tenang?). Pokoknya, di tengah sesaknya Metromini, ada segerombolan anak seusia SMP justru asyik berbincang. Andai saja volume suara mereka dikecilkan mendekati 0, saya tak keberatan. Masalahnya, suara mereka cukup membahana dan sanggup didengar oleh penumpang lain dalam radius 3 meter, sepanjang badan Metromini.

Suara deru mesin Metromini berpadu dengan cekikian anak-anak SMP. Bayangkan! Coba bayangkan!!

Bagi saya, kejadian itu sungguh annoying sekali dan masuk dalam kategori melanggar ketertiban umum. Batin saya beradu omel tetapi telinga saya tidak bisa lepas untuk tidak mendengar karena posisi saya memang berdekatan dengan mereka. Apa yang mereka ceritakan, mau tidak mau, saya mendengar juga.

Eh dateng ke JakCloth enggak? Gila ada bla bla bla, personel JKT 48, bla bla bla, gila, ya, bla bla bla.”

Eh, eh, ni, dia ngabarin bla bla bla. Dia lagi di Ancol bla bla bla. Ih, kok nggak ngajakin sih? Bla bla bla.”

Dia itu goblok banget sih bla bla bla. Kalau mau ngajakin ya gimana bla bla bla. Mendadak terus bla bla bla. Aku kan enggak ada motor bla bla bla.”

Aaaw, dia sms! Liat nih, liat! Uhuuu, mana aku lagi nggak ada pulsa bla bla bla.”

Ih, biarin aja, dia kan cowok bla bla bla. Kalau cowok harusnya ngerti dong bla bla bla.”

Besok masuk kan? Pada mau berangkat jam berapa? Bla bla bla.”

Sungguh, paduan suara ‘nyasar’ dengan anggota lima orang!

Terlepas dari bahasa tutur yang anak-anak itu ucapkan, saya mengerti karena memang demikian kultur di ibukota. Bahasa lisan, meluncur deras. Nyerocos, istilahnya. Satu daerah dengan daerah lain tentu berbeda.

Tidak, tidak, saya tidak akan membahas perbedaan budaya di sini. Saya colek batin saya, “Heh, kok situ jadi ikutan emosi? Ada yang salah kok seolah nggak terima?”

Deg! Apa iya, saya marah gara-gara saya melihat tingkah polah gerombolan anak-anak di Metromini tadi? Ada yang salah? Pernah muda juga, kan? Eh, apa saya sudah tua sehingga saya sudah tidak satu ‘frekuensi’ dengan mereka? Ah, beneran?

Ah‘ dan ‘eh‘ terus berlangsung dalam batin saya. Saya merasa ‘insecure‘ dengan umur saya. Sudah tua?

Keesokan harinya, saat berangkat ke kantor bersama dua teman saya, saya ceritakan pengalaman yang sama alami di Metromini kemarin. Saya masih penasaran dan berusaha ‘berbagi’ kegelisahan. Kompak dan silih berganti kami melakukan pengakuan dosa. Berbicara dengan keras di angkutan umum, duduk bergerombol di pinggir jalan, curhat di tempat umum, dan semuanya… Intinya, semua pernah!!

Salah satu teman saya kemudian berujar, “Iya, sekarang baru tahu kenapa kalau ngomong nggak boleh keras-keras kayak yang dinasehatin mama, dulu-dulu cuek aja, mana peduli?”

Angka dua puluh lima tahun sekian bulan tersenyum pada kami.
Ya, kami pernah muda juga kok!

PS.
Time flies. Where u go? Live ur life and enjoy!🙂

2 comments
  1. kl aku ga pernah marah dengan kaya gitu het. soalnya nyadar dulu juga suka diomelin sama supir angkot karena berisik. biarlah mereka menikmati jamannya. eh bahkan sampai sekarang aku masih suka diomelin ding, sama duddy😀

    Like

    • Hety A. Nurcahyarini said:

      Hihihi, suka spontan merespon dan ikutan sewot. Yah, that’s life! Masalah umur emang nggak pernah abis dibahas. Daripada ngitungin umur, lebih baik ngitung temen asyik yang kita punya (kamu masuk list temen asyik kok, Ludi, tenang :)) )

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: