un-cat-able

design_your_own_cartoon_cat_photo_cutouts-r68b0797f3e614a7791937419672ae6bc_x7sai_8byvr_512

Kalau ditanya apa tantangan terbesar jadi anak kosan, saya akan menjawab, “Di mana-mana ada kucing!!”.

Sejak jadi anak kosan setahun yang lalu, saya sering sekali berjumpa dengan kucing. Ya, di ujung jalan, di pinggir jalan, di gang buntu, di jalan pintas, di depan kosan, di warung nasi langganan, semuanya. Selalu ada saja kucing yang saya temui dalam perjalanan saya setiap hari. Tidak pernah sekalipun tidak bertemu kucing. Ya, kucing kuning, kucing coklat, kucing hitam, kucing abu-abu, kucing hitam, kucing loreng, kucing belang, kucing berkaos kaki (istilah yang saya buat untuk kucing yang berbadan hitam, tapi keempat tungkai kakinya berwarna putih, mirip memakai kaos kaki), dan jenis kucing lainnya. Kenapa ya?

Bagi yang belum kenal saya, pasti akan heran. Mengapa hanya bertemu kucing saja sampai dipertanyakan, bahkan ditulis dalam sebuah posting di blog. Dilarang tertawa, ya! Alasannya adalah karena saya takut kucing titik!!

Bagi seorang yang takut kucing seperti saya, hidup di daerah yang di mana-mana ada kucing itu merupakan tantangan. Pasti ada saja kisahnya yang bagi saya menakutkan tapi bagi orang lain justru menjadi bahan tertawaan. Resiko! Ya, sudahlah … Sebenarnya, ini adalah rahasia tapi karena ketika bertemu dengan kucing, saya langsung ‘heboh’ sendiri, jadi deh, orang-orang tahu.

Misalnya, kisah saya di Minggu siang kali ini …

Hari ini saya harus pergi ke Blok M membeli plastisin untuk bermain eksperimen bersama anak-anak. Karena pagi belum sarapan, saya sempatkan untuk mampir ke warung nasi langganan. Sampai di depan warung nasi, langsung saya urungkan niat untuk membeli nasi karena saya melihat seekor anak kucing belang hitam abu-abu yang berdiri persis di depan pintu. Melihat kedatangan saya, si anak kucing langsung mengeong. Pandangan kami sempat bertatapan. “Hush, hush,” usir saya ‘sok’ berani. Bukannya pergi, si anak kucing justru mengeong dan berjalan menuju ke arah saya, meminta belas kasihan.

Huwaaa … Bapak, saya takut kucing,” teriak saya spontan.

Bapak penjual nasi, seorang anak laki-laki, dan seorang pembeli yang sedang makan di situ langsung menoleh ke arah saya. Kalau ini salah satu babak drama, terjadi ‘awkward moment‘ alias ‘freeze‘ selama beberapa detik.

Itu kucingnya disingkirin, di luar sana!” perintah si bapak pada anak laki-laki, “Enggak tahu itu kucing dari mana, datang sendiri.”

Dengan gesit, si anak langsung memegang bagian punuk kucing dan dibawanya keluar warung. Beberapa menit kemudian, si anak kembali dengan tangan kosong, “Kucingnya sudah takbuang jauh, ke lapangan.” Beberapa blok dari warung nasi itu memang lapangan kosong yang sering digunakan untuk pertandingan olahraga antarwarga sekaligus acara kondangan.

Fiuh. Lega sekali saya mendengarnya. Saya pun bisa makan dengan tenang di warung itu sambil ‘cuek’, tak mengindahkan pandanagan orang-orang yang seakan-akan berkata, “Takut kucing, Neng? Haha..”

Gambar kucing diambil dari : http://www.zazzle.ca/design_your_own_cartoon_cat_photo_cutouts-153525514006078077

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: