Jilbab, Costa Rica, dan Toleransi

“What are you wearing?”
“What is it?”
“What you called it?”
“All women in Indonesia wearing this?”
“How many do you have in your cupboard?”
“Do you feel hot wearing this?”
“You wear this everytime, everywhere, really?”
“What is your religion?”

Random question. Sebenarnya, pertanyaannya masih banyak lagi. Walau dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, karena nampaknya lebih fasih berbahasa Spanyol, mereka tetap PeDe menanyaiku. Intinya sama. Hampir semuanya bertanya tentang apa yang sedang aku kenakan di kepalaku. Pertanyaan seperti itu selalu muncul ketika aku bertemu dengan delegasi dari negara-negara Amerika Latin, seperti Costa Rica, Columbia, dan Meksiko. Mungkin di negaranya, mereka jarang sekali bertemu dengan perempuan muslim yang menutupi kepalanya dengan selembar kain atau jangan-jangan, malah tidak pernah sama sekali. Berbeda dengan delegasi dari Eropa, Amerika, Timur Tengah, dan Asia yang nampaknya lebih mengenal dan tidak asing dengan perempuan yang menutupi kepalanya dengan selembar kain. Ya, mereka sudah familiar dengan jilbab, perempuan muslim, dan tentu saja Islam.

This is veil,” kataku suatu hari kepada delegasi dari Columbia yang menunjuk apa yang aku kenakan di kepalaku.
Veil? No, no… What you call it in your country?” tanyanya.
Oh, jilbab!” jawabku sambil menuliskan dan mengejanya di bukunya, “J-I-L-B-A-B”.
Oh, yeah!” katanya sambil tersenyum senang.

Kalian pasti bertanya-tanya, sedang di manakah aku sehingga bisa bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara serta latar belakang budaya yang berbeda? Jawabannya, Costa Rica! Ada yang tahu, di manakah Costa Rica itu? Costa Rica adalah sebuah negara di kawasan Amerika Tengah, yang beribu kota di San Jose. Jaraknya sekian ratus ribu kilometer dari Indonesia. Coba kalian temukan di peta!

Aku berada di Costa Rica dalam rangka Global Youth Summit Beyond 2015, sebagai delegasi dari Indonesia. Dari Indonesia sendiri yang dikirim untuk mengikuti konferensi ini hanya dua, aku dan Mas Andry. Global Youth Summit Beyond 2015 di Costa Rica ini membahas mengenai peran anak muda dalam pemanfaatan ICT (Information Communication and Technology) di tatanan global untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Ada sekitar 700 delegasi dari 25 negara yang berpartisipasi konferensi ini.

Walaupun jadwal konferensi sangat padat, para delegasi masih dapat saling berinteraksi satu sama lain di waktu senggang. Misalnya, saat pergantian sesi atau saat makan bersama. Aku bersyukur sekali bisa menjadi salah satu peserta konferensi mewakili Indonesia. Di sana, aku bertemu dengan delegasi-delegasi dari negara lain yang mempunyai latar belakang dan pengalaman hebat. Aku banyak mendapatkan inspirasi di sana, termasuk di dalamnya, aku ingin tahu pendapat orang-orang itu tentang ‘apa yang aku kenakan di kepalaku’.

Sebenarnya, iseng saja. Aku sering mendengar pengalaman-pengalaman orang dengan jilbabnya yang diceritakan dalam sebuah buku, blog, bahkan di media massa. Bagaimana dengan mengalaminya sendiri? Itulah yang menjadi sebuah tantangan bagiku. Aku ingin sekali mendengar pendapat orang-orang itu tentang ‘apa yang aku kenakan di kepalaku’, pendapat mereka tentang perempuan muslim, dan pendapat mereka tentang Islam. Sehingga, ketika ada yang bertanya, aku jawab dengan senang hati dan justru aku pancing untuk menggali pendapat mereka.

Hasilnya? Hehe.. Aku bisa tersenyum-senyum sendiri saat mengingat kejadian itu. Ternyata ada beberapa orang di luar sana yang belum pernah melihat jilbab sebelumnya. Sehingga, mereka pun penasaran dan ingin bertanya ketika melihatku untuk pertama kali. Pertanyaan yang mereka ajukan pun terdengar lucu dan membuatku tertawa saat menjawabnya. Mulai dari apakah aku mengenakannya setiap hari, apakah aku tidak merasa kepanasan, berapa jilbab yang aku punya, apakah harus matching dengan baju-baju yang aku kenakan, apakah ada bahan khusus untuk membuat jilbab, apakah semua perempuan Indonesia mengenakan jilbab, dan terakhir pertanyaan apa itu Islam. Mereka pun sangat antusias ketika mendengarkan penjelasanku. Serasa menjadi artis dadakan, mereka pun manawariku untuk berfoto bersama.

Hety, I like your …”, kata mereka sambil menunjuk jilbab yang aku kenakan, tapi tak mampu mengucapkannya, “Do you want to take a picture with me?”

Sure!

Kejadian-kejadian saat konferensi itulah yang membuatku tidak risih lagi ketika memutuskan untuk ‘get lost’ alias berpetualang jalan kaki ke kota San Jose. Sayang sekali rasanya jika selama di Costa Rica, waktuku hanya habis berada di dalam hotel.

Dari hotel, aku dan Mas Andry memutuskan untuk naik bis kota, berbekal peta yang diberikan resepsionis hotel kepada kami. Seperti layaknya bis-bis di luar negeri, pintu depan bis terletak persis di samping kemudi supir. Saat pintu terbuka dan aku naik, supir bis memandangiku. Detik selanjutnya, saat mencari tempat duduk yang kosong, para penumpang di dalam bus juga memandangiku, lekat, seolah-olah, ada alien dari planet antah-berantah yang menumpang bus mereka. Aku pun hanya tersenyum dan menunjukkan sikap manis bahwa aku adalah manusia yang tidak berbahaya seperti alien yang ada di dalam pikiran mereka.

Bagiku, gedung, jalanan, dan tata letak kota San Jose sangat ramah untuk para pejalan kaki. Trotoar dan taman kota berpadu rapi. Banyak orang yang menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan atau sekedar duduk-duduk di taman. Saat aku melintas di taman kota, lagi-lagi, orang-orang yang berada di taman memandangiku. Aku pun hanya tersenyum manis menjawab pandangan mereka. Apakah aku merasa terpojokkan? Tidak. Sama Sekali tidak. Di Costa Rica kali ini, aku memang minoritas, menjadi perempuan berjilbab di antara orang-orang.

Aku sangat menikmati perjalananku kali ini. Aku merasa sedang berada di lokasi shooting Maria Mercedes, serial telenovela yang sempat populer di Indonesia tahun 90-an. Terlepas dari hal itu, aku belajar suatu hal dari perjalananku ke Costa Rica kali ini. Aku belajar tentang toleransi. Kadang kita lupa apa itu toleransi. Kadang kita lupa dan terlalu sibuk dengan kata-kata untuk menjelaskan apa itu toleransi. Kadang, kita lupa bagaimana rasanya menjadi minoritas karena kita terlena merasa menjadi mayoritas. Terima kasih Costa Rica untuk pelajaran toleransi kali ini.

PS. spesial di blog, posting foto menyusul, ya! Nantikan! =D

* Tulisan dikutsertakan dalam Lomba Menulis Aku, Jilbabku, dan Petualanganku, 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: